Oleh: Asta Purbagustia*

Saya selalu berpikir bahwa memaafkan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Mencoba melupakan kesalahan orang lain kepada kita tak seperti mengupas kacang. Saya selalu percaya itu dan film The Salesman (2016) seperti menegaskannya kembali.

Emad adalah seorang guru bahasa. Ia dikenal baik oleh muridnya sebagai guru yang lucu dan moderat. Di kelas ia sering berbalas kelakar dengan murid tanpa sungkan. Selain berprofesi sebagai guru, ia adalah seorang aktor di sebuah teater sederhana. Ia hidup dengan istrinya, Rana, dan mengakrabi kemiskinan. Suatu hari mereka harus mencari rumah sewa baru karena rumah yang lama terancam dirobohkan atau digusur.

Nasib baik menaungi mereka karena seorang kawan menawarkan rumah sewa untuk mereka tinggali. Akhirnya mereka pindah ke rumah itu. Namun di sanalah konflik bermula. Mereka yang semula berpikir hidup akan jauh lebih mudah karena sudah memiliki rumah baru harus menghadapi kenyataan yang tak pernah mereka duga sama sekali.

Suatu malam, Emad belum pulang dari mengajar di sekolah dan meninggalkan Rana seorang diri di rumah. Bel berbunyi, Rana membuka pintu dan meninggalkan pintu terbuka. Rana mengira itu adalah Emad. Namun itu bukanlah Emad, melainkan orang asing yang kemudian masuk dan menganiaya Rana.

Rana terluka. Kepalanya bocor dan wajahnya penuh luka lebam. Mengetahui kondisi Rana, Emad lantas marah besar. Emad memang tidak mengekspresikan amarahnya, tapi dari tatapannya tampak jelas bahwa api amarah telah membakar perasaannya.

Pasca kejadian itu, Rana mengalami trauma. Ia selalu takut sendirian di rumah. Kejadian itu juga mengubah pribadi Emad seratus delapan puluh derajat. Emad yang tadinya humoris berubah menjadi sosok temperamental.

Tidak ada yang suka melihat orang terkasih menderita. Perasaan itulah yang menuntun Emad untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Emad terus bertanya kepada Rana tentang detail kejadian malam itu, namun Rana selalu memberi penjelasan ala kadarnya.

Lantas Emad menawarkan kepada Rana bahwa kejadian ini harus ditangani polisi. Rana bersikeras menolak kasus ini dibawa ke polisi. Baginya apa yang terjadi biarlah terjadi. Rana pikir sudah tidak perlu lagi mengungkit-ungkit kejadian itu.

Emad berpikiran lain. Baginya kejadian ini belum benar-benar selesai jika ia belum menemukan si pelaku. Di titik ini Asghar Farhadi, sang sutradara, mencoba menyoroti persoalan gender yang biasa terjadi.

Rana enggan membuka persoalan tersebut karena ia adalah perempuan, kaum inferior. Ini sama dengan yang terjadi dengan perempuan-perempuan korban pelecehan atau penganiayaan yang cenderung takut untuk mengungkapkan secara gamblang apa yang terjadi.

Sementara itu Emad adalah laki-laki, kaum superior. Kemarahan Emad seperti menunjukan bahwa perempuan selalu dipandang tak ubahnya ‘benda’ yang dimiliki laki-laki. Alih-alih mengayomi dan menenangkan Rana, Emad malah terus dibutakan amarah karena merasa ‘benda’ kesayangan diusik orang lain.

Balas dendam adalah jawaban atas amarah yang dirasakan Emad. Dendam pun menuntunnya kepada pencarian demi pencarian menemukan penganiaya Rana. Akhirnya Emad menemukan seorang yang dicurigai sebagai orang brengsek yang menganiaya Rana.

Tak disangka-sangka pelakunya adalah seorang pria paruh baya. Dendam telah menutupi nalar Emad dan membuatnya bertindak gegabah. Kakek itu ‘disiksa’ hingga akhirnya meninggal karena serangan jantung.

Dari kejauhan Emad dan Rana melihat jasad kakek itu dibawa ke dalam ambulans dengan tatapan penuh penyesalan. Bahwa dendam telah menutup mata dan hati. Film diakhiri dengan adegan Emad dan Rana duduk bersama. Dari mata mereka penyesalan terlihat jelas. Nyawa melayang karena dendam belaka. Seharusnya itu tidak terjadi bila sedari awal Emad benar-benar memaafkan kakek itu.

Emad menunjukkan bahwa memaafkan tidak seperti membalikan telapak tangan. Bahwa seseorang selalu dihadapkan dengan dua pilihan: membalas dendam atau memaafkan. Tidak semua orang bisa menjadi pemaaf. Hanya orang berlapang dada yang bisa memaafkan kesalahan. Berdamai dengan diri sendiri mungkin resep jitu mengenyahkan dendam di dada.

Asghar Farhadi berhasil mengaduk-ngaduk perasaan penonton yang terjebak dalam dilema yang dirasakan Emad. Asghar juga memberi ruang asumsi bagi penonton lewat adegan yang tidak utuh diungkapkan. Adegan penganiayaan Rana, misalnya. Tidak pernah ada gambaran jelas mengenai kejadian malam itu. Asghar membuat penonton menerka-nerka adegan itu dengan asumsi masing-masing.

Tak lupa Asghar juga menyisipkan humor gelap di salah satu adegan. Asghar menyindir peraturan sensor yang terlewat ketat di Iran lewat adegan saat Emad tengah berlatih bersandiwara. Salah satu teman Emad tertawa, tidak bisa membayangkan ada adegan telanjang tapi diperagakan menggunakan pakaian lengkap.

Tidak mengherankan kalau The Salesman dinobatkan sebagai film berbahasa asing terbaik di Oscar tahun 2017. Namun Asghar tak pernah benar-benar menerima penghargaan itu lantaran kedatangan Asghar berbenturan dengan aturan travel ban yang diterapkan pemerintah Amerika Serikat. Penghargaan juga diraih The Salesman di berbagai festival film dunia seperti festival film Cannes.

The Salesman mengingatkan saya dengan Children of Heaven (1997), film Iran pertama yang saya tonton. Begitu sederhana dan terkesan tidak dibuat-buat. Bagi saya The Salesman adalah film terbaik dari Iran sejauh ini. Sekali lagi Asghar memperlihatkan bahwa Iran selalu menarik dilihat dari sisi moralitas.

Lewat The Salesman, Asghar membuktikan bahwa Iran seharusnya bukan hanya ditakuti karena nuklir saja, melainkan juga khasanah perfilmannya yang potensi ledakannya pun menakutkan. ♦

Keterangan

The Salesman (judul asli: Forushande) | 2016 | Durasi: 124 menit | Sutradara: Asghar Farhadi | Penulis Naskah: Asghar Farhadi | Produksi: ARTE France, Arte France Cinema, Doha Film Institute | Negara: Iran | Pemeran: Taraneh Alidoosti, Shahab Hosseini, Babak Karami, Mina Sadati, Farid Sajjadi Hosesini

* Alumni Administrasi Negara Universitas Nasional. Rutin menulis di berbagai media online.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts