Oleh: Wiwin Agustina*

Setiap kali menjelang azan magrib aku selalu melihat wanita itu pulang. Selang beberapa menit lalu pergi lagi, entah kemana. Pakaian yang dikenakannya pun terlihat rapi. Rok hitam pendek selutut. Kemeja putih panjang dengan dasi kupu-kupu. Hanya butuh waktu sepuluh hingga dua puluh menit kira-kira wanita itu menanggalkan pakaiannya, lalu keluar dengan pakaian lain lagi. Wajahnya apalagi, berlumur bedak tipis, juga lipstik merah muda melumat indah bibirnya. Tak ketinggalan pensil alisnya menukik sempurna, pula bertabur blush on di kedua pipinya.

Beberapa hari yang lalu aku sempat berpapasan dengan wanita itu di pertigaan jalan. Hampir tengah malam. Pukul setengah dua belas kira-kira. Aku baru pulang dari rumah mertuaku untuk menjemput kedua anakku. Pelan wanita itu berjalan dengan wajah menunduk. Aku sempat melewatinya dan melihatnya sebentar dari kaca spion mobil. Merasa iba dan sedikit khawatir dengan orang yang berjalan tengah malam sendirian, apalagi seorang wanita,  kuhentikan mobilku tepat di depannya, kemudian keluar menghampirinya.

“Maaf, mau kemana sendirian tengah malam begini? Mau aku antarkan pulang?” tanyaku yang sepertinya tak dihiraukannya.

“Maaf..,” kuraih tangannya. Terasa panas sekali. Kucoba menunduk untuk melihat wajahnya.

Ia hanya memandangku sebentar dengan sorot matanya yang layu. Bibirnya lambat tersenyum, dan berkata, “Aku tidak apa-apa.” Lalu ia tumbang.

Beruntung aku masih sempat meraih tangannya dan terpaksa menggendong wanita ini masuk ke dalam mobilku.

Pagi harinya. Setelah ia habiskan roti dan teh hangat, lekas ia berpamitan pulang. Karena rumah kontrakannya hanya berjarak beberapa petak rumah saja, kuantarkan ia pulang hingga sampai ke kamarnya yang tidak terlalu luas. Hanya berukuran 3×5 meter.

Sejak saat itu, pada tengah malam harinya aku tak pernah lagi bertemu dengan wanita itu di pertigaan jalan mau pun di jalan mana pun. Namun aku lebih sering melihatnya setiap pagi pergi entah kemana. Pergi pada pagi harinya dan pulang pada sorenya, lalu pergi lagi setelah magrib.

Tidak ada yang tahu kemana wanita itu berkeliaran. Sering terlihat wanita itu membawa seorang teman prianya masuk ke dalam kontrakannya. Hanya sebentar, lalu pergi berdua entah ke mana. Aku, juga sebagian warga lain hanya menaruh curiga kemana wanita itu pergi sehabis magrib. Kalau tidak ‘mangkal’ atau mungkin bahkan bermalam dengan pria yang berbeda setiap malamnya.

Begitu pikir kami.

***

Belum genap satu bulan ia mengontrak di daerah tempat tinggalku. Setahuku, di sini ia merantau. Entah dari mana asalnya masih belum jelas. Dari tingkah lakunya selama ini, tidak ada yang aneh. Tak pernah melewati batas kesopanan. Tak terlihat wanita itu seperti yang dipikirkan orang-orang, bahkan diriku. Aku mencoba menampik segala pikiran buruk tentang wanita itu. Entah dengan menanyainya langsung atau mungkin saja dengan membuntutinya. Namun, ternyata tidak semudah itu. Tindak-tanduknya malah makin membuatku curiga dan penasaran.

Paginya kami bertemu di depan rumahku. Saat itu aku sedang menyapu halaman. Seperti biasanya, ia pergi tanpa berkendara. Wanita itu selalu berjalan kaki ke manapun ia pergi. Yang menarik perhatianku, kali ini ia membawa tas yang lumayan besar dan berat.

“Selamat pagi.” sapanya sambil tersenyum hangat.

Aku sempat mematung beberapa saat. Heran, tak pernah kutemui wanita malam dengan senyuman sehangat itu. Segala asumsi burukku tentangnya rontok seketika. Ia mungkin satu-satunya wanita malam yang ramah, pikirku.

Aku pun membalas senyum, “Iya, selamat pagi.”

Mataku tertuju pada tas besar yang dibawanya. Ia terlihat tergopoh-gopoh melewati jalanan yang sedikit tak rata. Ia tiba-tiba mengambil sesuatu dari dalam kantung tas tersebut.

“Ini, saya punya beberapa buku bacaan yang menarik. Saya dengar Ibu Ami mempunyai dua anak yang masih kecil bukan?”

Ia langsung pergi setelah aku menerimanya. Aku berpikir, untuk apa Wanita Malam seperti dia membawa buku-buku sebanyak itu?

***

Suatu malam, Mia, anakku yang paling besar menyampaikan sesuatu yang sama sekali tak pernah kusangka.

“Mama. Kalau aku besar nanti, aku ingin seperti kakak cantik itu” kata anak perempuanku

Sontak aku tahu siapa kakak yang dimaksud. Karena sudah tiga minggu terakhir ini, setiap hari minggu, sengaja aku biarkan kedua anakku bermain di sekitar rumah saja, tak kutitipkan lagi di rumah mertua. Tentu mereka bisa bermain hingga ke rumah tetangga, termasuk rumah kontrakan Wanita Malam itu. Ya, Wanita Malam. Begitulah aku memanggilnya, karena memang aku tidak pernah mengetahui namanya.

Bahkan malam-malam sebelumnya, anakku perempuan itu pernah bercerita. Bahwa wanita itu sangat baik padanya. Pernah beberapa kali wanita itu membelikannya permen warna-warni yang berisi cokelat di dalamnya. Lebih senangnya, mereka berdua berserta anak-anak tetangga yang lain didongengkan cerita-cerita fabel. Entah, ini mungkin hanya topeng, sebagai penutup kedoknya atau dia memang menyukai dan menyayangi anak-anak dengan tulus, pikirku.

“Kakak siapa? Kakak yang tinggal di kontrakan itu?” tanyaku tanpa bisa menyembunyikan rasa penasaranku.

“Iya, Ma. Kakak itu baik ya, Ma. Nanti kalau sudah besar, aku ingin bekerja di tempat kakak cantik”, anakku terus mengoceh tanpa henti.

“Memangnya Mia tahu apa tentang pekerjaan kakak cantik itu?” aku memerhatikannya yang sedikit mengantuk.

“Kata kakak cantik itu, setiap malam dia bisa melihat banyak lampu warna-warni yang indah di tempatnya kerja. Aku ingin sekali ke sana, aku juga ingin melihat lampu warna-warni itu seperti apa”.

Mia terus melanjutkan ceritanya.

“Kalau aku bekerja di sana, nanti aku bisa bermain dengan banyak lampu warna-warni itu, Ma. Lalu ..” ia menguap. “lalu, banyak minuman warna-warni juga. Kata kakak cantik itu, mungkin rasanya sama dengan jus buatan nenek. Tapi jus buatan nenek tidak manis, aku tidak suka” lanjutnya dengan suara yang mulai melemah karena kantuk.

“Sudah, Mia. Tidurlah. Ceritanya dilanjutkan besok saja ya. Sekarang sudah malam.” Bujukku.

“Tapi, Ma, ada minuman yang ada busa-busa di atasnya. Apa itu sama dengan air berbusa saat aku mandi ya, Ma?” tanyanya sambil menguap lagi.

“Sudah ya, Mia. Ceritanya dilanjutkan besok pagi lagi, Mama ngantuk.” Kucoba pura-pura tidur supaya ia lekas tidur pula.

Tapi ia tetap meneruskan ceritanya.

“Di sana kakak cantik itu punya gelas yang besaaaar. . .  lalu di dalamnya bisa berputar-putar. Katanya itu cara membuat minuman yang ada busa-busanya tadi, Ma.”

Dari cerita Mia, aku beranggapan bahwa tempat itu seperti kafe, bar atau semacamnya, lah. Ya, tidak salah lagi. Jadi itu tempat ‘mangkal’nya setiap hari. Menanti dan melayani para pria hidung belang. Lalu  membiarkan mereka menyelipkan beberapa lembar uang kertas di belahan dadanya.

Tidak bisa kubiarkan kedua anakku lama-lama berteman dengannya dan ikut terjerumus ke dalam dunia gelap itu. Aku tahu benar bagaimana beratnya kehidupan wanita-wanita seperti itu.

***

Minggu sore. Kedua anakku masih asyik bermain dengan anak tetangga yang lain. Seperti biasa, aku menyiram bunga di halaman. Sambil menyiram, aku diam-diam memerhatikan rumah kontrakan Wanita Malam itu. Ia masih belum juga nampak. Mungkin ia belum pulang, pikirku.

Hari berikutnya. Sejak pagi hingga menjelang petang sengaja aku memantaunya. Tetap saja tak pernah kulihat ia masuk maupun keluar dari rumah kontrakan itu.

Sudah lewat empat hari aku tak pernah melihatnya lagi. Aku semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam kontrakannya. Jangan-jangan ia kabur karena tidak sanggup membayar sewa kontrakan? Atau mungkin ia sudah tidak bernyawa lagi lalu tubunya membusuk di kamar? Ah, aku kebanyakan menonton berita investigasi. Tapi bisa saja terjadi, kan?

Perlahan, aku beringsut untuk menghampiri rumah kontrakan yang terlihat kosong itu. Kucoba mengintip lewat jendela depan. Di ruang tamu terlihat kosong. Kemudian aku berjalan lewat samping, mengintip dari jendela kamarnya. Juga kosong. Tak terlihat di dalam kontrakan itu berpenghuni. Keadaan rumahnya gelap dan sunyi.

“Mencari siapa, Bu Ami?” Ibu pemilik kontrakan tiba-tiba mengagetkanku dari belakang.

“Wanita yang mengontrak di sini,  sudah lama saya tidak melihatnya.” Jawabku setelah berhasil menenangkan diri.

“Ibu guru muda yang mengontrak di sini kemarin? Ia berpamitan beberapa hari yang lalu.”

Ibu guru? Wanita Malam itu? Masa sih? Batinku.

“Oh, iya. Bu Ami dapat salam dari ibu guru muda itu. Ia juga berpesan, maaf belum sempat berpamitan katanya. Sebentar, Bu, saya ambilkan titipan untuk kedua anak ibu”

“Ibu guru muda itu sudah berkeluarga, Bu?” tanyaku setelah ibu pemilik kontrakan kembali. “Saya sering melihat ada pria masuk ke dalam kontrakannya, namun tak pernah bermalam, hanya sebentar lalu keluar lagi.”

Pemilik kontrakan itu terlihat sedikit mengusap bawah matanya. Entah air matanya keluar karena terkena debu atau karena pertanyaan barusan.

“Jika teringat cerita itu saya sedih, Bu Ami. Ibu guru muda itu sempat cerita sebentar di rumah saya waktu pamitan. Dia belum berkeluarga, tapi dua bulan lagi katanya akan menikah. Ia mendadak ditelepon keluarganya untuk segera pulang. Setelah mendapat kabar bahwa calon suaminya kecelakaan dalam perjalanan menuju ke sini. . .”

“Ibu guru muda itu selain pintar dan pekerja keras, ia juga sangat ramah dan baik loh, Bu. Buktinya saja ia rela mengajar anak-anak sekolah dasar di desa seberang, desa terpencil itu. Perlu jarak tempuh lama lagi untuk sampai ke sana. Yang paling membuat saya terharu, ia rela tidak menerima bayaran sepeserpun,” lanjutnya.

Aku tercekat. Perasaan bersalah karena selalu berpikiran negatif tentang wanita itu mulai menyerangku lamat-lamat.

“Makanya, ia juga bekerja pada malam harinya. Di sebuah restoran tengah kota, sebagai waiters.  Untuk biaya sehari-hari. Ya biaya makan, ya biaya sewa kontrakan. . .” tambah ibu pemilik kontrakan sebelum akhirnya aku pamit untuk pulang dengan wajah basah karena air mata.

***

Empat bulan kemudian, di suatu malam di sebuah restoran tengah kota, aku bertemu kembali dengan Wanita Malam itu. Hampir saja aku tidak mengenalinya. Ia tampak jauh berbeda dari yang pernah kulihat dulu. Sekarang ia terlihat lebih anggun dan elegan. Seperti seorang sekretaris; rok hitam selutut, blues hijau toska berbalut jas hitam dan sepatu mengkilap dengan warna senada.

Kami banyak mengobrol malam itu. Bahkan bisa dibilang sangat banyak. Ia banyak menanyakan tentang kedua anakku, Mia dan Mika. Aku bilang mereka sering menanyakan tentangnya pula. Mereka rindu diceritakan tentang fabel lagi. Kami tertawa. Tak habis-habisnya tertawa saat membicarakan tentang anak pertamaku, Mia. Saat bagaimana Mia ingin sekali dapat bekerja bersamanya jika sudah dewasa. Tentang lampu warna-warni dan lain sebagainya.

Namun ada satu yang mengganjal, dan entah kenapa, aku tidak berani untuk menanyakannya, yaitu perihal kondisi calon suaminya. Apa dia baik-baik saja. Kalau iya, kenapa calon suaminya tidak bersamanya sekarang? Apa jangan-jangan calon suaminya meninggal karena kecelakaan itu makanya wanita ini sendirian sekarang? Tapi kalau benar begitu kenapa dia bisa tampil lebih cantik dari pada dulu? Bukannya malah sebaliknya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggema dalam kepalaku hingga Wanita Malam yang tak pernah kuketahui namanya ini pamit padaku, lalu menghilang di keramaian jalan.

Tiba-tiba saja ponselku berbunyi membuyarkan lamunanku. Dengan sedikit jengkel, aku mengangkatnya.

“Halo?” sapa suara pria di seberang sana.

“Ya? Jadinya di mana?”

“Hotel Akasia. Kamar nomor 213. Jangan lupa bawa kondomnya. Saya lupa beli, dan terlalu malas untuk berpakaian kembali hanya untuk membelinya. Cepat. Saya sudah tidak tahan. Malam ini saya ingin menikmati tubuhmu sepuasnya. . .“  jawabnya sambil mendesah menjijikkan. “Tenang saja, kali ini saya akan bayar kamu dua kali lipat dari tarif biasanya. Tapi kalau kau sampai telat, tahu sendiri akibatnya. . ”

“Oke. . “ balasku setelah lama terdiam.

Aku mematikan sambungan. Sebelum aku memasukkan telepon ke dalam tas, sebuah pesan masuk. Rupanya dari mertuaku. Beliau mengirimkan foto dua buah hatiku yang sedang tertidur nyenyak di ranjang. Aku tersenyum kecil melihat foto itu, sampai tak sadar kalau dua butir air mata terbit dan menetes di pipiku. Sembari menyeka kedua air mata itu, aku menghela napas panjang. Kumasukkan ponselku ke dalam tas, lalu aku bangkit dari kursi, dan bergegas berjalan menuju tempat mobilku terparkir.

Aku tidak boleh sampai terlambat.

Demi Mia dan Mika.

*Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Veteran Bantaran Sukoharjo angkatan 2012. Menggemari cerita-cerita klasik, surealis, detektif, percintaan dan juga isu-isu sosial, budaya serta politik. Dapat dikontak melalui akun twitter: @winnie_wint dan instagram: moveinwin

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts