Oleh: Jevandy Purba*

Lazimnya, menjadi mahasiswa yang menempuh studi politik di “Kampus Perjuangan” sedikit-banyak memengaruhi pikiranmu. Pikiran itu didukung oleh situasi dan kondisi. Terutama dalam hal pemilihan ideologi politik. Praktis, kecintaanku terhadap Bung Karno membuatku memilih nasionalisme sebagai ideologiku. Mulai dari bacaan sampai obrolan sehari-hari, tak jauhnya aku membawa-bawa ideologiku itu.

Sering kulihat orang-orang mempertanyakan agama yang dianut kepada sesamanya. Dan menurutku, golongan politis yang masih hijau ini, adalah pantangan kala menanyakan agama seseorang. Sebab, di balik pertanyaan itu terkandung makna pembedaan. Sementara kepercayaan kaum nasionalis adalah kita semua sama dan menjunjung tinggi kemanusiaan orang lain dalam hal apa pun. Dengan begitu, kenyamanan akan terjalin.

Galang, sahabatku, juga mengalaminya. Pemuda Bacan nan tampan yang satu ini adalah deretan orang yang kukenal sedari hari pertama kuliah. Meski kita berbeda agama, persahabatan kami berjalan lancar. Kurasa salah satu alasannya karena kami tidak pernah saling singgung-menyinggung mengenai latar belakang agama kami. Setahun berlalu. Dua tahun pun berlalu. Tiga tahun juga terlewati. Bagai lembar foto dalam album, sudah banyak sekali potret cerita kami berdua. Dari yang konyol sampai yang menyedihkan. Dia pula orang pertama yang ada di sisiku saat kematian bapak sekaligus mamaku terdengar. Cengengnya ia saat mendengar berita itu membuatku ingin menarik perkataan bahwa ia tampan. Tapi satu hal yang membuatku kagum, ia tak hadir hanya saatku senang, namun juga ada saatku terpuruk. Andai kau tahu, dia ini adalah mantan santri yang tercerahkan di dunia kampus, tapi ia menjadi pembela yang paling marah kala statusku yang non-muslim kerap dilecehkan saat aku tak ada. Ia juga yang paling ikhlas memberiku makan atau minum saat ia sendiri sedang berpuasa. Tercerahkan bukan? Kira-kira begitu contoh kecil toleransi yang Galang lakukan untukku.

Seiring waktu berjalan, aku mengajaknya pergi ke tanah Batak, sekedar berziarah dan menyelesaikan beberapa urusan. Ia tertarik. Kau tahu apa yang ia lakukan pada saat mengemis agar diizinkan dan diberi tiket? Ia memaksaku untuk merekamnya yang ber-acting lesu dengan tambahan musik sedih selepas ia menelepon ibunya. Ia pun memintaku untuk mem-posting video pada laman Facebook-ku dengan harapan dilihat oleh ibunya yang memang aktif di media sosial. Esok harinya, bagai umpan Xavi Hernandes lantas disundul oleh Messi ke gawang Van Der Sar, kami bersorak ria atas persetujuan ibunya. Goal.

***

Tak banyak yang kuceritakan pada Galang setibanya bis kami dari bandara pada siang hari di Pematangsiantar kota kelahiranku ini, selain tokoh semacam Adam Malik, Raja Simalungun, Raja Sangnawaluh, dan peraih Adipura. Faktor kelelahan membuatku malas bicara. Lagi pula, sepertinya ia juga tidak terlalu tertarik mendengarnya. Saat kami berjalan menyusuri jalanan rumahku. Ponselku berdering. Terdengar suara Opung yang menanyakan sudah di mana. Aku menduga mungkin ia mendapat informasi dari tanteku yang ada di Jakarta.

“Sudah di simpang ini, Pung. Sudah dekat kami.”

Orang tuaku di kota ini sekarang adalah Opung Doli, yakni kakekku. Umurnya sudah kepala tujuh. Di rumah, ia hanya seorang diri. Nenek sudah lama meninggal dunia. Dan anak-anaknya semua merantau. Agar ia tak kesepian, kami diperintah oleh tante untuk menemaninya selama di sini.

Setelah melihat kiri-kanan, Galang bertanya, ”Di sini banyak gereja, ya?”

“Iya. Banyak. Masjid pun banyak. Kuil, wihara juga banyak. Nanti akan kubawa kau melihatnya,” jawabku.

Rumahku yang tepat berhadapan dengan gereja sudah dekat.

“Horas…. Pung!” sapaku pada Opung saat tiba di depan pintu rumah yang sejurus kemudian diikuti oleh Galang.

“Bah.. sudah sampai kau? Masuklah.” Kusalim tangannya yang juga diikuti oleh Galang. Kulihat sekeliling ruang tamu. Walau dia sendirian tinggal, namun rumah ini tetap saja bersih. Memang, dia tipikal orang yang tak suka kotor. “Jadi, ini siapa?” tanya Opung padaku.

“Dia kawan kuliahku di kampus. Galang, kenalan dulu dengan Opung. Aku mau bawa tas dan barang ke kamar!” seruku. Bayangan ayah dan ibu muncul seketika kala kupandang foto yang terpajang. Ah, kerinduan ini seakan menghidupkan kembali sosok mereka dalam bayangku.

“Jadi, kau ini orang mana?” kudengar Opung bertanya ke Galang.

“Saya orang Ternate, Pung, Maluku Utara,” jawabnya ramah. Tak lama, aku pun ikut bergabung sambil membawa ceret berisi air dan gelas.

“Bah, Maluku? Jauh sekali, bah,” ucapnya dengan dialek Batak yang kental. ”Hem… Jadi,  kau ini Protestan atau Katolik?”.

Galang tersenyum. Aku terdiam. Pertanyaan seperti ini membuatku merasa tersinggung pula. Ah, zaman sudah berubah, tapi masalah agama masih juga dipertanyakan. Sektarian sekali Opungku ini, pikirku. Mungkin dia tak memahami nasionalisme, ya. Atau mendengar pidato Soekarno pun tak pernah, makanya begini.

“Enggak keduanya, Pung. Saya Islam,” jawab Galang sembari melebarkan senyum. Aku tak tahu harus berkata apa saat itu. Selama ini aku terbiasa menertawakan orang dengan pola pikir seperti Opung yang masih saja menanyakan soal agama kepada orang-orang yang ditemuinya. Bagiku hal itu menjadi urusan pribadi tiap orang. Pertanyaan soal agama sangat sensitif dan bisa saja orang akan merasa tersinggung kala pertanyaan ini hadir dari orang yang tak pantas diajak debat. Semoga Galang maklum.

“Oh, sama sajanya itu semua agama,” jawabnya sambil meminum air yang kubawa. Aku memandangnya seperti salah tingkah. Agak ganjil memang nada suaranya yang awalnya tinggi menjadi rendah sekali. Mungkin orang tua ini butuh tuak.

Obrolan masih berlanjut dengan perbincangan yang menurutku hanya basa-basi saja. “Kami istirahatlah ya, Pung. Capek di jalan kami,” ujarku pada Opung sembari mengajak Galang ke kamar untuk beristirahat. Sejujurnya basa-basi itu yang membuatku kelelahan.

***

“Bangun, hei, anak muda. Sudah jam tujuh malam ini. Makan dulu kalian,” suara Opung sampai ke telingaku. Aku terbangun, kemudian menggoncang-goncang badan Galang. Dia pun terbangun. Aku mandi terlebih dahulu dan kemudian disusul Galang di kamar mandi sebelahnya. Selesai mandi dan ganti pakaian, kami menuju meja makan yang sedari tadi sudah ditunggui Opung. Sembari menunggu, kulihat ia membakar rokok kesenangannya, Union.

“Duduklah kalian. Pasti sudah lapar kau kan, Galang?” tanya Opungku pada sahabatku ini dengan rona bahagia di wajahnya. Aku menduga bahagianya ini tak jauh dari kemungkinan kena nomor togel.  “Kalau bagi kami, kedatangan tamu itu harus disambut baik, termasuk makanan yang enak-enak. Apalagi kau kan sudah dekat kali sama cucuku dan jauh pula kampungmu,” sambungnya.

Kulihat makanan yang tersaji adalah rendang, sup ayam, sayur daun singkong, tahu dan tempe sambal, dan yang terakhir sekaligus khas adalah ikan mas yang diolah dengan kunyit, jahe, lengkuas, kemiri, dan tentunya andaliman, yang membuat pedasnya khas. Ikan arsik namanya. Tidak ada daging babi atau sup anjing seperti halnya jamuan saat keluarga besar berkumpul. Semua serba halal. Aku tersenyum lebar.

Sebenarnya ada lagi makanan khas dari daerah kami ini, lebih tepatnya dari tanah Tapanuli Utara, dekke naniura namanya. Uniknya, ikan khas Tapanuli ini bukan digoreng, dipanggang atau direbus, tapi disirami dengan air jeruk asam atau jeruk jungga, sejenis jeruk purut khas Sumatera Utara. Kau heran? Sama, aku juga. Rasanya itu sungguh aduhai sekali, kawan. Menuliskannya saja sudah membuatku meneteskan air liur.

“Pas sekali, Pung. Aku sudah lapar,” celoteh Galang. Urusan makanan memang cepat untuk kawan yang satu ini. Tapi, jangan pikir ia gemuk. Mungkin Tuhan menciptakannya saat sedang lapar-laparnya. Praktis, Galang pun kurus sampai sekarang sebanyak apapun makanan yang dia lahap.

“Ha, langsung makanlah. Sama kami kalau ada tamu enggak kenyang itu pantang. Kalau bisa, harus gemuk pulang dari sini,” balas Opung lagi sembari terkekeh.

Makanan kami lahap sampai habis. Opung ikut menyaksikan kebiasaan Galang yang makan dengan porsi super. Setelah selesai, piring-piring kubawa untuk dicuci di dapur. Kutinggalkan Galang bersama dengan Opung di meja makan. Aku mendengar mereka saling berbicara.

“Untung tadi kau bilang kalau kau beragama Islam. Coba enggak, pasti sudah kubawa daging babi paling enak di Siantar ini dan mie pangsit si Kokoh di simpang dua sana,” perkataan Opung kudengar diikuti dengan derai tawa mereka.

“Lagi pula, cucuku ini enggak ngomong sebelumnya kalau kau Islam. Dan kawan-kawannya semua yang pernah datang memang Kristen, makanya kupikir kau juga.” Dia melanjutkan setelah mengisap rokok, “Begitu. Bukan karena Opung enggak suka sama kau atau apa, tapi agar Opung tahu makanan apa yang kusediakan samamu. Kan, lebih tersinggung nanti kau kalau ternyata kubawa daging babi sementara aku sendiri tak tahu agamamu apa.”

“Iya benar, Pung. Aku enggak tersinggung kok, Pung. Wajar saja itu menurutku.”

“Jangan salah kau. Kemarin di kampung kami sempat ribut waktu pesta pernikahan. Ada laki-laki yang tak kuketahui namanya memakan sup. Dia pikir itu sup sapi karena ada tulang-tulangnya, ternyata pas sudah dimakan, datanglah kawannya memberitahu kalau yang ia makan adalah babi. Bah, terkejutlah dia. Dilemparnya mangkok itu. Para undangan yang coba menanyakan ada apa malah dimaki dengan sumpah serapah. Ketika dia keluar dari ruangan, baru diketahui bahwa ia muslim. Dan memang bukan salah dia yang tak mengetahui, dan bukan salah petugas katering juga yang tak mengetahui agama para undangan. Untuk mencegah kesalahpahaman ini makanya aku bertanya tadi demikian,” ceramahnya pada Galang. Kami semua tertawa terbahak-bahak sampai-sampai piring yang sedang kucuci terjatuh, namun tak pecah.

Galang kemudian bertanya, “Kenapa ia tak pakai peci saja, ya, Pung? Biar orang-orang tahu kalau dia muslim sekalian.”

“Pendeta marga Sirait di dekat rumah ini juga suka pakai peci,” jawabnya terkiki geli. Kami kembali tertawa.

Esok paginya aku mengajak Galang untuk menemaniku pergi ke rumah baru bapak dan mamaku. Kami singgah di pasar, tak jauh dari rumah untuk membeli bunga tabur. Kutabur bunga kerinduan dan kupanjatkan doa pada Tuhan untuk arwah orangtuaku tepat di hari Paskah. Semoga doaku didengar.

Selepas itu, kami pergi menuju rumah salah satu teman SMA-ku. Saat Paskah seperti ini, biasanya menjadi momen yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga besarnya. Setiba di sana, kami lantas berjabat tangan dengan keluarga besarnya. Kami lalu diajak berkeliling di ladang milik keluarganya. Durian di ladangnya sedang berbuah lebat. Kami menelusuri setapak di sela-sela rindangnya pohon durian juga di antara rimbunan pohon kopi yang berjejer, untuk mencari durian yang sudah jatuh. Durian yang sudah jatuh menandakan ia sudah matang. Sembari mencari, kepala ini kerap mendongak ke atas untuk memastikan durian runtuh yang kutaktahu kapan akan jatuh. Lumayan juga sakitnya kalau durian itu menimpa kepalamu. Sekarung durian hasil penelusuran di ladang lumayan untuk memabukkan pagi ini. Tidak ada sensasi yang lebih enak selain menikmati durian langsung di ladangnya. Tak lupa, seliter tuak sebagai pelicin tenggorokan. Sedap.

***

Seminggu sejak kedatangan kami, setelah mengurusi beberapa urusan administrasi dan silaturahmi, aku mengajak Galang pergi melihat sajian alam tanah leluhur, Danau Toba. Jaraknya tidak begitu jauh, kira-kira memakan waktu sejam dari rumah Opungku, dan semua rasa lelah di jalan terbayar oleh panorama indah ciptaan Tuhan yang maha agung itu. Sebagai selebgram, Galang tak lupa mengabadikan semua pemandangan itu ke dalam Instagramnya.

Puas berswafoto ria, kami bergegas menuju kota Parapat. Tak akan lengkap rasanya bila tak singgah ke rumah pengasingan Bung Karno di Parapat. Konon, di rumah ini Bung Besar menghabiskan sore hari dengan berkontemplasi dan mengisap rokok. Kemudian dari situ kami pergi menuju pelabuhan dan membeli tiket penyebrangan. Kami akan menyeberang dari pelabuhan Ajibata menuju pelabuhan Tomok, Samosir dengan kapal motor Sinar Bangun.

“Kita enggak tenggelam kan nanti, Bung?” tanya Galang khawatir. Ekspresi cemas di wajahnya membuatku tergelak.

“Kita? Anda sendiri saja, Bung. Leluhur kami tahu kok mana keturunannya dan mana yang bukan. Lagian kau kan bisa berenang kalau kenapa-kenapa,” jawabku enteng yang dia balas dengan makian.

Samosir, pulau leluhur orang Batak sudah kami tapaki. Semua kepenatan dan kemuakkan yang menjamur dan tumbuh di Jakarta telah kami cabut dan enyahkan jauh-jauh di sini, meski kami tahu bahwa kami akan kembali menanam jamur-jamur itu saat kami kembali lagi.

***

Sebagai penutup, aku cuma mau bilang, bila suatu hari kalian berkesempatan ke daerahku di Siantar sana, jangan tersinggung bila ada pertanyaan seperti yang opungku lontarkan pada Galang. Jangan menuduh mereka kolot atau sektarian. Malah mungkin sebaliknya, dengan bertanya seperti itu, mereka berarti peduli dengan kita. Mereka menghormati kita dengan caranya sendiri. Yah, meski tidak semua orang seperti itu. memang bakal sulit, tapi usahakanlah untuk selalu berpikir positif.

Dan mungkin ada yang baru sadar saat ini? Sama. Aku juga. Seandainya Bung Nyintro — seorang kawanku yang lain — tak memberitahuku di warkop kala itu, mungkin aku akan mengganggap semua penanya agama adalah sama, sektarian. ♦

* Mahasiswa rantau penyuka sosok Bung Karno, yang bercita-cita mewariskan ajaran beliau agar tak terputus digilas barbarnya zaman. Dapat diajak ngopi-ngopi di Line: jevandy973 atau Facebook: Jevandy Purba.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.