Rahasia Lania

Aku memandang langit biru dan mencari awan yang seakan menghilang pagi itu. Sambil menatap jauh menuju langit, aku menjawab pertanyaannya dengan rasa ragu dalam hati. Tetapi, aku merasa wajib untuk menjawab lelaki tua itu dengan keyakinan yang sebenarnya. Di langit, kucari senyumku yang dulu pernah menanti kematian dengan penuh rasa suka cita. Kutarik napas panjang lalu kuhembuskan dengan pelan, dan kujawab “Aku tak lagi muda seperti dulu!”

Tuhan Baru buat Heru

Matahari baru sedikit saja menggelinding ke barat ketika kudapati Heru pulang dengan mata berinai kemarin petang. Paling-paling habis berkelahi atau jatuh ketika bermain bola, pikirku. Anak lelaki tak apalah jika sesekali kalah berkelahi.

Segelas Susu Hangat Untukmu

Kamu dilanda badai insomnia yang cukup kejam. Mungkin dengan berjalan-jalan di luar, menikmati keindahan dan kesunyian kota di malam hari bisa membuat matamu berair karena kantuk. Kamu sambar jaketmu, dan segera melesat, melayang bersama angin malam.

Surat untuk Lembayung

Suatu malam yang temaram pada Oktober 1965, seorang buruh yang dituduh komunis disiksa hingga tewas oleh beberapa orang. Isterinya kemudian diperkosa dan disaksikan oleh anaknya sendiri. Namun, di antara mereka ada seorang pria yang tak tega. Si anak melihat pria itu hendak mengeluarkan revolver miliknya. Tapi mungkin karena takut, pria itu kemudian kembali memasukkan revolvernya ke sarung, lantas melarikan diri sebab tak sanggup menyaksikan hal tersebut.

Ermy Kullit dan Realita yang Menggigit

Andi menghela napas. Dia menyandarkan tubuhnya di tiang listrik dekat gerai Wendy’s. Matanya memicing, mengawasi gerak gerik Voni dari jauh sambil berdoa di dalam hati kalau semuanya akan baik-baik saja. Menit berikutnya, sosok Voni sudah menghilang di balik kerumunan anak-anak yang sedang asyik bersepatu roda ria.

Kos Ibu Endang

Saat aku pertama kali memutuskan untuk merantau di negeri orang, saat itu pula pertaruhan sudah dimulai. Yakni antara menang atau pulang. Pertaruhan ini nantinya aku pertanggungjawabkan pada kedua orangtuaku selaku Jaksa Penuntut yang siap menghujamku dengan pertanyaan-pertanyaan jika aku dianggap menyeleneh di sini. Jadilah sekarang aku penjudi yang dimodali orangtua.