Kos Ibu Endang

Saat aku pertama kali memutuskan untuk merantau di negeri orang, saat itu pula pertaruhan sudah dimulai. Yakni antara menang atau pulang. Pertaruhan ini nantinya aku pertanggungjawabkan pada kedua orangtuaku selaku Jaksa Penuntut yang siap menghujamku dengan pertanyaan-pertanyaan jika aku dianggap menyeleneh di sini. Jadilah sekarang aku penjudi yang dimodali orangtua.

Rendezvous with Bahri

Kebudayaan sebenarnya bukan tajuk favoritku untuk kumuat ke dalam sebuah tulisan, namun aku terobsesi menggali cerita tentang Jakarta. Jadi, aku rasa pekerjaan ini memang cukup tepat untuk memuaskan dahagaku sebagai penulis.

Rajin Membatu

Aku mencari batu di gunung-gunung, di kali-kali besar, di tempat-tempat yang tak tersentuh oleh kesadaran manusia modern, bahkan di bawah-bawah gedung bertingkat, yang berdiri tegak lurus dengan langit.

Undangan Kongkow-Kongkow Kebudayaan #1

Ada sesuatu yang ganjil ketika kita memisahkan jauh-jauh antara politk dengan sastra, kedua hal ini secara langsung berkelindan erat dalam ritus keseharian. Apalagi jika dalam konteks sejarah Indonesia. Kita bisa menyebutkan bagaimana pergulatan budaya pada ti... Selengkapnya...

Jakarta dan Fasisme Informasi

Sapardi Djoko Damono menyebut kota ini sebagai cinta yang tak hapus oleh hujan, tak lekang oleh panas. Tapi Andre Vltchek menganggapnya kota fasis yang sempurna, Jakarta: tempat segala urusan hadir menjalar di setiap sendi penghidupan, pabrik dari persoalan ya... Selengkapnya...