Oleh: Ras Tafari*

The Narrator

Suara telepon genggamku membuyarkan mimpi aneh yang aku alami barusan. Betapa anehnya mimpiku tadi. Aku bermimpi terbang tanpa sayap, tanpa kaki, tanpa tangan. Hanya badanku saja yang berterbangan membelah horizon. Aku bisa merasakan jelas semilir angin yang menerpa wajahku. Angin itu terasa nyata, serasa menyayat tiap jengkal tubuhku. Apa benar tadi itu mimpi?

“Kriing”

Lagi – lagi suara telepon bedebah itu. Langsung saja aku tersadar dari lamunanku, dan mencoba berdiri untuk menjangkau telepon genggamku. Aku sedikit berdehem untuk mencari kekuatan bersuara. Wajar saja, aku baru saja bangun dari tidur pulasku, suaraku masih di awang – awang.

“Halo?”

“Jadi tidak kita bertemu hari ini?”

Rupanya sahabatku yang menelepon. Aku kenal perempuan ini sedari kecil. Kami bersekolah di tempat yang sama, dari SD sampai SMA. Dari dulu kami selalu menyempatkan diri untuk berpergian berdua ke mana saja, dari pagi hingga senja menyapa. Tapi akhir -akhir ini kita hampir tidak pernah bertemu, terhitung sudah setengah tahun setelah lulus kuliah. Seperti apa rupanya sekarang ya?

“Jadi kok. . .”

“Baiklah, kita bertemu di Anambra ya”

“Restoran Anambra? Sejak kapan kau menjadi karnivora?” candaku

“Bisa saja kamu. Aku jadi ingat kamu dulu memanggilku kambing karena aku seorang vegetarian. Tapi sekarang sudah tidak lagi, semenjak kuliah aku bertemu dengan salah satu sahabatku di sini yang pandai memasak, dia yang melarangku untuk hanya makan sayur – sayuran, karena tubuh ini butuh kalori dan protein”

“Rupanya tingkat kesotoyanmu belum berubah ya? Baiklah, sampai jumpa nanti”

“Sampai jumpa”

Langsung saja kututup teleponnya untuk bergegas mandi dan berpakaian. Tapi pakai baju apa aku enaknya hari ini? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, aku ingin membuat dia terkejut dengan penampilanku sekarang. Aku melamun sambil menatap kaca, sepertinya kemeja kotak – kotak merah ini bagus untukku, dipadu dengan celana jeans yang baru saja aku buat di Mang Cecep, tukang jahit sebelah rumah. Warna merah memang warna favoritku, semua jenis warna merah aku suka, terkecuali merah muda. Tapi warna merah darah ini begitu elegan di mataku, Aku memang selalu terlihat tampan bila memakainya.

Waktu menunjukkan pukul empat sore, tapi aku masih di rumah, sedangkan aku harus sampai di Restoran Anambra pukul lima. Aku rasa masih sempat. Aku memilih untuk berjalan kaki, karena sudah lama aku tak menggerakkan otot – otot ini. Aku tak mau saraf – sarafku menjadi kaku.

Sesampainya di depan restoran, aku berdiri sejenak untuk menikmati pemandangan sore ini Langit berwarna oranye keemasan, burung – burung berkicauan seraya memanggilku untuk terbang bersamanya. Burung itu tidak tahu kalo aku sebenarnya sudah pernah terbang, walau hanya dalam mimpi. Ah, hari yang indah.

“Kasihani saya, mas. . .”

Lagi – lagi ada suara yang membuyarkan lamunanku. Ternyata itu suara pengemis tua yang kurus keriput, seperti belum makan dalam hitungan minggu. Tak heran dia duduk di depan restoran, mungkin dia ingin belas kasihan dari si empunya restoran ini.

“Saya tak punya duit kecil, Pak. . ”

Muka pengemis itu langsung masam, tapi ya sudahlah, pikirku. Toh aku memang tidak punya duit kecil, kecuali pengemis tua itu punya pecahan lima ribuan sebanyak sepuluh lembar, mungkin aku bisa menukarnya, tapi aku tahu itu mustahil. Sudahlah, mungkin aku bukan malaikat yang ditugaskan untuk membantu pengemis itu. Pasti nanti masih ada malaikat lain yang mau membantunya dengan memberikan sedikit makanan, atau malah malaikat maut yang menjemputnya? Bukan urusanku juga lah.

Aku masuk ked alam restoran, lalu memilih duduk di sudut restoran. Aku tidak suka berada di tengah kerumunan orang – orang, bila aku duduk di tengah – tengah kerumunan, aku selalu merasa mereka yang berada di sekitarku seperti sedang memerhatikan dan membicarakan tentang penampilan atau pun tingkah lakuku. Aku tidak suka itu.

Lima belas menit waktu berselang, sahabatku tak kunjung datang.

Di mana ya dia?

***

The Vegetarian

Menjadi anak rantau memang tidak enak. Makannya pasti tidak teratur, apa saja dimakan asal perut ini kenyang. Bukannya aku tidak punya uang, tapi aku sudah menyisihkan uang jajanku untuk bayar bulanan kos-ku ini, jadi bisa saja aku memakai uang kos ini untuk membeli makanan yang enak – enak, tapi aku tak mau. Aku lebih memilih mendahulukan kewajibanku untuk membayar uang kos dibanding makan makanan enak.

Ngomong-ngomong sudah hampir dua minggu ibu kos tidak menghampiri kamarku. Ke mana dia? Biasanya kalo dia hendak pergi ke luar kota, pasti dia akan bilang dan pamit kepada anak – anak, tapi kenapa sudah dua minggu ini tidak ada kabar? Aneh juga.

Dari pada pikiranku menerawang yang tidak – tidak, lebih baik aku santap saja sisa sisa sayur sop bekas kemarin, sudah dingin tapi masih lezat menurutku. Kuresapi tiap suap yang masuk ke dalam mulutku. Sisa – sisa tomat bercampur dengan wortel dan kentang, ditambah kuah kaldu yang dihasilkan dari rebusan sepotong ayam. Ah, nikmatnya tanggal tuaaa.

Tok, tok, tok.

“Permisi. . .”

Siapa pula sih yang mengetuk pintu kamar kos-ku tengah malam begini? Rasa penasaranku mengalahkan rasa malas yang sempat mengendap barusan, aku pun bangkit dari kasur yang empuk ini

Aku berjalan menutu pintu, lalu membukanya.

Ah, ternyata dia.

Dia yang kumaksud adalah anak kedokteran di kampusku yang satu kos-an denganku. Dia memang suka membagi-bagikan makanan. Dan menunya selalu saja daging. Meski teman-teman kos-ku yang lain mengatakan kalau masakannya enak, tapi aku belum pernah mencoba makanannya sama sekali karena aku seorang vegetarian. Kami berdua pun sebenarnya jarang ketemu karena kesibukkan masing-masing. Padahal kamar kos kami bersebelahan.

“Ini, aku mau memberi tumis daging bikinanku, . .”

“Aku tidak makan daging. Maaf”

“Kenapa?”

“Iya, aku vegetarian”

“Tubuh kamu butuh zat besi yang terkandung dalam daging merah atau ikan, jadi bila kamu tidak memakan daging, mungkin kamu bisa mengidap anemia atau kurang darah, akibat kurangnya zat besi”

Apa maunya orang ini? Sudah kubilang kalo aku tidak makan daging, tapi dia tetap bersikeras agar aku menerima makanan darinya. Kalau aku langsung potong omongannya sekarang juga, kesannya aku ini tidak sopan, tapi aku muak dengan omongan orang sok pintar, orang yang selalu menggurui orang lain. Mungkin dia pikir aku ini bodoh, ya aku tahulah hal – hal mengenai manusia membutuhkan zat besi, protein dan tetek bengeknya, tapi walaupun aku tidak mengkonsumsi daging, toh buktinya aku sampai sekarang sehat – sehat saja tuh.

Tapi sepertinya baunya begitu enak. Daging apa ini? Dilihat dari teksturnya sih seperti daging babi, hmm, tak ada salahnya sesekali berbaik hati kepada orang

“Baiklah, terima kasih atas kebaikanmu. Kebetulan laukku hari ini hanya sayur sop sisa kemarin. Mungkin lauk ini bisa menemani kentang dan tomatku.

“Wah terima kasih sekali ya. Kalau kamu merasa makanannya tidak enak, dibuang juga tak apa”

Aku hanya melayangkan senyuman kepadanya, senyuman yang sedikit sinis akibat mendengar ocehannya yang tak berarti. Setelah kututup pintu, langsung saja aku lanjut menyantap sisa sayur sop tadi yang aku makan, walaupun tambah dingin tapi masih tetap enak. Tapi entah mengapa aku terpaku dengan kotak yang berisi daging itu. Sepertinya enak sekali, baunya terus menerus menusuk hidungku, kalau aku cicip sedikit sepertinya tak apa lah.

Langsung saja kuambil sepotong daging yang lembut itu dan kumasukkan ke dalam mulutku. Kunyahan pertama terasa lembut sekali. Aku bisa merasakan sausnya yang meleleh di lidahku, kunyahan kedua aku bisa merasakan saus itu berpadu dengan kelembutan dagingnya yang sangat empuk. Kunyahan ketiga aku serasa di surga, aku merasa daging ini dari bukan dari dunia melainkan dari nirwana. Tanpa basa-basi aku langsung melanjutkan ke potongan daging yang ke, keempat, kelima, dan seterusnya. Kalau menjadi seorang vegetarian itu harus memakai sumpah seperti layaknya saksi di pengadilan, mungin sekarang aku sudah di penjara.

***

 

The Chef

Aku lebih memilih untuk dijodohkan daripada harus diatur – atur. Apalagi mengenai pendidikanku. Aku tahu ayah dan ibu adalah seorang dokter bedah handal di kota ini, tapi apa harus anak semata wayangnya mengikuti jejak mereka? Aku tidak mau.

Hobiku memasak. Sejak kecil aku sudah bermain masak – masakan dengan temanku, dari siang sampe sore. Kadang masakan itu kita makan dan kadang masakan itu kita buang karena tidak enak atau gosong. Kami juga suka bereksperimen dengan berbagai macam daging dan berbagai macam bahan makanan, agar menemukan cita rasa yang baru. Karena aku tahu, masalah rasa itu tidak ada batasannya. Kami pasti akan selalu menemukan resep – resep baru yang sedap untuk dihidangkan. Apapun bahannya, kami akan selalu menjadikan makanan itu sedap untuk dimakan.

Aku ingat waktu itu kami kehabisan bahan makanan untuk dimasak. Saat aku membuka kulkas rumahku, tidak ada menu utama yang dapat dihidangkan. Memang sih, supermarket sangat dekat sekali dari rumah, tapi kami hanya tiga anak SD yang bermain masak – masakan. Jadi aku rasa terlalu berlebihan kalau kita sampai berbelanja hanya untuk merecoki bahan – bahan makanan tersebut. Jadi kami sepakat, untuk berpencar ke sekeliling rumah untuk mencari apa saja bahan makanan yang bisa kita masak. Setelah merencanakan itu semua, kedua temanku langsung lari ke lantai atas. Apa yang mereka cari di sana? Mana mungkin ada bahan – bahan makanan di sana? Tapi sudahlah, lebih baik aku mencoba mencari – cari sesuatu disini, sesuatu yang bisa aku gunakan untuk aku masak.

Setengah jam berlalu, aku tidak menemukan apa – apa. Nihil. Saat aku termenung karena letih, tiba – tiba aku dengar suara temanku yang berlari dari atas dengan bercucuran darah

“Kau terluka?”

“Tidak, tapi aku menemukan ini”

“Apa itu”

“Aku tidak tahu, tapi sepertinya ini hati sapi. Kita bisa mencoba untuk membuat foie gras ya kan? Aku tahu harusnya kita memakai hati angsa, tapi apa boleh buat, sepertinya hati sapi pun enak, jadi ayo kita segera memasak!”

Langsung saja kupersiapkan bahan – bahan dan bumbu lain yang diperlukan. Kami tahu kalau masakan ini akan berujung malapetaka tapi apa boleh buat, kami sedang seru – serunya. Setelah selesai, kami langsung saja menghidangkan makanan yang kami masak tadi, dan saat kita coba bersama – sama, memang sangat enak rasanya, bukan seperti daging biasanya. Aku tidak pernah mencoba daging ini. Ini bukan daging sapi. Aku tahu sekali. Karena penasaran aku bertanya kepada temanku

“Di mana kalian menemukan itu?” aku bertanya kepada temanku sambil terus mengunyah makanan yang lezat ini

“Di ruang kerja papamu. Di situ ada kulkas kecil, isinya banyak sekali”

“Kulkas kecil? Memang apa saja isinya?

“Hati, paru – paru, usus, jantung, lalu ada dua bola kecil seperti bola ping pong berwarna putih, dan sedikit berlendir aku tidak tahu apa itu”

Aku diam seribu bahasa dan menatap kosong piring yang sudah bersih dari sisa – sisa makanan tadi. Aku tahu ini apa, gumamku dalam hati.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya temanku

Aku tak menjawab. Yang aku rasakan saat ini  adalah keinginanku menjadi seorang koki makin membuncah.

***

 

 

The Rendezvous

“Akhirnya kau datang juga. Aku sudah satu jam menunggu di sini. Apa yang membuatmu telat? Sepertinya itu bukan tipikalmu”

“Maaf, tadi aku naik taksi, dan di jalan macet sekali. Kamu sudah pesan makanan?”

“Belum, habis aku bingung, dari tadi tidak ada pelayan atau siapa pun yang menghampiriku. Aku pikir tempat ini tutup”

“Tempat ini tidak tutup, tapi tempat ini memang sengaja dipesan hanya untuk kita berdua. Biar kita bisa leluasa. Kebetulan yang punya tempat ini adalah teman kampusku dulu”

“Leluasa apanya? Kamu terlalu berlebihan, ah”

“Aku tahu kamu tidak suka keramaian. Jadi, aku booking satu restoran ini. Hanya untuk kita berdua”

“Kau selalu membicarakan teman baikmu itu. Mana dia?”

“Sebentar”

Lalu dia berjalan ke arah pintu belakang. Pasti itu dapurnya, gumamku

“Perkenalkan, ini sahabatku waktu kuliah dulu yang punya restoran ini, dia sangat mahir sekali memasak”

“Kalian dulu satu jurusan?” Aku langsung melayangkan pertanyaan basa – basi itu

“Bukan, kalo aku jurusan kedokteran”

“Kenapa jadi koki? Bukannya seharusnya kamu buka praktek kedokteran?”

“Memang, tapi memasak adalah hobiku dari kecil, dan aku masuk kedokteran pun adalah tuntutan orang tua”

“Sedikit janggal dan nekat sepertinya, tapi syukurlah, kau bisa sukses dengan hobimu itu”

“Terima kasih. Jadi kalian berdua ingin memesan apa untuk hari ini? Kita punya menu spesial hari ini, yaitu foie gras

Foie gras masakan perancis itu? Sepertinya enak, baiklah aku akan memesan dua foie gras dan satu botol wine”

“Baiklah”

Lalu dia pun berjalan perlahan, kembali ke dapur

“Temanmu si koki itu kelihatannya orang yang manis dan baik. . ”

“Sebenarnya sih baru beberapa hari ini kita dekat. Sebelumnya kami jarang bertemu karena kesibukkan masing-masing. Memang dia sering memberi aku dan teman-teman kos lain makanan – makanan yang dia masak sendiri. Dialah yang selalu menyelamatkanku di tanggal-tanggal tua, dan juga menjadikanku sebagai karnivora seperti yang kau bilang. Hahaha”

Kami berdua tertawa sekedarnya

“Ini winenya. Silahkan diminum. .. .”

“Terima kasih. Enak sekali winenya, kau tahu jenisnya?”

“Ya, ini adalah Domain de la Romanee-Conti Romanee-Conti Grand Cru dari Perancis”

“Aku tidak mengerti artinya tapi memang wine ini sungguh en….”

Tiba-tiba badanku terasa lemas tak karuan. Mataku sayu, aku tidak bisa melihat apa – apa. Kenapa ruangan mendadak gelap sekali? Aku dimana? Apa aku masih di dalam restoran? Kenapa tangan dan kakiku diikat? Apa yang sebenernya terjadi?. Tiba – tiba suara gergaji mesin terdengar jelas dari samping kuping kiriku. Bunyi mesin itu sangat jelas sekali, lalu dalam hitungan detik besi besi tajam itu beradu dengan tulang di tangan kiriku. Aku teriak sejadi – jadinya, tapi tak ada yang mendengarku

“Apa yang kalian lakukan?! Kalian sudah gila??!! Aaaaarghh”

Darah mulai bercucuran dari tanganku. Tangan kiriku yang sudah lepas, diambil oleh mereka dan ditaruhnya di sebuah ember.

Sekarang mereka memotong tangan kananku. Tapi disaat tanganku belum putus seutuhnya, gergaji mesin itu mati, lalu mereka langsung mencabut lengan kananku secara paksa. Barbar. Aku mencoba menahan rasa sakit yang amat dahsyat. Aku mencoba berpikir untuk mencari jalan keluar. Namun rasa sakit ini yang menggila ini membuatku putus asa. Aku akan mati hari ini.

“Tanganmu ini sangat berguna untuk persediaan restoran ini selama seminggu. Terima kasih sekali lagi, sudah repot – repot datang ke sini dan memberikan kedua tanganmu. Tapi aku rasa ini kurang, bagaimana kalau kedua kakimu itu aku ambil? Yang kanan aku simpan dan yang kiri aku berikan kepada si pengemis tua yang duduk di depan? Dia kelaparan, mungkin aku bisa memasak kakimu ini untuknya.”

“Kalian gila! Anjing!”

Benar saja kataku, si pengemis tua itu akan dihampiri oleh malaikat maut yang mencabut nyawaku, bukan satu, tapi dua sekaligus. Suara gergaji mesin itu kembali menyala, menggema ke seluruh ruangan, aku hanya bisa pasrah. Aku tahu semua manusia mempunyai akhiran, tapi aku tidak membayangkan akhir yang seperti ini. Aku tak kuasa menahan rasa sakit yang terus muncul. Gergaji itu menembus tulang kaki kananku, lalu bergantian dengan kaki kiriku. Anjing! Tolong aku, Tuhan! Mereka terlihat senang sekali memegangi kedua kakiku yang sudah putus itu, dasar sundal biadab!

Akhirnya setelah mereka puas tertawa, mereka langsung mengangkat badanku yang sudah tidak berbentuk ini, dan melemparkan diriku ke tempat pembuangan akhir. Sesaat aku melayang, terbang, seperti burung – burung. Aku iri dengan burung – burung, mereka terbang menggunakan kedua sayapnya, sedangkan aku, aku hanya terbang tanpa tujuan, tanpa sayap, tanpa kaki, tanpa tangan. Membelah horizon.

Mimpiku jadi kenyataan.

*Lulusan Sastra Inggris Universitas Nasional angkatan 2013. Bercita-cita menjadi penyiar radio. Menggemari tokoh Batman meski usia sudah berkepala dua. Dapat dihubungi di @raaaasta (Twitter & Line)

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts