Kuberitahu kau: hal tersulit dalam mendidik anak adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Ini sepuluh kali lebih sulit dari permintaan untuk dibelikan mainan atau dibawa berpakansi. Untuk dua yang terakhir, kau bisa berkelit dengan mudah. Kau juga bisa membuat mereka menunggu dengan suatu syarat, agar mereka tahu nikmatnya memperoleh sesuatu setelah bekerja keras.

Heru anakku satu-satunya. Segala yang kulakukan tercurah seratus persen kepadanya. Aku tidak memanjakannya dan, duhai, tumbuhlah ia menjadi anak yang enteng bertanya.

“Ayah, kenapa sebelum lahir aku tak bisa memilih dilahirkan sebagai apa? Kalau boleh memilih kan enak, aku pengin dilahirkan sebagai kijang!”

“Mengapa ada orang-orang kaya, mengapa ada juga orang-orang seperti kita?”

“Yah, jika mencuri itu berdosa dan di neraka nanti dipotong tangan, kenapa di TV selalu ada berita tentang korupsi?”

“Mengapa laki-laki harus menikahi perempuan? Apa seseorang boleh memilih untuk tidak menikah?”

“Mengapa agama manusia berbeda-beda, Ayah? Berarti surga dan neraka mereka juga berbeda-beda?”

“Yah, kenapa banyak sekali teman-teman Heru yang pengin menjadi dokter, insinyur, atau presiden?”

“Jika artis-artis itu menurut Ayah tidak lucu, mengapa mereka sering sekali ada di TV? Mengapa banyak juga yang tertawa di studio?”

Bayangkan! Sering aku dihujaninya pertanyaan saat aku baru tiba di rumah, dengan tubuh masih berlumur minyak serta daki. Mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir mungil dan matanya yang bening, mana kuasa aku meninggalkannya dan meluncur mandi! Ia melakukannya sambil menengadah dan mengepal ujung kaosku. Sungguh lucu sekali. Ibunya sering melarang, agar ia membiarkanku untuk mandi atau berbenah dulu. Tapi istriku selalu kusanggah. Heru melakukan ini sejak berumur lima tahun.

Aku tak pernah memberinya mainan mahal, atau mengajaknya bertamasya ke tempat-tempat mewah. Sejauh ini ia mengerti bahwa ayahnya hanyalah seorang tukang nasi goreng, dan ia tidak memiliki alasan untuk malu dengan pekerjaanku. Berkat kegemaranku membaca — aku membaca apa saja yang bisa kulahap, aku selalu bisa membawanya bertualang ke negeri-negeri nun jauh dan ganjil. Heru mudah kubuai dengan beraneka cerita dari para pemimpin, ilmuwan, sampai seniman. Ia paling suka mendengar cerita hidup Ernest Hemingway, yang bagi kami berdua mirip dengan kisah-kisah superhero. Sejauh ini aku selalu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang polos, lucu, dan acap membuatku risau.

Yah, paling tidak sejauh ini aku belum gagal sebagai ayah.

***

Matahari baru sedikit saja menggelinding ke barat ketika kudapati Heru pulang dengan mata berinai kemarin petang. Paling-paling habis berkelahi atau jatuh ketika bermain bola, pikirku. Anak lelaki tak apalah jika sesekali kalah berkelahi. Aku sedang mengaso, duduk meleseh di depan rumah kontrakanku. Kopi berlumur sakarin baru kuisap seperlima. Uap membiusnya pun masih mengepul.

“Sudah, kalah atau dijahili itu perkara biasa. Jangan nangis begitu, Heru. Mandi sana. Bantu ibumu menyiapkan makan malam,” semburku sambil tetap meleseh santai.

Biar miskin begini, aku lelaki berprinsip. Kubiarkan Heru bermain sepuas-puasnya. Bukan karena aku tidak menghiraukan urusan sekolah, tetapi anak-anak zaman sekarang terlalu dibebani urusan yang seharusnya belum mereka kenal. Wahai! Apa pula itu anjuran untuk menguasai bahasa Mandarin dan komputer? Dia baru kelas 4 SD! Aku beri ia kebebasan, asal mau mempertanggungjawabkan apa yang telah kuberi. Kalau sudah kubelikan mainan, lalu mainan itu rusak atau dicuri orang, minta maaflah. Jangan pula berharap ayahnya berkenan membelikan mainan pengganti dalam waktu dekat. Misalkan ia memilih untuk banyak bermain dan melupakan tugas sekolah, tak masalah. Asal ia paham, kebenaran tidak mutlak ditemukan dari mulut para guru. Nah, nilai rapornya yang buruk akan membuatnya kesulitan mencari pekerjaan, lalu harus siap menjaring nafkah lewat tenaga. Seperti aku, ayahnya.

Dan tumbuhlah ia sebagai mutiara yang kubanggakan. Meski tak pernah juara kelas, guru-guru memuji bakatnya di bidang bahasa. Aku senang koleksi bukuku menjadi bahan hiburan dan pemantik kecerdasannya. Ia jarang menuntut. Aku baru membelikannya pensil baru saat pensil yang ia gunakan sudah tidak dapat lagi diraut. Ujung pensil itu bahkan sampai tertelan genggaman tangannya yang mungil.

Permata hatiku itu juga luwes bergaul dengan siapapun, tidak hanya dengan kawan-kawan sebaya. Tangannya luar biasa enteng. Tak jarang ia membantuku dan istri saat kami kewalahan menghadapi pembeli. Ia kebagian tugas mengantar nasi kepada para pelanggan yang meminta pesanannya diantar ke rumah. Ia jalani itu dengan riang hati. Dengan begitu, aku dan istri berharap ia menjadi pribadi yang gampang mengucap syukur. Sulitnya mendidik anak juga dirasakan orang-orang seperti kami, lumpenproletariat yang berjejal di ibukota.

Dari mana aku tahu istilah rumit begitu? Hoi, aku ini mantan kelas menengah terdidik, saudara! Nasib jualah yang pada akhirnya memaksaku terperosok ke lumbung kemiskinan. Oleh sebab kerusuhan politik belasan tahun lalu itu, kaluargaku tercerai berai. Harta kami ludes dilahap api hanya dalam semalam. Ya, aku muslim. Tapi takbir dan tangan bersedekap yang rutin kulakukan tak mampu menyelamatkanku dari amuk massa. Padahal toko milik babaku itu biasa saja, bukan tipe usaha menggurita yang menyebabkan negeri ini bangkrut dan lunglai.

Dua adikku, Koko dan Andre mati di malam laknat itu, menjadi abu, bersama harta yang tak seberapa. Baba dan Mama lari ke Taiwan. Mereka membawa Rie, adik perawanku yang masih berusia empat belas. Oleh sebab aku lelaki yang telah tumbuh dewasa, mereka meninggalkanku di sini. Uang yang dimiliki Baba terbatas. Keselamatan Rie lebih diutamakan karena sehari setelahnya banyak kabar pemerkosaan massal yang menimpa perempuan-perempuan Cina. Perempuan-perempuan yang bermata sipit bukan karena kehendak sendiri.

Saat itu aku baru menjalani tahun kedua kuliahku. Bayang-bayang masa depan sebagai penyandang sarjana, dengan teramat berat, mesti kuenyahkan. Beruntung Baba memiliki beberapa kolega yang tak bermata sipit. Salah satunya Haji Ramli. Ia menampung dan melindungiku. Walau demikian, aku harus bersedia mengerjakan tugas-tugas di toko material miliknya. Aku tak menuntut lebih karena kebaikan hati keluarga Ramli sudah terlampau banyak.

Nasib boleh saja berkali-kali membuat hidupku oleng, ke sana kemari tanpa arah. Walakin, maaf seribu maaf, takkan pernah ia benar-benar membuatku tumbang.

***

“Ayah, Heru sepertinya kok berbeda. Ini bukan perkara ribut biasa. Coba kau ajak omong dia baik-baik,” pinta Sari istriku. Tanpa ia katakan, aku juga membatinkan kekhawatiran serupa. Heru tidak pernah bertingkah seganjil ini.

Aku memberinya anggukan tanda setuju. Istriku menghela napas, lalu beranjak kembali ke dapur untuk menjerang air.

Ini sudah hari kelima Heru murung membisu. Ketika kubuatkan nasi goreng campur kerang kesukaannya, ia tak menyentuhnya dengan lahap. Pulang sekolah ia tak bermain di luar rumah seperti biasa. Heru lebih sering menonton TV. Dari tatapan kosongnya kutahu ia tidak sedang benar-benar menonton. Telah kupastikan tidak ada luka apapun di tubuhnya. Jelas ini bukan perkara perkelahian.

Ia ada di kamarnya, berbaring menerawang langit-langit yang kusam berbantalkan kedua tangan. Seperti orang dewasa saja lagaknya. Masuklah aku tanpa permisi. Duduklah aku di tepi kasur, yang ia ikuti dua menit kemudian. Ia tahu akan kuajak berbicara.

“Kau tahu kau bisa bercerita dan bertanya tentang apa saja, kan, Heru?”

Istriku telah tuntas menyeduh tiga gelas teh panas. Ia kini berdiri bersandar di sebelah pintu. Heru duduk menekuk lutut dan melipat tangannya, seperti belum yakin rahasianya bisa ia singkap. Setelah keheningan beberapa jenak yang tak menyenangkan ini, berkatalah ia:

“Kata Saskia dan Rafli aku kafir. Kata Alifa nasi goreng buatan ayah pake minyak babi, makanya laris. Kata Ibnu dan Guntur, perempuan Cina kayak ibu pasti mendukung sang penista agama, makanya boleh diperkosa. Caranya biar tidak kafir itu bagaimana? Aku kan muslim, tapi tetap dipanggil kafir. Apa kita perlu Tuhan baru? Carikan aku Tuhan baru, Yah.”

Astaga. Petaka itu datang lagi. Petaka yang rupanya senantiasa menaungi kami ketika negeri dilanda masalah. Tanganku bergetar tak keruan. Aku tidak boleh menangis di depannya. Anak-anak itu tidak salah. Mereka semua malaikat dan sebersih kapas. Ibunya terperenyak saat mendengar kata-kata itu lolos dari mulut Heru, mutiara kami.

Heru pernah sesekali dijahili kawan-kawan sebaya, bahkan sampai membuatnya terluka. Tapi tak pernah aku ikut campur, lalu melangkah jauh dengan menghampiri orangtua mereka. Ini pertanyaan yang jawabannya harus kutelusuri entah di mana. Ini juga merupakan jenis pertanyaan yang bercampur gugatan.

Aku tidak pernah membawanya menghadiri pertemuan sesama Cina, karena aku tak mau ia menjadi anak pemilih. Ia harus bisa bergaul dengan siapa saja. Apa itu salah? Aku jarang membawanya salat berjemaah. Harus kuakui, aku kecewa dengan agama. Aku juga tidak ingin membuatnya beragama karena takut kepadaku. Heru harus menemukan sendiri Tuhannya. Itu tidak salah.

Betapa kekuasaan rentan memantik kebencian. Nahas, kamilah yang sering menjadi sasaran. Prasangka memang rajin merasuki orang-orang di negeri ini. Sejauh ini tidak ada korban nyawa, tidak seperti bulan-bulan terkutuk di 1959, 1965, atau 1998. Tetapi, aku tahu nalar dan jiwa anakku terguncang hebat. Ia pasti merasa menjadi diri yang lain, yang salah, dan yang tersisihkan. Pertanyaan Heru tidak bisa kujawab dengan tamsil atau wiracarita.

“Maaf, anakku, aku tak bisa menjawabnya saat ini. Maafkan mereka, Heru, maafkan. Jangan biarkan dendam dan kebencian mengendap di jiwamu. Pelan-pelan dan perlahan, Nak, akan kutunjukkan Tuhanmu. Bukan, bukan Tuhan yang baru. Ia sejatinya telah mendekam lama di sini,” aku berbisik sambil meraba jantung Heru, lalu kupeluk erat-erat. Pelukan yang ia balas begitu dalam dan kencang, seperti ingin meluruhkan gugatan.

Bantu aku agar tidak menjadi ayah yang gagal, Nak. 

Pondok Bambu, Juli 2017

Untuk sahabat dan pahlawanku, Bagus “Jalang” Wiratomo (1984-2015).

About the author

"Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.

Related Posts