Halo, pak. Bapak sehat? Semoga restu dan ridho Tuhan menyertai setiap langkah bapak.

Kita tidak pernah punya kesempatan untuk berkenalan secara khidmat. Tapi tak apa, ijinkan saya memperkenalkan diri.

Nama saya Fajar Martha. Mahasiswa sosiologi 2013 yang sedang disibukkan penelitian skripsi.‘Lho kok cepat sekali sudah menggarap skripsi?,’ mungkin bapak membatin begitu. Saya mahasiswa pindahan, pak. Dari UGM.

Iya, almamater yang para lulusannya kini mendominasi pucuk pemerintahan. Termasuk bapak presiden yang alumni Fakultas Kehutanan. Biasanya dengan menyebut sejarah saya itu orang akan memberondong saya dengan sederet pertanyaan. Mulai yang bernada klise, menyayangkan, hingga menyudutkan. Secara imajiner saya membandingkan kisah saya dengan sosok Sisyphus karangan Albert Camus. Yah, meski tidak seheroik dan setragis dia tentu saja. Lagian saya tahu persis, meski rajin menempati urutan teratas sebagai kampus terbaik di negeri ini, di kampus saya yang pertama ya banyak juga aktivis-aktivis macak radikal-cum-alay-alay Marxist yang mengerti fetisisme komoditas aja tidak.

Maaf jika melantur. Motivasi saya di paragraf tadi murni karena dua:

Saya kangen biyanget sama Jogja. Mmm, tepatnya iklim Fisipol jaman saya yang teramat hangat lagi membumi. Soalnya miris dan kasian, pak. Tukang rokok langganan anak-anak yang akrab dipanggil babeh jadi gak bisa lagi berjualan karena Fisipol mulai ketularan fakultas lain. Kasus babeh mewakili orang-orang kecil lain yang atas nama revitalisasi dan penertiban jadi korban eksklusi sosial. Saya dengar babeh sekarang jualan barang-barang bekas di Pasar Klitikhan. Revitalisasi bangunan fisik yang malahan menyingkirkan manusia. Lapangan San Siro tempat anak-anak berinteraksi berubah dipoles ubin marmer berkilauan. Gak bisa lagi, deh, nonton kawan-kawan main bola atau voli sambil nggodain junior-junior mahasiswi.

Di mata birokrat kampus kegiatan macam itu dinilai menghabiskan waktu tak punya nilai guna. Tapi suwer lillahi ta’ala, di tempat sederhana model begitu kami jadi menggenggam basis nilai-nilai yang sama. Tanya juga sama alumni UGM yang sempat merasakan syahdu dan guyubnya berinteraksi di kantin bonbin FIB pra revitalisasi. Selagi sempat sebelum lupa, hal-hal ini yang kemudian membawa kita kepada alasan kedua:

Kulit tidak menentukan isi sebagaimana secara haqqul yaqin saya tidak mempercayai ucapan Marx mengenai determinasi ekonomi terhadap segala sendi kehidupan. Status saya sebagai mahasiswa yang gagal lulus dari UGM tidak lantas membuat buah pikir saya tak memiliki arti.

Perjumpaan pertama kita (dan semoga bukan menjadi yang terakhir) terjadi saat saya menempelkan esai saya yang berjudul “Tantangan bagi Pemuda Indonesia di Era Kapitalisme-Lanjut” di mading sosiologi Unas. Masih ingatkah bapak? Ada rasa yang membuncah kala bapak menghampiri saya yang kala itu sedang direpoti paku-paku kecil di papan mading.

Pelan-pelan, dalam hati saya berujar, “Pembaca pertama esai saya adalah seorang dosen. Wow bingits!”

Namun apa lacur. Baru sekian detik membaca tulisan saya, bapak dengan segera menyalahkan saya dengan berkata,

“lho, negara kita ini negara kelautan mas, bukan negara kapitalis.”

Bapak sedang terburu-buru. Saya tahu karena tak lama setelah itu bapak tergopoh-gopoh meninggalkan saya. Ketika berpapasan dengan rekan bapak, bapak berseloroh keras, “itu lho, mas Fajar. Masak negara kita dibilang negara kapitalis.”

Walau bertampang seram berkumis-berjenggot begini, saya sebenarnya sentimentil, pak. Tidak sesentimentil Ade Firza Paloh atau Woody Guthrie, sih. Namun alih-alih menjadi sedih dan murung, rasa kecewa yang justru mendominasi setelah mendengar komentar bapak itu.

Rasa-rasanya kok, ya, maknyeesss

Saya kecewa bapak tidak membaca tulisan saya sampai tuntas namun menyimpulkan kesimpulan prematur, dan, mohon maaf: tidak masuk akal. Membandingkan negara kelautan dengan negara kapitalis itu kesalahan berpikir, pak. Logical fallacy kata orang-orang filsafat. Jika bapak mendebat saya dengan mengatakan bahwa negara kita ini negara sosialis atau negara bersistemkan ekonomi syariah, saya mungkin tidak sekecewa ini.

Antara negara kelautan dengan sistem ekonomi kapitalis itu bukan sesuatu yang apple to apple, pak. Sama halnya jika saya ngotot mengatakan Arsenal atau Barcelona sebagai perusahaan internasional sementara teman saya bersikukuh menetapkan kehakikian keduanya sebagai klub sepakbola. Beda konteks dan jika debat kusir berlanjut, akan memanaskan perdebatan.

Saya tidak mau menjadi mahasiswa mbelgedhes yang sok pintar dan tidak mau dikritik. Na’udzubillahimindzalik. Ada, pak, suatu kasus lucu di tahun 2012 lalu. Seorang dosen Filsafat UGM ditikam pisau oleh mantan mahasiswanya di masjid karena berdebat di status Facebook! Duh, mesakke lan lucu tenan negeriku ini. Untung peristiwa tersebut tidak sampai merenggut nyawa sang korban. Ini kisah nyata, pak. Tidak saya karang-karang. Bapak telusuri saja beritanya di internet. Kita lanjut ya, pak?

Itu sebab mengapa di paragraf pembuka saya banyak bercerita mengenai orang-orang atau kebiasaan yang tersingkirkan oleh kebijakan baru. Kebijakan-kebijakan yang menjadi contoh bagaimana kapitalisme telah menggerogoti ruang-ruang sosial (Habermas menyebutnya “public sphere”) kita, pak. Bahkan di ruang-ruang paling intim sekalipun, kapitalisme menampakkan seringai sombongnya.

Kapitalisme hadir di tanah suci umat Islam se-dunia: Mekah dan Madinah. Tanya deh, pak, sama mereka yang pernah ke sana. Tak sampai sepuluh meter dari gerbang masuk Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, kita bisa melihat gerai-gerai korporasi multinasional macam Starbucks, Rolex, atau Body Shop. Dengan dalih memberantas kebidahan, pemerintah Wahabi Arab Saudi menghancurkan ritus-ritus bersejarah yang kemudian menjelma menjadi hotel berbintang, pertokoan, hingga WC umum (95% ritus-ritus bersejarah berumur seribu tahun telah diratakan tanah dan dialihfungsikan oleh pemerintah Saudi). Vandalisme kultural, kata Dr. Irfan al-Alawi terkait fenomena ini.

Petaka akhirnya datang di musim haji tahun ini. Nafsu pemerintah Arab Saudi untuk memperbesar kapasitas Masjidil Haram justru menghasilkan prahara: crane raksasa jatuh menimpa jamaah haji, menyebabkan 111 orang meninggal dan 394 lainnya luka-luka. Hati kecil kita mungkin mengeluh: Ritual haji ‘kan tidak sampai 2 bulan, mbok yha apa sulitnya sih, memindahkan segenap peralatan berat demi menjamin keselamatan dan kenyamanan tamu-tamu Tuhan?

Sayang seribu sayang, kapitalisme tidak mengenal Tuhan, pak. Yang ia kenal mutlak akumulasi, akumulasi, akumulasi, akumulasi, akumulasi, dan akumulasi kapital. Di Arab Saudi kapitalisme bersekongkol dengan rezim tiran dan penafsiran dogmatis atas agama.

Kapitalisme juga hadir di Jepang, pak. Negeri yang pernah memerah dan menyiksa bangsa kita ini, melalui menterinya pada Juni lalu menetapkan keputusan bagi universitas-universitas negeri untuk menutup fakultas-fakultas humaniora dan ilmu-ilmu sosial (termasuk ilmu ekonomi dan hukum). Bagi pak menteri, sarjana-sarjana dari fakultas-fakultas tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam masyarakat.

Tidak perlu analisis mendalam untuk menilai keputusan tersebut sebagai usaha untuk mematikan kritik kepada pemerintah dan sistem pendidikan hanya perlu menyediakan suplai tenaga kerja dengan skill aduhai untuk industri. Lalu yang membuat saya bingung, jika universitas hanya menghasilkan sarjana-sarjana yang manut pada manual dan kebutuhan perusahaan dalam melipatgandakan modal, apa bedanya mereka dengan robot? Universitas seolah-olah menjadi pabrik pencetak kebutuhan industri.

Bapak suka nonton TV? Kalau tidak, biar saya menceritakan contoh lain merajanya kapitalisme dari kotak ajaib bernama TV itu. Sebagai audiens, meski tidak menikmatinya dengan intens, saya ngeh dengan pola kerja stasiun TV. Belakangan ini lagi marak sinetron-sinetron bertema manusia jadi-jadian, pak. Awalnya dimulai saat sinetron Ganteng-Ganteng Serigala meledak dan diminati pemirsa. Peduli setan dengan kritik yang mengatakan tayangan tersebut murahan, picisan dan plagiat, stasiun-stasiun TV lain pun menciptakan tayangan serupa. Lagian, resep tersebut terbukti berhasil mendongkrak rating yang berbanding lurus dengan melonjaknya tawaran iklan. Semakin banyak iklan = semakin tinggi profit.

Persetan juga, kata mereka, dengan tayangan-tayangan alternatif yang mementingkan etika dan estetika. Walhasil, manusia (dalam konteks ini, mereka yang terlibat di industri kreatif) dipaksa untuk menuruti logika pasar dan mengindahkan potensi-potensi yang mereka miliki. Pola seperti ini sudah lama diamati oleh ilmuwan sosial, lho pak. György Lukács menyebut hal tersebut sebagai reifikasi. Kemanusiaan seseorang diukur bukan oleh sifat-sifat manusiawinya seperti kesalehan, welas asih, atau kebergunaan sosialnya di masyarakat; tapi sejauh mana ia mampu memanfaatkan potensi diri untuk mendulang uang.

Jahat, lho pak, kapitalisme ini. Jahat biyanget.

Max Horkheimer pernah bilang, jika seseorang tidak mau membicarakan kapitalisme, maka orang tersebut tidak usah membicarakan bahaya fasisme. Soekarno, presiden pertama kita, menjadi target Amerika karena beliau dengan lantang menyebut kapitalisme sebagai musuh negara yang mewujud pada sifat-sifat nekolim Amerika. Soekarno kemudian masyhur dengan kata-kata menohoknya,

America, go to hell with your aids!

Jika bapak membaca esai saya kemarin itu, saya menjabarkannya dengan cukup jelas tentang bagaimana usaha negara-negara dominan (baca: Barat) untuk melanggengkan dominasinya terhadap negara-negara subordinat seperti Indonesia. Mereka tidak akan repot-repot memberi bantuan jika tidak ada maksud terselubung, pak. Peras, peras, peras, dan peras segala sumber daya di negara-negara berkembang. Tujuannya, surprise surprise, ya untuk memperkaya diri mereka dan kaum pemodal.

Namun sejak wafatnya Soekarno negara kita belum pernah menciptakan sosok pemimpin bernyali singa seperti beliau. Kalau ada, mungkin kita melakukan kegiatan perkuliahan di bawah naungan sirine ambulans, dentuman rudal dan desing peluru, pak. Seperti yang terjadi di Suriah, Iran, Yaman, Turki dan lain-lain kini.

Kapitalisme dan sohib kentalnya demokrasi neoliberal menerapkan prinsip division of labour Durkheim dalam ranah yang lebih luas dan kompleks. Prinsip pembagian kerja sebagai basis kapitalisme di pabrik-pabrik abad ke-19 terejawantahkan dalam sistem dunia. Ada negara yang ongkang-ongkang kaki menyediakan inovasi teknologi atau modal milyaran dolar. Ada juga negara-negara ketiban apes karena bernasib sebagai bekas negara jajahan. Jangan heran, pak, jika korporasi seperti Samsung begitu ngotot bin keuekuh untuk membuat pabrik di Indonesia: pajak yang tidak terlalu tinggi, kedekatan lokasi dengan sumber hasil alam timah di Bangka (timah merupakan material penting untuk membuat komponen-komponen kecil bin njelimet dalam smartphone) dan tingginya ketersediaan buruh upah rendahan yang suatu waktu bisa mereka tendang dari perusahaan.

Berbagai contoh di ataslah yang membuat saya terinspirasi untuk membahas isu kepemudaan di era kapitalisme dalam esai. Ramalan Marx dan Schumpeter yang mengatakan bahwa kapitalisme akan runtuh ternyata belum menjadi kenyataan. Kita semua terdampak kapitalisme. Nah, negara kelautan itu, ‘kan, suatu konsep yang berhubungan dengan kondisi geografis suatu negara. Itu berlainan dengan konteks kehidupan manusia era kini yang saya maksud dalam esai: era kapitalisme-lanjut.

Inggris juga bisa disebut sebagai negara kelautan. Armada lautnya sejak dahulu terkenal tangguh dan saking tangguhnya ada sebuah lagu kepahlawanan dengan lirik, “Rule Britannia! Britannia rule the waves (waves: samudera)/Britons never, never, never shall be slaves.

Tetapi Inggris, sebagaimana negara-negara lain sangat jelas merupakan negara yang terdampak dan/atau memihak kapitalisme, pak.

Masyarakat London, contohnya, mengeluhkan kebijakan pro-investor pemerintah yang membuat mereka kesulitan dalam menjalani hidup. Hidup di London menjadi begitu mahal karena berjubelnya investor asing di sana membuat harga sewa rumah meroket setinggi langit. Harga-harga komoditas lain otomatis terdampak. Ini prinsip dasar ekonomi. Lagi-lagi, kapitalisme menyingkirkan mereka yang bermodal rendah dan menguntungkan sebagian kecil kelompok elit. Oleh karena itu, pak, isu ketimpangan sosial kini menjadi hal yang begitu diperhatikan oleh para akademisi. Kapitalisme hanya memperkaya dan menyejahterakan sebagian kelompok masyarakat (atau elite).

Jumlahnya berapa persen? Kelompok elite yang menguasai SEPARUH DARI TOTAL KEKAYAAN DUNIA jumlahnya hanya 1% dari milyaran penduduk dunia, pak. Kelompok 1% ini yang kemudian begitu kuat pengaruhnya dalam menentukan berbagai kebijakan di seluruh negara di setiap penjuru planet bumi.

Saya paparkan contoh terakhir: Apakah bapak memperhatikan tingginya tingkat pembunuhan dengan menggunakan senjata api di Amerika Serikat? Menurut perkiraan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tiap tahun terdapat sekitar 31.000 orang (atau 85 warga per hari) yang tewas karena senjata api. Menakutkan sekali, ‘kan? Usaha untuk melarang penjualan bebas senjata api akhirnya selalu menemui jalan buntu. Sebabnya mudah kita sama-sama terka, pak. Produksi senjata api telah menjadi industri raksasa di Amerika.

Menurut data yang diberitakan marketwatch.com, industri senjata api per 2015 sanggup meraup keuntungan sebesar $15 milyar! Bukan hal aneh jika peraturan yang melegalkan warga sipil untuk memiliki senjata api akan terus eksis karena industri senjata api telah begitu banyak meraih keuntungan dari peraturan tersebut.

***

Bapak dosen yang nama dan kiprahnya belum saya kenal. Esai yang menjadi muara ditulisnya tulisan ini kemudian saya gandakan dan sebarkan kepada kawan-kawan mahasiswa. Hasilnya lumayan, pak. Meski belum mendapat tulisan tanggapan berupa kritik, kawan-kawan menjadi terinspirasi untuk menulis. Tidak sedikit juga yang kemudian mengajak saya berdiskusi.

Saya kenal banyak mahasiswa yang notabenenya merupakan mahasiswa pindahan seperti saya di kampus Unas. Rata-rata dari mereka terkesan hanya ingin secepatnya meraih titel S1. Tapi saya menolak keras sikap seperti itu, pak. Kala ada kegiatan positif, jika waktu memungkinkan, selalu saya ikuti. Saya aktif berkegiatan di Himasos dan organisasi mahasiswa ekstra (yang sebelumnya juga saya tempuh di UGM). Saat Himakom Unas mengadakan lomba debat di semester pertama saya, dengan antusiasme tinggi saya kecimpungi dan, alhamdulillah, berhasil meraih juara kedua. Kawan-kawan mahasiswa (terutama Fisip) mengenal saya sebagai orang yang tidak segan untuk berdiskusi di berbagai kesempatan. Begitu juga berbagai kegiatan riset yang diselenggarakan prodi sosiologi. Bagi saya, salah satu penyebab gagalnya saya di UGM adalah karena saya menganggap kampus tersebut layaknya WC umum. Saya gunakan hanya saat dibutuhkan. Ditambah godaan dan pesona aktivitas lain di luar kampus, saya menjadi tidak begitu merasa berakar di kampus biru.

Pun di Unas saya banyak bertemu dosen-dosen (sosiologi dan jurusan-jurusan lain) yang asyik diajak diskusi. Mungkin karena lingkupnya yang tak seluas UGM. Bahkan ada seorang dosen Unas yang kepadanya saya berhutang begitu banyak hal. Mirip-mirip lah, pak, dengan sosiolog Amerika  C. Wright Mills yang begitu tergugah dan terpengaruh karir akademiknya setelah mendengar pidato Georg Simmel di Jerman.

Bapak jangan khawatir. Tulisan ini dibuat bukan untuk menyasar sosok atau pribadi bapak secara utuh. Tapi sebagai kritik terhadap pola pikir bapak. Saya meyakini secara penuh bahwa bapak telah berproses sedemikian dalam dan jauh di dunia akademik. Dan kritik, bagi saya, merupakan langkah kecil dalam proses dialektika ilmu pengetahuan (tesis-antitesis-sintesis).

Saat mengomentari esai saya siang itu, bapak, mungkin, hanya sedang lelah.

Sampai ketemu ya pak. Sukses selalu.

Pondok Bambu, 1 November 2015

About the author

"Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.