Duka dalam Cinta adalah Niscaya

Di atas motor yang berjalan lambat, kubayangkan segelas teh hangat buatan Norma, anak gadis Om Mustofa yang cantik jelita. Dulu, sepulang melakukan pendataan batas hutan damar, aku selalu disuguhkan segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng oleh Norma.

Untuk yang Mau Membaca dan Mengerti

Bagi Limba, di zaman yang sekiranya sudah maju ini sudah tidak butuh yang namanya kertas ataupun sejenisnya. Sudah merusak pohon-pohon yang menaungi kita dari sengatan panas, jadi pula sampah di pinggiran ibu kota. Tapi apa dayanya Limba, dia hanya orang apes yang terjebak dalam lika-liku ibu kota, Dan lagi pula siapa yang mau mendengarkan opini seorang petugas fotokopi? Apalagi beropini sudah dilarang dari jauh-jauh hari. Bisa dipenjara, atau yang paling ekstrem dilenyapkan. Walau pemerintah masih menutup-nutupi perihal “pelenyapan” itu.

Ziarah

Sebenarnya ada lagi makanan khas dari daerah kami ini, lebih tepatnya dari tanah Tapanuli Utara, Dekke Naniura namanya. Uniknya, ikan khas Tapanuli ini bukan digoreng, dipanggang atau direbus, tapi disirami dengan air jeruk asam atau jeruk jungga, sejenis jeruk purut khas Sumatera Utara. Kau heran? Sama, aku juga. Rasanya itu sungguh aduhai sekali, kawan. Menuliskannya saja sudah membuatku meneteskan air liur.

Babad Ilalang

“Tak peduli. Kamu telah menjanda atau jadi nenek-nenek pun akan selalu saya kejar. Selalu ingat-ingat hari ini. 20 Oktober 2002. Beberapa tahun nanti, percayalah, saya akan sangat pantas untukmu. Saat itu mungkin kamu sudah menginjak usia empat puluh, atau bahkan lima puluh. Tetapi saya tahu umur sekadar angka yang takkan sanggup melunturkan kecantikanmu. Sudah, ya. Saya main bola dulu.”