Aku selalu ingin punya anak perempuan. Kendati aku sudah memiliki seorang anak lelaki yang kurasa dapat membuatku bangga dengan kemampuan dan bakat yang ia punya, aku tetap masih menginginkan anak perempuan. Keinginan ini yang kemudian membuatku mengadopsi bayi perempuan saat ibunya sakit keras tak lama setelah ia lahir. Anak laki-lakiku, Virgi, tak keberatan dengan hal ini. Sebab, sikap keras yang kulakukan sejak ia kecil cukup membuatnya sadar bahwa ia punya beban dan tanggung jawab yang begitu berat jika tetap menjadi seorang anak tunggal.

Jadi, memperoleh adik perempuan, sekalipun bukan kandung, membuatnya merasa lebih lega. Toh ia pun menginginkan seorang adik dan tak keberatan membagi waktu dengan membantu merawat si kecil. Fakta ini membuatku sadar bahwa ia memang menyayangi adiknya, tanpa ada kekhawatiran bahwa kasih sayang kami terhadapnya akan terbagi.

Awalnya kupikir kehadiran Tasya dalam keluarga kecil kami akan cukup menahan keinginanku untuk memiliki seorang putri kecil yang darahnya mengalir deras darahku. Tapi aku keliru. Seiring waktu orang tua kandungnya perlahan mengubur impianku untuk merawatnya hingga dewasa. Terlebih sejak ia kecil, aku dan istriku tak pernah menutup-nutupi pada Tasya bahwa ia punya orang tua kandung.

Saat ia mulai masuk SD, aku dan istriku selalu bergantian hadir tiap kali acara sekolahnya. Kami berdua senang dengan hal ini. Tapi aku tahu, sangat amat tahu, bahwa tak selamanya kami berdua bisa selalu mendampinginya. Paling tidak, aku tahu ujung dari alur berkelok ini saat kelak Tasya menikah. Yang menjadi walinya, yang menikahkan dan melepaskannya pada seorang lelaki yang menjadi suaminya, bukanlah aku.

Keinginanku untuk mempunyai anak perempuan perlahan-lahan hadir lagi. Sekalipun rasa sayangku terhadap Tasya tak pernah berubah, aku tetap menginginkan seorang anak perempuan. Pikiranku memiliki seorang anak perempuan kemudian makin menjadi setelah Virgi lulus SMA dan kuliah di luar kota. Terlebih, orang tua kandung Tasya semakin sering datang untuk membawanya tinggal di rumah aslinya. Ini membuat perasaanku semakin bertalu-talu. Keinginanku makin kuat.

Usaha kami untuk memiliki anak lagi perlahan-lahan surut saat kami pergi ke dokter untuk memeriksa kenapa sulit sekali istriku untuk kembali hamil: ia divonis menderita infeksi kandungan yang serta-merta mengubur keinginan kami untuk kembali punya anak. Fragmen ringkas dari kenyataan ini membuat rumah tangga kami perlahan-lahan retak. Ada sehimpun jarak yang perlahan-lahan melebar dengan kecepatan yang sebetulnya lambat tapi pasti tak bisa kami elakkan.

Pikiranku kemudian berlanjut ke arah yang lebih jauh: aku bisa saja memiliki anak perempuan, sekalipun bukan istriku yang menjadi ibunya. Sejak itu, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Istriku lebih sering mengurung diri di kamar. Aku sebenarnya turut bersedih karenanya. Ia akan menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa memberikan anak perempuan yang kudambakan sejak lama. Tapi mau bagaimana, aku tak bisa membohongi diri sendiri bahwa keinginanku untuk memiliki anak perempuan lebih besar daripada keinginanku mempertahankan rumah tangga kami.

Rumah tangga yang lambat, tapi pasti akan hancur, membuatku berpikir untuk mencari penggantinya, pengganti istri yang tak bisa memberiku anak perempuan yang kuinginkan. Pikiran itu terus menderaku dan membuatku mengakrabi kebiasaan yang sudah lama kutinggalkan. Aku menjadi sering mampir ke bar dan diskotik; bukan hanya untuk minum dan membiarkan diriku ditenangkan dengan berbotol-botol minuman keras, tapi juga mencari seorang perempuan yang meski tak jelas asal-usulnya, tak tentu dari mana rimbanya, asalkan bisa memberiku seorang anak perempuan.

Berkenalan lah aku dengan Vivi, seorang pelacur yang yang menawarkan diri menemaniku menandaskan minuman di sebuah tempat prostitusi berkedok karaoke. Setelah pertemuan kami yang berujung di kamar hotel malam itu, kami lebih sering bertemu. Kurang tiga bulan dari pertemuan kami kali pertama, aku menyuruhnya berhenti kerja di tempat itu.

Aku tahu bahwa aku harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Tak apa, asalkan ia bisa memberiku seorang anak perempuan. Hubungan kami yang kian mengarah ke jenjang yang lebih serius itu membuatku berubah. Kini aku sangat jarang menelepon Virgi, bahkan untuk sekadar menanyakan kabarnya. Hubunganku dengan Tasya pun perlahan-lahan berjarak.

Setelah hubunganku dengan Vivi diketahui istriku, ia pun meminta cerai. Pernikahan yang kami jalani selama 23 tahun tak dapat diselamatkan. Aku tak lagi peduli. Keputusanku sudah bulat: aku akan melakukan apa saja demi memiliki anak perempuan.

Setelah perceraian itu, aku tak bisa lagi menyelamatkan hubunganku dengan Virgi dan Tasya. Tasya mungkin tak terlalu mengerti apa yang terjadi sekalipun ia sadar bahwa kini keadaan telah berubah, tapi Virgi, ia akan membenciku hingga waktu yang tak tentu. Hal ini terbukti saat kami berdua bicara lewat telepon, perselisihan bahkan makian tak dapat terhindarkan. Virgi menutup telepon dengan sebuah penegasan bahwa ia tak lagi menganggapku sebagai ayah. Benar belaka, saat ia wisuda aku tak diberitahu olehnya. Ini adalah penegasan dan membuatku sadar betapa besar keinginannya untuk melupakanku.

Aku kemudian memutuskan untuk menikah dengan Vivi. Tak sampai setengah tahun, ia kemudian mengandung anak kami. Sembilan bulan setelah kehamilannya ia melahirkan seorang bayi, yang ternyata, lagi-lagi: laki-laki.

***

Tujuh warsa setelah pernikahanku dengan Vivi, aku mendapat kabar yang entah harus tuterima sebagai anugerah atau kutukan: di depan mataku, tergeletak sebuah undangan pernikahan Virgi dengan seorang perempuan kota yang tak kuketahui asal-usulnya. Seorang anak yang kubesarkan dengan peluh, air mata dan keringatku, menikah tanpa sama sekali memberitahu, apa lagi meminta restuku.

Yang bikin ini makin bertalu-talu, adalah karena undangan ini tak dikirimkan Virgi untukku, melainkan untuk sahabat baiknya, Agung, yang lantas merasa harus memberikannya padaku. Kenyataan bahwa nama Virgi yang tertulis di undangan itu membuat dadaku kian sesak. Ia tak lagi menggunakan nama keluargaku pada belakang namanya. Ia betul-betul menyingkirkan semua hal yang bisa mengaitkannya padaku. Ia bahkan tak membawa istrinya kembali ke kampungku atau ke kampung ibunya. Ia melepaskan segalanya yang bisa membawanya ke luka lama. Belakangan, dari Agung, aku pun tahu bahwa hanya ibunya, mantan istriku, yang mendampinginya pada hari yang mungkin paling sakral dalam hidupnya.

Tak bisa kumungkiri rasa terpukulku. Aku menghabiskan hidup untuk mencari anak lain, anak perempuan yang kuharap dapat mendampinginya saat menikah, namun di sisi lain, anak sulungku, laki-laki yang selalu kubanggakan di depan semua orang, menikah tanpa kudampingi. Tak terbayang olehku bagaimana Virgi bisa melewati hari itu. Mungkinkah ia berharap ada aku di sampingnya?  Hatiku berdarah membayangkannya.

Suatu hari kuberanikan diri dan menguatkan hati untuk bertanya pada Agung, “Siapa dan apa makna nama yang menggantikan nama keluarga yang dulu begitu ia banggakan di belakang namanya?” Agung menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan hati-hati. Ia tahu bahwa jawabannya mungkin bisa saja menusuk hatiku dalam-dalam. “Nama samaran dari seorang tokoh politik hebat yang mencintai keluarganya,” jawab Agung pendek.

***

Namaku Wahyu. Aku anak tunggal. Aku dibesarkan dari keluarga yang utuh. Aku bahagia dan bersyukur bisa terlahir dalam keluarga yang seperti ini. Sejak kecil aku dididik dengan baik oleh orang tuaku, terutama oleh ayah. Aku bilang begitu karena memang ayah yang selalu mengatakan bahwa ibu tak bakal bisa mengurus dan mendidikku dengan baik. Kupikir ayah mengatakan itu karena usia mereka terpaut begitu jauh. Atau karena memang Ibu selalu sibuk dengan dunianya, yang jarang memperhatikanku bahkan sekadar untuk menyiapkan makanan sejak aku kecil. Paling-paling ia menyiapkan susu ketika aku hendak berangkat sekolah. Sampai aku dewasa, ayah lebih sering memperhatikan kebutuhanku. Tapi, aku tetap menganggap ibuku sebagai ibu yang baik. Toh, bagaimanapun juga, aku adalah anak yang dilahirkannya.

Kata ayah, aku adalah anak yang selalu ia nantikan. Oleh karena itu namaku Wahyu. Dia selalu memperlakukanku dengan baik, meski dengan cara yang keras dan sikap yang tegas. Aku mengerti posisinya. Dia punya harapan besar terhadapku, karena aku anak tunggal. Meski begitu, ayah sering mengatakan bahwa ia mendambakan anak perempuan. Aku hanya selalu berusaha jadi anak yang baik dan patuh untuk bisa membuatnya merasa cukup karena keberadaanku.

Sikap ayah mulai berubah seiring aku remaja. Kadang, aku melihat ayah sering membuka dompet dan menatap sebuah foto dalam waktu yang lama. Kuduga itu foto anak kecil. Bisa jadi fotoku. Sebab, ayah selalu melakukan itu saat ia sedang marah padaku. Biasanya aku melihat bibir ayah bergerak mengucapkan kata-kata dalam diam. Serupa monolog yang tak mau ia beritahu pada siapapun. Aku pun tak berani bertanya pada ayah, pun pada ibu. Dengan melihat ayah seperti itu, aku sadar bahwa ia memang menyayangiku tanpa harus mengungkapkannya padaku.

Suatu ketika, aku ketahuan bolos dan kedapatan loncat pagar oleh guru, lantas surat panggilan dari sekolah tiba di meja kerja ayah. Aku ketakutan saat pulang. Dan benar, ayah memang sudah menungguku di teras rumah. Tanpa banyak basa-basi, ia menghantamku dengan ikat pinggangnya yang tebal dan keras. Aku berteriak kesakitan. Sembari terus memukulku, ayah terus mengumpat kata-kata yang aku sendiri tak mengerti: “Kau sama saja sepertinya.” Berkali-kali ayah mengatakan itu. Ibu hanya menyaksikan itu sambil berdiam diri. Bisa kulihat wajah ayah yang kini tampak bengis dan menakutkan. Seperti amarah yang sudah sekian lama diperam. Peristiwa itu berhenti setelah teman kantor ayah datang dan langsung melerai.

Aku masuk kamar, masih dengan tubuh yang kesakitan. Dari dalam kamar, sayup-sayup aku masih mendengar ayah terus mengucapkan kalimat yang sama. Setelah beberapa kali ayah mengulang kalimat itu, aku mendengar ada sebuah nama yang diucapkan ayah. Sebuah nama yang menurut ayah, aku sama sepertinya. Virgi. Ya, tak salah lagi, Virgi namanya.

Beberapa saat kemudian, aku dengar ayah sudah mengobrol dengan teman kantornya. Tapi, pikiranku masih tertancap pada sebuah nama: Virgi. Ya, Virgi.

***

“Bapak, di mana kakek? Di mana bapaknya bapak? Semua teman-temanku punya dua kakek dan dua nenek. Aku mengenal dua nenek, tapi hanya satu kakek. Aku pengin kenal sama bapaknya bapak. Aku juga tak mengenal keluarga bapak. Aku ingin mengenal mereka. Yang aku tahu hanya tante Tasya karena ia sering mengirim hadiah untukku. Tapi, aku ingin kenal semua keluarga bapaknya bapak. Selama ini hanya keluarga nenek, itupun hanya beberapa dari mereka yang ku tahu namanya.”

“Kau punya dua nenek dan satu kakek. Bapak rasa itu cukup. Tapi, jika kau bertanya di mana dia, baiklah. Dia berada jauh dari sini. Sebuah tempat penuh luka dan dendam. Cukup lah kau mengetahui bahwa ia orang tua yang buruk dan laki-laki yang gagal. Tak baik, jika anak baik sepertimu ada di dekatnya. Keluarganya pun sama saja. Cukuplah kau memiliki bapak, ibumu, serta semua yang kau kenal. Bukankah itu cukup?”

***

Setelah bertahun-tahun meninggalnya papa, aku rutin berkabar dengan tante Tasya, menanyakan segala tentang kakek. Sesekali, aku pernah menanyakan ke ibu tentang keluarga papa yang lain. Tapi, ibu tak tahu banyak tentang itu. Ibu hanya bilang mata mereka begitu mirip dan papa memiliki seorang adik laki-laki. Papa pun ternyata tak pernah bercerita banyak tentang keluarganya pada ibu.

Aku tak tahu apakah papa akan senang dengan perbuatanku seandainya ia masih hidup. Tapi, aku tahu, sangat amat tahu, bahwa papa begitu bersedih menjelang kepergiannya ke Swargaloka. Menyaksikan papa memegang foto seorang laki-laki tua di saat ia meregang nyawa menjadi sebuah penegasan: betapa rindunya tak bersua dan tak berdusta.

Setelah menggali beberapa informasi yang menurutku cukup kuat untuk mencari asal-usul keluarga papa dan menyambangi kampungnya yang penuh luka dan dendam, aku meminta restu ibu. Ibu khawatir padaku, pada perjalananku yang mungkin, bisa jadi, malah menyakitiku. Oleh karena itu, ibu menyuruhku untuk menggunakan nama keluarga papa yang asli di belakang namaku. Nama yang sudah dibuangnya sejak lama. Nama yang penuh luka dan amarah bagi papa. Nama itu, kata ibu, akan menjagaku di sana. Selain itu, agar aku tak lagi sulit untuk mencari asal-usul keluarga papa. Bermodalkan sepotong nama dan sepasang bola mata, aku pergi mencari asal-usulnya.

***

Siang itu, hujan sedang deras derasnya. Aku sedang duduk di teras. Seorang perempuan kemudian masuk dari balik pagar. Gugup dan kuyup. Raut wajahnya tampak ragu-ragu namun langkahnya kian melaju, mungkin karena telanjur kedinginan. Ia langsung menghampiriku. Aku mengawasinya.  Tepat di hadapanku, berdiri seorang gadis cantik dengan rambut bergelombang sebahu, beralis tebal, berhidung mancung, dengan kulit putihnya yang mulus namun pucat, dan tinggi yang lumayan untuk ukuran seorang perempuan. Sekilas, wajahnya mirip seperti ayah. Matanya sangat mirip dengan mata ayah, mungkin juga mataku.

Saat aku masih khusyuk memandanginya, tak sadar aku mendengar ayah sesenggukan di belakangku. Suara parau dan tangisan ayah terdengar begitu jelas.  Dalam ratap-tangisnya, ayah berucap: “Selamat datang perempuan yang kutunggu.” Kini hujan makin deras. Tapi bukan jalanan saja yang basah, mata kami juga. ♦

About the author

Dikenal sebagai Galang Tarafannur. Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nasional angkatan 2014. Putera Bacan yang menaruh minat pada sastra. Bisa bertegur sapa dengan penulis melalui Line di: galangtarafannur69

Related Posts