Baca bagian kedua serial Detektif Rizal di sini.

“Lang, bekerja di suatu perusahaan itu sama seperti memancing ikan. Di satu sisi kau harus bersabar agar bisa mendapat ikan yang kau mau. Tapi di sisi yang lain, kau harus cepat-cepat pindah, kalau-kalau kau terlalu lama memancing di satu tempat, tapi tidak juga mendapatkan ikan. Kau mengerti, kan?”

Langit tersenyum mengingat perkataan Rizal, sahabatnya. Langit mengerti sekali apa yang dimaksud Rizal, bahkan sebelum Rizal menceramahinya. Tapi dia suka geli dengan analogi-analogi Rizal yang kadang malah mempersulit atau menyusahkan si pendengar. Sahabatnya yang satu itu tidak pernah bisa bicara dengan cara yang mudah. Buku-buku sudah meracuni pola berpikir dan berbicaranya menjadi seperti itu.Kata-kata di atas itu keluar beberapa menit setelah dia selesai membaca The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Langit belum bercerita tentang apa yang dia rasa, tapi Rizal memang memiliki intuisi yang tajam bak Auguste Dupin. Dia sudah tahu apa yang Langit pikir dan rasakan bahkan sebelum Langit membuka mulut. Analogi seperti itu keluar karena dia baru selesai membaca buku yang berhubungan dengan memancing. Andai saja buku yang Rizal baca adalah buku Franz Kafka, mungkin dia sudah menganalogikan permasalahan Langit dengan seekor kecoak.

Saat itu Langit baru saja memutuskan untuk keluar dari kantornya yang lama. Sebenarnya dia cukup nyaman bekerja di sana, walau gajinya tidak terlalu tinggi. Tapi dia muak dengan rekan-rekan kerjanya. Mereka semua bermuka dua. Hipokrit sejati. Oportunis kapitalis. Mereka gemar sekali mencari muka di depan atasannya, padahal Langit tahu kalau mereka semua suka mencaci maki bosnya itu di belakang. Langit benci sekali dengan yang namanya kemunafikan. Menurutnya, orang munafik adalah sampah paling bau yang pernah ada di muka bumi.

Bukan sekali ini saja Langit melakukan itu. Sudah sering kali dia bekerja di perusahaan yang berbeda-beda, dan selalu keluar dengan alasan yang sama. Langit heran. Dia bertanya-tanya, “Apa semua orang di dunia kerja itu seperti ini? Tamak. Rakus. Rela menikam dari depan atau belakang demi sebuah jabatan dan uang yang sebenarnya tidak begitu besar.

“Lang, semua orang di dunia kerja ini sudah seperti Daniel Day Lewis di film There Will Be Blood. Bagi mereka sukses saja tidak cukup, orang lain juga harus juga jatuh,” kata Rizal di suatu hari.

“Kak!”

Hardikan seseorang membuyarkan lamunan Langit.

“Eh, Meta. Kau ini mengagetkanku saja. Ada apa?”

Meta, seorang gadis dengan rambut hitam berponi, salah satu anggota UKM teater yang diketuai oleh Langit menatap Langit dengan penasaran. Meta sudah tahu kalau seniornya yang satu ini memang unik. Namun baru kali ini dia melihat Langit tersenyum-senyum sendiri. Apa lagi senyumnya itu cukup ganjil. Bibirnya memang menyungingkan senyuman, tapi sinar matanya memancarkan suatu kekecewaan.

“Kakak sedang apa? Senyum-senyum sendiri.”

“Ah, bukan sesuatu yang penting. Bagaimana, kau sudah hafal naskah ceritanya?” tanya Langit mengalihkan pembicaraan.

“Sudah. Tidak terlalu sulit, kok.” kata Meta

“Bagus kalau begitu. Latihan lagi sampai benar-benar hafal,” Langit membalikkan badan, memunggungi Meta.

“Kakak ini memang berbeda, ya,” ujar Meta sambil mengempaskan pantat mungilnya di kursi kayu yang sudah kusam.

“Berbeda bagaimana?”

“Iya. Di saat kelompok teater lain sibuk menghafal dan mementaskan naskah dari drama-drama Shakespeare seperti Hamlet, The Merchant of Venice atau Much Ado About Nothing, Kakak justru meminta kita menghafal dan mementaskan karya-karyanya Haruki Murakami,” kata Meta.

“Loh, justru bagus kan? Kita jadi tidak sama seperti orang lain. Dialog-dialog dalam novelnya Murakami juga ringan. Dan rasanya memang belum pernah ada orang yang mementaskan teater berdasarkan cerita Murakami. Mungkin ada, tapi tidak banyak.”

Meta hanya mengangkat bahu.

“Sudah ya, aku harus pulang. Tolong bilang sama teman-teman yang lain, latihan hari ini kita sudahi sampai di sini dulu. Besok sore kita lanjut lagi. Oke?”

Tanpa persetujuan Meta, Langit bergegas menuju halaman tempat dia meletakkan sepeda gunungnya. Meskipun anak orang kaya, Langit tidak suka mengendarai motor atau mobil kecuali dalam situasi yang teramat genting. Dia lebih suka mengendarai sepeda gunungnya yang sudah butut atau naik angkutan umum. Menurutnya, membawa kendaraan mahal hanya akan membuatnya waswas, ditambah asap kendaraan yang dikeluarkan akan membuat udara yang sudah kotor menjadi bertambah kotor karena kendaraan yang dia bawa. Sebagai pencinta alam, Langit selalu ingin membuat dunia di sekitarnya menjadi lebih baik, walau hanya melakukan hal kecil seperti itu. Setidaknya dia sudah mengurangi satu jumlah kendaraan yang menyesakkan jalanan. Bagi Langit, mengendarai sepeda sudah seperti meditasi tersendiri. Terpaan angin di wajah ketika dia mengayuh sepedanya selalu memberinya kebahagiaan dan ketenangan.

Sayangnya, hari ini sepertinya Langit tidak bisa merasakan hal itu. Dia tidak bisa menemukan di mana sepedanya terparkir. Langit berdecak kesal. Sudah tiga kali sepedanya lenyap digondol oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Padahal dia selalu mengunci dan merantai sepedanya, tapi ternyata para pencuri ini jauh lebih pintar dari yang Langit duga. Dengan lesu, Langit membuka gembok rantai yang tadinya mengalungi sepedanya.

Baru saja dia ingin memutar kunci gembok rantai sepedanya, secarik kertas memo menarik perhatiannya. Kertas memo itu tertempel manis di tiang penyangga sepeda. Dilihat dari kondisi kertas, sepertinya kertas itu belum lama menempel di sana.

Langit menarik kertas memo itu dari tiang penyangga, dan membaca tulisan yang tertera di kertas itu.

Tunggu dering telepon dariku di ponselmu.

Langit terkekeh. Ini pasti kerjaan Rizal, batinnya.Tapi Langit mengusir pikiran itu di detik berikutnya kala dia melihat bentuk tulisan si penulis yang begitu rapi.

“Aku sudah cukup lama mengenal Rizal. Dia punya bentuk tulisan yang unik, mirip-mirip tulisan Margo (Karakter dalam novel Paper Towns karya John Green). Tulisan dia tidak serapi ini. Lagi pula, ada bau parfum perempuan dari kertas ini. Kemungkinan terbesar si penulis tulisan ini adalah perempuan. Tapi siapa dia? Untuk apa dia mencuri sepedaku? Jangan-jangan ini perbuatan Zigi? Si gadis misterius itu. Kenapa pula aku jadi terdengar seperti Rizal?” Langit menerka-nerka

Langit ingin menghubungi Rizal, tapi dia tahu kalau masalah Rizal sudah cukup banyak. Dia tidak mau membebani sahabat karibnya itu dengan masalah baru. Langit memilih memecahkan masalah ini sendirian. Setelah menyulut sebatang rokok, Langit berjalan gontai menuju gerbang kampus untuk pulang, kali ini dengan angkutan umum.

***

“Kiri, bang!” seru Langit.

Angkutan umum berwarna biru itu perlahan menepi. Rizal turun dengan susah payah karena terhalang kaki ibu-ibu yang duduk dengan posisi seenaknya. Sambil berdecak (lagi), Langit melompat turun dari angkot, lalu mendarat di atas aspal bak balerina yang baru menuntaskan tariannya. Kemudian dia membayar ongkos pada di supir, dan kembali menyeret kakinya ke suatu tempat.

Tempat itu bernama Dims’s. Nama yang terinspirasi dari kelab jazz milik Sebastian di film La La Land besutan Damien Chazelle. Tapi jangan kira tempat itu benar-benar kelab jazz. Memang dari luar terlihat seperti kelab, dengan neon berwarna ungu biru menyala di nama Dim’s, tapi tempat itu sebenarnya adalah kedai bakso milik junior kampusnya yang bernama Dimas. Ketimbang disebut kedai bakso, Dim’s ini sebenarnya lebih pantas disebut perpustakaan. Karena ornamen utama dalam ruangan kedai ini adalah rak berisi ratusan buku yang berjejer melingkari ruangan.

Dimas adalah seorang novelis misteri terkenal dengan nama pena Sam. I.D. Semua penggila misteri tahu nama Sam I.D. Tapi mereka sama sekali tidak pernah melihat wujud dari Sam alias Dimas. Dimas tidak pernah tampil di depan umum. Dia tidak pernah hadir di acara-acara yang berhubungan dengan seni dan kesusastraan walau dirinya diundang sebagai pembicara. Dia juga tidak mempunyai akun media sosial apapun seperti penulis-penulis era milenial. Menurutnya, yang paling penting dalam menjadi seorang penulis adalah menulis itu sendiri. Hal remeh-temeh seperti itu adalah distraksi yang tidak dibutuhkan.

“Dari pada aku datang ke acara seperti itu, aku lebih baik mengurus kedai baksoku saja. Kedai baksoku ini aset, Lang. Kalau suatu hari nanti, tulisanku sudah tidak begitu laku, ya hanya ini yang kupunya. Aku tidak butuh pencitraan. Aku tidak butuh promosi. Aku hanya butuh menulis, musik, dan semangkuk bakso,” jelas Dimas pada suatu hari.

Dimas berperawakkan kecil dengan rambut yang selalu berantakan. Dia juga selalu mengenakan syal rajutan neneknya di cuaca seperti apapun dan kacamata bulat bak kacamata Harry Potter. Padahal matanya tidak minus. Untuk hal itu, dia punya filosofinya sendiri.

“Aku tidak pernah bisa memercayai penghilatanku, Lang. Maka dari itu, aku mengenakan kacamata seperti ini. Kacamata ini membuat penglihatanku terfilter. Memang malah sering menimbulkan masalah. Tapi aku merasa lebih aman saat memakainya,” jelas Dimas saat Langit menanyakannya

“It’s The End of The World” yang dinyanyikan The Carpenters menyambut Langit di pintu masuk. Di sudut ruangan, Langit bisa melihat Dimas yang sedang serius membaca kumpulan cerpen karya Raymond Carver berjudul What We Talk About When We Talk About Love. Saat itu kedai bakso Dimas masih cukup sepi, hanya ada lima atau enam pengunjung, karena biasanya kedai miliknya baru akan ramai di malam hari. Langit menggebrak meja, mencoba mencuri perhatian Dimas yang masih serius membaca buku. Mungkin bocah kutu buku ini bisa membantuku memecahkan isi kertas memo yang misterius ini. Dia kan novelis misteri terkenal. Iya benar juga, tapi masalahnya bocah ini menyebalkan. Ah apa boleh buat, pikir Langit.

“Apa, sih?” sungut Dimas.

“Aku butuh bantuanmu,” kata Langit tanpa basa-basi.

“Soal apa?” Dimas masih belum berpaling dari bukunya.

“Bisa tidak kalau sedang berbicara kau menatap langsung mata orang yang mengajakmu berbicara? Begitu kan esensi dari yang namanya berdialog?”

“Tidak bisa. Aku tidak mengenal dialog semacam itu. Zaman sekarang malah kita bisa berdialog  tanpa memerlukan pita suara sekalipun,” kata Dimas dari balik buku.

Bocah paranoid sialan, batin Langit.

“Ini berhubungan dengan suatu kasus,” kara Langit dengan nada bicara yang serius.

Dimas melempar bukunya, yang kemudian mendarat telak di atas mangkuk milik seorang pengunjung. Pengunjung itu kaget setengah mati, tapi dengan sigap, salah satu pegawai Dimas mengganti bakso rasa Raymond Carver itu dengan bakso baru. Dimas cuek saja dengan hal itu, dan malah menyulut rokok dengan santainya.

“Kasus apa?” tanya Dimas.

“Iya, jadi tadi. . . “

Belum sempat Langit menjelaskan ihwal kasusnya, ponsel pintarnya berdering. Langit tersenyum kecil, sambil memberikan isyarat agar Dimas menunggu, Langit melangkah menjauh dari Dimas untuk mengangkat ponselnya. Dimas mendengus kesal. Dia bangkit dari kursinya untuk mengambil buku Raymond Carver yang sudah basah dari pegawainya, lalu melanjutkan membaca.

“Halo, dengan Langit?” tanya suara merdu si seberang sana. Dari suaranya yang merdu, sudah pasti si penelepon adalah seorang wanita.

“Ya, benar. Ini siapa?”

“Aku yang menulis pesan di kertas memo tempat sepedamu dicuri.”

“Jadi kau pelakunya?”

Wanita itu tertawa kecil.

“Aku bilang kalau aku yang menulis memo, tapi aku tidak bilang kalau aku yang mencuri sepedamu, kan?”

Benar juga.

“Jadi kau ini siapa?”

Wanita itu tidak menjawab. Langit bisa membayangkan wanita di seberang sana sedang tersenyum, seolah-olah mengetahui segalanya. Langit jadi jengkel dengan imajinasinya sendiri.

“Kau tahu siapa yang mencuri sepedaku?” tanya Langit lagi.

“Kalau iya, kenapa?” balas wanita itu.

“Tolong beritahu siapa yang mengambilnya,” kata Langit setengah memohon.

“Kenapa aku harus memberi tahumu? Apa keuntungannya untukku?”

Menyebalkan sekali wanita ini, batin Langit.

Langit melirik Dimas yang kini asyik membersihkan debu di boneka-boneka bayi bekas koleksinya. Dimas membalas lirikan Langit dengan acungan jari tengah. Langit bukan orang yang pandai bernegosiasi, apalagi dengan seorang wanita. Dia bingung harus berbicara apa dengan si wanita misterius ini. Sebenarnya, kehilangan sepeda bukan masalah untuknya. Dia bisa membeli lagi dengan uang tabungannya. Tapi rasa-rasanya konyol juga membiarkan orang-orang di luar sana terus menerus mencuri sepedanya. Apa lagi kali ini sepedanya dicuri dalam situasi yang ganjil.

“Kau ini siapa, sih? Apa hubunganmu dengan sepedaku yang dicuri?!” seru Langit mulai tak sabar.

Si Wanita itu tidak menjawab.

“Hei! Jawab aku!”

Wanita itu terkikik, sebelum akhirnya dia berkata, “Aku akan menghubungimu lagi. Semoga harimu menyenangkan, Langit Biru.”

Telepon dimatikan.

Langit menatap ponselnya. Dia berusaha menghubungi nomor si wanita, tapi ternyata wanita itu menghubunginya dengan nomor rahasia yang tidak bisa dilacak.

“Sial!” rutuk Langit.

Langit menarik kursi di depan meja Dimas yang masih asyik membersihkan boneka-boneka bayi. Mereka berdua saling bertatap-tatapan, tadi tidak ada yang berbicara. Langit menghela napas, lalu menyulut sebatang rokok.

“Ada kiranya yang kau perlu ceritakan padaku?” tanya Dimas acuh tak acuh.

Langit menggeleng. Entah kenapa dia merasa lelah sekali. Saking lelahnya sampai dia enggan untuk berbicara sepatah kata pun.

“Cukup bijaksana. Aku tinggal sebentar, ya. Aku harus menyelesaikan naskah novelku yang belum selesai. Dua jam lagi aku kembali,” kata Dimas.

Langit mengangguk sambil tersenyum lemah.

Dimas bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.

Sepeninggal Dimas, Langit menunggu dering telepon dari Si Wanita Misterius selama berjam-jam, tapi ponselnya tidak juga berdering. Hari mulai gelap, lampu neon di nama Dim’s sudah menyala dengan terang, dan para pengunjung sudah mulai ramai berdatangan. Seorang pengunjung datang menghampiri Langit.

“Maaf, boleh aku duduk di sini? Kursi yang lain sudah penuh,” kata si pengunjung.

“Oh, iya. Silakan.” Langit berdiri dengan tergesa-gesa, lalu berjalan menuju pintu keluar kedai.

Saking tergesa-gesanya, ponsel pintar miliknya tertinggal. Si pengunjung menyadari ada ponsel yang tertinggal, dia memegang ponsel itu dan menoleh mencari sosok Langit, berharap Langit masih ada di sekitar situ atau kembali lagi. Tapi sampai si pengunjung itu selesai makan, Langit tak kunjung kembali. ♦

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir. Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts