Bagian terakhir. Baca bagian pertama di sini

Kaliurang, 2009, 20.20 WIB

Ia terus saja membenturkan bola bisbol ke tembok. Ia lempar, cengkeram, lalu ia benturkan lagi. Terus begitu sejak sepuluh jam yang lalu. Mana kala tangannya mulai lelah, atau bola bisbol lepas dari jangkauan, ia memaki keras. Terkadang ‘jancuk’, lebih sering lagi ‘bajingan’.

Berpuluh rokok telah ia isap. Asap mengepul, membumbung membentuk kabut mini di dalam petak kos berukuran tiga kali enam. Abu berserakan. Suasana berantakan. Ia bukan pemuda yang kusut-masai, kondisi hatilah yang membuatnya demikian.

Gadis itu telah mati, gumamnya. Innalillahi.

Seminggu yang lalu Inka mengirimnya pesan di wall Facebook: memaki, mengumpat, dengan kalimat yang ia ketahui bukan kalimat Inka. Inti pesannya jelas: saya bahagia dengan pria ini, jangan kamu ganggu saya lagi. Inka turut memperingati bahwa pria yang kini bersamanya adalah seorang pengacara. Mereka bisa dengan mudah memperkarakan pemuda itu.

Ia memang melakukan investigasi bersama Malika, sahabat Inka yang kuliah di IPB. Mereka berdua tahu ada yang tidak beres. Pertama, mengapa Inka sekonyong-konyong mau dinikahi Ivan sementara  baru beberapa minggu yang lalu bertekad melupakannya? Kedua, mengapa mesti dinikahi? Ivan telah beristri. Meskipun seorang pengacara, ia hanyalah pengacara biasa. Penghasilannya belum cukup untuk membuatnya berlagak, lantas berpoligami.

Ia tahu Ivan-lah yang mengetik ultimatum dan sejumlah kata makian itu di wall Facebook. Seperti lima hari lalu waktu ia menerima SMS agar tak lagi menghubungi Inka. Setelah peristiwa nahas itu, Pijar memutuskan untuk menghabiskan sisa libur semester di Jogja. Investigasinya bersama Malika berakhir mubazir karena ibu Inka pun seperti menjaga rahasia, menyuruh mereka untuk pulang dan tidak lagi mencari tahu soal Inka.

Pemuda itu menekan lagi tombol play di Winamp komputer desktop-nya. Tadi lagu ia hentikan karena azan Isya yang berkumandang.

“So if you love me, won’t you let me know?/ So if you love me, why’d you let me go?”

“Violet Hill” dari Coldplay, lagu yang Inka beri di tahun 2008. Pesannya begitu terang dan bening. Seterang mentari yang menyinari marcapada. Sebening embun yang menempel di atas dedaun.

Kesumat merasuk. Pemuda itu semakin tak tahan. Dengan sebat, ia melempar bola bisbol ke monitor. Monitor hancur berkeping. Lagu masih mengalun karena hancurnya monitor tak menghentikan kerja CPU.  Bola juga sempat memantul ke secangkir kopi yang isinya baru ia reguk sepertiga. Air hitam kental menggenang di atas karpet.

Kontol! batinnya. Pemuda itu bangun, bergerak ke arah komputer, lantas mencabut kabel yang menempel di tembok.

Plass!

Komputer mati. Lampu di akuarium mati. Seisi ruangan mati. Mati semati-matinya. Seperti Inka.

Ia berangsur mengambil jaket jins butut, menyalakan korek. Rokok diisap. Asap diembus. Ia keluar kamar dengan kesumat yang menggumpal di dada. Dunia seperti gelap dan hendak runtuh.

“Jancoook!” teriaknya sebelum membuka pintu kamar.

Nama pemuda itu Pijar. Pijar Bumi Manusia.

***

Pondok Indah-Jatiwaringin, 2008

Di atas motor, pikiran Inka menerawang. Pijar membisu sejak ia melontarkan ‘ajakan’ untuk berpacaran saat mereka makan siang di Pondok Indah Mall. Di jok belakang, ada hasrat untuk memeluk sang pemuda. Malam mulai matang.

Kenapa kamu begitu naif dan tega, Pijar? Ini caraku untuk menawarimu cinta. Kamu tahu menjadi terlalu melankolis bukanlah gayaku. Aku memang ketus, tetapi aku jujur. Kamulah pria yang aku tahu bisa mengimbangi letupan emosiku. Kecerdasanmu setara dengan yang aku punya. Apa lagi yang harus kamu pikirkan?

Inka mengenal Pijar berkat dikenalkan teman SMP-nya, Sukma.

“Inka, lo harus kenal sama Pijar. Lo berdua sama gilanya soal Beatles. Dia jauh lebih tua dari kita, sih. Tapi orangnya asik banget. Temennya abang gue.”

Bersama Sukma, Inka pernah mengadakan observasi kecil-kecilan. Mengapa band sekelas Beatles tidak banyak yang tahu? Bagi Inka, kenyataan ini terlalu mengganggu karena sekarang mudah sekali mengakses Beatles. Ia dan Sukma memberi pertanyaan-pertanyaan seputar Beatles kepada para ‘responden’.

Karena hal ini, kata “gila” menjadi nama tengahnya: Alinka “si Gila” Nasution.

“Paul McCartney itu bajingan,” tukas Pijar di pertemuan pertama mereka.

“Paul McCartney itu bajingan,” balas Inka .

“Cuma lo yang mengerti dan menyepakati pendapat gue soal Paul ini. Lo ini cuma bocah SMP yang songong. Tapi gue seneng sama lo punya pemikiran,” Pijar berseloroh.

“Gak usah bawa-bawa umur,” Inka selalu benci hal itu. Dalam hati, ia akui Pijar memberinya sensasi tersendiri. Seperti dirinya, Pijar juga ceplas-ceplos seenaknya saat berbicara. Mulutnya seperti tidak punya penyaring. Kelak, Inka menyadari bahwa pria yang lebih tua lima tahun ini juga selalu harum. Harum citrus.

“Aku selalu tahu waktu yang tepat untuk mencium bibir perempuan. Rekorku selama ini bagus. Aku tidak pernah mereka gampar. Sebagian besar dari mereka akhirnya aku pacari. Tapi aku tidak pernah menggunakan lidah di ciuman pertama, tentu,” Pijar berkata sambil menopang dagu.

Bincang-bincang ini terjadi di Burger Castle, suatu restoran di Kalimalang yang telah bangkrut.

Hubungan mereka semakin akrab. Pijar selalu bisa menjadi lawan bicara yang menyenangkan. Baik lewat Yahoo Messenger atau dialog langsung, Inka selalu bisa menghujani Pijar dengan segudang pertanyaan aneh. Pijar selalu bisa membalas Inka dengan pandangan-pandangannya yang nyeleneh, yang berkebalikan dengan konvensi umum.

Bagi mereka berdua, tidak ada topik tabu. Contohnya seks. Mereka sama-sama sepakat bahwa masyarakat terlalu munafik untuk tidak membicarakan seks, padahal hal ini merupakan perilaku yang normal belaka. Senormal kebiasaan menyesap teh di pagi hari.

Mereka membicarakan soal seks dengan serius, tanpa diimbuhi berahi, seolah sedang membicarakan pemilu saja. Rona muka keduanya serius, yang sibuk menyertai obrolan dengan artikel-artikel yang mereka himpun dari internet.

Sepasang anak manusia ini menyinggung perilaku seks ganjil seperti BDSM; koprofilia (di mana kepuasan diraih pelaku dengan membuang tahi ke pasangan seksnya); sampai orgasme palsu yang dilakukan perempuan, semata demi melindungi harga diri pasangan pria mereka.

“Oh, iya! Ngomong-ngomong, coba kamu denger lagu dari James ini, deh Ka. Judulnya “Laid”. Pas nih sama obrolan kita. Ini tentang kegelisahaan seorang cowok yang perannya tertukar dengan ceweknya. Secara emosi dan seks, si cewek lebih dominan. Gender-bending!” Pijar menyodorkan headset dan laptop ke arah Inka.

Durasi lagu itu sekejap saja, hanya 2:38 menit. “Enak banget, Jar!” celetuknya dengan mata berbinar. Binar yang kemudian berubah karena Inka tahu Pijar masih menyimpan sesuatu.

“Ada yang mau kamu omongin, kan, terkait lagu ini selain keterkaitannya dengan topik kita?! Ngaku! Heh, ayo ngaku,” Inka berteriak kecil sambil menghentak meja.

“Ha ha ha. Ketebak, ya? Aku pengen ungkit lagi soal Coldplay yang menyebalkan itu. Setelah kamu dengar lagu James tadi, harusnya kamu tahu teknik falsetto-nya Chris Martin masih kalah sama Tim Booth, vokalis James. Lagi pula, Tim bisa bikin lirik yang lebih keren, sementara Coldplay menjelma jadi band stadium rock yang over-rated dan membosankan. Cuih!”

“Tuh, bener kan! Terserah, kamu nggak akan pernah bisa menggoyahkan sikapku soal Coldplay. Mereka band keren. Lebih keren dari Radiohead malah,” Inka menyanggahnya dengan pasti.

Lamunan hanya sebentar melarikannya dari kenyataan.

Kalau kamu selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk mencium bibir perempuan, kapan waktu itu tiba di hubungan kita?

Di atas Honda Supra, Inka duduk sedikit berjarak dari Pijar, ingin menegaskan kemarahannya. Ia menyesal mengapa tidak bisa mengatakannya lebih jelas. Mengapa ia tidak bisa seperti perempuan lain yang bisa memancarkan aura feminin, yang gampang merengek?

Seperti namanya, Pijar telah membakar hidupnya. Ia berubah menjadi Inka yang lain: Inka yang berpijar. Bersamanya, ia tidak menjadi Inka yang dingin dan angkuh. Pijar membuatnya sedikit melupakan kehidupan keluarganya yang berantakan. Pemuda beraroma citrus itu pun membuatnya bergairah menyongsong hidup. Hidupnya yang selama ini beku.

Andai Yogyakarta tak sejauh itu, tentu Inka lebih memilih ISI ketimbang FSRD ITB. Selain reputasinya di kancah seni rupa lebih menonjol, biayanya juga tak semahal ITB. Bandung-Jakarta lebih dekat karena ia tak ingin meninggalkan ibunya terlalu jauh.

Inka anak pertama. Ia memiliki dua orang adik. Tapi ia juga memiliki tiga orang kakak. Kakak tiri lebih tepatnya. Ibunya memiliki status sebagai istri kedua.

Inka tahu ibunya menderita. Yang tidak pernah ia pahami adalah mengapa perempuan itu seperti menerima saja segala perlakuan buruk yang ditimpakan saudara-saudara tirinya? Mengapa bapaknya selalu diam mengenai hal itu?

Ketiga kakaknya selalu seenaknya datang ke rumah, menuntut ibu Inka untuk memberi mereka sejumlah uang. Mereka berpendapat bahwa karena ibunyalah, ibu mereka mengalami depresi. Alasan itu hanyalah dalih di awal. Mereka lantas seperti memiliki legitimasi untuk menghantui keluarga Inka dengan hardikan dan makian.

Salah satu dari mereka, Aldo, seorang pemadat narkoba. Ia yang terparah. Pernah di suatu malam ia memaksa untuk menginap. Omongannya telah melantur kacau. Inka dan ibunya tak punya kuasa untuk melawan. Di rumah mereka tak ada sosok lelaki dewasa yang bisa menghadapi Aldo kalau lelaki itu makin kurang ajar. Keesokan hari, Aldo menghilang sambil menggondol perhiasan sejumlah belasan juta punya ibunya.

Selama ini ia membunuh bosan dengan musik. Suaranya bagus untuk menyanyikan tembang-tembang jaz. Ia memilih Amy Winehouse dan Ella Fitzgerald sebagai ‘mentor’. Hidup mereka berdua sebeku dirinya. Setidaknya dari segi lirik yang mereka lantunkan.

Banyak teman yang bilang, andai saja Inka mau berganti penampilan dan mengubah tabiatnya berkata ketus, sederet pria rela mengantri untuk memacarinya.

Satu-satunya waktu Inka berubah menjadi anggun adalah saat ia tampil bersama band jaznya. Sesudah itu, Inka buru-buru mengganti gaun dengan celana jins, kaos oblong, dan hoodie andalan. Kulitnya putih, hidungnya juga bangir. Ia punya sorot mata yang ganjil: tajam, tapi rapuh.

“Bangir hidungmu itu aneh, tapi keren. Coba aku pegang sedikit,” kata Pijar suatu waktu. Ada lekukan kecil di pangkal hidungnya. Pijar menyentuh hidung itu laksana ia mengelus kayu jati: tanpa tatapan berahi sama sekali. Seolah-olah ia sedang menilai benda mati belaka.

Kalau kamu selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk mencium bibir perempuan, mengapa ciuman itu tak kunjung kau beri?

Di pinggir jalan Jatiwaringin, motor Pijar hentikan. Malam yang matang telah berangsur basi. Masih pukul sepuluh. Mereka pernah menghabiskan waktu di beranda rumah nenek Inka sampai pukul dua. Tetapi malam telah basi. Pijar mengucap salam. Rona mukanya datar. Ia hanya mengelus rambut Inka sekejap, lalu melajukan motor.

Di malam yang telah basi, perasaan Inka hancur.

***

Kaliurang, 2009, 23.10 WIB

Di angkringan Lik Man, Pijar sedang bergumul dengan tiga orang pria. Ia suka angkringan itu. Selain dekat dari kos, suasananya masih klasik. Tidak seperti angkringan di samping Stasiun Tugu yang telah disesaki turis.

Ketiga teman diskusinya adalah Lik Man; Cak Badrun, seorang tukang karcis di Terminal Condong Catur; dan Sunarto, sopir taksi berbibir sumbing.

“Kowe iki kok yo goblok banget tho, Jar? Jelas-jelas itu cewek pengen kamu pacari. Ealah, lee, le. Dengan uang 35 ribu kamu udah bisa sampe Jakarta, tho? Duh, dadi wong lanang kok wedian. Mbok wani!” sembur Cak Badrun sambil meniupi susu jahe.

“Nggak ngono, cak. Mesti lho, aku sing disalahi terus. Hih!” Pijar berkilah sambil mengusap-usap kepalanya. Ia baru saja mengurai puzzle misteri Inka bersama ketiga ‘temannya’ itu. Pijar menyesal: andai saja ia tidak pergi ke Garut, andai saja dulu ia menerima tawaran Inka untuk berpacaran, tentu Inka tak digondol pria lain.

“Saiki ngene wae. Sing uwis yo wis. Gak ada yang harus disesali. Tapi aku kok yho kasian sama cewek itu, Jar. Ayu banget, lho!” tukas Lik Man sambil mengelap gelas-gelas kaca.

“Saiki aku paham. Beberapa perempuan mungkin bisa melupakan lelaki yang menggondol keperawanannya. Tetapi banyak juga yang tidak berani menolak hidupnya diombangambing lelaki tersebut. Andai masyarakat kita nggak segitunya menyakralkan keperawanan, tentu ini nggak terlalu jadi masalah. Sepakat ora?” Pijar meminta persetujuan ketiga pria yang menjadi partner diskusinya.

“Kowe ki mesti sing disalahi masyarakat. Mentang-mentang cah sosiologi! Wooo, kopet!” kata Sunarto sambil menggasak kepala Pijar. Keempat pria lintas generasi itu tertawa bersama.

Kesumat di dada Pijar sedikit menghirap. Ia mencoba untuk tidak lagi menangisi Inka. Gadis yang baginya telah mati.

Kotabaru, 2010

Kriiiing..

“Halo, oi Malika! Apa kabarnya nih anak Bogor? Tumben pake menelepon. Mau nanya kabar gue, ya? Tenang, aman! Merapi kayaknya mau berhenti erupsi. Paling sisa-sisa abu aja, sih, yang agak merepotkan. Ada apa, Ka?” Pijar menyambut Malika.

“Jar, kok ceria gitu, sih? Kita ini lagi dalam musibah, tauk!” Malika membalas Pijar dengan datar. Suaranya agak bergetar.

“Ka, jangan kayak tante gue, deh. Maksa gue pulang ke Jakarta sementara erupsi ini nggak terlalu bahaya.”

Tiba-tiba hening. Hanya terdengar napas Malika. Pijar menunggu. Ia keluar dari rumah Taufik, yang ia tumpangi karena kos Pijar masuk dalam zona waspada.

“Pijar Bumi, Inka meninggal.”

“Hah, apa? Ka, serius ah!”

“Beneran…”

Malika menyemburkan berita duka itu: setelah menenggak obat nyamuk, Inka meninggal dua hari yang lalu dalam keadaan hamil. Jabang bayinya turut mati. Ia mengendus aroma ganjil di kematian sahabatnya. Malika bertutur bahwa Inka selama ini hanya dikawin siri, dan disembunyikan Ivan di suatu tempat di Bekasi.

Jenazah Inka ditemukan Ivan dan lelaki itu pula yang membawanya ke rumah sakit. Inka dikabarkan begitu tertekan karena tak kunjung dinikahi, sementara perutnya makin membuntal. Meski diduga bunuh diri, Malika meyakini ada ketidakwajaran dalam tragedi ini.

Pijar merosot, mencari sandaran. Jiwanya terguncang, enggan mendengar kata-kata yang selanjutnya dilontarkan Malika. Kesumat itu datang lagi. Kepala dan dunianya berpusing. Rambut ia jambak kuat-kuat. Di serambi rumah Taufik, tubuhnya lunglai. Air menggenangi pelupuk mata. Ponselnya terjatuh. Meski dadanya sesak, Pijar berusaha mengenang aroma permen karet yang bercampur anyirnya ludah. Itulah aroma Inka pada suatu malam yang indah dan basah di Bandung. Pesan BBM masuk. Dari Malika. Gadis itu mengirim foto sebuah pusara, yang ia sertai dengan tulisan:

Inka dikubur di Pondok KelapaWe have to do something about this. Please be home ASAP, Pijar Bumi.

⌈Alinka Soraya Nasution

binti

Yusuf Nasution

Lahir: Jakarta, 16 Agustus 1991

Wafat: Bekasi, 12 November 2010⌋

Seperti kesurupan, Pijar menyepak abu vulkanik yang menyelimuti serambi. Wajahnya lesi dan lesu. Ia merutuki kemudi nasib yang sesungguhnya bisa ia kendalikan.

Pijar menoleh ke utara, kedua matanya memicing menatap Merapi yang meski sedang marah, tetap saja indah. Kini mutlak sudah: Inka telah mati untuk kali yang kedua. ♦

About the author

"Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.

Related Posts