Perjumpaan dengan Sapto, Temanku yang Baik, di Bekasi

Pemuda itu memakai kaos Persija yang tampak kebesaran di tubuhnya yang tipis. Seakan tak ingin berhenti mengejutkan kami, ia lebih senang menggunakan kosakata bahasa Jawa. Saya pun mengajaknya berkenalan. Pemuda ceking itu bernama Sapto, lahir dan besar di kampung Rawabacang, Bekasi. Saat itu lapaknya juga dikunjungi satu keluarga yang asyik membacai buku-buku bertema agama. Ada pula dua bocah yang melihat-lihat koleksi buku yang Sapto jajakan. Tiba-tiba saja saya merasa cuaca Bekasi beralih sejuk.

Menggugat Shakespeare

“Aku tidak keberatan jika dikatakan bahwa nama adalah doa atau harapan, tapi apa mereka tidak tahu jika harapan adalah sumber segala kekecewaan? Sekarang kau lihat sendiri, aku masih suka mabuk, aku juga suka menzinahi teteh-teteh bantal guling, tapi nama yang melekat ini seperti parasit, ketika sedang berasyik-masyuk dan nama lengkapku dipanggil, imajinasiku buyar. Hancur berantakan“

Mengapa Kau Selalu Membaca Buku?

Kini, dengan jelas dia bisa melihat pemandangan ibunya yang sedang melukis dengan riang di hadapannya. Dia masih ingat detail-detail pemandangan tersebut. Rambut ibunya yang diwarnai merah muda, wajah cantiknya yang segar, bibir tipis merah delimanya yang basah, kulit kuning langsatnya yang bercahaya, gerakan luwes tangan kidalnya saat menyapukan kuas, senandung merdunya, mentari pagi yang menyusup masuk ke dalam ruangan melalui kaca-kaca jendela juga kemeja jins longgar yang dikenakan ibunya. Aksara bahkan bisa menghidu aroma sabun mandi ibunya yang tercampur bau cat minyak dan wangi tembakau serta cengkeh dari rokok ibunya. Semua detail-detail kecil itu berlompatan keluar bak kelinci-kelinci mungil dari dalam topi tinggi pesulap.