Jarum jam terus menggelinding tak kenal ampun. Tiga puluh menit bergulir tak terasa. Gemiricik hujan yang menetes tipis terus menjejali ceruk-ceruk aspal terminal Margahayu yang telah meluber, sisa hujan pagi tadi. Belecak yang telah menghitam membaur dengan tetesan air sampah dan entah urin setan mana, mengepulkan aroma paling biadab yang memaksa dihirup setiap lubang hidung orang-orang di sekitarnya, khas terminal ataupun pasar di manapun juga.

“Stasiun…stasiun…kircon..kircon..enhay, hayuuuu langsung. eteh, aceuk, mau kamana eteh, Kiara condong aceuk, enhay eteh hayuuu hayuuu…”

Ujang Okem masih asyik berburu penumpang di luar angkotnya. Satu dua penumpang mulai berdecak risau, sekali dua terdengar deru penumpang yang mulai bersungut-sungut sendiri di dalam angkot karena angkot yang tak kunjung bertolak

“Buru atuh, jang! Mau sampe kapan sia nyari penumpang, goblok”

Rupanya  keresahan yang sama pun turut menghinggapi Joni Kemod, sopir angkot yang juga sekaligus partner in crime Ujang Okem. Mereka mungkin tak sepopuler bromance Vincent-Desta, Ben & Jody Filosofi Kopi atau sepenting duet maut Fachri Hamzah dan Fadly Zon, tapi percayalah, Ujang Okem seoranglah yang paling tahu jumlah bulu ketiak Joni Kemod. Pun begitu juga dengan Joni Kemod, Joni seoranglah yang tahu berapa kali Ujang Okem dibuat orgasme oleh pantat ayam Ceuk Edoh setiap minggunya.

“Sebentar dulu Jon, belum pinuh, satu lagi yeuh”

Tanpa memedulikan sergahan Ujang, Joni memasukkan persneling rombeng angkotnya dan perlahan menginjak pedal gasnya.

“Jon…Jon..Joniii.. Joni Kemod, anjing..goblog, tunggu goblog, hehh, anjing, Joni tunggu dulu anjing!!”

Dengan serba-tergesa-serba-bergegas, Ujang mengejar Joni dan angkotnya yang meninggalkan dia perlahan di terminal.

Plaaaaakkkkk….. Kesal, Ujang mengemplang bagian belakang kepala Joni Kemod setibanya ia di angkot. Mobil terguncang sebentar, hampir keluar jalur, namun kembali ke jalurnya.

“Anjingggg…..kehed sia!“

“Sia nu kehed, anjing, bangsat, kenapa ninggalan urang, goblog!“

Ujang rupanya geram betul dengan apa yang dilakukan Joni Kemod. Joni menodai marwah serta profesionalitas seorang Sopir Angkot terhadap kondekturnya. Menurut Ujang, meski secara hierarkis jabatan Joni sebagai sopir angkot lebih tinggi ketimbang Ujang, namun Joni tidak boleh memperlakukan kondekturnya secara semena-mena. Hal ini mencoreng-moreng semangat kaum pekerja yang semestinya bersatu. Jika perlu semua buruh angkot sedunia harus bersatu demi kesejahteraan bersama yang merata.

“Eta kasian Jang ka panumpang, sia kudu mikiran penumpang Jang, jangan mikiran setoran wae“

Joni berpendapat tidak bisa kita terus-terusan mencari keuntungan, kepuasan pelanggan mesti juga dipikirkan bersama.

“Sia mah kaya enggak tau Wak Engkos, Jon. Kemarin setoran kurang dua rebu perak aja marahnya sudah seperti Dajjal“

Ujang Okem memang terpaksa melakukan hal itu karena Wak Engkos, Sang Juragan Angkot paling kesohor dan paling pelit di Rancabolang, tidak mau tahu urusan setoran, terlebih semenjak merebaknya transportasi daring, Ujang Okem mulai kesulitan mendapatkan penumpang.

“Ciiiiiiiiiiittttttt……“ suara kampas rem yang sudah mulai aus dan tak kunjung diganti berdecit keras karena pedal yang diinjak kuat oleh sang nahkoda. Semua penumpang yang berada di angkot menggelosor dari ujung bangku panjang yang satu, ke ujung lainnya, imbas dari licinnya jok kulit angkot.

“Ada apa sihhh, mang?“

“Apa lagi ini teh?“

“Goblog, anjing, bangsat!“

Riuh rendah suara penumpang langsung mewarnai perjalan angkot yang belum juga seratus meter dari terminal Margahayu.

“Apa lagi Jon? Dendam sia ka aing?“

“Itu Jang, liat cepet“ dengan menunjuk seorang laki-laki di depan angkotnya yang sedang menjulurkan tangan kanannya, khas seseorang yang memanggil angkot untuk berhenti, namun laki-laki ini melakukannya di tengah jalan, bukan di pinggir jalan. Dengan sigap, Ujang Okem melompat dan melihat siapa gerangan kiranya yang berada di depan.

 

“Aa dadang, mau kamana?“

“Eta siapa Jang…?”

“Aa Dadang, Jon, anak Mang Komar“

“Mang Komar mana Jang, Mang Komar besan Wak Haji Jujun lain?“

“Iya Jon“

“Heggg….heggg huwanterkweun wurwang kwa Cwik..heggkwago Jangseketika aroma alkohol pun menguar dari mulut Dadang.

“Siiii goblog, wayah kiyeu sudah mabok, aa arek kamana“ Ujang gusar, baru juga mulai kerja sudah harus berhadapan dengan pemabuk.

“Hegg…Cikago anyiiiiinnnnngggggg, Cikagoooooo hegg…hegg..“ dengan disispi cegukan tanpa tempo yang jelas Dadang menjawab tujuannya kepada Ujang Okem.

“Si anjing, goblog, bangsat….Cikago mana goblog, aya oge Cikaso, Cibogo, Ciroyom, ga ada Cikago ti Bandung anying, bangsat siahhh“ Ujang makin gusar dibuat Dadang.

“Sia yang anjing goblog, bangsat,…hegg.. eta Cikago,…hegg..  anying, goblog,…hegg.., nu presidenna mindahkeun Israel ka,…hegg..  Palestina, biar saya sembeleh sini, saya matiin sekalian“ dengan wajah yang seperti kepiting rebus, dan mata seperti orang belekan dan merah, Dadang rupanya tengah marah dengan keputusan Presiden Amerika Serikat yang memindahkan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Jerussalem.

“Goblogggg anjingg, eta shikego bangsat, lain cikago, eta di Amerika anjing, lain ti Bandung bangsat, lain jurusan, kehed…” Ujang rupanya semakin dibakar amarahnya, Cikago yang dimaksud Dadang adalah Chicago di Amerika Serikat.

“Ohhhh, lain jurusan Jang, kalo angkot sia jurusan kamana?” tanya Dadang dengan cegukan yang mulai hilang.

“Cicaheum – Uruguay, bangsattt, pergi sia! Anjing,  goblog….” Ujang yang memang sudah sedari tadi geram oleh Dadang, kemudian berteriak mengusirnya dengan tambahan sepakan menyasar pantat Dadang. Dadang yang masih dalam keadaan mabuk, terhuyung sesaat terkena sepakan Ujang Okem, dan kemudian kakinya tersangkut tungkai kaki sebelahnya sendiri, Dadang jatuh tersungkur menggelinding dan , byurrrrr, masuk selokan.

“Jon, jalan jon, jalan buru” Joni menginjak pedal gasnya kuat-kuat, Ujang masuk ke dalam angkot, keduanya sebenarnya ketakutan pada Dadang, Ujang pun tak bermaksud membuat Dadang terjerumus masuk ke selokan, namun karena Dadang yang memang sedang mabuk, akhirnya dia tersandung kakinya sendiri dan masuk selokan. Ujang dan Joni pun akhirnya terpaksa meninggalkan Dadang yang tengah bersemangat memusuhi Donald Trump dan keputusan kontroversialnya meringkuk di selokan seperti janin dalam perut ibunya.

***

Daun nyiur lembut menghembuskan angin bersepoi, membuai Joni dan Ujang yang memang sedang aso dari hiruk pikuk jalanan kota Bandung sebagai sopir dan kondekturnya. Ujang tengah asyik merapikan uang penghasilan hari ini, meluruskan lembar-lembar uang yang menggulung atau mengeriting, menyeragamkan posisi kepala pahlawan-pahlawan dalam setumpuk ragam foto pahlawan beda nominal. Sembari mencabuti bulu halus di dagunya yang mulai tumbuh dengan dua keping uang koin seratus rupiah, Joni masih asyik merebah sandar di batang pohon kelapa, yang sedari tadi tak lelah menghembuskan anginnya.

“Jang, saya masih mikiran Aa Dadang, Jang, kenapa bisa gitu ya, Jang” disela-sela aktivitas asyiknya mencabuti jenggot tipis di dagu, Joni Kemod ternyata masih terpikir apa yang pagi tadi terjadi dengan Dadang yang melibatkan mereka berdua.

“Hee euh, Jon. Saya juga suka bingung, Padahal si Aa Dadang teh baru pulang umroh bulan kemaren Jon, suka adzan di masjid Cikoneng, malah hari jumat suka jadi bilal. Eta gimana nya Jang hukumna?” rupanya Ujang juga turut merasakan kebingungan Joni tentang Dadang yang meski alim tapi kadang masih suka mabuk.

“Padahal Jang, si Aa Dadang teh mau jadi PNS katanya, mau ikut tes CPNS”

***

Ketukan ritmis kendang yang menghentak dengan penuh gairah membuat siapapun yang mendengarnya akan bergoyang ikut irama, irama kehidupan. Begitulah koplo bagi Ujang Okem dan Joni Kemod. Koplo adalah nafas kehidupan bagi mereka berdua, irama yang membuat mereka lebih hidup dari hidup itu sendiri. Terlebih jika sang biduan yang melantunkan lagu-lagu dangdut sunda adalah sang idola mereka, Neneng Anjarkasih dari Rancaekek, nista dan berlumur dosa rasanya mereka jika tidak hadir pada perhelatan suci tersebut.

 

Nyeri nyeri nyeri. Moal beunang diubaran. Kajeun tutumpuran. Paeh ge teu panasaran. Meungpeung ngora keneh. Meungpeung urang can batian. Pek geura serahkeun. Talak tilu sakalian. . .”

 

Rupanya, lagu Talak Tilu merupakan lagu pamungkas di malam yang sudah begitu larut dari Neneng Anjarkasih dan grup dangdutnya OM. Sagita, grup Orkes Dangdut paling populer di kecamatan Babakanciparay.

Ujang sempat membeli enam kantong plastik putih seperempat Intisari untuk dirinya dan Joni Kemod menonton pertunjukkan dangdut. Tapi karena sepertinya merek berdua terlalu asyik menonton orkes, mereka agaknya lupa dengan apa yang mereka genggam. Akhirnya,dua sahabat yang belum mabuk ini melangkah pulang dengan masing-masing menggenggam kantong plastik putih berisi intisari yang masih tersisa cukup banyak. Tanpa kata, mereka melangkah pulang sembari sesekali menyesap intisari dari sedotannya.

“Jang, maneh percaya Jin teu, Jang?” entah mabuk atau apa, dalam suasana yang sudah ganjil, Joni melontarkan pertanyaan yang tak kalah ganjil.

“Kenapa Jon, kenapa nanya kitu?”

“Katanya teh, Jang, orang yang habis nonton dangdut dan mabok, ga boleh tidur di mushola, bisa-bisa digangguan sama Jin Islam, Jang“

“Emang Jin punya agama, Jon? Kalo kita tidurnya di gereja, apa digangguan ku Jin Kristen kitu Jon?“

“Di dunia Jin ada gubernur ga ya, Jang? Waktu pemilu Jin Islam sama Jin Kristen suka berantem gag ya, Jang?“

Seketika langkah mereka berdua berhenti serempak. Sejenak saling beradu pandang, kemudian, seolah telah paham isi kepala masing-masing, bibir mereka berdua menyeringai bersamaan dan melanjutkan langkah.

Langkah mereka kemudian terhenti di depan sebuah masjid yang bisa dikatakan kecil untuk kelasnya, namun bertingkat dua. Mereka saling tatap, ragu, namun saling meyakinkan diri masing-masing dan sahabatnya, dan anggukan pasti dari mereka berdua menjadi langkah awal mereka memasuki masjid tersebut untuk membuktikan apakah Jin Islam akan mengganggu mereka berdua atau tidak.

Jangkrik berderik, kodok mengorek isyarat bahwa suasana sangat hening malam itu, lima belas menit berlalu dan mereka berdua baik-baik saja. Jam dinding menunjukkan pukul dua lewat tujuh belas menit.

Sreeekkk….sreeeekkk…..sreeeekkkk…

Tak berapa lama kemudian terdengar suara orang seperti menyapu dari halaman bawah. Jantung keduanya mulai berdegup kencang. Bulir-bulir keringat sebesar kacang polong mulai menetas dari dahi keduanya. Bulu kuduk mereka pun turut menari-nari mengikut irama degupan jantung yang melaju kencang. Tanpa ada yang memerintah, mereka mulai berpelukan, memegang erat punggung kawannya masing-masing, dengan keyakinan hal itu bisa meredakan rasa takut akan Jin Islam yang segera mengganggu mereka.

Krucuuuukkkkk…..krucuuuuuukkkk…krucuuuukkkk….

Tidak sampai disitu, suara air kran mengalir bergemericik pun terdengar dari lantai bawah, mereka semakin takut, semakin erat memeluk satu sama lain dan akhirnya mereka jatuh tertidur.

***

Pagi itu Cikoneng cerah. Ibu-ibu main kejar-kejaran dengan anaknya yang sedang disuapi. Beberapa pedagang sayur pun tak lelah dan tetap semangat menjajakan dagangannya serta menghadapi jejeran teteh-teteh dan aceuk-aceuk yang tak kalah bersemengat menawar habis-habisan sayuran yang sedang dijajakan. Kalau perlu si tukang sayur harus rugi, dan naasnya setelah ditawar, tukang sayur itu juga dihutangi.

Namun keriaan itu harus buyar seketika oleh teriakan seorang anak kecil tanpa celana yang berlarian dengan ingus hijau merangsek keluar dari lubang hidung kecilnya

“Ada yang matiiiiii, ada yang matiiiii!”

“Mana, dimana yang mati, budak bageur?” tanya seorang Pak Ustadz

“Eta, di comberan depan masjid, wak

Si Pak Ustadz mengernyitkan dahinya, sebab lepas subuh dia baru saja melalui masjid yang dimaksud, tapi tak menyadari ada mayat. Bergegas warga berkumpul di selokan yang dimaksud. Rupanya benar terdapat dua orang lelaki yang tengah terkapar di dalam selokan yang sudah kering itu. Setelah didekati, rupanya mereka masih bernafas, bahkan terdengar dengkur halus dari keduanya.

“Kang…kang…bangun kang, bangun”

Ujang Okem dan Joni Kemod terbangun dan terkejut luar biasa. Semakin terkejut ketika mereka menyadari berada di dalam selokan dan ditonton banyak warga.

“Jin Islam, Jin Islam, ampun, wak. Saya digangguan ku Jin Islam, wak!“ Joni dan Ujang berbicara bersamaan tak keruan, ketakutan, kepada Pak Ustadz yang turut turun ke dalam selokan. tanpa permisi lagi dan tanpa berbicara lagi, keduanya berlari tunggang langgang meninggalkan kerumunan di depan Masjid An-Nur Cikoneng.

***

Aroma bakso cuanki mengelus lembut hidung Dadang, perlahan namun pasti mata Dadang mulai terbuka, pening masih menghujam kepalanya. Tanpa sadar, tangannya memijat-mijat bagian kening kepala, matanya mengerling, seakan mencari sesuatu yang hilang. Tatapannya menyapa sebuah jam yang menunjukkan pukul empat sore.

“Eta cuanki dang, dimakan dulu“ rupanya dadang ada di rumah Mang Karta, sepupu Mang Komar, bapaknya.

“Maneh mabok lagi nya, Dang? Maneh teh udah umroh, Dang. Udah atuh,  jangan mabok terus. . “

“Dadang pusing mang, eta si Trump, mindahan kedutaan dari Tel Apip ka Yerusalem“

“Kenapa jadi sia nu pusing? Kalo Kang Emil yang mindahin Bandung ka Madagaskar, baru pusing sia“

“Eta namanya solidaritas kaum muslim, Mang Karta. Hiji nyeri, kabeh nyeri. Satu sakit, semua sakit“

“Terus, kenapa sia mabok, goblogggg, anjing sia teh“

 

Dadang terdiam.

“Kenapa saya bisa disini, Mang?”

“Maneh ngagangu sopir angkot. Kata orang di terminal dang, ribut, terus maneh jatoh ka got, Dang“ Mang Karta menjelaskan apa yang terjadi pada Dadang dan membawanya ke rumah.

“Kehed, Ujang Okem, Joni Kemod“ Dadang bergumam kesal dalam hatinya

Adzan maghrib berkumandang, Dadang mohon diri dan meminta Mang Karta agar tak menceritakan apa yang terjadi hari ini kepada bapaknya.

***

Purnama menggantung. Dingin menusuk tulang, angin berhembus cukup kencang, namun hal itu tak menyurutkan langkah Dadang menuju Masjid An-Nur untuk solat tahajud dan i‘tikaf hingga subuh, dengan harapan Dadang bisa lulus tes CPNS esok hari. Setibanya di masjid, Dadang melihat pelataran masjid yang kotor, sampah berserakan. Diambilnya sapu lidi dan mulai disapunya halaman masjid, dengan harapan bisa sedikit meringankan dosa mabuk tadi pagi.

Usai membersihkan halaman masjid, Dadang mengambil wudhu dan kemudian melangkah ke lantai dua Masjid. Setibanya di lantai dua masjid, alangkah terkejutnya Dadang mendapati dua orang yang menceburkannya ke selokan pagi tadi tengah pulas tertidur di masjid dengan aroma alkohol menyeruak dari keduanya.

“Si kehed, anjinggggg gobloggggg!!“

Dengan dendam menyelimuti Dadang, pelukan keduanya dilepas. Ujang Okem mulai diangkatnya, di letakkan di bahunya, tangan dan kakinya menjuntai lesu tanpa tenaga, pulas tertidur, Dadang membawa Ujang Okem turun dan meletakkannya di selokan di depan Masjid An-Nur Cikoneng, hal serupa juga dilakukan Dadang kepada Joni Kemod.

Setelah itu, Dadang kembali berwudhu dan melanjutkan rencana awalnya, solat tahajud dan beri’tikaf hingga subuh, berharap bisa lulus tes CPNS esok hari.

About the author

Buruh penginapan di pusat kota Jakarta. Penikmat kopi dan puisi. Bercita-cita ingin menghabiskan waktunya menulis di sungai Seine. Bisa diusik di don-choyyy (LINE & Instagram)