Ada sesuatu yang ganjil ketika kita memisahkan jauh-jauh antara politk dengan sastra, kedua hal ini secara langsung berkelindan erat dalam ritus keseharian. Apalagi jika dalam konteks sejarah Indonesia. Kita bisa menyebutkan bagaimana pergulatan budaya pada titimangsa 60-an silam, ketika sastra menjadi begitu penting dalam mengukuhkan identitas bangsa yang belum lama merdeka.

Sejarah ditulis oleh mereka yang menang, katanya. Namun tinta kebenaran rasanya tak akan gampang pudar, bagaimana Orba dengan telengasnya berupaya mengubur dalam-dalam kesusastraan kiri. Sebuah asumsi dari sosok yang belum lama kita kenang setelah setahun meninggal, Ben Anderson, dalam memandang EYD sebagai hasil dari politik bahasa orba. Bagi Ben, EYD tak ubahnya upaya kroni-kroni Babe untuk membangun tembok antara sebelum ‘65 dengan sesudahnya.

Sederhananya, dengan EYD literasi sebelum ’65, yang notabene masih menggunakan ejaan lama, otomatis tegerus. Sebab siapa di antara kita yang masih kuat berjam-jam melumat kata yang tak biasa dipandang itu?

Politik kebahasaan dalam rangka menggerus budaya kiri inilah yang kemudian menjadi sebab dari eufemisme yang merebak. Kesopanan bahasa yang dibuat-buat ini secara tak langsung menjadi gerbang utama dalam upaya indoktrinisasi kebencian akan sesuatu yang berbau kiri.

Mengutip Heidegger, bahwa bahasa adalah rumah dari “ada”, tanpa bahasa manusia tak akan bisa berpikir.

Padahal jika boleh jujur, secara terang benderang kita bisa temukan bahwa sastra kiri turut mempunyai saham dalam pengukuhan identitas bangsa. Lantas sekarang setelah Orde Babe sudah lama tumbang, apakah sastra kiri kemudian menampilkan wajahnya? Rasanya sulit menjawab pertanyaan ini ketika penggeledahan buku yang dianggap berbahaya masih marak di mana-mana.

Sebab itulah diskusi ini hadir sebagai refleksi akan sebuah pemikiran yang sampai saat ini dipandang bak setan. Sebuah upaya memandang sejarah dengan adil.

Maka itu Narazine mengundang anda menghadiri kongkow-kongkow kebudayaan #1 dengan tema:

“Melacak Jejak ‘Kiri’ dalam  Sejarah Politik dan Kesusastraan Indonesia”

Waktu : Kamis, 15 Desember 2016, pukul 15.00 – selesai

Tempat : Konblok Universitas Nasional

Pembicara :

Andi Achdian (Sejarawan dan Penulis)

Heru Joni Putra (Pascasarjana Cultural Studies UI)

Moderator : M Iqbal Tarafannoer

Narahubung : Mutawakkil (081585865774)

About the author

Anak Ternate yang merasa lebih mudah mengutarakan sesuatu lewat jari tinimbang mulut. Lulusan Adm. Negara yang lebih kenal Pram ketimbang Henri Fayol. Bisa disapa di line : @risalsyam