“Kau tentulah sedang bermimpi,” pejabat itu menegaskan. “Tak ada yang terjadi di Macondo. Tak ada yang pernah terjadi dan tak akan ada yang terjadi. Ini kota yang bahagia.”

Gabriel García Márquez, Seratus Tahun Kesunyian, hal. 379

I

Seperti ingin menegaskan persenyawaan kekuatan magis dengan kehidupan sehari-hari masyarakatnya, pembuat serial TV Narcos (2015-) sampai perlu menampilkan teks pembuka mengapa sastra realisme magis identik dengan Kolombia. Di sana, kenyataan dan hal-hal ganjl bersanding begitu riil. Bahwa tak ada yang namanya rupa-rupa persekutuan politik paling licik, skandal-skandal korupsi paling lancung, atau kematian-kematian brutal nan tragis, yang mustahil terjadi.

Narcos menceritakan kisah gembong kokain masyhur, Pablo Escobar, yang kekuasaan serta kekayaannya sanggup membuat pemerintah Amerika Serikat kewalahan. Ia pernah mendalangi suatu siasat licik dalam sepak bola, ketika ia merancang segalanya demi kejayaan Nacional di ajang Piala Libertadores. Saat itu ia tak hanya membeli pemain-pemain nomor wahid, namun juga membeli dan membunuh (!) wasit.

Amerika Selatan juga tempat di mana marxisme menemukan artikulasi praksisnya yang beragam. Di Kolombia, gerilyawan kiri M-19 bisa berkerjasama dengan Escobar — yang saat itu dipusingkan polisi yang mulai berani mengguntingi tentakel kekuasaannya. Ia melimpahi mereka logistik dan persenjataan, sehingga terjadilah penyerbuan ke gedung Mahkamah Agung Kolombia. Tak tanggung-tanggung, para gerilyawan itu menyerbu gedung dengan persenjataan mutakhir serta beberapa tank! Di Kolombia, bromocorah paling tengik bisa berkawan mesra dengan pejuang-pejuang ideologis demi kepentingannya masing-masing.

Kira-kira seperti itulah pembacaan saya atas Seratus Tahun Kesunyian (selanjutnya disingkat menjadi STK), karya monumental Gabriel García Márquez yang membuat namanya terpahat di kanon kesusastraan dunia. Gabo — panggilan akrabnya — menceritakan kronik keluarga Buendía di suatu kota imajiner bernama Marcondo. Keturunan pertama Buendía merupakan penemu kota yang dikelilingi rawa-rawa tersebut. Gabo menuturkan kisah-kisah yang dialami keluarga Buendia selama tujuh generasi kepada pembaca dengan gaya penceritaan yang “liar”. Saking liarnya, novel yang kali pertama terbit pada Mei 1967 ini sering dianggap aneh, bertele-tele, penuh dengan kalimat-kalimat panjang nan berlapis. Belum lagi jika kita menimbang banyaknya tokoh dalam novel, serta kesamaan nama tokoh-tokohnya.

Jelas, ini bukan jenis novel yang bisa dibaca dalam keadaan santai. Novel yang betul-betul menguras energi. Tetapi, jika Anda bersabar membacanya sampai habis, kira-kira terasa seperti bercinta dengan pelacur paling mahal, lalu makan babi panggang dan anggur terbaik, lantas setelahnya diikat dan diinterogasi polisi Stasi era Jerman Timur. Lalu berulang lagi ke percintaan dengan pelacur paling mahal di awal, begitu terus, berkali-kali, sehingga tidak memperkenankan Anda untuk lengah sedikit pun — di sela-sela tragedi dan kebahagiaan yang terdapat di dalamnya.

Karya yang meraih penghargaan Nobel Sastra tahun 1982 ini adalah magnum opus yang jejak serta pengaruhnya dapat kita temukan di mana-mana. Salah satu penyair luhur Amerika Latin, Pablo Neruda, mengomentari bahwa novel ini merupakan “kebangkitan bahasa Spanyol paling agung sejak Don Quixote-nya Cervantes.”

Demi menghormati almarhum Gabo, yang mangkat pada 2014, ulasan saya untuk karya ouvre ini lumayan panjang. Saya juga tidak mengulasnya secara kronologis, melainkan berdasarkan tiga tema besar yang saya temukan. Ketiganya adalah kesunyian cinta, yang lokal vis-à-vis yang global, serta peran tokoh-tokoh perempuan sebagai penyangga.

II

Kesunyian cinta

Cinta membuat José Arcadio Buendía menikahi sepupunya sendiri, Úrsula Iguaran, seorang perempuan yang walaupun bertubuh mungil memiliki hati dan etos kerja kuat. Keduanya sama-sama tahu bahwa pernikahan inses akan melahirkan kutukan: anak buah persetubuhan sedarah akan lahir dengan ekor babi.

Bayi berekor babi baru menimpa keturunan mereka yang ketujuh, tapi ketakutan terhadap mitos membuat Úrsula kerap dilanda kekhawatiran bahwa keluarga mereka akan sering terserimpung oleh kutukan.

Tapi keduanya tidak peduli. Úrsula, yang berumur teramat panjang, akhirnya menjadi saksi bagaimana inses menjadi penyebab kejatuhan keluarganya. Meski begitu, Gabo sedikit melakukan tendangan keras ke arah kaum moralis. Bahwa yang amoral (inses) tidaklah semenjijikan yang dibayangkan. Saya pikir inilah narasi poskolonial ala Garbo. Lewat inses, tokoh-tokohnya melawan “belenggu” dogma Katolik, yang dibawa orang-orang Spanyol ke kawasan tersebut. Simak bagaimana ia mengutarakan perlawanan dengan humor yang sedap:

“Bapak Nicanor mengambil keuntungan dari situasi itu sebagai satu-satunya orang yang mampu berkomunikasi dengan orang tua itu dan mencoba memasukkan kebajikan-kebajikan ke dalam pikirannya yang sinting. Setiap sore, ia duduk dekat pohon kastanye itu, berkhotbah dalam bahasa Latin, tetapi José Arcadio Buendía tetap menolak jebakan-jebakan retorik dan transmutasi dari coklat tersebut dan meminta foto Tuhan sebagai satu-satunya bukti.” (hal. 108-109. Cetak tebal dari saya).

Gabo mengawali cerita lewat kisah eksekusi mati anak pasangan Buendía, Kolonel Aureliano Buendía. Ini membuat pembaca mengira revolusi akan mendapat porsi besar dalam STK. Sebuah cara yang benar-benar menjebak. Revolusi identik dengan sejarah Amerika Latin. Benar, perjuangan gerilya dan penaklukkan-penaklukkan sang kolonel banyak diceritakan, tapi itu bukanlah inti dari novel. Di bagian akhir, kita akan mengetahui nasib sunyi yang dialami Kolonel Aureliano Buendía. Bahkan penduduk Macondo menyebut kisah perjuangannya sebagai dongeng belaka.

Saya menjadi salah satu yang agak kecewa karena di awal telah membayangkan sosok sang kolonel laksana tokoh pembebasan Amerika Latin, Símon Bolívar. Tapi itu soal lain. Gabo “membalasnya” di halaman-halaman lanjutan setelah sang kolonel mangkat.

Cinta rentan mengakrabi kesunyian, dan ini dialami banyak tokoh-tokoh dalam novel. Yang paling memukau dan memikat justru diletakkan Gabo di bagian akhir, yakni cinta terlarang antara Aureliano Babilonia dengan Amaranta Úrsula. Aureliano anak haram Renata Remedios, generasi kelima keluarga Buendía, yang sialnya saudara kandung Amaranta Úrsula. Selain inses, ini juga skandal antara sepupu dengan tantenya sendiri.

Perhatikan cara Gabo menghadirkan cinta mereka yang panas membara. Amaranta Úrsula, yang bersuami Gaston, bersama Aureliano bercumbu sambil mengendap-endap. Mereka “bercinta dengan semangat terhalang, tercekik dalam kesempatan-kesempatan untuk bertemu dan hampir selalu terganggu oleh kedatangan Gaston yang tiba-tiba” (hal. 494).

Tatkala persetubuhan telah menjadi candu, “Mereka kehilangan perasaan terhadap realitas, pengertian atau paham tentang waktu, irama tentang kebiasaan sehari-hari. Mereka menutup lagi pintu-pintu dan jendela-jendela seakan-akan tidak menyia-nyiakan waktu setelah membuka pakaian (…) dan mereka akan berguling-guling dalam keadaan telanjang di dalam lumpur yang ada di halaman rumah dan di suatu senja mereka hampir saja tenggelam ketika mereka bercinta di tempat penyimpanan air (hal. 495).”

Tak seperti pasangan-pasangan lain dalam novel, penggambaran soal seks dicurahkan lebih banyak dan gamblang (graphic) dalam pasangan ini.

Penjelajahan terhadap tubuh masing-masing dijelaskan dengan diksi yang indah. Misalnya ketika “Aureliano menggosok buah dada Amaranta Úrsula yang terangsang itu dengan putih telur atau melembutkan perutnya dengan mentega, maka Amaranta Úrsula akan bermain-main dengan makhluk penting dan berarti milik Aureliano, seakan-akan benda itu adalah boneka dan memberikan mata badut di atasnya dengan lipstiknya dan juga kumis orang Turki dengan pensil alisnya serta melilitkan simpul organ sebagai dasi dan topi kecil dari kertas timah (hal. 496. Cetak tebal dari saya).”

Juga:

“Suatu malam mereka memoleskan diri mereka dari kepala sampai ke ujung kaki dengan selei buah persik dan kemudian saling menjilat tubuh masing-masing seperti anjing lalu melakukan persetubuhan yang gila di atas lantai di beranda dan mereka terbangun karena suara gemuruh semut-semut pemakan daging yang siap melahap mereka hidup-hidup (hal. 496).”

Berkat mereka, apa yang ditakutkan Úrsula (generasi pertama) pun terjadi. Hasil persetubuhan keduanya menghasilkan seorang anak berekor babi.

Ini begitu berbeda dengan penggambaran Gabo soal cinta yang dilakoni José Arcadio — adik sang kolonel yang sempat menghilang lama demi mengejar cinta gadis gipsi — dengan sang pelacur, Pilar Ternera:

“Malam itu, Pilar Ternera mengompres bengkak di di wajah José Arcadio dengan ramuan, meraba-raba botol dan kain di kegelapan, serta melakukan apa saja yang diinginkan berdua sepanjang hal itu tidak mengganggu José Arcadio; ia mencoba untuk mencintainya tanpa melukainya. Akhirnya, mereka berdua berada dalam suasana akrab, tanpa menyadari mereka berbisik satu sama lain (hal. 42-43).”

Kakaknya, sang kolonel, turut memeram cinta yang rumit dengan Remedios, putri Don Apolinar Mascote. Remedios masih bocah, sehingga terkesan pernikahan keduanya sebagai laku pedofilia. Kelak sang kolonel akan melawan mertuanya sendiri, seorang tokoh Partai Konservatif, yang menjadi pemicu revolusi sang kolonel. Tragis, Remedios tak sempat memberi anak untuk kolonel. Ia mati saat mengandung.

Saat asmara merundung sang pahlawan gerilya, “Rumah itu menjadi penuh cinta. Aureliano mencoba menyatakan cinta itu lewat sebuah puisi yang ternyata tak berawal dan tak berakhir. Ia menulis puisi itu di atas sepotong perkamen kasar yang diberikan Melquíades padanya: Puisi itu juga ditulis pada tembok kamar mandi dan di atas kulit lengannya dan di atas segala-galanya itu Remedios tampil dalam perubahan bentuk: Remedios dalam obat tidur di senja hari, Remedios dalam alunan napas lembut bunga mawar, Remedios dalam tetesan liur rahasia ngengat-ngengat, Remedios dalam uap roti pagi, Remedios di mana-mana dan Remedios untuk selama-lamanya. (hal. 87-88)”

Luar biasa bertele-tele, namun begitu indah. Cinta tak berbalas, cinta yang melawan norma, pada akhirnya menjadi kutukan bagi para tokohnya.

Betapa pun heroiknya kisah sang kolonel; tak peduli bagaimana penemuan-penemuan yang ditekuni José Arcadio Buendía di laboratoriumnya; atau panasnya skandal perselingkuhan-inses antara Aureliano dengan Amaranta Ursula, STK mewedarkan heningnya perenungan yang diemban tokoh-tokohnya. Perenungan itu berkecambah, lalu menentukan tindakan-tindakan yang mereka ambil.

Gabo mewartakan kepada pembaca kenaifan masyarakat Amerika Latin. Keluarga Buendía, yang sejatinya memiliki pengaruh besar di Macondo, tidak serta-merta berubah menjadi haute bourgeoisie. Kedatangan kaum gringo (sebutan masyarakat Amerika Latin untuk orang Amerika Serikat berambut pirang), konflik Partai Konservatif vs. Liberal, juga perubahan pola produksi masyarakat (industri perkebunan pisang), tetap membuat mereka menjalani hidup sebagaimana leluhur mereka, sehingga sering sempoyongan menghadapi perubahan zaman.

Yang Lokal versus Yang Global

Gabo berbeda dengan Pram — yang mengupayakan penceritaan-ulang sejarah bangsanya dalam bentuk roman, sehingga melandasi karya dengan fondasi arsip sejarah. Seperti yang ia kemukakan,

“It was not necessary to demonstrate facts: it was enough for the author to have written something for it to be true, with no proof other than the power of his talent and the authority of his voice.”

Walau begitu, Gabo sanggup menggambarkan hubungan antara “yang asing” dengan “yang asli”, dari kacamata penduduk yang terjajah. Tentang bagaimana masyarakat Kolombia (serta Amerika Latin secara umum) masih didera pengaruh-pengaruh asing yang kerap membawa petaka, dan bagaimana masyarakat menyikapi pengaruh-pengaruh tersebut. Selain Pram, semangat serupa juga dibawa oleh Orhan Pamuk, serta Eka Kurniawan (terutama dalam Cantik Itu Luka dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas).

Mengambil kelokan yang berbeda dengan penulis semisal George Orwell, STK bukanlah alegori. Dalam 1984 (1949), kita bisa menerka bahwa Orwell berbicara tentang zamannya (atau bisa juga sebuah nujuman tentang distopia). Kita mudah membayangkan bahwa Oceania adalah Blok Barat, Eurasia adalah Uni Soviet, dan Eastasia adalah RRC — tiga poros adikuasa dalam kisah Orwell.

STK tidak demikian. Ia bukan distopia maupun utopia. Ia tidak memaksa kita untuk membaca konteks sejarah, namun dengan piawai menyematkan pengalaman-pengalaman khas Amerika Latin, khususnya Amaracanta, kota yang menjadi pijakan untuk menciptakan Macondo. Amaracanta adalah tempat Gabo menghabiskan masa kecil bersama kakek-neneknya. Sebagaimana Macondo, kota tersebut pernah “semarak” berkat kehadiran perusahaan pengolahan pisang asal Amerika Serikat. Sebuah kota kecil yang mudah dilupakan orang, yang teramat jauh dari Bogota atau Medellin. Bayangkan kota seperti Bagansiapiapi, misalnya, yang di masa silam pernah begitu maju berkat stok ikannya yang meruah, lalu beralih sepi setelah alam tak lagi merestui. Ini bisa menjadi resonansi pada apa yang kini terjadi di Rembang (industri semen), atau Bangka (pengolahan timah).

Gabo tidak serta-merta meletakkan pencaplokkan sumber daya alam sebagai “sebatas” tragedi. Orang-orang Macondo tidak begitu menyesal ketika perusahaan pisang itu bangkrut dan meninggalkan kota. Kehidupan terus berjalan, bersisian dengan kemiskinan dan hal-hal gaib. Karnaval atau pesta yang terselenggara di Macondo tidak menjadi pil simptomatik. Ia berlangsung begitu saja, laksana musim panas di bulan Juli.

Masyarakat Macondo terbiasa dengan pesta dan karnaval. Tiap April, kota itu kedatangan kaum gipsi yang tak hanya menghadirkan pesta-pesta meriah, tapi juga berbagai keajaiban yang tidak dikenali masyarakat Macondo. Padahal, beberapa benda ajaib yang dibawa kaum gipsi semata-mata buah dari ilmu pengetahuan. Wajar, di Macondo, “Dunia terlihat begitu muda sehingga banyak benda belum bernama, dan untuk menyatakan benda-benda itu kita harus menunjuknya (hal. 9).”

Bersama orang-orang gipsi itu, sosok Melquíades-lah yang menyita banyak perhatian José Arcadio Buendía dengan barang-barang yang ia bawa, yang Jose pikir akan mampu membawa perubahan dalam hidupnya. Mulai dari magnet — yang ia pikir dapat menjaring emas, atau lup — yang ia asumsikan dapat menjadi senjata baru.

Peran Melquíades tak berhenti di situ. Ia omnipresent — dalam arti ia bisa datang di Macondo dalam rupa hantu, atau ingatan yang mendekam di benak tokoh-tokohnya. Dengan begini, konsep waktu dalam cerita tidaklah linier. Melquíades adalah “konsep”, yang kerap menghantui keluarga Buendía. Sesuatu yang baru akhirnya rentan membuat orang terasing, menjauh dari akar tempat dirinya memijak. Di Macondo, hal-hal asing dimamah begitu saja. Gabo dengan piawai mengalihkan kita dari satu keterpukauan ke keterpukauan lain. Dari magnet, astrolab, teleskop, hingga permadani terbang. Mulai Melquíades, orang Italia pengajar musik Pietro Crespi, hingga pelacur-cum-peramal bernama Pilar Ternera. Nama ketiga, sama seperti Ursula, turut menjadi saksi bangun-jatuhnya Macondo. Ia juga kelak menghadiahi anak bagi kakak-beradik Kolonel Aureliano Buendía dan José Arcadio Buendía.

Perempuan sebagai Penyangga

Salah satu kritik terkeras adalah betapa misoginisnya novel ini. Dalam pembacaan saya, cara Gabo mendudukkan beberapa tokoh perempuan cukup unik. Perempuan-perempuan ini, pada awalnya, jatuh dalam kubangan stereotip. Perempuan, sebagai simbol, ditempatkan dalam bingkai khas lelaki. Hal ini bisa kita lihat dalam kisah penaklukkan sang kolonel. Saking heroiknya, Kolonel Aureliano Buendía sampai lupa nama-nama kota yang telah ia taklukkan. Kota-kota itu hadir dalam wujud anak, yang ia dapat dari persetubuhan di tiap kota tempat ia bertempur. Kolonel tak hanya “menaklukkan” kota-kota, tetapi juga para wanitanya. Kelak, ketujuhbelas anak dari tujuh belas kota datang ke Macondo, meminta dibaptis.

Saya jadi teringat dengan kiprah para perempuan dalam penelitian etnografi Cheleen Mahar (2010) di Oaxaca, Meksiko. Seperti Macondo, Oaxaca dalam penelitian Mahar juga didedah sejak awal kota itu dihuni orang. Penyelidikan Mahar mengatakan bahwa keutuhan keluarga diemban oleh kaum wanita, yang tak segan untuk menjalani profesi apa saja. Secara sosial, posisi mereka tak hanya berkutat di urusan-urusan domestik.

Tak kalah ajaibnya dengan tokoh-tokoh lelaki, para perempuan di novel ini juga memiliki keunikannya tersendiri. Ada pelacur (Pilar Ternera) yang memberi anak bagi masing-masing anak José Arcadio Buendía; gadis misterius yang tiba-tiba hadir — yang memiliki kebiasaan memakan tanah — lalu diangkat sebagai anak (Rebeca); juga gadis cantik bernama Remedios si Cantik (keturunan keempat) yang kecantikannya sanggup membuat pria mati, lantas terbang begitu saja dalam kondisi masih perawan.

Lewat Úrsula Iguaran dan Pilar Ternera-lah, kekokohan perempuan menemukan tempatnya. Mereka tak semata menjadi “korban”, yang pasrah akan perlakuan lelaki. Figur mereka memancarkan hikmah, lewat perenungan-perenungan batin, berbagai tindakan, serta aneka ragam ucapan kepada tokoh-tokoh lelaki. Kedua tokoh ini — Úrsula sebagai wanita “utuh” dalam bingkai normatif, Pilar sebagai wanita profan yang hidup sendiri sepanjang hayat di rumah bordil — menjadi manifestasi baurnya kebenaran. Apakah masih dianggap benar, jika suatu hal dilakukan lewat cara-cara bejat? Meminjam pembacaan Lorraine Elena Roses (1989) untuk novel ini,

(…) dichotomy between the “good” and the “bad” women should be dismantled and reconfigured as a dialectic and a progression in which the socially elite women struggle to wield social power over the transgressive or abject members of their sex, while simultaneously being challenged and influenced by them.

III

Selain peristiwa kematiannya tiga tahun lalu, karya-karya Gabo dan penulis Amerika Latin lainnya menjadi banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia, atau diterbitkan ulang. Saya kira hal ini juga tak lepas dari meledaknya nama Eka Kurniawan, yang di awal kemunculannya di blantika sastra global dikait-kaitkan dengan Gabo.

Dalam kadar yang sedikit berbeda, keterpengaruhan Eka atas Gabo memang mencolok: bagaimana dia menciptakan kota fiktif, Halimunda; bagaimana dia mencoba mereka-ulang sejarah bangsanya lewat kronik keluarga; hubungan pernikahan nonkonvensional (persetubuhan inses dalam STK, pernikahan anak-anak Dewi Ayu dengan tokoh-tokoh “penting” Halimunda); juga kegemarannya meletakkan seks sebagai sesuatu yang tidak terlalu agung, namun berlumur tragedi dan penyikapan atas seks yang tidak biasa dari masing-masing tokohnya.

Eka sendiri menolak jika karyanya disebut sebagai realisme magis. Dalam realisme magis, menurutnya, seharusnya orang-orang tidak ketakutan ketika Dewi Ayu bangkit dari kubur setelah bertahun-tahun mati. Tapi, Eka memungkiri bagian lain dalam Cantik Itu Luka, di mana hantu-hantu orang komunis bisa dengan santai berinteraksi dengan penduduk Halimunda. Pengotakkan genre dalam suatu karya memang hal yang sia-sia. Yang ingin saya kemukakan adalah betapa keterpengaruhan seorang penulis dapat menciptakan karya dengan rasa dan warna yang khas.

Menyamakan Cantik Itu Luka dengan STK adalah perbuatan gegabah. Eka menghindari penggunaan metafor yang berlimpah-ruah, atau pemilihan kalimat-kalimat panjang — tidak seperti Gabo. Dalam esainya, Eka menyebut bahwa Gabo terpengaruh begitu kuat oleh William Faulkner dan Franz Kafka. Seharusnya ini tidak dipandang sebagai upaya pengekoran yang compang-camping, kira-kira demikian.

Gabo sukses berpesan bahwa hidup bukanlah pariwara yang sekadar mampir sepintas lalu-selewat dengar. Kita kerap mengkrabi kesunyian, sekeras apapun kita mengusirnya. Lalu, di akhir novel, pembaca pun sadar bahwa sebenarnya sejumlah isyarat buruk telah berlalulalang di kehidupan kita. Namun kita abai dalam membaca isyarat tersebut. Isyarat dalam novel ini adalah kehadiran dan nubuat dari Melquíades. Keluarga Buendía beserta Macondo pun luluh-lantak. Sejarah mereka yang terputus “diselamatkan” Gabo.

Demikian. Lebih dari segala-galanya dan sepertinya berlaku untuk selama-lamanya — tak hanya seratus tahun — novel ini bukan sekadar epos masyarakat Kolombia, Amerika Latin, atau masyarakat bekas negara-negara jajahan. Karya berusia setengah abad ini adalah epos kolektif manusia, berikut kesunyian-kesunyian yang menyertai kita. ♦

Keterangan

Judul: Seratus Tahun Kesunyian

Judul asli: Cien años de soledad

Penulis: Gabriel García Márquez

Penerjemah: Helmi Mahadi dkk.

Penerbit: Benteng Press

Cetakan Pertama: Maret 2001

ISBN: tidak tercantum

Jumlah Halaman: 509

About the author

Anak sasian sosiologi yang meminati kajian kelas, budaya, dan replikasi sosial. “Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.