Kelompok Kucing Menari dan Tuan Tersenyum

Tuan Tersenyum berjalan pelan mendekatiku. Telapak tangannya yang panjang terulur ke depan wajahku. Kepalaku terasa pusing. Udara semakin dingin. Samar, kulihat empat manusia berkepala kucing muncul dan menari-nari dari balik punggung Tuan Tersenyum. Dua orang mengenakan jubah putih bergambar burung garuda, sementara yang dua lagi mengenakan jubah merah bergambar banteng. Dari fisik, mereka berempat terdiri dari dua orang pria dan dua orang wanita dengan warna kulit yang berbeda-beda. Kombinasi musik dangdut-psikedelik entah terdengar dari mana, membahana mengisi seluruh ruangan, mengiringi keempat manusia berkepala kucing itu menari atau mungkin lebih tepatnya berjoget? Entahlah. Kesadaranku mulai menipis.

Ralin di Tengah Hutan

Aku terus berjalan sampai akhirnya tiba di depan danau yang cukup luas. Seperti yang aku bilang barusan. Keadaan saat itu sangat gelap. Normalnya, aku tidak dapat melihat apa yang ada di hadapanku. Tapi, aku tahu kalau aku berada di depan danau. Kau tahu? Seperti kejadian di dalam mimpi. Kita hanya tahu begitu saja. Danau tidak seperti laut yang tanpa melihat saja kita sudah tahu kalau itu laut karena suara deburan ombak. Danau bersifat hening. Diam dan dingin seperti kematian. Aneh memang.