Korea Utara, Narasi Media, dan Industri Militer Amerika Serikat

Stabilitas politik dan ekonomi menguntungkan negara-negara seperti Cina yang sudah menjadi raksasa, Rusia, Brazil, India dan tentu saja Indonesia. Karena negara-negara tersebut sudah siap untuk perdagangan besar di sektor pangan, konstruksi, hingga teknologi. Namun, AS dan Eropa sedang mengalami persoalan ekonomi yang serius sejak tahun 2008. Bias eropasentris membuat mereka tidak rela berada sejajar dengan negara-negara maju "baru" tersebut.

Tak Ada Trump di Cikago

Ujang rupanya geram betul dengan apa yang dilakukan Joni Kemod. Joni menodai marwah serta profesionalitas seorang Sopir Angkot terhadap kondekturnya. Menurut Ujang, meski secara hierarkis jabatan Joni sebagai sopir angkot lebih tinggi ketimbang Ujang, namun Joni tidak boleh memperlakukan kondekturnya secara semena-mena. Hal ini mencoreng-moreng semangat kaum pekerja yang semestinya bersatu. Jika perlu semua buruh angkot sedunia harus bersatu demi kesejahteraan bersama yang merata.

Inilah Mengapa Donald Trump Begitu Berhasrat Menetapkan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Selain kelompok lobbyist Yahudi, ada kelompok lain yang merayu Trump agar memindahkan ibu kota Israel, yakni kelompok Kristen-Evangelis. Kelompok ini mendorong agar isu pemindahan kedutaan besar menjadi prioritas utama. Presiden Clinton, Bush, dan Obama selalu urung menjalankannya dengan menandatangani hak penolakan tiap enam bulan. Alasannya, mereka takut akan mengguncangkan stabilitas dan keamanan kawasan.

Populisme Donald Trump dan Pertanyaan tentang Kesadaran Kolektif

Trump terpilih secara resmi sebagai presiden Amerika Serikat ke-45 pada 8 November 2016 di Pilpres yang juga dijuluki “the ugliest campaign” ini. Bagaimana bisa? Belum lagi jika kita perhitungkan bahwa sepanjang pemungutan suara, raihan suaranya selalu lebih tinggi ketimbang sang pesaing. Musnah sudah segala isu-isu dan retorika politik ‘progresif’ yang dibawa Clinton sepanjang kampanye.