Suatu malam yang temaram pada Oktober 1965, seorang buruh yang dituduh komunis disiksa hingga tewas oleh beberapa orang. Isterinya kemudian diperkosa dan disaksikan oleh anaknya sendiri. Namun, di antara mereka ada seorang pria yang tak tega. Si anak melihat pria itu hendak mengeluarkan revolver miliknya. Tapi mungkin karena takut, pria itu kemudian kembali memasukkan revolvernya ke sarung, lantas melarikan diri sebab tak sanggup menyaksikan hal tersebut. Sepanjang malam, tangisan bocah lelaki berusia sepuluh tahun itu menggema, memecah keheningan malam sebab melihat selangkangan ibunya digunakan untuk memuaskan hasrat berahi orang-orang itu. Setelah peristiwa itu, si bocah hidup dan bertahan karena dendam. Dendam yang terus dirawat dan disimpan sepanjang hidupnya, yang entah kapan akan berbalas.

***

“Waktu itu, ibuku sedang berada di rumah kakekku di Blora. Aku mendengar ayahku berteriak saat aku sedang menyeterika seragam dinas yang akan dipakai ayahku pada upacara kemiliteran besok. Aku bergegas melihat apa yang terjadi. Namun ketika tiba di kamar ayahku, ia telah pergi entah kemana. Mungkin ia telah diculik, atau mungkin saja telah dibunuh oleh lawan politiknya. . . “

Lembayung meneteskan air matanya setiap kali mengenang peristiwa lima tahun silam sembari bersandar di bahu sang kekasih.

Gamal memeluknya dengan tenang. Mengelus bahunya, dan menghapus air mata kekasih yang begitu dicintainya. Tak sadar, air mata Gamal pun jatuh. “Jangan menangis. Semua orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Atau mungkin ayahmu hanyalah korban dari rezim lalim ini.”

“Hibur aku. Ceritakan aku tentang kisah ayahmu atau ibumu. Atau, ceritakan kembali saat ayahmu bertemu Sultan Ternate. Dan jangan lupa tentang asal-usul namamu yang katanya berasal dari sana,” Lembayung meminta dengan raut wajah yang penuh pengharapan. Gamal sebenarnya sudah hampir bosan menceritakan kisah tersebut. Sudah berulang kali Lembayung mendengar kisah itu, namun telinganya tak pernah bosan. Melihat kekasihnya yang sedang dirundung luka dan kerinduan pada ayahnya, Gamal pun tak kuasa dan lantas mengamininya sekadar untuk melihat senyuman mengakrabi wajah cantik Lembayung seperti biasa.

“Baik akan kuceritakan padamu, sayang. Saat itu ayahku masih muda. Kira-kira berumur 20 tahun. Jadi, ketika itu ayahku ditugaskan oleh para golongon pro-kemerdekaan untuk memata-matai perkembangan VOC di Ternate, karena beredar kabar, Belanda membangun banyak benteng untuk mempertahankan keberadaan mereka di Ternate, Bacan, Tidore dan Jailolo,“ Gamal mulai bercerita

“Arghhhh.. Arrgghhhh..” seorang perempan tua gila di samping rumah Gamal yang terus berteriak sepanjang malam menghambat kisah yang tengah diceritakan.

Gamal menghela napas. Mungkin merasa terganggu dengan hal itu. Tapi setelah beberapa saat, Gamal pun melanjutkan.

“Dahulu, daerah itu disebut Jazirah Al-Mamluk yang artinya adalah negeri raja-raja. Ayahku akhirnya bertemu dengan Sultan saat pesta rakyat. Ayahku ditahan oleh prajurit kerajaan karena mendekati Sultan dengan tampang mencurigakan. Namun, setelah tahu ayahku adalah utusan golongan muda yang dipimpin Soekarni, Sultan akhirnya mengajaknya berbicara secara empat mata dan mulai mengatur strategi untuk melawan Belanda.”

Lembayung masih mendengar dengan wajah yang mulai ceria. Takjub dengan kisah singkat petualangan ayahnya Gamal.

“Setelah mengetahui perkembangan VOC di sana berkat bantuan Sultan, ayahku kemudian lekas kembali karena ibuku tengah mengandung. Namun, saat hendak berangkat kembali ke Jawa, Sultan memberikannya dua hadiah: yang pertama adalah Salawaku, yaitu parang khas asal Maluku yang digunakan untuk bertempur melawan Belanda. Dan yang kedua adalah sebuah nama; nama yang kemudian melekat pada diriku: Kaicil Gamalama yang berarti pangeran Gamalama. Kau tahu, saat kecil aku pernah membenci nama itu karena ejekan teman-temanku sebab namaku jauh berbeda dengan orang Jawa pada umumnya. Tapi, belakangan aku tahu dari ayahku, bahwa Kaicil diambil dari bahasa Jawa yaitu ‘kiai cilik’.”

“Begitulah bangsa ini. Kebesaran dipandang dari nama-nama. Bahkan nama sudah menjadi harapan yang terselip dari si pemberi ke si penerima dan tak jarang dipaksakan untuk menyatu dengan si pemilik nama,” tutur Lembayung.

“Tapi kau menyatu dengan namamu: Lembayung Senja. Sungguh langit adalah pemberi nikmat yang sejati sebab aku bisa memeluk dan mengecup senja setiap saat,” cetus Gamal sembari menatap mata sang kekasih. Lembayung tersenyum manis kali ini, seperti matahari yang hendak pulang. Gamal melihat senyum itu, senyum yang tak diinginkannya hilang.

Setelah itu, mereka menghabiskan malam untuk bercerita masa-masa pertemuan pertama mereka tiga tahun silam. Tapi, Gamal menyadari ada yang mengganggu di celana dalam dan akhirnya mereka menutup kisah itu dengan bercinta sepanjang malam.

***

Sore itu, Gamal mengajak Lembayung untuk bertemu Paman Gamal yang baru saja datang dari tempat jauh. Mereka berjanji untuk bertemu di sebuah kedai kopi di Selatan Jogja. Dalam perjalanan ke tempat itu, mereka singgah ke sebuah apotek untuk membeli tes kehamilan, karena Lembayung tak kunjung halangan, padahal ini sudah tanggal di mana tamu bulanannya biasa datang. Tak lama setelah itu, mereka akhirnya tiba di tempat Paman Gamal. Gamal yang didampingi Lembayung langsung menghampiri pamannya yang mungkin sudah lama menunggu. Mereka lantas menyalami pamannya.

“Kau tumbuh dengan baik, Mal,” tutur Pamannya. Gamal hanya tersenyum lebar tanda mengamini.

“Oh iya, paman bawa buku pesananmu,” dengan nada setengah berbisik dan sepasang mata yang tampak cemas melihat sekeliling. Gamal langsung mengambil tas plastik hitam yang berisi sebuah buku bertuliskan Arus Balik karya Pramoedya. Gamal semringah melihat buku itu.

Setelah beberapa lama mengobrol tentang banyak hal, mereka akhirnya melanjutkan pembicaraan itu di rumah Gamal, mengingat si paman sudah terlihat lelah usai perjalanan panjang yang menguras tenaga.

***

Pagi itu, fajar belum juga muncul di ufuk timur. Bulan masih terjaga. Lembayung terbangun setelah menyadari ada yang kosong dari ranjangnya. Tak ada yang memeluk mesra tubuhnya. Tak terdengar suara apapun di dalam rumah. Sunyi. Hanya siulan burung-burung atau suara kelelawar yang sedang mencari makan. Ia masih dikuasai rasa kantuk, namun risih dengan keberadaan Gamal yang entah di mana. Sambil mengusap matanya, ia keluar kamar. Dilihatnya sisa kopi yang belum tandas dan beberapa bungkus rokok yang berserakan di atas meja.

“Mungkin Gamal dan pamannya sedang keluar,” gumamnya pelan.

Sembari menunggu Gamal pulang, ia membersihkan rumah. Memang sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi saat menginap di rumah Gamal. Ia membersihkan meja, menyapu lantai dan membersihkan halaman kecil yang membentengi tanaman dari kambing atau mungkin sapi.

Gamal belum juga pulang siang itu. Lembayung masih menunggu di teras rumah dengan cemas. Sorenya, ia tak kunjung kembali. Hingga malam, tak ada yang datang. Masih sunyi seperti ketika ia terbangun. Bahkan suara perempuan gila itu, tak lagi terdengar sepanjang malam. Lembayung bergegas kembali ke dalam rumah bermaksud melihat apakah ada yang ia lewatkan. Namun, semuanya masih sama di ruang tamu itu. Ia melanjutkan ke kamar Gamal dan ternyata lemarinya telah kosong. Gamal telah pergi dan yang tertinggal hanya tanda tanya di hati sang kekasih.

Walaupun begitu, Lembayung masih tetap menunggu hingga waktu yang tak tentu. Tapi semuanya masih sama. Hingga suatu sore, saat Lembayung sedang duduk termangu di teras rumah menatap tes kehamilan yang baru saja ia gunakan, seorang petugas pos datang mengantar sebuah amplop yang sepertinya adalah surat. Lembayung setengah berlari menghampiri si petugas, berharap semoga surat yang datang adalah kabar baik tentang kekasihnya. Setelah menandatangani sebuah kertas yang menjadi bukti pengiriman, Lembayung dengan cemas membuka surat itu.

***

Ia menangis. Ia ingin marah tapi tak tahu siapa yang harus disalahkan. Ia berlari ke sebuah bangunan tua berdinding papan yang tampak seperti gudang. Dibukanya dengan cemas. Setelah membuka pintu itu, bau busuk kemudian terpancar keluar. Seorang pria renta yang telah terbujur kaku memegang sebuah revolver dan menjadi santapan belatung. Dilihatnya kembali sebuah kertas kecil ditangannya, dengan gambar dua garis merah.

Wahai Lembayung, kekasihku.

Bukankah sudah kubilang bahwa semua orang harus bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya? Jika saat itu ia berani menarik pelatuk revolvernya, mungkin ayahku masih hidup dan ibuku tak berakhir menjadi perempuan gila yang suaranya biasa kau dengar pada malam-malam panjang yang sering kita lalui. Lembayung Senja, kekasihku, aku mencintaimu. Kuharap, kesedihan akan memperlakukan matamu dengan baik.

Sekarang, pergilah ke gudang di belakang rumahku dan berdamailah dengan nasibmu. ♦

About the author

Dikenal sebagai Galang Tarafannur. Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nasional angkatan 2014. Putera Bacan yang menaruh minat pada sastra. Bisa bertegur sapa dengan penulis melalui Line di: galangtarafannur69

Related Posts