Masih lekat di ingatan kita bagaimana Farhan, mahasiswa Universitas Gunadarma yang terekam sedang di-bully oleh kawan-kawannya. Aksi yang kemudian menarik perhatian masyarakat itu menampilkan Farhan yang sendirian menjadi bahan perundungan atau bahan olok-olok kawan sekampusnya.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, sebuah video lain juga menampilkan seorang pelajar berseragam putih dikerubungi oleh beberapa orang yang melakukan pelbagai kekerasan terhadapnya. Di akhir video, korban dipaksa mencium tangan mereka yang mem-bully-nya.

Kedua kasus tersebut rasanya sudah cukup menegaskan bahwa fenomena bullying bukan lagi hal yang sepele. Bullying, yang padanan kata bahasa Indonesia adalah perundungan, menjadi masalah genting ketika sudah menyasar kehidupan si korban.

Berbeda dengan aksi perundungan yang dilakukan oleh pelajar di Thamrin City, kasus bullying yang menimpa Farhan memberikan pandangan bahwa perundungan bukan hanya terjadi di kalangan siswa-siswi sekolahan saja, tetapi di tingkat universitas yang notabene diisi oleh kalangan yang katanya intelek. Selain itu, dalam kasus bullying di Thamrin City, aksi bullying dilakukan karena ada sentimen konflik antara si pelaku dengan si korban. Itu terlihat dari awal video yang sempat memperlihatkan cekcok antara pelaku dengan korban.

Sedangkan dalam kasus Farhan aksi perundungan dilakukan bukan dalam rangka balas dendam atau apapun yang menyangkut sentimen konflik. Tindakan tersebut dilakukan semata-mata demi kesenangan para pelaku, dalam artian mem-bully Farhan adalah hiburan bagi kawan-kawannya. Hal itu terlihat dari pernyataan pelaku yang menganggap tindakan mereka terhadap Farhan hanyalah sebuah bentuk bercandaan saja. Mereka mengaku tak ada niat khusus untuk mem-bully Farhan. Semua itu dilakukan secara spontan.

Hal itu sekaligus menegaskan juga bahwa kadang memang tindakan bullying kerap bersembunyi di balik tirai lelucon, tidak sadar apa yang dilakukannya adalah merupakan tindakan bullying. Akan menjadi rumit ketika si korban juga tidak merasa sedang mengalami perundungan.

Menurut American Psychiatric Association (APA) bullying atau perundungan adalah “…. Perilaku agresif yang dikarakteristikkan dengan 3 kondisi yaitu (a) perilaku negatif yang bertujuan untuk merusak atau membahayakan (b) perilaku yang diulang selama jangka waktu tertentu (c) adanya ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan dari pihak-pihak yang terlibat”.

Ketiga karakteristik di atas setidaknya bisa kita temukan dalam kasus Farhan. Setiap kasus bullying tentu berbahaya bagi kondisi korban baik itu dari segi fisik maupun psikologis. Situasi Farhan yang sendiri tanpa ada yang menolong juga menegaskan adanya ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan antara Farhan dengan para pelaku. Hal ini juga ditambah dengan kondisi Farhan yang notabene mengidap keterbelakangan mental.

Bagi saya, penting untuk menyikapi bagaimana reaksi pelaku yang justru menganggap tindakannya hanya sebagai lelucon semata. Sebab, mau tidak mau, dari mindset inilah perundungan bisa terus berulang. Kita juga mengenal istilah “baper” atau “bawa perasaan”, yang kadang menjadi tameng bagi para pelaku bullying ketika pihak korban mulai menunjukkan perlawanan.

Ada banyak sekali faktor yang bisa menjadi patokan bagi kita ketika berbicara tentang sumber-sumber tindakan bullying. Misalnya dari media sosial dan program-program televisi. Yang terakhir akan menjadi fokus utama dalam tulisan ini.

Kerapkali kita menemukan sebuah program televisi, entah secara sadar atau tidak turut merayakan tindakan perundungan. Biasanya hal seperti ini terdapat pada acara-acara berupa talkshow atau acara komedi.

Dalam program televisi yang menampilan aksi tersebut, seringkali beralasan untuk kebutuhan gimmick yang diharapkan akan mengundang tawa penonton. Tindakan perundungan dalam program televisi tidak melibatkan para artis saja, seperti yang terjadi dalam acara komedi Opera Van Java, tetapi juga seringkali melibatkan para penonton yang hadir saat itu.

Acara Tonight Show di Net TV, misalnya. Program TV yang dibawakan oleh duet Vincent-Desta ini dalam beberapa segmen menampilkan tindakan yang bisa dibilang mengarah ke bullying. Dalam segmen permainan yang sering mengundang penonton untuk turut berpartisipasi seperti “Tebak Bibir” atau “Pie Face”. Di situ, kerapkali kita menyaksikan si penonton yang polos menjadi bahan tertawaan oleh penonton lainnya. Dengan tingkah-laku yang kaku karena ‘masuk TV’ dan juga bertemu dengan para artis dalam satu frame, segmen ini memiliki modal gimmick yang ampuh mengundang tawa.

Belum lagi ketika kedua host melempar lelucon yang mengarah ke si penonton, entah itu tentang kesalahan dalam permainan atau perangai penonton yang terkesan aneh. Bahkan, beberapa kali kedapatan kedua host mengomentari fisik si penonton, dengan mempertanyakan apakah sudah mandi atau belum, atau sudah makan atau belum.

Beruntung jika penonton yang ditarik untuk ikut dalam permainan adalah mereka yang punya kepercayaan diri tinggi, sehingga bisa merespons lelucon yang dilempar kedua host. Namun, akan mengenaskan bagi kami para penonton di rumah ketika yang ditarik adalah mereka yang tidak punya kepercayaan diri tinggi di depan kamera.

Yang seperti ini sejatinya tidak hanya terjadi di acara Tonight Show saja tetapi juga di beberapa program televisi lain, seperti Ini Talkshow yang dibawakan oleh Sule dan Andre.

Kita tak pernah tahu bagaimana kelanjutan si penonton ketika sudah pulang dari acara tersebut. Bisa jadi malah apa yang terjadi di dalam studio itu berlanjut ke lingkup pertemanan si penonton, dan itu jelas bukan tidak mungkin di tengah kondisi masyarakat seperti sekarang.

Program-program tersebut juga memproyeksikan apa yang diungkapkan oleh American Psychiatric Association di atas, bahwa terdapat ketidakseimbangan kekuatan dan kekuasaan antara mereka yang terlibat. Dalam hal ini, kekuasaan mutlak dipegang host program tersebut, yang notabene sudah terbiasa berada di spotlight. Sedangkan si penonton yang ditarik adalah pihak yang berada dalam posisi minim kekuasaan. Tentu saja yang terjadi adalah si penonton bakal pasrah dengan apa yang akan ditujukan kepadanya.

Pernah dalam salah-satu episode Tonight Show seorang penonton yang ditarik untuk ikut dalam permainan merangkai huruf menjadi sebuah kata. Ketika itu timnya berhasil merangkai huruf dan seketika salah satu host ingin merayakan keberhasilan itu dengan mengajak si penonton untuk berjoget khas si host. Tak seperti para penonton sebelumnya yang pasrah saja mengikuti joget tersebut dengan wajah tertunduk malu, si penonton ini bersikeras tidak mau mengikuti apa yang diperagakan si host walau sudah dipaksa berulang kali. Hal ini memperlihatkan bagaimana si penonton merasa malu dengan apa yang dilakukan.

Kejadian seperti ini mengingatkan saya pada sebuah film satire berjudul God Bless America (2011). Film yang mencenceritakan kemuakan pria dewasa dan seorang gadis remaja dengan kehidupan sosial di Amerika. Mulai dari abege yang nangis-nangis minta dibelikan gawai terbaru, perilaku tidak sopan orang di dalam bioskop, pembawa acara yang selalu memprovokasi, hingga soal yang tampak sepele seperti parkir yang salah tempat. Intinya, kedua pemeran utama ini merasa terganggu dengan segala hal yang mereka anggap merusak cara hidup manusia. Semua itu menjadi lengkap ketika Frank, si pemeran pria, harus menyaksikan acara televisi pencari bakat (America Superstar) yang menurutnya selalu mendiskreditkan para peserta guna mengundang tawa penoton.

Maka berkat kekesalan itu, Frank dan Roxy pun bersepakat memulai sebuah misi dengan membunuh orang-orang yang mereka anggap merusak itu. Hingga pada akhirnya mereka merencanakan pembajakan acara pencari bakat menyanyi itu, dan kemudian membunuh komentator yang seringkali mem-bully para peserta audisi.

Film ini dengan jelas ingin menyindir perilaku amoral yang kerapkali kita temukan di layar kaca, pada acara-acara yang melibatkan pelbagai jenis manusia seperti audisi mencari bakat. Dan sudah barang tentu film ini menyindir program American Idol. Apesnya, tindakan bullying yang dilakukan terhadap peserta dan disiarkan secara luas ini juga diadopsi di Indonesian Idol.

Bukan rahasia lagi memang kita menyaksikan ketika audisi para komentator memasang wajah merendahkan ketika seorang peserta yang jelek dalam bernyanyi. Ironisnya, para peserta ini kadang juga turut andil dalam tindakan bullying tersebut, tanpa sadar bahwa ia sedang ditertawakan oleh segala penjuru tanah air karena keanehannya.

Dalam situasi seperti ini juga kadang menjadi dilematis. Ketika para pesohor melakukan perundungan terhadap masyarakat biasa, pihak yang di-bully justru senang karena dengan begitu ia bisa dikenal. Namun yang penting adalah ketika hal seperti itu menjadi santapan para penonton di rumah, dan menganggap bahwa hal seperti itu bisa dilakukan di dunia nyata.

Langgengnya bullying tidak hanya dipicu oleh hal-hal yang rumit, namun lebih sering dipicu oleh faktor-faktor yang terdengar sepele bahkan terbilang lumrah di tengah masyarakat. Seperti kata “baper” di atas yang terdengar bercanda namun juga menyimpan lubang-lubang lolosnya praktek bullying.

Saya tahu akan menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat dalam upaya meminimalisir hal-hal yang seperti ini. Namun setidaknya, bagi saya dan mungkin banyak orang di luar sana, menganggap bahwa kehidupan atau kehormatan seseorang jauh lebih penting tinimbang gimmick yang mendulang tawa. ♦

About the author

Anak Ternate yang merasa lebih mudah mengutarakan sesuatu lewat jari tinimbang mulut. Lulusan Adm. Negara yang lebih kenal Pram ketimbang Henri Fayol. Bisa disapa di line : @risalsyam