Kunci Duplikat

Hati Restu terasa pahit. Ia baru saja kehilangan kunci motor dan kini tak bisa segera menuntaskan urusan penting yang telah terlalu lama mengimpit hidup.

Ibu Mantan Pacarku

Aku bersyukur jika Puspa mantan pacarku itu mau datang. Asmara kami telah berakhir lebih dari lima tahun yang lalu. Kedatangannya akan memupus rasa bersalah yang selama ini mengendap di jiwaku. Namun mengapa justru ibunya yang datang ke sini? Ini bukan undangan pesta ulang tahun atau kenduri keluarga. Apa maksud dan motifnya?

Cerita Perang Kakekku

“Setelah Indonesia merdeka, hampir semua daerah telah menyetujui untuk bergabung bersama Indonesia, terkecuali Bajo. Mereka satu-satunya daerah yang bersikeras tak mau berhimpun di bawah naungan Negara kita. Padahal, kita satu rumpun dengan mereka. Terlebih, mereka juga masif terlibat dalam perjuangan kemerdekaan kita. Alibi mereka untuk tidak bergabung adalah sumber daya alam mereka sudah cukup untuk membangun suatu Negara yang besar. Hahh.. Negara besar takkan tercapai oleh masyarakat yang barbar”

Sebelum Senja Datang Esok, Aku Harus Menemukan Dirimu

Menurutku, mendengarkan radio jauh lebih menarik ketimbang menonton televisi. Lebih intim. Karena saat si penyiar berbicara, seolah-olah dia sedang berbicara langsung pada kita. Dan sosok mereka yang tak terlihat membuat kita menerka-nerka dan berimajinasi seperti apakah si empunya suara ini. Malahan sejak mendengarkan suaranya secara tak sengaja di radio tiga bulan yang lalu, aku memutuskan untuk menjual televisi layar datarku.

Mencari Tanah Harapan

Semua Semut Semai bosan dengan kata-katanya, tapi mereka sadar kalau itu ada benarnya. Tomcat kelompok pemberontak dalam Semut Semai. Mereka semut semai pula. Hanya saja mereka berencana memutuskan hubungan dengan petani. Entah bagaimana kakak menyakinkan semut semai lain untuk bergabung dalam kelompok ini. Banyak semut semai muda yang terpengaruh orasinya, tapi aku tidak. Sebab aku masih memiliki kepercayaan pada petani. Sebagaimana cerita Ayah dan Ibu yang mengisahkan kisah persahabatan indah antara para petani dan Semut Semai

Rahasia Lania

Aku memandang langit biru dan mencari awan yang seakan menghilang pagi itu. Sambil menatap jauh menuju langit, aku menjawab pertanyaannya dengan rasa ragu dalam hati. Tetapi, aku merasa wajib untuk menjawab lelaki tua itu dengan keyakinan yang sebenarnya. Di langit, kucari senyumku yang dulu pernah menanti kematian dengan penuh rasa suka cita. Kutarik napas panjang lalu kuhembuskan dengan pelan, dan kujawab “Aku tak lagi muda seperti dulu!”