Semua hal ini berawal di tempat pangkas rambut. Pada saat itu aku pergi ke sana untuk memotong rambut, berharap menghilangkan sialku. Mengapa aku mengatakan sial? Jadi begini, sudah hampir tiga wanita yang sudah kuajak untuk berkencan tapi selalu saja mereka menolaknya. Alasan mereka pun semua sama, yaitu karena rambutku yang gimbal. Ya, rambutku seperti sumbu kompor, kata mereka.

Sebenarnya, pada saat wanita yang pertama menolak kuajak pergi kencan, aku belum berniat untuk memotong rambutku ini. Kupikir hanya alasan klasik ia saja menolakku secara halus karena tidak ingin jalan denganku. Ah, mungkin ia hanya menginginkan pria yang sudah mapan saja, pikirku. Jadi pada saat itu aku urungkan niatku untuk mendekatinya lagi. Kubuang jauh-jauh wajahnya dalam anganku. Kukungkung keinginanku ini dalam sebuah kotak, kuhias rapi lalu kulempar di tengah lautan samudera yang tak berpenghuni. Setelah itu, aku tidak menyerah, kudekati lagi wanita yang kedua. Tapi hal yang sama kini menimpaku kembali. Ia pun menolakku dengan alasan yang sama: gimbal. Aku tidak berkecil hati walaupun sudah yang kedua kalinya, aku tetap mencari wanita lain. Kalau sampai yang ketiga menolakku untuk berkencan karena alasan yang sama, aku berjanji akan membunuh rambut-rambut sial ini, pekikku dalam hati. Benar saja, yang ketiga pun tetap menolakku dengan alasan bahwa rambutku menyeramkan seperti preman pasar. Hah, preman pasar?! Memangnya potongan gimbal hanya preman pasar saja? Benar-benar kesimpulan yang bodoh! Hatiku berontak tak habis pikir. Andai ia tahu, setiap pagi aku selalu mencuci piring di rumah dan membantu mengantarkan ibu belanja ke pasar naik sepeda, serta…. Ah sudahlah, mungkin tafsiran ia berbeda denganku.

Kembali lagi ke tempat pangkas rambut. Jadi, ketika siang itu aku masuk ke dalam, sudah ada dua orang pria juga yang sedang duduk menunggu untuk mencukur rambutnya. Yang satu memakai baju berwarna merah dan yang satu lagi berwarna hitam. Kuamati sejenak ruangan pangkas itu. Banyak sekali poster model potongan rambut pria mulai dari gaya tahun 1960 sampai 2000an, serta kulihat juga ada cermin berukuran besar yang menempel di setiap dindingnya yang berwarna biru langit itu. Aku pun langsung masuk dan menimbrung duduk di bangku paling ujung sambil menunggu giliranku datang.

Sudah hampir sepuluh menit aku menunggu, aku pun merasa bosan. Sontak, kulihat di sudut dinding ada gitar tua yang tergantung. Aku pun meminta izin untuk meminjam gitarnya kepada si Akang sang pemangkas yang sedang asyik memotong rambut pelanggannya. Ia pun mengizinkanku. Tanpa lama kuambil gitar itu, lalu aku kembali lagi ke tempat dudukku dan memainkan gitar itu lagu dari Eric Clapton, “Tears In Heaven”. Aku tahu pada saat aku memainkan gitar tersebut, ada mata yang mengawasiku. Tapi aku enggan untuk menatap balik ke arahnya. Aku selalu kalah bila beradu mata dengan orang lain. Bukan karena aku pemalu atau penakut, tapi aku hanya malas saja bila bertatapan dengan sesama pria. Aku tahu dua orang pria di sampingku itu melihatku terus menerus tanpa henti ketika aku sedang memainkan gitar ini dengan lincah.

“Asyik juga mainnya, Mas? Coba, bisa gak lagunya Gary Moore, “Still Got The Blues”?” tanya salah seorang pria yang mengenakan baju berwarna merah. Pria itu mempunyai rambut hitam yang panjang, hampir sebahu kiranya. Kulitnya kuning cerah. Badannya agak besar dan tinggi, serta memiliki janggut yang menggelayut di parasnya.

“Oh, Gary Moore. Iya saya bisa sih, sedikit-sedikit,” jawabku sambil tersenyum kecil.

Lalu kumainkan gitar itu sesuai lagu permintaannya. Tiba-tiba tanpa aba-aba, pria itu langsung menyambar untuk bernyanyi. Suaranya lumayan bagus, sangat merdu terdengar di telinga bagi yang mendengar. Aku pun terus memainkan gitar itu sambil sesekali tersenyum sedikit ke arahnya. Dan ketika telah selesai kumainkan lagu itu, pria yang satu lagi yang mengenakan baju berwana hitam mengatakan bisa juga bermain drum. Akhirnya, kami pun berkenalan satu sama lain. Dari sana kuketahui nama mereka. Sultan yang memakai baju berwarna merah, dan Darma yang memakai baju berwarna hitam.

“Besok kalau bisa main saja ke rumah saya, kebetulan alat musik di rumah saya lengkap, Mas. Tapi sayang sekali, gak ada yang megang bassnya,” ucap Darma kepadaku dan Sultan.

Tiba-tiba seorang pria yang tengah dicukur itu menyela pembicaraan kami bertiga, “Kalau bass saya bisa, Mas.” Pria itu bernama Rolis. Ternyata sedari tadi ketika sedang dicukur, ia pun mengamati pembicaraan kami lewat cermin yang ada di depannya yang memantul ke arah kami bertiga.

Keesokan harinya kami pun memulai latihan di rumah Darma. Tanpa memakan waktu yang lama, permainan kami begitu serasi satu sama lain. Dari sana kuketahui, Darma adalah orang dari kalangan yang cukup berada dan ia juga bercerita dulu pernah sekolah musik di luar negeri, yang kini memutar haluan menyemplung ke dalam dunia bisnis. Lalu Sultan yang merupakan seorang pekerja di salah satu pabrik dan Rolis yaitu penjaga toko distro.

“Lah, kamu sendiri kegiatan sehari-harinya apa?” Tanya Sultan kepadaku ketika selesai bermain musik dan sedang asyik bersantai.

“Ya, kalau aku sih, lulusan S1 yang belum mendapatkan kerja. Alias menganggur.”

***

Di hari-hari berikutnya kami sering berkumpul dan bermain musik bersama. Tampak seperti ada sesuatu beban yang terangkat dari dalam diri kami masing-masing ketika sedang memainkan musik. Musik seperti udara bagi kami. Kami begitu memerlukannya dan musik menghidupinya. Tak ada tampaknya orang yang tidak menyukai musik di dunia ini. Musik adalah ungkapan jiwa. Menurutku, musik bukan sekedar obat penghilang rasa bosan semata. Tapi musik mempunyai sebuah jiwa. Musik itu hidup seperti kita.

Pernah suatu hari, ketika tengah malam setelah kami kelelahan bermain musik lalu kami duduk di sebuah taman, aku menanyakan sesuatu kepada Darma, “Dar, menurutmu musik itu apa?”

Ia terdiam beberapa saat, “Menurutku musik itu seperti flashdisk,” jawabnya dengan singkat.

Kami bertiga kaget mendengar jawabannya, entah apa yang kala itu dimaksudkan oleh Darma, “Flashdisk?! Apa maksudmu seperti flashdisk?” jawabku.

“Ya, seperti flashdisk. Sekarang kutanya kau, pernahkah kau mengingat seseorang atau sebuah moment dalam hidupmu ketika sedang mendengarkan sebuah musik? Misalnya ketika kau sedang mendengarkan musik dari The Beatles, lalu kau mengingat teman, pacar, atau bahkan saudaramu sendiri?”

Aku berpikir sejenak, lalu kusadari ternyata ucapan yang dilontarkan Darma memang ada benarnya juga, “Ya, benar. Tapi maksudnya flashdisk itu apa? Aku masih tidak mengerti maksudmu.”

“Musik itu memang seperti flashdisk. Ia adalah alat penyimpan kenangan seseorang. Entah itu kenangan buruk, baik, dan lain-lain. Musik tidak pernah memilih yang mana kenangan baik atau buruk untuk kita. Ia otomatis merekam setiap momen dalam hidupmu. Dan hanya kita sendiri yang tahu, kenangan apa yang pernah terjadi dan tersimpan di dalam sebuah musik itu. Ia hanya mengalir saja. Maka dari itu, aku percaya dalam sebuah musik itu mempunyai jiwanya masing-masing. Hampir sama seperti kita menciptakan seorang anak yang lahir di dunia,” jawab Darma sambil mengepulkan asap rokoknya ke arah langit.

Pada malam itu kami berempat banyak sekali membicarakan tentang musik sampai waktu subuh tiba. Setelah hari itu, kami pun sepakat akhirnya membuat sebuah band. Dari sana kami terinspirasi untuk menciptakan sebuah ‘jiwa-jiwa’ lainnya yang lahir di dunia. Membentuk sebuah band memang hampir mirip dengan sebuah pernikahan. Kami harus mempunyai kesepakatan visi dan misi yang sama dahulu. Serta kita juga harus berbagi pikiran bersama-sama dalam suatu hal.

Band yang kami buat itu seringkali mengikuti pada sebuah acara festival musik ataupun sekedar bermain di sebuah kafe. Sudah berkali-kali band kami memenangkan setiap kali ada audisi yang kami ikuti. Tentu dalam waktu cepat nama band kami pun akhirnya tersebar pada orang-orang.

Suatu ketika pada sore hari, ada seorang pria yang datang menghampiri kami yang sedang asyik latihan di rumah Darma. Ia memakai kemeja cokelat panjang dan bercelana bahan hitam. Hampir separuh rambutnya sudah memutih. Pria itu mengaku tertarik dengan lagu-lagu yang kami buat ketika waktu ia menonton pada acara festival beberapa waktu lalu. Selain berbeda dengan jenis-jenis band pada umumnya, ia juga mengatakan bahwa yang terpenting yang paling ia sukai bahwa kami bermain dengan penuh pengkhayatan. “Memaknai musik itulah yang terpenting,” tuturnya. Lalu, ia pun menawarkan diri untuk menjadi manajer dari band kami. Kami pun mengatakan akan memikirkannya dalam jangka waktu seminggu.

Kami merasa bimbang setelah kedatangan seorang pria tersebut. Lalu kami mencoba berbagi pikiran.

“Ya sudahlah gapapa, toh nanti nama band kita juga akan dipromosikannya agar lebih dikenal lagi oleh orang-orang,” ucap Rolis kepada kami yang kala itu berada di ruang tamu rumah Darma.

“Bukan begitu, Lis. Dari awal kan kita membentuk band ini bukan untuk mencari popularitas semata!” ketus Darma.

“Benar, Lis. Lagu-lagu yang kita buat ini kan hanya sekedar untuk menyadarkan orang-orang saja, agar lebih bisa memaknai sebuah musik, jadi tak perlulah pakai manajer segala,” tambah Sultan.

“Loh, kan kalau ada manajer juga lagu-lagu dan band kita bisa lebih dipublikasikan lagi kepada orang banyak!” jawab Rolis.

Mendengar jawaban itu, Darma semakin naik darah, “Aku tahu, kau sebenarnya hanya mencari popularitas dan uang yang akan kita dapatkan saja, Lis! Sudahlah, kalau kau mau begitu aku akan keluar dari band ini. Aku tidak peduli!”

“Saya tidak mempunyai maksud seperti itu. Janganlah main asal tuduh dulu! Kalau kita ingin menyadarkan orang-orang tentang arti dari sebuah musik, apakah tidak boleh menyadarkan orang dengan jumlah yang banyak? Apakah kita hanya puas dengan menyadarkan orang di acara festival dan kafe saja?!” Rolis pun semakin terbakar emosinya.

“Sudahlah, jangan bertengkar seperti ini. Masalah ini bisa dibicarakan baik-baik tanpa harus menarik sedikit pun urat dileher kita,” ucapku meredam mereka berdua.

Pertengkaran mereka pun berhenti. Lalu kami mencoba kembali membicarakan baik-baik dengan kepala dingin. Dan akhirnya, kami menyepakati tentang kehadiran manajer tersebut. Dengan sebuah catatan, ketika band kami mendapatkan sejumlah uang dari hasil manggung nanti. Maka uang itu akan dikumpulkan untuk membuat sekolah musik kecil-kecilan.

***

Setelah bertahun-tahun waktu berlalu, kami terus meloncat dari panggung satu ke panggung lainnya. Manajer kami memang sangat pintar mempromosikan band-band kami dalam sebuah event ataupun acara-acara besar. Nama band kami pun semakin meledak di mana-mana. Kini banyak sekali penonton yang hadir untuk melihat penampilan kami. Tawaran terus berdatangan pada kami tanpa henti, bahkan sekarang band kami bisa sampai tur ke luar negeri.

Ketika kami menginap di sebuah hotel pada saat tur di luar negeri, manajer kami mengatakan ada sebuah label musik yang menawarkan kami untuk rekaman di tempatnya. Nama label itu adalah Cakrawala Studio’s. Label itu memang sudah terkenal dan mempunyai nama yang cukup besar. Sudah banyak jebolan artis yang lahir dari label tersebut. Kami pun merasa sangat senang mendengar kabar itu.

“Tampaknya karya kita sebentar lagi akan didengar oleh orang banyak,” Ucap Rolis.

“Semoga orang-orang semakin banyak yang sadar, musik itu sebenarnya mempunyai jiwa, sama seperti manusia, hewan, dan tumbuhan,” lanjut Darma.

Sepulang dari tur tersebut. Kami pun langsung diundang untuk datang ke Cakrawala Studio’s. Dari sana kami banyak berbincang dan mengetahui bahwa kalau ingin rekaman di sana, kami harus mengikuti kemauan dari label tersebut. Seperti dari genre musik, tempo musik, lirik yang akan diubah, dan lain sebagainya. Tujuan utama dari label itu memang mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Jadi yang lebih diutamakannya adalah selera pasar, bukan kualitas lagu dari band tersebut.

“Apa-apaan ini, lagu kami mau diubah seperti lagu sampah seperti itu?!” gerutu Darma kepada pihak Cakrawala Studio’s.

“Musik kami sudah seperti anak bagiku. Seenaknya saja kalian bilang ubah! Musik kami itu hidup dan mempunyai jiwanya masing-masing. Kalau kalian ubah, ‘anak-anak’ kami itu bisa sakit jiwanya nanti, mengerti?!” tambahnya sambil menggebrak meja.

“Ya, mau gimana lagi. Kalau tidak seperti itu kami tidak mendapatkan keuntungan, Mas,” jawab pihak Cakrawala Studio’s.

“Kalian tahu, karena ulah orang seperti kalian inilah yang berpikir dengan cara praktis dalam mencari uang, musik-musik pada saat ini jadi kehilangan jiwanya! Jiwa-jiwa itu kalian tukarkan dengan sebuah keuntungan. Kalian telah merampas ribuan orang yang mempunyai bakat di luar sana, ribuan musik yang telah hidup kalian matikan hanya karena uang. Kalian tahu, kalian telah menghancurkan jutaan telinga orang-orang. Persetanlah dengan kalian!” Darma pun berdiri lalu berjalan keluar sambil membanting pintu.

Setelah itu, kami dan manajer pun pergi meninggalkan label tersebut. Kami lebih memilih bermain musik dengan jiwa kami, dan bukan dengan taburan uang. Lalu, manajer kami mengatakan lebih baik hari ini kita beristirahat saja di rumah masing-masing, karena masih ada jadwal lagi lusa nanti. Kami pun segera pulang membawa harapan yang pupus itu, sekaligus menenangkan diri atas kekecewaan kami pada Cakrawala Studio’s.

***

Pada saat pulang ke rumah, aku kaget melihat Rina yang sedang duduk di ruang tamuku. Rina adalah wanita ketiga yang waktu itu menolak kuajak berkencan. Aku mengernyitkan dahi ke arahnya, lalu berkata, “Sedang apa kau di sini?” Rina pun hanya menyajikan senyum ke arahku dan langsung berdiri menyambutku.

“Aku sudah hampir tiga jam di sini menunggumu,” katanya.

“Ada keperluan apa kau datang kemari?” tanyaku.

Ia hanya tersenyum kembali, lalu mengubah topik pembicaraan, “Aku sudah mendengar lagu-lagumu itu, lho. Waktu itu aku menonton acara festival musik sebulan yang lalu. Aku sangat suka dengan lagu-lagumu itu.”

“Oh, iya, memang benar sebulan yang lalu bandku tampil di sana,” jawabku sambil mencoba mengingat sedikit tentang acara festival tersebut.

“Kamu sekarang lebih terlihat tampan, setelah tidak gimbal lagi. Oiya, malam ini aku ingin mengajakmu keluar, kau mau tidak? Sudah dari kemarin aku menunggu-nunggu kedatanganmu pulang tapi kata ibumu kau sedang tidak di rumah,” pinta Rina sambil memberikan wajah manjanya kepadaku.

“Aku mau saja jalan denganmu, Rin, tapi kau potong botak dulu rambutmu itu. Aku sangat tidak suka melihat rambutmu itu, sudah seperti model di iklan shampoo saja,” cetusku dengan dingin.

Rina terkesiap mendengar jawabanku. Matanya pun langsung berkaca-kaca, setelah itu ia pergi meninggalkanku begitu saja. Aku menghiraukannya saja ketika ia pergi. Tak lama, aku langsung mendobrak kamarku, merebahkan tubuhku di kasur empuk itu. Aku membayangkan Rina yang barusan pergi dari rumahku. Aku tersenyum, aku bersorak dengan senang dalam hati. ♦

Pondok Gede, 12 Juli 2017

About the author

Mahasiswa sosiologi Universitas Nasional. Dapat dihubungi di line: revinmangaloksa

Related Posts