Gerimis sederhana mengguyur pelabuhan Babang pagi itu. Kira-kira pukul 4.00, Dedi sudah datang untuk menunggu kiriman yang sebentar lagi tiba dari Ternate menggunakan kapal Ukiraya 05. Setelah beberapa lama berdiam diri di depan toko yang telah tutup sembari mengisap kreteknya, ia kemudian mampir di sebuah warung dan memesan secangkir kopi untuk menemaninya menunggu sambil mengusir dingin yang menusuk-nusuk tulang.

“Sial!” gerutunya. “Hujan-hujan begini aku harus menjemput barang haram ini yang bukan milikku. Tapi tak apa. Toh hasilnya nanti kunikmati juga. “

Ia mengeluarkan kreteknya dari saku celana, membakarnya dan menyemburkan asap ke udara. Digenggamnya segelas kopi lalu diseruput. Seorang pria berseragam polisi kemudian masuk dan langsung memesan segelas teh manis. Setelah melihat-lihat bangku yang kosong, pria itu akhirnya memilih untuk duduk di sebelah bangku tempat Dedi berada.

“Jemput siapa Ded, atau mau jemput kiriman?” tiba-tiba ia bertanya. Ternyata itu Randi, teman sekolahnya yang kini telah menjadi polisi.

Tanpa berpikir panjang, Dedi menjawab, “Jemput kiriman.”

“Masih ada bangku yang kosong, kenapa duduk di sini?” Dedi bertanya kepada si polisi dengan raut wajah yang serius. “Aku ingin sendiri dan lebih jauh dari itu aku membenci kalian, polisi. Dari pada ada masalah, lebih baik kau pindah ke bangku lain sebelum rahangmu kupatahkan,” lanjut Dedi. Si polisi kaget dengan muka yang menunjukkan sedikit rasa takut namun geram. Ia terdiam sejenak menatap Dedi. Meskipun dirinya polisi, ia berpikir bahwa tak mudah bisa mengalahkan Dedi lewat adu jotos. Apalagi dirinya hanya seorang diri. Jika ditimbang dari segi fisik, Dedi bisa menghantamnya dengan mudah. Terlebih ia telah lama mengenal sosok Dedi yang sedari sekolah sudah akrab dengan kasus perkelahian, tawuran, bahkan memukul guru. “Baik, aku akan beranjak. Tapi hati-hati,” tegas si polisi. Dedi tersenyum kecil kali ini mendengar kalimat yang mungkin adalah ancaman.

Kopi belum sempat tandas, namun deru mesin kapal telah terdengar dengan jelas. Ia bergegas membayar dan berlalu ke pelabuhan. Keheningan kini berganti kebisingan dari suara keras buruh-buruh yang menawarkan jasa mereka untuk mengangkat barang-barang penumpang yang baru saja tiba dari Ternate, atau suara pedagang-pedagang pelabuhan yang menawarkan dagangan mereka. Setelah tangga yang menghubungkan antara kapal dan pelabuhan telah tersedia, orang-orang yang ingin naik ke kapal dan penumpang yang ingin turun, membanjiri tangga tanpa ada yang mau mengalah. Dedi pun termasuk dari sebagian orang-orang itu, dengan maksud agar segera mengambil kiriman dan membebaskan diri dari kerewelan ini. Namun, samar-samar ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia berbalik melihat siapa yang memanggilnya, tapi kerumunan orang menghalangi pandangannya.

Setelah berada di kapal, ia langsung naik ke Dek 3 tempat jasa pengiriman. Dedi kemudian menyebutkan nomor kiriman 125 dengan nama penerima Bote, sesuai dengan yang tercatat di situ. Si petugas kiriman tak langsung mengambil barangnya namun bergegas pergi dan menyuruhnya menunggu. Tak lama berselang, si petugas telah kembali memegang sebuah kotak dengan nomor 125 yang terbungkus dengan rapi itu dan memberikannya pada Dedi. Setelah kotak berpindah tangan, empat orang tak dikenal langsung menghampiri Dedi. Dua orang menggunakan kaos biasa dan jins panjang, dua orang lainnya menggunakan seragam bertuliskan BNN Maluku Utara di dada kiri dan namanya di sebelah kanan tepat di atas saku. Dedi tahu apa yang akan terjadi. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia melihat sekeliling. Posisinya tersudut. Tak ada ruang untuk dapat melarikan diri. Tapi, bukan berarti ia kehilangan akal. Ketenangan masih jelas terlihat dalam dirinya.

Ia kemudian dibawa ke ruangan ABK yang kosong. “Namamu siapa?” seorang dari mereka tiba-tiba bertanya dengan nada yang agak meninggi. “Dedi,” ia menjawab dengan tenang seperti tak terjadi apa-apa.

“Siapa Bote? Apa isi dari kotak itu?”

“Saya tidak tahu-menahu soal isi kotak ini pak, sebab saya hanya ojek yang dibayar untuk menjemput kiriman ini,” tegas Dedi. Orang yang bertanya menyuruhnya untuk membuka kotak tersebut. Setelah dibuka raut wajah Dedi berpura-pura menunjukkan rasa kaget setelah melihat ganja kering dan beberapa kertas plastik bening yang berisi bubuk putih seperti tepung.

“Sekarang kau tahu apa isinya. Nah, kalau bagitu, bawa kami ke rumah pemilik kotak ini, tapi jika kau berusaha menyusahkan kami atau menipu kami kau akan dijebloskan ke penjara sesuai dengan hukuman yang akan kau terima nanti di pengadilan.”

Ia kemudian ikut bersama mereka dengan tangan yang telah diborgol namun masih memegang kotak itu.

Sepanjang perjalanan, Dedi berpikir keras tentang bagaimana caranya menampik deretan pertanyaan mereka yang akan menyerangnya. Akhirnya ia menunjuk sebuah tempat di mana dia akan berjumpa dengan orang yang telah menyuruhnya menjemput kiriman tersebut sesuai dengan waktu yang telah disepakati, yaitu pukul 5.30. Kita tahu, bahwa itu hanyalah alasan yang hadir secara spontan dalam pikirannya. Namun, mereka kemudian berhenti di seberang jalan yang masih lengang di pagi itu dan menunggu si pemilik kotak tiba.

Waktu terus berjalan, satu petugas telah lelap. Yang satunya menunggu dengan resah sambil melihat arloji di tangannya. Sepi. Tak ada pembicaraan lagi, mengingat rasa lelah telah menguasai diri mereka semua, termasuk Dedi. Bahkan waktu kesepakatan sudah berlalu namun mereka masih saja menunggu.

“Orang yang menyuruhmu itu telah berniat untuk menjebakmu. Sebab kiriman yang ada di tanganmu itu. Pengirimnya di Ternate telah dibekuk oleh petugas kami. Dia pasti tahu bahwa kiriman itu sudah dikawal oleh kami tapi kenapa ia masih menyuruhmu mengambil kiriman itu? pikirkan baik-baik. Berapa usiamu?” tanya petugas yang duduk di sebelah Dedi.

“22,” jawab Dedi dengan nada yang agak sendu kali ini, mengingat masa depannya yang masih panjang dan lapang sedang terancam oleh jeruji besi. “Semua tergantung keputusanmu, namun kau telah dijebak dan kau harus tahu itu,” si petugas kembali mengingatkan.

Terjadi pertempuran antara logika dan perasaan Dedi. Hatinya mengatakan bahwa Bote tak mungkin mengkhianati persahabatan mereka yang telah lama terjalin, mengingat telah belasan tahun Dedi mengenalnya, sampai saat di mana Bote harus menikah karena menghamili pacarnya yang membuatnya putus sekolah. Namun akalsehatnya menghendaki bahwa Bote harus bertanggungjawab atas apa yang diperbuat olehnya. Dalam saat-saat seperti itu, ia dihantui tentang masa depannya yang masih terang. Bagaimanapun juga, ia adalah anak tunggal yang lahir dari keluarga terpandang dan anak dari seorang kepala dinas. Sekalipun pergaulannya brutal, orang-orang tak dapat menampik bahwa ia adalah seorang yang gemar membaca dan pandai dalam urusan akademik juga pemain bola yang handal, sekalipun ia tak serius dalam menggeluti bakat bolanya.

Sedangkan Bote? Ya, Ia sedang menimbang siapa yang harus dikorbankan. Dirinya yang mempunyai masa depan atau seorang sahabat yang sudah berkeluarga yang mungkin telah menjebaknya. Lagipula, keluarga Bote berantakan. Terakhir yang diingat Dedi, Bote mengatakan ingin bercerai karena desakan mertuanya yang jengkel anaknya menikah dengan Bote yang pengangguran.

Petugas yang tadi kini menawarkan kesepakatan: jika Dedi mengatakan yang sejujurnya, ia akan melepaskannya dari jeratan hukum. Namanya tukar kepala, ia kembali menjelaskan. Setelah beberapa detik, Dedi langsung mengamininya. Tanpa menunggu lagi, mereka langsung menghampiri Bote ke rumahnya. Namun, sesampainya mereka di sana, Bote telah kabur. Hanya orang tuanya yang tersisa. Dedi memaki dan mengutuki Bote. Saat keluar dari rumah Bote, semua warga sudah berkumpul. Semuanya mengenal Dedi. Sebab rumah Dedi dan Bote hanya berjarak 100 meter.

Setelah beberapa menit, seorang perempuan berusia 40an lari menghampiri Dedi dengan penuh isak-tangis melihat pergelangan tangan anaknya digagahi borgol. Dedi pun tak kuasa menahan air mata melihat ibunya seperti itu. Petugas akhirnya memberitahu apa yang terjadi namun harus mengakhiri sedu-sedan itu mengingat Dedi harus segera dibawa ke Polres untuk menunggu Bote ditangkap. Sebelum pergi, ibunya berbisik menenangkan Dedi. “Tenang Nak, ibu dan ayah akan membayar mereka yang berhasil menangkap Bote. Semua akan baik-baik saja”.

Untuk pertama kali selama hidupnya ia merasakan derita penjara. Malam pertama, ia habiskan dengan penyesalan, tangisan dan umpatan. Dingin lantai membuatnya menggigil malam itu. Namun tubuhnya terlalu kelelahan, membuat matanya lelap dibawah keteduhan kelopaknya. Setelah beberapa jam kemudian, pukulan keras menghantam wajahnya. Belum sempat terbangun untuk membela diri, satu tendangan mendarat di perutnya. Samar-samar ia mendengar suara si polisi yang dikenalinya itu. Kemudian pukulan demi pukulan berhasil membuatnya tak sadarkan diri.

Ketika ia sadar, matanya tak bisa terbuka dengan baik namun ia masih bisa melihat ibu dan ayahnya yang cemas dan sedang menangis melihat kondisi anaknya. Mukanya dipenuhi dengan luka dan matanya bengkak. Tubuhnya lunglai tak berdaya. Ia mendengar jeritan beberapa orang.

“Itu hukuman kepada para tahanan yang telah membuatmu seperti ini. Ayah membayar Randi, teman sekolahmu yang polisi itu dan teman-temannya untuk menghajar para tahanan biadab itu,” jelas Ayah Dedi. Sebenarnya ia ingin menjawab bukan mereka yang melakukan, namun, suaranya terlalu lemah dan tak terjangkau. Bahkan mengepalkan tangannya pun tak sanggup. Setelah beberapa hari, Dedi akhirnya mulai membaik. Namun, kemarahannya kepada polisi itu, juga kepada Bote, masih menyala dan entah kapan akan membaik.

Hampir sebulan sebelum malam itu Bote menyusulnya ke penjara dengan kondisi yang mengenaskan. Bote tiba dengan muka yang nyaris tak berbentuk akibat amukan orang suruhan ayahnya Dedi. Mereka menemukannya di RS Labuha. Bote langsung diseret ke penjara dengan kondisi seperti itu. Di luar perkiraannya, ia ternyata tak bisa membalaskan amarahnya karena melihat kondisi Bote. Dedi mulai menyadari bahwa kemarahannya mulai padam – walaupun belum sepenuhnya – pada situasi ini. Setelah berada di sel, Bote langsung tak sadarkan diri dan lunglai dalam lelapnya.

Pagi itu, Dedi terbangun dari tidurnya. Ia mendengar suara tangisan Bote yang terpatah-patah. Dedi langsung menghampiri.

Ketika ia berdiri di batas ruangan yang tak berpintu itu, melihat Bote, ia menghardik: “Sekarang kau bisa merasakan apa yang kurasa.”

Bote menatapnya dalam-dalam lantas berkata: “Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini, Ded. Aku tidak menjemput kiriman itu karena takut jika terjadi apa-apa pada istriku malam itu. ia sedang hamil 9 bulan. Saat aku dikabari bahwa kiriman itu telah dikawal, aku menyusulmu ke pelabuhan untuk mencegahmu. Aku bahkan memanggil-manggil namamu. Namun kau tak melihatku. Dan tadi malam waktu mereka menangkapku, aku hendak membawa kantong darah untuk istriku yang pendarahan. Namun, semua telah terjadi, polisi baru saja memberi kabar dari keluargaku bahwa istriku telah meninggal kehabisan darah.”

Penyesalan Dedi bercampur aduk. Namun, sesuai kesepakatan dengan petugas BNN, ia dibebaskan siang itu dan hanya menjadi saksi untuk persidangan.

***

Gerimis sederhana mengguyur pelabuhan Babang pagi itu. Kira-kira pukul 4.00, Dedi berada di sana. Ia mengingat malam itu, malam yang menghendakinya pergi. Di ujung gang yang lengang, seorang polisi ditemukan tewas.

“Bohemian Rhapsodi” dari Queen lantas mengalun pelan.

About the author

Dikenal sebagai Galang Tarafannur. Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nasional angkatan 2014. Putera Bacan yang menaruh minat pada sastra. Bisa bertegur sapa dengan penulis melalui Line di: galangtarafannur69

Related Posts