baca bagian pertama seri Detektif Rizal di sini

Rizal keluar dari ruangan Mas Choirul, dosen muda pembimbing skripsinya, dengan jengkel. Dia melemparkan bundelan kertas hasil revisi skripsi yang kelima kalinya ke dalam tong sampah. Sambil mengembuskan napas pelan, dia mengambil rokok dari saku jaket, kemudian menyulutnya. Perkataan Mas Choirul beberapa saat yang lalu di dalam ruangannya masih terngiang di kepala Rizal.

“Saya tahu profesi sampinganmu sebagai penulis lepas, Zal. Saya tidak bodoh. Bahkan, saya juga tahu profesi rahasiamu sebagai detektif itu. Tapi kali ini kamu harus mengesampingkan dulu kedua hal tersebut. Untuk sekarang, skripsimu jauh lebih penting. Saya tahu kamu bisa menyelesaikannya dalam dua bulan ini. Kamu hanya perlu lebih fokus saja. Kamu masih kasihan sama orang tuamu yang sudah membiayaimu, kan? Ayolah, Zal.”

Rizal menatap sekumpulan mahasiswa di kantin dengan tatapan nelangsa. Sendu. Apa iya aku harus mengesampingkan kedua hal itu? Justru dua hal itulah yang bisa membuatku semangat berkuliah sampai sekarang. Rizal berdecak. Dia mengambil ponsel pintar dari saku celananya untuk mengecek apakah kiranya ada permohonan kasus di dalam kotak pesan surelnya. Tapi dia mengurungkan niatnya, dan malah memeriksa jadwal sidang di situs kampusnya.

“Sial. Sidang tinggal sebulan lagi, sedangkan aku masih harus mengerjakan dua bab yang belum selesai. Aku tidak bisa mengesampingkan urusan tulis menulis dan penyelidikan karena honor dari dua pekerjaan itu akan sangat membantuku menambah uang pendaftaran sidang dan wisuda nantinya. Lagi pula kiriman uang dari ayah sudah hampir habis. Ah, betapa Jakarta adalah magnet yang besar. Ia angkuh tak hanya ihwal rezeki, tapi juga perhatian,” guman Rizal.

“Heh, sedang apa kau melamun sendirian di sini? Dengan berkawankan tong sampah pula, ha ha ha.”

“Aku sedang menikmati gaung keramaian dari ujung kantin sana, wahai sobatku, Langit Biru,” balas Rizal acuh tak acuh pada orang yang menyapanya.

Langit Biru adalah satu-satunya sahabat dekat Rizal. Langit lebih tua empat tahun dari Rizal, tapi wajahnya seperti wajah anak-anak. Setiap tahun, dia selalu dikira sebagai anak baru karenanya. Padahal Langit ini adalah ketua senior UKM teater di kampus. Rizal tidak begitu senang bergaul dengan teman-teman kampusnya karena kebanyakan dari mereka adalah tipe orang-orang yang dibenci Rizal. Kumpulan hedonis yang hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya demi terlihat keren di mata orang-orang. Tapi Rizal tidak menemui itu pada diri Langit. Langit adalah pemuda paling apa adanya yang pernah dia kenal selama ini. Meski ia sama tajirnya dengan orang-orang yang dibenci Rizal.

“Kau harus mengurangi kadar kebencianmu itu pada mereka, Zal. Mereka tidak semenyebalkan seperti yang kau bayangkan,” ujar Langit pada suatu hari yang dibalas Rizal dengan tawa sinis.

“Mereka akan selalu menyebalkan seperti itu sampai orang tua mereka tidak mau membiayai mereka lagi,” ujar Rizal sambil menatap gerombolan mahasiswa di kantin. Langit tersenyum sambil mencomot rokok dari saku jaket Rizal.

“Huh, terserahmu saja lah. Tapi bagaimana dengan dia?” tanya Langit sambil menunjuk seorang gadis cantik bepotongan rambut pixie berwarna perak dan berjaket kulit hitam yang sedang asyik bersandar di dinding selasar sambil menikmati rokok mentol di tangan kanannya, dan buku Just Kids karya Patti Smith di tangan kirinya. Di telinga kirinya tergantung anting berbentuk salib.

Gadis itu bernama Zigi. Tidak pernah ada yang tahu apakah itu nama aslinya atau bukan. Namanya tidak pernah terdaftar di daftar absen karena ia adalah seorang asisten dosen tidak resmi. Namanya bahkan tidak pernah ada di jejaring sosial manapun. Semua mahasiswa berprofesi sampingan peretas amatir yang biasanya bertugas untuk mengubah nilai dan absen di situs fakultas dan jurusan bahkan tidak bisa mendeteksi keberadaan gadis misterius itu di dunia maya.

“Sampai saat ini kau belum bisa menguak kebenaran tentang gadis kita itu kan, Tuan Sherlock?” tanya Langit tersenyum penuh arti.

Rizal tidak menganggapi pertanyaan Langit. Dia masih memandangi Zigi dengan saksama, berusaha menguliti cangkang yang membungkus identitas aslinya dengan berpisaukan tatapan.

Sadar sedang diperhatikan, Zigi memalingkan wajahnya dari buku yang dia baca ke arah Langit dan Rizal yang masih tertegun menatap dirinya. Kini Zigi berdiri menantang, balas menatap mereka dengan tajam bak elang yang siap menerkam si kelinci. Zigi terlihat akan menghampiri mereka berdua saat tiba-tiba segerombolan mahasiswa yang mengenakan jaket almamater berduyun-duyung berjalan membelah selasar kampus. Jumlah mereka sangat banyak, derap langkah dan suara-suara bising mereka membuat Rizal kehilangan sosok Zigi. Di satu sisi dia merasa kesal, tapi di sisi yang lain dia merasa terselamatkan. Dia tidak tahu akan bereaksi apa kalau Zigi tadi benar-benar menghampirinya.

“Aduh, ternyata mereka benar-benar serius, ya?’ ujar Langit memandangi barisan mahasiswa yang kini sudah berada di ujung gerbang kampus.

“Mau apa mereka? Tidak ada bosan-bosannya mereka menjadi pasukan nasi bungkus dalam demonstrasi yang mereka sendiri tidak terlalu mengerti.”

“Kau ini tidak pernah menonton televisi atau membaca berita ya?Padahal kau penulis. Mereka mau ikut aksi damai di Bunderan Hotel Indonesia.”

“Aku terlalu sibuk mengurusi kasus minggu ini,” Rizal berdalih. ”Aksi damai apa memangnya?’

“Yah, rasanya kurang tepat juga dinamakan Aksi Damai karena aku yakin akhirnya pasti tidak akan berujung damai. Mereka mau memprotes Gubernur DKI kita yang dianggap menghina Islam.”

Penjelasan Langit soal Aksi Damai tidak digubris oleh Rizal. Rizal sendiri sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling penjuru kampus, mencari-cari sosok Zigi yang lenyap bagaikan hantu.

“Ah, kalau begitu aku pamit duluan ya.Aku ada rapat dengan kawan-kawan teaterku” Langit menepuk bahu Rizal, lalu berjalan tergesa-gesa meninggalkan Rizal.

Selepas kepergian Langit, Rizal mengambil buku City of Glass karya Paul Auster dari tasnya. Baru saja dia membuka secarik halaman buku itu, ponsel pintarnya bergetar. Sebuah pesan permohonan kasus masuk ke alamat surel pribadinya.

Nama alamat surel si pengirim membuat dia terkejut setengah mati sampai-sampai batang rokok yang terjepit di sudut bibirnya terjatuh ke lantai.

Zigistardust@gmail.com

 

***

Heaven or Las Vegas dari Cocteau Twins terdengar memenuhi ruangan kamar Rizal. Sambil berpikir, dia masih menggengam ponsel pintarnya, menatap alamat surel yang barusan masuk.Dia melihat alamat dan pesan itu berkali-kali, seakan-akan memastikan kalau ini bukan sekedar imajinasinya saja.

“Selama ini dia sudah sangat rapi menyembunyikan identitasnya. Lantas untuk apa dia memperlihatkan alamat surelnya padaku?Apa ini semacam deklarasi perang?” gumamya.

Rizal bangkit dari ranjang, lalu berjalan menuju balkon kamarnya. Sambil menyulut rokok, dia menatap rumah Pak Legimin yang kini terlihat sunyi.

Sejak Pak Legimin berpulang, sudah tidak ada lagi sayup-sayup musik jaranan yang biasanya menembus kisi-kisi kamar kos Rizal. Beliau ditemukan meninggal di rumahnya seminggu yang lalu. Diduga Pak Legimin meninggal karena serangan jantung mendadak. Tapi Rizal tahu kalau Pak Legimin itu mati terbunuh.

Terbunuh oleh kesepian.

Sejak itu Rizal merasa seperti tinggal di tempat yang asing. Dia melepas poster Nella Kharisma dari dinding kamarnya. Bukan karena benci, tapi karena untuk sementara dia tidak ingin mengingat-ingat tentang Pak Legimin dan lagu jaranannya. Dia ingin membiasakan diri dengan lingkungan barunya setelah kepergian Pak Legimin. Tapi tentu saja itu tidak mudah. Sesekali di tengah malam, Rizal masih suka mendengarkan lagu-lagu dari Nella Kharisma sambil menenggak sebotol Intisari. Kegiatan itu sudah seperti ritual khusus untuknya. Melupakan memang sesuatu yang paling sulit untuk dipraktekkan.

Selama Rizal tinggal di tempat kosnya, dia tidak pernah mengenal Pak Legimin sebagaimana mestinya. Dia bahkan tidak pernah melihar seperti apa rupa Pak Legimin sampai dia menemukan Pak Legimin yang sudah terbujur kaku di kursi goyangnya. Dia hanya tahu Pak Legimin dari cerita-cerita warga serta lagu-lagu jaranan yang diputar dari radio tuanya. Akan tetapi, entah kenapa setelah Pak Legimin dimakamkan, Rizal merasa seperti sudah akrab dengan beliau.

Rizal menyingkirkan kenangan tentang Pak Legimin sejenak. Maaf ya Pak Legimin. Malam ini tidak ada ritual dulu untuk Anda. Ada sesuatu lain yang harus kupikirkan. Ini soal Zigi! batin Rizal.

Dalam surel itu, Zigi hanya meminta untuk bertemu tanpa menjelaskan adanya permohonan kasus.

“Ada kemungkinan kecil kalau ini surel dari orang lain. Tapi semuanya terlalu kebetulan. Apalagi setelah kejadian di kampus tadi siang. Lagi pula, jika ini orang lain, pastilah dia sudah menuliskan permohonan kasusnya. Ini pasti dia. Aku yakin 100%,”  kata Rizal berbicara sendiri. Itu memang kebiasaanya dari kecil. Berbicara dengan dirinya sendiri.

Baru saja Rizal ingin membalas surel dari Zigi, sebuah pesan lain masuk. Ada permohonan kasus yang berkaitan dengan sabung ayam bawah tanah. Rizal tidak membaca lebih lanjut. Dia sudah terlanjur antusias. Surel itu seperti menyelamatkannya (lagi). Dengan begitu, dia bisa mengalihkan perhatiannya dari Zigi.

***

Esok siangnya, Rizal sudah hinggap di salah satu daerah kumuh di Jakarta Barat. Si pemohon kasus ihwal sabung ayam bawah tanah kemarin bernama Panter, seorang pemuda pemilik ayam jago jawara dengan rekor 20 puluh kali menang tanpa pernah seri atau kalah sekali pun yang dia namakan Hasan.

Menurut cerita Panter, Hasan yang saat itu sedang bertarung sengit di pertandingan final, tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri. Menurut dokter hewan yang biasa memberi vitamin pada Hasan sebelum bertanding, Hasan tewas keracunan makanan beberapa jam sebelumnya. Panter menduga kalau Hasan diracuni oleh salah satu pemilik ayam yang pernah ditaklukankan Hasan.

Panter juga bercerita tentang budaya sabung ayam yang kini malah dijadikan bursa judi dan taruhan oleh orang-orang. Yang lucunya lagi, penjudi-penjudi ini tidak hanya berasal dari golongan menengah ke bawah saja. Banyak dari mereka yang juga berprofesi sebagai penjabat pemerintah, direktur suatu perusahaan, atau wanita sosialita. Kini judi sabung ayam di Indonesia tidak kalah dari judi sepakbola, malah judi sabung ayam di negara kita ini bisa dibilang setara dengan judi tinju atau pacuan kuda di Amerika dan negara-negara besar lainnya.

Aku tidak mau menuduh, tapi entah kenapa aku punya firasat yang tidak enak dengan si Dodi. Dia adalah pemilik ayam bernama Aros. Ayam yang menjadi lawan terakhir Hasan ketika Hasan tewas diracun. Dodi itu kawan kecilku. Dari dulu kita selalu bersaing dalam hal ini. Dia adalah orang yang sangat ambisius. Mungkin dia dendam padaku karena ayamnya tidak pernah menang dari ayamku. Masalahnya adalah, bagaimana cara dia meracuni Hasan? Hasan selalu berada di sisiku hampir sepanjang waktu, termasuk ketika aku mengantarkannya ke dokter hewan untuk disuntikkan vitamin.”

“Hampir sepanjang waktu, berarti bukan sepanjang waktu, kan?”

Panter mengangguk.

Tidak mau membuang-buang waktu, Rizal segera melakukan investigasi. Dia pergi menemui semua mantan lawan-lawan Panter dan Hasan, termasuk Dodi. Rizal mengorek informasi dan mengamati mereka satu per satu. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Rizal mulai mencurigai adanya orang luar yang dibayar untuk melakukan ini. Karena itu, dia beralih ke rumah Panter dan menanyai para tetangga dan orang-orang di sekitar lingkungan rumah Panter jika ada orang yang mencurigakan atau bertindak secara tidak biasa. Sayangnya, hasilnya nihil. Rizal tidak bisa memerika keadaan Hasan tentang apakah benar dia diracun atau tidak karena dia tidak mengerti ilmu medis dan Hasan bukanlah manusia. Semua itu membuat Rizal frustasi.

Rizal duduk di salah satu kios rokok untuk menenangkan diri. Sambil mengisap rokok dan menyesap kopi hitam, Rizal berpikir keras. Dia merasa ada sesuatu yang terlewat dalam penyelidikannya. Ada metode biasa yang dia tidak terapkan untuk kasus ini, tapi dia lupa apa itu. Surel dari Zigi menganggu benaknya. Dia tidak bisa berpikir jernih seperti biasanya. Setelah membayar rokok dan kopinya, Rizal melenggang pulang.

Sesampainya dia di tempat kosnya, Rizal langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dia merasa lebih lelah dari biasanya. Rizal menatap langit-langit kamar, sementara adzan maghrib mulai berkumandang.

“Hah, mungkin dengan mandi dan berwudhu, aku bisa sedikit tenang,” ujarnya sambil menyambar handuk di tiang jemuran.

Baru saja dia hendak masuk ke dalam kamar mandi, terdengar bunyi pintu rumah kosnya diketuk.

“Siapa ya? Ah, paling Langit,” ujar Rizal. Dia berjalan gontai ke arah pintu rumahnya

“Aduh, Langit. Kau ini tidak tahu kalau aku sedang lel. . . “

Rizal tidak bisa meneruskan kalimatnya. Dia tercekat, kaget setengah mati melihat sosok yang berdiri di depannya.

“Terkadang hidup memang terasa membosankan ya, Rizal?”

Rizal melihat Zigi berdiri di depannya. Dia mengenakan pakaian serba putih layaknya dokter. Jari-jari di tangan kanannya lincah memainkan sebuah jarum.

Zigi? Sedang apa dia di sini dengan pakaian dokter seperti itu? Dasar gadis aneh. Eh, tunggu dulu. Pakaian dokter? Dokter hewan! Iya, aku lupa menanyakan dokter hewan itu. Jarum? Bius? Jarum bius? Ah, tidak. Beracun! Jarum beracun! Benar, Hasan mati diracun. Dia disuntikkan racun! Sial, kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana? Dokter hewan itu pasti kunci kasusnya. Ah, bukan. Dia pasti pelakunya. Hasan hampir selalu berada sepanjang waktu bersama Panter. Satu-satunya Hasan luput dari pengamatan adalah saat Hasan disuntikkan vitamin sebelum bertanding. Dan dia bukan disuntikkan vitamin, melainkan racun. Berarti dokter itu memang pelakunya? Ah, mungkin dia hanya orang bayaran yang diminta untuk melakukan itu. Berarti aku harus menemui dokter itu. Tapi, sedang apa gadis sial ini di sini? Seakan-akan dia datang untuk menyadarkan kekuranganku? Tahu dari mana dia?

Batin Rizal berkecamuk, juga bertanya-tanya. Dia berusaha untuk tetap tenang di hadapan Zigi. Padahal kedua tangannya gemetar, bulu kuduknya berdiri dan kedua ketiaknya basah karena keringat.

“Hidup terkadang membosankan? Ah, aku tidak setuju. Hidup itu selalu membosankan, Zigi,” jawab Rizal. Matanya menatap tajam ke arah Zigi.

“Ah, ya. Kau benar,” balas Zigi. Dia balas menatap mata Rizal dengan pandangan menantang. Senyum kemenangan penuh percaya diri terbingkai di wajahnya. ♦

Bersambung….

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts