2001.

Kinta, itu adalah namanya. Aku tidak ingat nama lengkapnya. Aku bertemu dengannya saat usiaku 7 tahun. Aku adalah anak pemalu dan dia adalah satu-satunya gadis yang mau berbicara denganku. Dia berbicara sangat banyak. Ia bicara soal ibunya, adik kecilnya yang ia cintai tapi juga tidak ia sukai, guru favoritnya, dan betapa ia benci saat sekolah usai. Aku mulai menikmati percakapan kami saat jam istirahat tiba, meskipun aku sangat jarang bicara. Ia, salah satu murid tercantik dengan matanya yang berbinar dan rambut hitam kepang kuda.

Suatu hari aku dengan bangga jalan bersama Kinta di depan sekumpulan teman-temanku dengan pandangan iri mereka. Kinta sering tidak mengerjakan PR dan sering kena tegur oleh ibu guru kami. Saat kembali ke kelas ia sering menceritakan betapa menegangkannya dibawa ke ruang guru dan betapa heroiknya ia bisa meloloskan diri. Suatu hari, ia meninggalkan kelas di tengah-tengah pelajaran. Setelah ia pergi, guru kami merapikan buku dan perlengkapan Kinta, lalu segera membawa tasnya pergi. Aku pikir apakah itu karena ia tidak mengerjakan PR lagi. Namun, Ibu Guru memberitahu kami bahwa Ibu Kinta mengalami sakit yang sangat parah dan akhirnya kini meninggal. Kinta dan adiknya meninggalkan sekolah, desa, dan kota.

Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

 

Kepada Kinta,

Bagaimana kabarmu? Dan juga saudarimu? Aku penasaran bagaimana rupamu saat ini. Apakah kamu masih senang bicara? Aku minta maaf karena tidak sempat menemui saat kamu pergi meninggalkan sekolah. Aku hanya seorang anak-anak, dan sangat bodoh. Aku tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua, atau berdamai dengan seseorang yang telah meninggalkan kita. Aku harap aku tahu alasanmu tidak mengerjakan PR, atau datang terlambat ke kelas. Aku harap kamu menjelaskan kamu tidak pernah membawa bekal, atau saat kamu menangis. Aku harap di mana pun kamu berada, kamu baik-baik saja. Aku sangat senang jika suatu hari nanti bertemu denganmu, dan berbicara seperti dulu. Aku akan memelukmu dan berkata betapa kamu sangat cantik menawan.

 

Terima kasih telah menjadi teman pertamaku.

 

Terima kasih, dan selamat jalan

 

***

2006.

Dia selalu menggenggam sebatang rokok. Usianya sekitar 47 tahun dengan rambut putih, berewok yang tumbuh lebat juga berwarna putih, mata cokelat dengan tatapan yang dalam, serta kulit cokelat dengan menyisakan kekokohan usianya. Ia selalu mematikan rokoknya dan menyapa aku dan adikku saat kami melewati depan rumahnya. Biasanya ia sedang memandikan burung murai batu saat kami pergi berangkat sekolah. Ia adalah pria periang dan menyenangkan. Ia selalu tersenyum dan menyapa kami dengan ucapan “halo’ dan “selamat pagi’, lalu kemudian berbicara banyak hal.

Semua orang tahu Pak Yazid adalah pria tua ramah, yang telah bekerja selama 30 tahun di Negara ini. Dia suka bercerita tentang Yaman – negara asalnya, gedung-gedungnya, musim dinginnya yang relatif pendek, istri dan ketiga anaknya. Aku dan adikku selalu antusias dengan cerita-cerita Pak Yazid dan kami rela berangkat lebih pagi dari rumah. Setiap hari, Pak Yazid sudah berada di beranda rumahnya dengan setelan baju safari berwarna biru tua. Cerita-cerita Pak Yazid selalu dramatis dan panjang. Ia selalu menjelaskan dengan detil dan biasanya menyelesaikan cerita dengan akhir yang “digantung”, sehingga membuat kami penasaran.

Karena kami harus segera berangkat ke sekolah maka Pak Yazid harus menyimpan ceritanya untuk besok. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya musim libur tiba dan kami sekeluarga pergi liburan selama satu bulan ke rumah Ayah di desa. Aku tidak pernah melihat Pak Yazid lagi setelah itu. Ayah mengatakan kalau Pak Yazid pergi ke Yaman untuk menemui istrinya di sana.

Pak Yazid, terima kasih atas cerita-cerita Anda yang menyenagkan. Aku masih ingat cerita tentang tetangga Anda yang orang Turki dan bagaimana mereka selalu berkelahi. Atau cerita Anda bersama Ibu Anda saat pergi ke petani setempat untuk membeli sayur-sayuran segar alih-alih membeli di supermarket yang mengandung pestisida. Cerita-cerita Anda membuat saya merasakan seolah-olah saya pernah ke Yaman. Aku merasa sedih karena Anda pergi dari sini. Saya harap Anda bertemu keluarga Anda. Saya harap suatu hari nanti saya bisa pergi ke Negara Anda, bertemu dengan Anda dan keluarga.

 

Terima kasih, dan selamat jalan.

 

***

2009.

Ia selalu memanggilku sahabat. Anak pandai dengan pribadi yang menyenangkan, usil, dan mudah bergaul. Aku bertemu dengannya saat pertama kali melakukan masa orientasi siswa. Dia berjalan menujuku, menjulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya. Namanya David. Dia menghampiriku karena katanya aku sendirian seperti domba yang tersesat. Sejak saat itu kami bersahabat. Ia selalu menceritakan hal-hal bodoh dan konyol. Ia bercerita soal perkelahiannya dengan kakak kelas atau perempuan-perempuan yang sudah diajaknya berkencan. David, anak nakal yang dikenal hampir satu sekolah. Siapa sangka memiliki hati yang sensitif. Aku baru tahu ketika suatu saat mengetahui kehidupan keluarganya. Ternyata David memiliki persoalan keluarga yang cukup pelik. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu ekonomi keluarga. Setelah itu aku tidak pernah melihat David. Hanya beberapa kali mendengar kabar yang tersiar kalau ia bekerja bersama Pamannya.

 

David, bajingan yang selalu aku rindukan. Di mana pun kamu berada aku selalu mendoakan kebaikanmu. Aku tahu betapa sulit kehidupanmu saat terpaksa harus berhenti sekolah. Aku tahu dibalik sikapmu yang begundal, kamu adalah siswa yang cerdas. Sepantasnya kamu bisa menyelesaikan sekolah, dan meneruskan cita-citamu sebagai astronot – cita-cita yang dulu sering aku tertawakan karena betapa konyolnya cita-citamu itu. Aku sering menyesal karena saat itu aku tidak bisa membantu kamu apa-apa. Aku sering membayangkan seandainya saat ini kita masih bisa berhubungan dan melakukan hal-hal bodoh bersama. Ingatkah kau soal ide tentang mengalahkan tim sepak bola sekolah SMA seluruh ibu kota? Ide ambisius yang kita kembangkan bersama di rumah Pak Burhan, walau pada akhirnya kita tahu itu tidak pernah terwujud. Tapi aku bangga dengan keputusanmu.  Kamu adalah anak yang bertanggung jawab. Kamu tidak rela membiarkan keluargamu susah dan lebih baik mengorbankan cita-citamu. Bung, di mana pun kau berada, aku selalu mendoakan kebaikanmu.

 

Terima kasih, dan selamat jalan.

 

 

***

2014.

Kamu adalah seorang teman, sahabat, adik, dan ibu. Seorang yang baik hati tentunya. Kamu selalu memiliki aura keceriaan di sekelilingmu. Kamu memberikan rasa nyaman, senang, dan murah senyum. Aku merasakan rasa aman saat menjadi bagian darimu. Awalnya kamu adalah manusia asing. Kemudian kita menjadi dekat. Aku bercerita banyak hal, kamu bercerita lebih banyak. Kamu selalu membawa kebahagiaan dalam hidupku. Darimu aku merasakan kehidupan yang begitu indah. Kita menghabiskan hari-hari indah bersama. Melewati banyak fase kehidupan yang begitu rumit, tapi selalu bisa kita hadapi. Kita berdua seperti dua manusia yang diberkahi bumi dan langit beserta isinya. Sampai akhirnya kita sadar bahwa yang kita kira itu cinta ternyata bukan. Kenapa bisa begitu? Itu karena kita lebih mencintai diri kita sendiri. Hingga akhirnya kini kamu pergi, meninggalkan segudang pertanyaan tanpa jawab.

Kepada kamu, aku paham seandainya kamu membenciku. Kamu tidak berhak mendapatkan perlakuan seperti itu. Kamu berhak mendapat yang lebih baik. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang mencintaimu begitu dalam, yang mendahulukan kepentinganmu dari pada dirinya. Seseorang yang selalu berusaha membuat kamu tersenyum, dan memahami ketakutan terbesarmu. Aku tahu ini terlambat, tapi aku minta maaf. Aku hanya pemuda yang naif, dan bodoh. Aku mencintaimu tapi aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Aku pikir kamu akan lebih bahagia dengan seseorang yang akan mengapresiasimu. Aku tahu luka yang aku tinggalkan akan selalu membekas di hatimu, tapi suatu saat kamu akan memaafkanku. Aku selalu berdoa dan berharap akan kedamaian dan kebahagiaanmu. Terima kasih akan cinta kasih dan kenangan serta pelajaran yang kamu berikan selama ini.

 

Terima kasih,  dan selamat jalan.

 

***

Hidup seperti panggung drama besar di mana ratusan orang datang, dan yang lainnya pergi. Kita menjadi lakon sendiri bagi hidup kita, di mana yang lainnya menjadi pewarna yang mengisi dan menghiasi cerita kehidupan kita. Beberapa di antaranya memainkan peranan penting, sedangkan yang lainnya hanya menjadi penonton. Setiap orang ada karena sebuah alasan, untuk memberikan pelajaran tentang hidup, membuat kita sadar akan arti diri kita dan mempersiapkan segala kemungkinan terburuk. Satu waktu peran mereka habis, mereka pergi.

Sayangnya, kita terlibat terlalu jauh di aspek-aspek kehidupan mereka sehingga sering kita terbuai berada di sana. Kita fokus terhadap nama-nama tapi bukan kepada sebuah kualitas hubungan. Kita lupa dengan orang-orang yang telah mengajari kita untuk bermimpi, untuk percaya, dan untuk mencintai. Orang-orang terkasih di sekeliling kita, tapi jarang diapresiasi. Kita gagal mengungkapkan betapa berharganya mereka di kehidupan kita, dan menjadikan kita hingga seperti ini. Hingga akhirnya kita kehabisan waktu. Kita hanya baru bisa menyadari betapa berharganya seseorang ketika mereka pergi dari kehidupan kita.

***

About the author

Lulusan Hubungan Internasional. Pernah menjadi Abang Buku DKI Jakarta. Penikmat kopi, sastra, sepak bola, dan belakangan suka fotografi. "Verba volant scripta manent" - Caius Titus

Related Posts