Menggugat Shakespeare

“Aku tidak keberatan jika dikatakan bahwa nama adalah doa atau harapan, tapi apa mereka tidak tahu jika harapan adalah sumber segala kekecewaan? Sekarang kau lihat sendiri, aku masih suka mabuk, aku juga suka menzinahi teteh-teteh bantal guling, tapi nama yang melekat ini seperti parasit, ketika sedang berasyik-masyuk dan nama lengkapku dipanggil, imajinasiku buyar. Hancur berantakan“

Mengapa Kau Selalu Membaca Buku?

Kini, dengan jelas dia bisa melihat pemandangan ibunya yang sedang melukis dengan riang di hadapannya. Dia masih ingat detail-detail pemandangan tersebut. Rambut ibunya yang diwarnai merah muda, wajah cantiknya yang segar, bibir tipis merah delimanya yang basah, kulit kuning langsatnya yang bercahaya, gerakan luwes tangan kidalnya saat menyapukan kuas, senandung merdunya, mentari pagi yang menyusup masuk ke dalam ruangan melalui kaca-kaca jendela juga kemeja jins longgar yang dikenakan ibunya. Aksara bahkan bisa menghidu aroma sabun mandi ibunya yang tercampur bau cat minyak dan wangi tembakau serta cengkeh dari rokok ibunya. Semua detail-detail kecil itu berlompatan keluar bak kelinci-kelinci mungil dari dalam topi tinggi pesulap.

Sepakbola dalam ‘Fieldnotes’ sang Antropolog

Permainan yang ditemukan bangsa Cina, lalu meledak popularitasnya berkat Revolusi Industri Inggris ini juga menyimpan sejumlah ambivalensi. Penulis buku ini banyak menyifati ‘tafsir’-nya terhadap sepakbola dengan sisipan dua kata tersebut: ambivalensi dan paradoks. Dunia terlalu kompleks, sepakbola adalah salah satu penawarnya. Penawar yang kemudian tak jarang menambah luka.