Alunan seruling bambu bersama rentak kendang ketipung sahut bersahut, saling mengisi notasi, menciptakan irama mendayu paling merdu, juga suara aduhai dari sang biduan, Caca Veronica, melantukan lagu “Terhanyut Dalam Kemesraan” menyambut ketibaan kami di sebuah kawasan barat Pamulang. Suara tersebut bermuara pada sebuah panggung megah pertunjukkan musik dangdut bernama “Familys Group” sebuah grup musik dangdut paling masyhur di seantero Jabodetabek.

Konon, ada dua grup musik dangdut dengan kualitas premium yang mendominasi panggung dangdut di seantero Jabodetabek, Familys Group dan SK Group, yang merupakan akronim dari Stereo Kendor. Saya telah berkesempatan hadir dalam kedua pertunjukkan musik yang umumnya dihelat pada acara hajatan pernikahan tersebut, dan saya mengamini anggapan tersebut. Kedua grup musik dangdut ini memang berada pada tataran yang berbeda dengan pertunjukkan dangdut pada umumnya. Animo masyarakat yang luar biasa tinggi selalu membuat kehadiran penonton membludak di setiap pertunjukkannya. Sekedar untuk mendekat panggung saja membutuhkan ekstra tenaga, sungguh, tak ubahnya dengan berenang di antara lautan manusia, bahkan akses masuk ke lokasi hajatan pernikahan itu sendiri tertutup oleh lautan manusia yang tumpah ruah di segala penjuru panggung.

Hal tersebut memang beralasan. Panggung megah, sorot lampu yang menari-nari di angkasa, suara emas biduan, bahkan instrumen musik yang digunakan luar biasa lengkap, lebih lengkap dari Dream Theater sekalipun. Bayangkan, untuk alat musik tiup selain suling saja, yang setidaknya selalu digawangi oleh tiga pemain, terdapat pula alat tiup lain semacam terompet, saksofon tenor dan saksofon. Secara keseluruhan dari yang saya lihat ada belasan pemain musik berbeda yang berada di atas panggung, itu belum termasuk tambahan tiga penyanyi latar, dan juga deretan biduan-biduan dengan suara yang menentramkan kalbu, siap siaga dipanggil Bung MC, luar biasa bukan.

Dulu, sewaktu pulang menyaksikan pertunjukkan Dangdut Panggung untuk pertama kali, yaitu pertunjukkan dari SK Group, saya membawa serta berlusin-lusin pertanyaan yang mengganjal di dalam kepala, dan semua pertanyaan tersebut saya timpakan kepada adik saya yang sudah cukup lama malang membujur-melintang di dunia malam panggung dangdut Ibukota dan sekitarnya. Dan pertanyaan terbesar saya malam itu adalah; Siapa Ayah Meong?

Nama Ayah Meong ini cukup membuat saya penasaran. Beberapa biduan tak henti-henti menasbihkan namanya di sela-sela lagu “Buat ayah meong yang punya, kunanti di pintu surga” kalimat itu seperti menjadi kata kunci kuis-kuis televisi. Menurut penuturan adik saya, nama Ayah Meong merujuk pada seorang tokoh jalanan di kawasan Ciganjur. Namanya cukup kesohor di blantika musik dangdut panggung Ciganjur, lantaran predikat salah satu Raja Sawer yang melekat pada dirinya.

Merujuk dari apa yang disampaikan adik saya, untuk wilayah Jakarta Selatan, setidaknya ada tiga orang yang menyandang Gelar Raja Sawer paling kondang, pertama adalah Bos Ringgo, lalu ada Bang Putuy, dan ketiga tentu saja, putera daerah tanah kelahiran saya, Ciganjur, Ayah Meong. Tiga nama ini terus menerus dilafalkan oleh para Biduan, bukan sekedar karena nama besarnya namun juga lantaran pengaruhnya di kawasan dimana hajatan itu diselenggarakan.

Tidak sampai disitu, setiap Raja Sawer memiliki lagu favorit mereka masing-masing. Hal tersebut saya ketahui dari maksud sapaan sang Biduan yang selalu mengucapkan “Buat Ayah Meong, yang punya kunanti di pintu surga” kalimat tersebut dimaksudkan bahwa lagu “Kunanti di Pintu Surga” adalah lagu favorit dari Ayah Meong kita ini. Jika lagu ini tidak kunjung dinyanyikan, biasanya sang Raja Sawer akan pulang sebelum acara selesai.

Temuan menarik lain adalah metode sawer yang cukup unik. Sebagaimana kita semua ketahui, bahwa sawer dilakukan dengan memberikan uang kepada biduan dengan cara diberikan lembar demi lembar, namun ada cara unik lain, yaitu dengan digulung kecil atau dilipat berbentuk bunga lalu diselipkan atau diikat di gelang atau cincin sang biduan. Menurut adik saya, mereka yang memberi saweran di gelang dan cincin adalah mereka yang betul-betul memberi apresiasi atas musikalitas sang biduan. Sedangkan sawer dengan cara biasa, selain bentuk apresiasi, bertujuan untuk cari nama, agar namanya terus disebut sang biduan di atas panggung.

Hal lain yang juga cukup menyita perhatian saya adalah, sepasang suami istri yang dengan sedemikian asoynya bergoyang di bawah alunan mendayu-dayu musik dangdut di atas panggung seolah panggung megah itu didirikan memang hanya untuk mereka berdua saja. Bahkan mereka justru abai dengan keberadaan biduan yang notabene sang bintang panggung. Lalu sang Suami akan mengeluarkan segepok uang kombinasi lima ribu rupiah hingga lima puluh ribu rupiah yang kemudian disawer kepada sang istrinya, dan lebih jauh, bukan saja mereka abai dengan eksistensi sang bintang utama, mereka juga bahkan abai dengan konsensus bersama bahwa yang disawer itu seharusnya Sang Biduan, bukan yang lain. Namun yang kemudian semakin menarik adalah, setelah semua uang di tangan si suami habis untuk memberi sawer sang istri, kini giliran sang istri yang kemudian memberikan saweran kepada sang Biduan menggunakan uang yang tadi diberikan sang Suami. Benar-benar sistem birokrasi domestik rumah tangga yang terimplementasi dengan baik dan tepat guna di atas panggung dangdut.

Setelah panjang lebar obroloan hangat antara kakak adik perihal khasanah blantika dangdut panggung ibukota, adik saya menyarankan bahwa saya mesti juga coba menyaksikan pertunjukkan Familys Group jika ingin melihat pertunjukkan musik dangdut yang mengedepankan kualitas, bukan sekedar sensualitas sebagaimana banyak orang sematkan.

Adik saya merujuk seorang kawan lama yang rupanya seorang anggota bahkan ketua dari “MySquad” untuk wilayah Jakarta Selatan. MySquad adalah kumpulan fans dari Selvi Anggraeni, salah satu biduan paling dinantikan suaranya dari Familys Grup.

Adik saya mengatakan bahwa setiap biduan itu memiliki bendera (baca; Kumpulan Penggemar) masing-masing, namun yang terbesar adalah ZebroHolic, kumpulan penggemar dari Yuznia Zebro yang didapuk sebagai Ratu Biduan dari Familys Group. Namun, sayang seribu sayang, sejak menikah (lagi) Yuznia Zebro kehilangan izin menyanyinya. Suami (baru)nya tidak lagi memberikan izin Zebro untuk kembali menyanyi. Tahta Ratu Biduan pun mesti diletakkan. Sepeninggalan Yuznia Zebro dari barisan biduan Familys Group, dibarengi dengan kehilangannya panutan para ZebroHolic, kini, kumpulan penggemar biduan terbesar dipegang oleh penggemar dari Selvi Anggraeni dengan MySquad-nya, dan saya cukup beruntung karena ketuanya adalah seorang kawan lama.

Pada akhirnya saya berkesempatan menghadiri pertunjukkan musik Familys Group di kawasan Pamulang Barat. Seorang kawan lama yang saya ceritakan di atas menjemput saya yang terjebak dalam kerumunan massa yang hendak menyaksikan pertunjukkan megah tersebut. Bersamanya saya diajak menuju samping panggung, berdekatan dengan Selvi Anggraeni, junjungan dari MySquad, tidak sampai disitu saja saya diperkenalkan dengan beberapa punggawa dari MySquad, bahkan turut ada juga AJB dari Selvi Anggraeni. AJB itu apa, Bang? pertanyaan tersebut sekonyong-konyong menjeluak dari cocot lugu saya ini. Sang kawan mengatakan bahwa AJB merupakan akronim dari Anter Jemput Biduan. Sungguh pelajaran penting yang saya catat malam itu.

Sang kawan lama yang biasa dipanggil Tepes ini menceritakan bahwa setiap Biduan umumnya pasti memiliki satu atau dua AJB. Ia bertugas untuk menjemput sang biduan dari rumah ke lokasi panggung kemudian mengantarnya kembali pulang setelah acara selesai. Satu AJB memiliki tugas membawa sepatu, tas dan perlengkapan sang biduan, lalu memecah kerumunan untuk membuka jalan, agar sang biduan bisa lewat dan naik ke atas panggung.

Saya diperkenalkan dengan semua anggota dari MySquad yang hadir malam itu untuk menyaksikan penampilan dari sang idola Selvi Anggraeni, tentu saja. Tepes bahkan menawarkan saya untuk naik serta ke atas panggung. Tentu saya agak gelagapan. Untuk apa saya naik serta ke atas panggung? Lagi pula apa boleh itu dilakukan? Tepes mengatakan, boleh saja jika mau, mungkin saya ingin bersalaman atau bertegur sapa dengan Selvi Anggraeni secara langsung, Tepes dengan senang hati akan melakukannya, akan tetapi dengan halus dan lembut, sehalus dan selembut pelembut pakaian, saya menolak tawaran baiknya.

MySquad telah setia mengawal dan mendukung perjalanan karir Selvi Anggraeni selama empat tahun lamanya. Dari panggung ke panggung mereka sambangi sekedar untuk mendengar suara emas dari sang idola. Menurut penuturan rekan-rekan MySquad, setiap Biduan akan diberi kesempatan menyanyikan dua lagu. Satu lagu adalah lagu yang sudah dipersiapkan, dan satu lagi adalah lagu permintaan para penonton.

Tak kurang dari sembilan ribuan akun menjadi pengikut di akun sosial media Instagram @mysquad_sejati. Namun, rupanya mereka punya sistem seleksi yang tidak sembarangan dan cukup ketat jika benar-benar ingin menjadi anggota MySquad. Mereka akan memastikan seberapa sering si calon anggota baru tersebut datang menyaksikan pertunjukkan Selvi Anggraeni. Ia harus benar-benar mampu menjadi penggemar sang biduan pujaan yang taat dan saleh, yang selalu datang mendukung setiap pertunjukkan Selvi Anggraeni.

Tidak hanya itu, MySquad juga punya kegiatan yang rutin dilakukan bersama sang idola dan cukup positif. Setidaknya satu kali dalam satu bulan mereka memiliki agenda pengajian bersama Selvi Anggraeni. Ada juga futsal setiap dua minggu sekali, dan kadang ada Tur Bersama Selvi Anggraeni. Luar biasa, bukan? Anda mau bergabung?

***

Dangdut dengan sensualitas biduan di atas panggung seolah menjadi satu kesatuan. Stigma tersebut melekat kuat di kalangan banyak masyarakat umum, terlebih citra dangdut yang ditampilkan media. Selalu saja dangdut dihubungkan dengan tari-tarian nakal dan liar. Tapi percayalah, hal tersebut tidak akan ditemukan di panggung-panggung dangdut seperti Familys Group atau SK Group. Selvi Anggraeni bahkan selalu mengenakan hijab dengan desain gamis panjang pada setiap penampilannya. Yunita Asmara tampil mengenakan gaun biru panjang yang sungguh menawan, lalu Cici Marisa yang tampil setelah Yunita Asmara, terlihat anggun mengenakan gaun panjang abu-abu yang terus berkelap-kelip dimandikan cahaya lampu panggung.

Di panggung Familys Group kita tidak akan menemukan biduan dengan goyangan-goyangan yang sedemikan barbar dan sungguh ugal-ugalan. Tidak ada goyang dribel, goyang crossing ataupun goyang umpan lambung di panggung Familys Group. Teriakan-teriakan atau celoteh yang sembarangan dan terdengar sedikit cabul dari Bung MC seperti “bukak sithik jos”, “tung gentak gentung crot!”, dan yang paling trengginas yaitu ‘Asolole!’ juga tidak akan kita dengarkan dari Bung MC di Familys Group. Semua santun dan sangat sopan.

Semua goyangan biduan pun memiliki irama yang lembut nan syahdu. Warna musik dangdut yang diusung Familys Group, SK Group dan banyak group musik dangdut di sekitar Jabodetabek memang murni Melayu dengan Soneta Group asuhan Bang Haji Rhoma Irama sebagai ka’bahnya. Komposisi nada-nada yang mendayu ini memang menjadi sebuah penegasan bahwa jelas ada perbedaan kutub antara Musik Dangdut di kawasan Jabodetabek dengan warna musik dangdut di kawasan Pantura atau Jawa Timur seperti O.M Palapa atau O.M Sera yang memiliki ketukan ritmis ketipung yang sedemikian rancak dengan tempo yang lebih cepat atau yang sering kita akrabi dengan istilah Koplo.

Alunan musik yang syahdu dan mendayu inilah yang membuat para penononton Familys Group bergoyang sedemikian asoy geboy, sangat khusyuk dan khidmat menikmati alunan musik dan lagu yang dinyanyikan sang biduan, tidak grasak-grusuk, tentram sentosa dan bersahaja.

Saya menyempatkan bertanya perihal, mengapa para biduan dangdut Familys Group berpakain demikian rapi dan sopan, tidak seperti kebanyakan biduan dangdut yang sering kita lihat di banyak media? Jawabannya sungguh membuat saya tercengang, bahwa di level Familys mereka hanya mengejar kualitas musik, group dangdut yang memiliki biduan berpakaian seronok dengan tarian yang terlihat liar dan binal, sejatinya memiliki tujuan menarik para penyawer untuk mengeluarkan uangnya lebih banyak dan lebih banyak lagi, karena jika hanya mengandalkan bayaran si empunya hajat, besarannya terbilang sangat kecil.

Lautan manusia yang setia datang menyaksikan Familys maupun SK sejatinya adalah orang yang benar-benar menikmati musik dangdut secara kaffah. Mereka memang ingin melihat musik dangdut yang berkualitas, dangdut hakiki. Menyambung dari sebelumnya, bahkan tanpa berpakaian seksi pun para Raja Sawer atau Tukang Sawer tetap berduyun-duyun merogoh koceknya dalam-dalam untuk sang biduan. Bagi saya, predikat Raja Sawer atau Tukang Sawer adalah pecinta musik yang sejati, mereka memberikan dukungan dan apresiasi terhadap musik dan musisi yang digandrungi secara nyata, langsung dan yang paling penting kongkrit bentuknya.

Dangdut panggung dengan segala citra buruk yang melekat bersamanya tidak bisa menjadi justifikasi bahwa semua musik dangdut panggung selalu demikian. Faktanya semakin berkualitas grup musik dangdut tersebut, semakin kecil citra buruk yang tampak.

Pelabelan musik dangdut sebagai musik kelas dua, tidak berkelas, rendahan, sebenarnya membuat saya miris secara pribadi. Bahkan tak jarang banyak dari mereka yang menatap jijik dengan selera musik dangdut, padahal dari segi kualitas musik maupun lirik, dangdut memiliki cita rasa yang cukup tinggi. Tidak percaya? Mari kita sedikit menilik beberapa bait dari salah satu lagu yang sangat saya sukai berjudul “Tiada Guna”;

 

Jangan kau ucapkan cinta

Ku tak mau mendengarnya

Aku sudah tak percaya

Akan adanya cinta

 

Cinta bagiku empedu

Pahit meresap ke tubuh

Bagai tersayat sembilu

Perih kedalam kalbu

 

Aduh Biyung, hati mana yang tidak tersayat-sayat membaca sajak sepedih itu, ngenes mrenyes!!! Belum lagi susunan kata yang membentuk rima indah A-A-A-A B-B-B-B juga pilihan diksi yang membuat hati yang telah luluh lantak kian hancur berkeping-keping.

Tapi tenang, tak peduli seberapa ambyar berantakannya hatimu karena cinta, Familys Group, SK Group dan banyak dangdut panggung Ibukota siap mengiringi ke-ngiluan hatimu, dan semua luka dan kepedihanu akan larut dalam pejaman nikmat matamu, goyangan kaki, pinggul, tangan hingga kepala yang tak kalian sadari. Aduhai nikmat betul bukan?

Salam Hobah Santai Tanpa Lebay.

***

About the author

Buruh penginapan di pusat kota Jakarta. Penikmat kopi dan puisi. Bercita-cita ingin menghabiskan waktunya menulis di sungai Seine. Bisa diusik di don-choyyy (LINE & Instagram)