Valentine’s Day atau yang kerap kita sebut sebagai Hari Kasih Sayang, merupakan satu buah budaya impor dari barat yang lazim masyarakat kita – entah ikut-ikutan atau memang memahami – rayakan setiap tanggal 14 Februari. Banyak memang versi yang penulis dapati terkait dengan sejarah dari valentine, namun disini penulis mencoba memilah sumber untuk kemudian penulis kutip, terlebih penulis mencoba menghindari argumen-argumen sepihak yang berasal dari fundamentalis agamis dan tetap menujunjung tinggi objektivitas tulisan.

Sebelum tulisan ini merangkak lebih jauh penulis memohon maaf jika penulis terlihat atau berlagak layaknya polisi moral bin pahlawan kesiangan yang sok tau dan sok suci, tidak ada maksud penulis untuk berlaku demikian. Dalam esai ini penulis hanya ingin mengajak pembaca melihat segala sesuatu dengan kritis, melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, tidak menelan bulat-bulat apa yang sedang dicekoki kepada kita, tidak menelan bulat-bulat sesuatu yang mereka ingin kita menelannya bulat-bulat tanpa berpikir panjang, hingga akhirnya daya kritis kita benar-benar dimatikan.

Valentine dan Posisinya

Mengutip dari www.katolisitas.org: “Ada beberapa St. Valentine yang dikenal dalam tradisi Gereja Katolik. Namun yang sering dihubungkan dengan Valentine’s day, adalah St. Valentine  (abad 3) yang dikisahkan ia yang menjadi martir karena sebagai imam ia banyak menikahkan pasangan muda-mudi, dan dengan demikian ia melanggar perintah Kaisar Claudius di Roma yang pada waktu itu melarang kaum pemuda untuk menikah karena ia berpendapat mereka yang menikah akan terikat pada keluarga dan tidak dapat menjadi serdadu kerajaan yang baik. St. Valentine tidak mengindahkan larangan tersebut, dan meluluskan permohonan para muda-mudi yang ingin menikah, dan karenanya ia ditangkap dan akhirnya dibunuh. ”[i]

Terlepas dari kebenaran versi sejarah di atas, penulis mempersilakan pembaca menimbang dengan kebijaksanaannya sendiri. Lebih lanjut termaktub di Wikipedia, “hari raya ini diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk “valentines”, simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Yang kemudian berkembang mulai paruh abad ke-20 tradisi ini kemudian diperluas, tidak lagi sebatas berkirim notisi-notisi pernyataan cinta atau kasih sayang namun memberikan mawar dan cokelat atau segala macam bentuk hadiah sebagai ungkapan rasa sayang kita terhadap seseorang yang kita sayangi entah itu kekasih, sahabat ataupun keluarga.”[ii]

Jika kita lihat konteks historis dari tradisi perayaan Valentine itu sendiri, tidak ada satu versi sejarahpun yang kemudian mengatakan bahwa tradisi perayaan valentine dirayakan dengan cara melakukan hubungan badan muda-mudi yang tengah dimabuk cinta, sebagai perwujudan dari rasa kasih sayang mereka. Namun dewasa ini tradisi Valentine seakan tidak bisa terlepas dari tradisi yang penulis katakan sebagai “senggama ilegal”. Mengapa di sini penulis katakan ilegal, maksudnya hubungan tersebut belum disahkan dalam sebuah ikatan perkawinan.

Dalam KUHP memang terkait hubungan seks pranikah hanya mengatur mengenai hubungan seks di luar nikah apabila salah satu pelaku masih terikat dalam suatu hubungan pernikahan pasal 284 KUHP dan melakukan perzinahan dengan seorang wanita, padahal diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum 15 tahun, atau kalau tidak nyata berapa umurnya, bahwa belum masanya untuk kawin (Pasal 287 jo. Pasal 290 KUHP). Namun perlu kita ingat berhubungan seks dengan kekasih di luar pranata perkawinan tentunya bertentangan dengan nilai-nilai moral yang dianut di dalam masyarakat, juga bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dianut masyarakat kita pada umumnya.

Komersialisasi Masif Valentine di Negeri Sakura Dengan Sebatang Coklat

Jepang, negeri samurai yang feodal, pada akhirnya juga tidak mampu membendung agresi budaya yang ditandai dengan Restorasi Meiji. Perlahan namun pasti satu persatu akulturasi budaya pun terjadi di negeri matahari terbit tersebut. Tidak terkecuali dengan budaya hari merah jambu atau valentine day yang seakan menjadi perayaan wajib di negeri leluhur sang ekonom Yoshihiro Francis Fukuyama.

Setidaknya tidak kurang dari 25% peningkatan yang terjadi atas penjualan cokelat sejak satu minggu sebelum hari Valentine. Bagaimana tidak, pada hari Valentine seorang wanita Jepang setidaknya memberikan tiga jenis cokelat, yang pertama adalah giri choco (coklat wajib) yang diberikan kepada lelaki, biasanya untuk bosnya atau teman sekerjanya di dalam kantor. Ini diberikan sebagai bentuk ungkapan permohonan kerjasamanya dan rasa hormat serta terima kasih kepada mereka. Kemudian yang kedua adalah honmei choco; coklat untuk para pria dari wanita dalam suatu hubungan yang serius. Umumnya coklat ini diperuntukkan bagi kekasih, suami ataupun orang yang disukai. Tomo choco; biasanya cokelat ini diperuntukkan bagi teman-teman perempuan wanita mereka. Dengan budaya yang terbangun sedemikian rupa di negri sakura tersebut merupakan hal yang lazim jika wanita Jepang setidaknya membeli 20 hingga 30 kotak cokelat pada hari Valentine.

Belum selesai sampai di situ, kejelian mata kapitalis dalam melihat peluang memang benar-benar luar biasa. Tidak puas dengan peningkatan capital gain yang didapat pada hari Valentine, mereka menciptakan “White Day” tepat satu bulan setalah Valentine’s day yaitu tanggal 14 Maret. Merujuk dari Wikipedia, white day pertama kali dirayakan tahun 1978 di Jepang, perayaan ini juga dirayakan di Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong (Asia Timur). Perayaan Hari Putih berawal dari strategi koperasi produsen permen Jepang yang ingin meningkatkan penjualan permen. Bahan baku permen adalah gula yang berwarna putih sehingga disebut Hari Putih. Ide perayaan diambil dari “Hari Marshmallow” yang merupakan acara promosi kue marshmallow merek Tsuru no Ko yang diadakan pada tahun 1977 oleh toko kue Ishimuramanseido di kota Fukuoka.

Hal ini terus berkembang, para pria Jepang yang mendapatkan cokelat dari para wanita ingin membalas pemberian tersebut. Bak gayung bersambut, niat ini tentunya tidak disia-siakan para produsen permen dan cokelat di Jepang dengan mencetuskan hadiah balasan. Tak ayal strategi penjualan permen dan cokelat sebagai hadiah balasan tentunya berhasil meningkatkan penjualan produk mereka, dan kemudian menetapkan tanggal 14 Maret sebagai white day.[iii]

Konsumsi coklat di Jepang memang yang terbesar di Asia seperti yang penulis kutip dari worldcocoafoundation.org yang mengatakan Jepang adalah pasar cokelat dengan konsumen paling besar di seluruh kawasan Asia. Merujuk pada Chocolate and Cocoa Association of Japan (CCAJ) setidaknya Jepang memproduksi 196.553 ton cokelat pada tahun 2009. Belum selesai sampai disitu, Jepang mengimpor 19.375 ton cokelat lagi dari U.S, Australia, Belgia, China, Korea Selatan, Perancis, Italia dan Swiss untuk memenuhi kebutuhan cokelat lokal sebesar 212.657.[iv]

Jepang memang negara yang banyak mengadaptasi budaya asing ke dalam budaya mereka. Seperti yang dikatakan Psikolog David Matsumoto dalam Kenny Loui, Tokyo Phantasmagoria: An Analysis of Politics and Commodity Capitalism in Modern Japan Through the Eyes of Walter Benjamin, “Dalam pengamatan saya satu nilai yang banyak diadopsi orang jepang adalah materialisme” masih dalam buku yang sama Kenny Loui mengatakan “di Jepang, materialisme bukan lagi sekedar hiburan tetapi telah menjadi sistem nilai (puji tuhan, puji toko-toko kami juga) pusat perbelanjaan sebagai kuil komoditas kapitalnya” notes Benjamin (1999,37;A2,22). Dalam referensi agama lain, Benjamin menyatakan: “Dalam Baudelaire ‘religious intoxication of great cities’: pusat perbelanjaan adalah kuil yang dikuduskan untuk intoksikasi ini” (61; A13).

Terkait dengan masifnya komersialisasi Valentine di Jepang, Kenny Loui mengatakan kapitalisme memanipulasi kita sebagaimana komodifikasi perasaan manusia seperti cinta diubah menjadi sebuah komoditas produk yang bisa dijual. Valentine tidak lebih dari sekadar kesempatan untuk mengirim kartu ucapan, kembang gula dan industri bunga mendulang untung. Seperti yang dikutip Benjamin dalam Les Murailles revolutionnaires de 1848, “keuntungan tertentu produsen datang dari kesempatan atau saat-saat tertentu.” (Benjamin 1999, 85; G7,1).

Supremasi Industri Selaput Karet Pembunuh Sperma

Melansir dari laman Beritasatu, per 14 Februari 2016 yang mengatakan bahwa penjualan kondom meningkat tajam pada malam Valentine.[v] Masih banyak lagi berita serupa dari berbagai media online yang membahas peningkatan penjualan kondom di berbagai daerah. Dari beberapa data yang penulis dapati, juga bisa kita lihat di media, penjualan kondom seminggu sebelum dan setelah hari valentine meningkat 40 hingga 80 persen di setiap gerainya, bahkan sering kali ada yang sold-out. Beberpa gerai bahkan tidak malu-malu lagi memajang paket cokelat valentine yang langsung dibungkus satu paket dengan kondom.

Inggris pun sesungguhnya resah dengan keadaan tersebut, sampai-sampai negara dari ratu Elizabeth tersebut menetapkan 14 Februari sebagai  “The National Impotence Day” — di mana momentum ini menjadi sebuah “wake up call” bagi negeri dari The Almighty David Bowie atas bahaya dari impotensi[7].

Senada dengan Inggris, negeri kangguru justru menetapkan tanggal 14 Februari sebagai “The National Condom Day. Merujuk pada srhwa.com.au yang menjelaskan bahwa hari tersebut diperingati dengan tujuan mengingatkan masyarakat Australia untuk menggunakan alat kontrasepsi ketika berhubungan intim[8]. Amerika bahkan lebih jauh lagi, dengan melangsungkan perayaan tersebut selama satu pekan “The National Condom Week” dari tanggal 14-21 Februari.

Setelah apa yang penulis paparkan di atas, sebongkah pertanyaan hendak penulis lontarkan kepada pembaca sekalian, siapa yang diuntungkan atas rekonstruksi nilai dari budaya valentine?” Jawabannya siapa lagi kalau bukan kaum kapitalis. Penulis meyakini rekonstruksi nilai dari perayaan yang ditujukan atas jasa dari martir bernama St. Valentinus yang kemudian dibelokkan menjadi hari kasih sayang yang tidak lebih dari sekadar hari bergombal ria massal di planet bumi memang sengaja dilakukan oleh para kapitalis dan dengan serius mendukung gerakan hari valentine dari awal. Menurut saya, itu semua hanyalah akal-akalan produsen kondom untuk mendongkrak capital gain.

Sekarang penulis meminta pembaca membayangkan jika 14 Februari hanya dirayakan para umat kristiani  di gereja saja, melakukan peribadatan layaknya natal dan paskah, mengenang jasa-jasa dari martir bernama St. Valentinus – meskipun tidak ada juga peribadatan umat katolik yang demikian, apa yang akan para kapitalis dapatkan di hari valentine? Jawabannya tidak ada. Mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Apa mereka akan membiarkannya? Tentu tidak. Para kapitalis akan terus melakukan segala daya dan upayanya demi mendongkrak keuntungan yang mereka dapatkan, seperti dekonstruksi nilai paling esensial dari kasih sayang oleh para produsen kondom dan cokelat.

Fenomena ini bukan tidak diketahui dan diresahkan umat Kristiani. Perubahan nilai yang terjadi ataupun hilangnya esensi dari hari peringatan atas apa yang martir bernama St. Valentinus pun disayangkan oleh umat kristiani seperti yang penulis kutip dari katolisitas.org: “Mengenai makna hari itu yang sekarang jadi dimaknai menyimpang, sampai mengakibatkan hubungan intim muda-mudi di luar pernikahan, tentu menjadi keprihatinan kita semua. Sebab bukan demikian maksudnya. Kasih yang sejati itu sanggup menunggu/ “True love waits”, sampai mereka sungguh dipersatukan oleh Tuhan sendiri. Mungkin ini yang harus ditekankan oleh pihak orang tua dan para pengajar muda-mudi. Silakan membaca buku karangan Paus Yohanes Paulus II, Theology of the Body, yang telah diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia oleh Romo Deshi Ramadhani SJ.

Dekonstruksi Esensi Kasih Sayang

Pertanyaan yang kemudian menggelitik penulis adalah, jika memang hari valentine kemudian di gadang-gadang sebagai hari kasih sayang, seharusnya tingkat perceraian memiliki kecenderungan menurun. Tapi apa mau dikata, sepertinya hal tersebut masih jauh panggang dari api. Badan Urusan Peradilan Agama Mahkamah Agung Indonesia merilis, dari tahun 2005 – 2010 angka perceraian meningkat 70%, tidak sampai disitu saja, mengutip dari voaindonesia.com 19 February 2016 “Sepanjang 2012 saja, tercatat 8.315 kasus kekerasan terhadap istri, atau 66 persen dari kasus yang ditangani. Hampir setengah, atau 46 persen, dari kasus tersebut adalah kekerasan psikis, 28 persen kekerasan fisik, 17 persen kekerasan seksual, dan 8 persen kekerasan ekonomi. Bentuk KDRT lain yang tengah marak dilaporkan dilakukan oleh pejabat publik adalah berupa kejahatan perkawinan.” Kemudian di mana letak kasih sayangnya?

Remaja polos dan lugu yang baru tumbuh dan baru melihat betapa menakjubkannya modernitas memang menjadi sasaran empuk bagi para oportunis pencari laba berasaskan capital gain. Akan selalu ada generasi baru super polos yang menerima apa yang didakwahkan oleh kapitalis hedonis tentang apa yang harus mereka lakukan pada 14 Februari.

Masa remaja adalah momen di mana pencarian diri dimulai, ada yang mengistilahkannya dengan aqua age, tak ubahnya seperti air yang cepat menyesuaikan dengan bentuk wadah apapun. Pun demikian dengan remaja, bisa berubah dengan cepat mengikuti lingkungannya. Sialnya, kita hidup di zaman kapitalisme yang mengajarkan lelaki dan wanita masa kini untuk memperhatikan fisik, bukan isi.

Kapitalisme memang menjadikan kebahagiaan materialistis sebagai surga tertinggi. Demikian hebatnya kapitalis telah mengelabuhi para remaja dengan menyempitkan makna cinta dan kasih sayang dengan menyetarakannya pada sebatang cokelat, bunga mawar dan kondom, meskipun penulis masih tidak memahami konsensus dari mana sehingga cinta dan kasih sayang disetarakan semurah cokelat dan bunga mawar.

Data BKKBN menunjukkan pada tahun 2010 saja di Jabodetabek ada 51% remaja yang kehilangan keperawanannya, kemudian ada 54% remaja perempuan Surabaya kehilangan kegadisannya, lalu 52% remaja perempuan di Medan juga mengalami hal yang sama, 47% di Bandung dan 37% Yogyakarta remaja perempuannya mengalami kemalangan yang serupa.

Belum selesai sampai di situ, Komisi Perlindungan Anak Indonesia mendapatkan hasil yang mencengangkan setelah melakukan penelitian di 12 kota besar di Indonesia pada tahun 2007:

  • 92% persen pelajar itu pernah kissing, petting, & oral sex.
  • 62% pernah melakukan hubungan intim.
  • 7% siswi SMA pernah melakukan aborsi.

Itu semua baru pada tahun 2007 saja, bisa kita bayangkan jika survey tersebut kembali dilakukan hari ini. Setelah sembilan tahun lamanya invasi budaya barat tanpa henti menggempur habis nilai-nilai budaya lokal yang kesohor akan kesopanannya dengan dalih globalisasi, moderenisasi, hingga segala tetek yang bengeknya, tentu akan terlihat peningkatan yang signifikan.

“Juga jangan jadi kriminil dalam percintaan yang menaklukan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat. Lelaki belakangan ini adalah juga kriminil, sedang perempuan yang tertaklukan hanya pelacur.” Setidaknya itu yang penulis kagumi dari buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananata Toer.

Ada sebuah kutipan anonim yang pernah penulis lihat dan masih penulis ingat hingga saat ini, saat isu kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh kekasihnya tengah marak terjadi: “she is an angel, not a sex toy.” Sekali lagi penulis menekankan tidak ada maksud sama sekali dari penulis untuk bertingkah suci atau berlagak gentleman – saat itu penulis berpikir memang seharusnya seorang laki-laki yang “katanya” mencintai wanitanya dengan sepenuh hati memperlakukan wanitanya seperti malaikatnya dengan menjaga kesuciannya, bukan justru menjadikan kekasihnya sebagai objek pemuas nafsu pribadi, treat her as an angel and do not treat her as your sex toy.

Penulis teringat wejangan dari guru spiritual penulis di kampus UNAS, Gus Fajar, yang mengatakan bahwa “Valentine itu tidak lebih dari sekadar selebrasi cinta monyet.” Seiya sekata dengan ucapannya, penulis beranggapan bahwa terlalu pelit rasanya jika kita hanya menspesialkan hari Valentine untuk menjadi pencurahan kasih sayang bagi seseorang yang kita anggap spesial dan kita cintai. Bukankah akan lebih romantis jika menspesialkan setiap hari sepanjang tahun untuk mengerahkan segala kasih dan sayang yang kita miliki untuk orang-orang spesial yang kita kasihi dan cintai.

Thamrin, Jakarta Pusat

Jakarta, 19 February 2016, 19:18

[i] Tay, Stefanus & Ingrid Tay. Tentang St. Valentine’s Day”. Katolisitas.org. 14 Februari 2014. 19 Februari 2016. <http://www.katolisitas.org/tentang-st-valentines-day>.

[ii] “Hari Kasih Sayang”. Id.wikipedia.org. 16 Februari 2016. <http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Kasih_Sayang>.

[iii] Hari Putih”. Id.wikipedia.org. 19 Februari 2016. <https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Putih>.

[iv] “Economic Profile of the Japanese Chocolate Industry”. World Cocoa Foundation. 19 Februari 2016. <http://www.worldcocoafoundation.org/wp-content/uploads/Economic_Profile_of_the_Japann_Chocolate_Industry_20111.pdf>.

[v] Mardika, I Nyoman. “Hari Kasih Sayang, DUa Produk Ini Laris Manis di Bali”. 14 Februari 2016. 19 Februari 2016. <http://www.beritasatu.com/nasional/349249-hari-kasih-sayang-dua-produk-ini-laris-manis-di-bali.html>.

About the author

Buruh penginapan di pusat kota Jakarta. Penikmat kopi dan puisi. Bercita-cita ingin menghabiskan waktunya menulis di sungai Seine. Bisa diusik di don-choyyy (LINE & Instagram)