Perjumpaan dengan Sapto, Temanku yang Baik, di Bekasi

Pemuda itu memakai kaos Persija yang tampak kebesaran di tubuhnya yang tipis. Seakan tak ingin berhenti mengejutkan kami, ia lebih senang menggunakan kosakata bahasa Jawa. Saya pun mengajaknya berkenalan. Pemuda ceking itu bernama Sapto, lahir dan besar di kampung Rawabacang, Bekasi. Saat itu lapaknya juga dikunjungi satu keluarga yang asyik membacai buku-buku bertema agama. Ada pula dua bocah yang melihat-lihat koleksi buku yang Sapto jajakan. Tiba-tiba saja saya merasa cuaca Bekasi beralih sejuk.

Perihal Pwissie Jelek Sukmawati Soekarnoputri

Sebab, sebagaimana Jassin dalam kasus cerpen "Langit Makin Mendung", bagi saya kasus pwissie "Ibu Indonesia" kiranya akan lebih menarik bila sejumlah kritikus sastra mengulas pwissie tersebut dalam kanal sastra. Karena "imajinasi tidak bisa diadili", sekalipun itu imajinasi (baca: pwissie) yang jelek.

Realisme Sosialis di Indonesia: Pergulatan Pemikiran Seniman dan Sastrawan dalam Situasi Sosial Politik 1950-1965 (II)

Masalah kebudayaan nyatanya tidak terlepas dari kondisi sosial-politik. Di periode demokrasi liberal (1950-1957) di mana kebebasan politik dan berideologi diakui dan dijaga sebagai hak individu bagi warga negara, realisme sosialis mulai berkembang sebagai teori kesenian lewat berbagai macam kontak kebudayaan dengan negara-negara sosialis.