esai ini diterbitkan pertama kali di SPÄTKAPITALISMUS edisi kedua (Desember 2015)

oleh: Don Gusti Rao*

Filosofi hidup kadang selalu mempunyai jalan yang bertaut erat dengan aspek ideologi lain. Bila ideologi adalah ide yang substantif, gaya hidup akan terkontaminasi, atau minimal, ada hal tercakup meski tersirat. Maka jangan heran bila filosofi dan gaya hidup adalah salah satu sumbangan terbesar dari ide selain peradaban. ‘Aku berpikir maka aku ada,’ kata Descartes. Ide tersebut yang dalam konteks akulturatif menjadi kebudayaan. Praktik Kejawen, Sunda Wiwitan, dan kepercayaan lokal lain adalah ide yang bertransformasi menjadi estetika dan ritus yang penuh penghayatan substanstif. Patut dipahami bahwa ia bukan merupakan hal murni yang sekonyong-konyong ada.

Adalah straight edge, paham menarik yang menjadi tema besar dalam esai ini. Meski bukan merupakan barang baru, paham ini punya values, ide dan semangat kemandirian yang mumpuni.

Straight edge adalah paham yang asal mulanya terjadi di Inggris dan Amerika. Pada masa itu musik underground (punk/hardcore) sangat booming, banyak remaja dan musisi menyukainya. Tapi di sisi lain, musik beraliran keras dengan gaya fesyennya yang sangat mudah ditemui dan dikenali ini selalu dikonotasikan negatif dan menyimpang. Bahkan ratu Inggris pernah berkata bahwa musik underground adalah musik setan –– pada jaman itu, subkultur underground juga identik dengan perilaku kriminal, alkohol, drugs dan free sex. Dari sebab itulah mereka risih dengan pandangan masyarakat yang selalu memandang negatif pasukan hitam-hitam ini. Maka untuk merespon anggapan masyarakat tersebut, mereka sepakat untuk bermusik dan berkarya dengan cara yang lebih baik.[1]

Untuk itu, muncullah apa yang dinamakan dengan straight edge, sebagai gerakan gaya hidup yang diinisiasi semangat berkarya dengan bersih, tanpa drugs, alkohol, free sex dan juga nikotin. Ide ini dicetuskan dari lagu Minor Threat dengan judul yang sama yang bila diartikan bisa berarti gerakan yang lurus. Namun sebelumnya, embrio gerakan ini terilhami dari lagu-lagu band protopunk The Modern Love medio 70-an.[2] Banyak yang mengklaim menjadi penganut paham ini dengan dalih memberontak dari upaya cara pandang gaya hidup (punk/hardcore) yang negatif – dengan asumsi bahwa mereka menyaksikan dan juga menyangsikan hancurnya hidup orang-orang sekitarnya, serta hancurnya hubungan kekerabatan, bisnis dan lainnya (Alfansuri, 2007).[3]

Ditilik dari semangat dan sejarahnya, tentu straight edge sangat revolusioner. Begitu mafhum kiranya kita menyandingkannya dengan ideologi kaum kiri yang kerap dipandang kontroversial jua: sosialisme atau dalam konteks yang fundamental, yakni komunisme. PKI yang secara general mewakilkan partai politik di Indonesia dengan ideologi komunisme tentu revolusioner. Bagaimana tidak, tak hanya dalam konteks pemikiran dan pandangan yang melawan arus, namun demikian juga dalam gaya dan pandangan hidup yang impelementatif.

Bila straight edge sebagai ide yang besar kemudian memunculkan banyak varian, tentu demikian juga dengan PKI. Straight edge dengan pemikiran fundamentalisme beranggapan bahwa menjadi vegetarian adalah sebersih-bersihnya kaum yang gemar menyematkan simbol ’X’ ini. Jika bertentangan dengan itu, merupakan straight edge yang absurd, karbitan dan layak dimarjinalkan. Pun dengan PKI, varian komunisme Indonesia, tentu berbeda dengan Eropa yang sarat dengan pertentangan kelas. Sedangkan di Indonesia mempunyai titik tekan pada nilai perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme, bahkan sedikit beririsan dengan kapitalisme internasional dan borjuasi lokal. Maka dari itu, dalam Jalan Baru, Musso mengkritik habis partai Komunis sekawan di Belanda dan Perancis yang bukannya men-support perjuangan PKI untuk merdeka dari Belanda, tapi malah menganjurkan agar Indonesia menjadi persemakmuran atau common wealth negeri kincir angin tersebut.

***

Bagi kita yang hidup atau mengalami sekolah zaman propagandis Orde Baru, ada hal yang akan diingat. Menjelang 30 September, sekolah-sekolah negeri mewajibkan siswanya menonton film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer dengan layar lebar dari kain, juga disiarkan di TVRI secara maraton. Sudah pasti ada rasa kengerian yang mendalam. Orba berhasil menanamkan kebencian yang bukan main dahsyat berikut implikasinya. Saking kontroversialnya, ada kejanggalan dimana Arifin Noer dan Umar Kayam – seniman idealis yang dikenal tak takut lapar – justru  menggarap dan jadi pemainnya. Dan mudah ditebak, anggaran 800 juta rupiah menjadikannya sebagai film termahal yang disponsori Orde Baru.

Tapi bukan itu yang saya bahas. Saya lebih tertarik membahas DN Aidit, ketua CC PKI yang diperankan oleh wartawan senior Tempo Syu’bah Asa. Ya, dalam film itu Aidit digambarkan sebagai seorang ketua partai pemberontak yang memimpin rapat dengan kepulan asap di forum rapat yang amat sumpek. Kontan, ketika reformasi hadir dengan kran demokrasi yang dibuka lebar-lebar, kawan-kawan seperjuangan, eks tapol, sampai sejarawan memandang itu sebagai bagian dari kampanye hitam orba. Murad Aidit, adik sang ketua lantas menyangkalnya: Aidit tidak merokok. Bahkan masa itu, syarat khusus untuk menjadi anggota PKI adalah dua, yakni tidak merokok dan berpoligami. Hal itu lantang disampaikan Sri Sulistyawati, mantan wartawan Bakti dari Grup Sinpo yang mendekam selama 11 tahun enam bulan di RTM Bukit Duri.[4]

Meski rokok dianalogikan sebagai candu para aktivis politik dan para thinker demi mendapat inspirasi, Aidit melawan anggapan mainstream itu. Dalam skala general, PKI melawan itu. Lain lagi dengan Musso, ketua PKI pasca republik merdeka yang menganjurkan kadernya untuk menghormati perempuan. Bahkan, Musso pernah menonjok Alimin, tokoh PKI yang diangkat Soekarno sebagai pahlawan dan dimakamkan di Kalibata itu akibat suka main perempuan (Tim Buku Tempo, 2011: 116).[5] Ada penghormatan bagi PKI kepada Gerwani, organisasi sayap keperempuanan PKI yang masa itu aktif mengadvokasi hak-hak perempuan, khususnya jaman Aidit (terkait larangan rokok dan poligami).

Singkatnya, ada titik temu antara straight edge dan PKI dalam nilai perjuangan melawan status quo. Banyak dari kita yang meyakini nilai perjuangan kedua paham tadi sebagai filosofi hidup. Maka, melihat perkembangan mutakhir soal maraknya usaha untuk meluruskan kesimpangsiuran tragedi kemanusiaan 1965, serta keterbukaan informasi dan hak kebebasan berekspresi, tak fair kiranya jika mereka yang bersimpati terhadap satu atau kedua paham tersebut didiskreditkan. Ya, kita yang meyakini paham tadi bukanlah Pramoedya, Kartosoewirjo atau malah Jenderal Soedirman yang aktifitas dan permintaan terakhirnya sebelum meninggal adalah merokok. Namun patut dicatat, nilai perjuangan adalah hak personal yang didasari dengan ide, perjuangan dan gaya hidup dan values yang filosofis. Aidit, Musso, Pram, Karto dan Dirman punya filosofi hidup yang diyakininya.

Saya jadi berandai-andai, bila Aidit dan Musso tidak mati sia-sia dan hidup sampai dengan zaman subkultur straight edge cukup populer, tentu akan ada akulturasi dari ranah gaya hidup aktivisme-politik kaum kiri dan para musisi underground dalam melawan dominasi arus utama dan stigmatisasi kelompok oposan. Menurut saya ini merupakan paradoks. Tentu juga bila tidak ada propaganda sistemik yang ditentang Gus Dur itu (baca: Orde Baru) kita akan leluasa mendengar Genjer-Genjer karya Muhammad Arief tanpa harus diprotes keras oleh FPI. Atau, kita akan mendengar syahdunya para seniman Lekra menyanyikan Anti Nekolim di radio-radio kesayangan.

            Mari kita bergembira, suka ria bersama

            Hilangkan sedih dan duka, mari nyanyi bersama

            Lenyapkan duka lara, bergembira semua

            La la la la la la la la, mari bersuka ria

Terakhir, tentu kita masygul. Kendati paham-paham tadi adalah ide, tapi ia akan mengalami sebuah fase di mana perjuangan akan terjal. Straight edge akan dimusuhi oleh kaum underground (mencakup varian dan subvariannya) lain yang menganggapnya cengeng. Sementara kaum kiri akan terus didiskriminasi karena dianggap sebegitu nistanya. Ya, Orba berhasil mencuci otak kita.

Kampung Rambutan, 24 November 2015.

*Pascasarjana Ilmu Politik UNAS, Gusdurian yang lagi nyantri di PMII. Menggemari Iwan Fals sejak dalam pikiran | @doni_rao | doni-rao.blogspot.com

[1] Lihat Rao, ”Idealisme dari Sudut Pandang Lain”, Buletin Kapitalisme KSM-UNAS, 2009.

[2] Buletin IQRA PMII UNAS, 2010 : 4

[3] Achmad Fauzan Alfansuri. “Straight Edge dan Perkembangannya di Dunia Musik Underground”. Blog pribadi. http://max.lk.ipb.ac.id/2010/10/16/straight-edge-dan-perkembangannya-di-dunia-musik-underground/

[4]  Beritasatu.com , Kamis, 26 Juli 2012

[5] Tim Buku Tempo Musso, Si Merah di Simpang Republik. 2011.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.