Anak lelaki bertubuh ceking itu bergegas dengan limbung. Dalam sepersekian detik, ia melihat bola bliter (bola kulit yang keras dan berat, sekarang sudah punah sepertinya) melambung di atas kepala, meluncur ke arah kiper lawan yang bertubuh dua kali lebih besar dari tubuh anak lelaki bertubuh ceking.

Bola awalnya terlalu sulit ia kuasai. Lapangan pertandingan tidak beralaskan rumput, tapi semata debu yang kerap berterbangan di sekitar hidung, kepala dan mata. Laju bola terlalu deras dan ia tahu telah dibayang-bayangi dua pemain lawan. Sementara, kawan-kawan setimnya terlalu jauh di belakang. Mengoper bola kepada mereka adalah sesuatu yang sia-sia.

Siang itu siang yang panas sebagaimana biasanya di timur Jakarta. Lapangan tak berumput milik perusahaan tekstil memang menjadi arena suka-ria untuk tim sepakbola kampungnya, yang dilatih penggiat karang taruna, Bang Rosyid.

Anak lelaki bertubuh ceking tahu, cara satu-satunya agar kemenangan bisa dirampas adalah dengan beradu fisik dengan si kiper. Maklum, ini pertandingan kampung. Wasit yang memimpin pun seorang pedagang cendol yang biasa mangkal di bawah pohon kecapi di sisi lapangan. Peluit lebih banyak ditiup dalam perkara offside atau bola yang keluar garis.

Anak lelaki bertubuh ceking juga mendengar orang-orang berteriak tentang waktu.

“Tiga menit lagi, nih, tiga meniiiit. Masa seri, sih. Gak seru, dong,” salah satu dari kerumunan berteriak.

 Ia terbayang wajah Bang Rosyid yang harus kembali dicecar olok-olok pelatih lawan. Timnya, Putera Baggio (yang dicomot Bang Rosyid dari nama pemain idolanya Roberto Baggio) selalu kalah saat menghadapi lawan mereka hari ini, Pandawa FC.

Ini bukan pertandingan di ajang resmi. Ini hanya pertandingan persahabatan untuk menjajal persiapan masing-masing sebelum berlaga di kompetisi RW yang disponsori Haji Dullah.

Putera Baggio tim RT 4, sementara Pandawa FC dari RT 12.

Anak lelaki bertubuh ceking begitu menghormati Bang Rosyid karena berkat diplomasinya dengan sang bapak, ia diperbolehkan mengikuti latihan bersama Putera Baggio saban Minggu. Meski hanya bekerja serabutan, hasrat Bang Rosyid terhadap sepakbola begitu tinggi. Ia mengarsipkan sejumlah tabloid olahraga yang bisa dipinjam anak-anak Putera Baggio kapan pun mereka mau.

Bang Rosyid juga menerapkan disiplin menabung agar anak-anak bisa membeli perkakas main bola. Anak lelaki bertubuh ceking takkan berani meminta sepatu dari sang bapak. Maka tatkala sepatu bermerek Diadora hitam dengan aksen kuning disodorkan Bang Rosyid kepadanya di suatu pagi, rasa sayang menggenapi rasa hormat.

Tiga meter

Dua meter

Satu meter..

Brakkk!

***

Bapak anak lelaki bertubuh ceking tidak memperkenankannya ikut sekolah sepakbola.

“Mau jadi apa? Pemain bola kita miskin-miskin. Ikut latihan bulutangkis saja! Boleh main bola tapi hanya sama Bang Rosyid di hari Minggu,” bapaknya berkata di suatu malam.

Jadilah ia dua kali dalam sepekan menuruti kemauan sang bapak untuk latihan bulutangkis. Sang bapak yang punya kuasa. Sang bapak yang punya kehendak.

Tanpa sepengetahuan sang bapak, anak lelaki bertubuh ceking itu membenci bulutangkis. Bukan bulutangkisnya, tapi suasana yang ia lalui dengan terpaksa di sekolah bulutangkis itu. Latihan fisiknya menyiksa. Dan ia merasa sangat berjarak dengan anak-anak sebaya peserta sekolah bulutangkis itu.

Ia tahu yang ia rasa, tapi ia tidak punya kosakata dan keberanian untuk mengutarakannya kepada sang bapak. Bapaknya yang punya kuasa dan punya kehendak.

Pernah di satu sore, tatkala menunggu dirinya dijemput sang paman untuk pulang ke rumah, dan pamannya tak juga datang, dan tanda-tanda malam semakin matang, ia menangis.

“Kamu kenapa?” tanya sang paman yang masih duduk di atas motor, menyungging raut penasaran.

“Nggak apa-apa, mang. Tadi cuma berantem iseng sama temen,” jawabnya yang segera menghapus air mata dan duduk di jok motor.

Lantas tangisannya dianggap peristiwa biasa khas kenakalan anak bocah. Malam yang telah matang kembali mengunci hari anak lelaki bertubuh ceking. Mulanya ratusan malam, lalu menjadi seribu. Hidup anak lelaki bertubuh ceking berubah semenjak itu.

Tanpa diketahui sang bapak, anak lelaki bertubuh ceking terus merawat harapan terhadap sepakbola. Bukan, bukan berarti ia ingin menjadi pesepakbola. Permainan itu ia jadikan sebagai wahana pemberontakannya terhadap apa saja.

Berkat tendang-menendang bola, ia jadi punya nyali untuk mencuri perhatian Sari, anak Haji Dullah yang cantik tiada dua.

Haji Dullah warga kampung yang disegani. Ia pemuka agama yang sering dinobatkan menjadi pemimpin di berbagai ritual kehidupan kampung itu. Sebut itu upacara kelahiran bayi, hingga memotong kambing di Lebaran Kurban, selalu Haji Dullah yang memimpin seremoni.

Haji Dullah konon pernah kuliah di Kairo, namun tak sampai tuntas karena masalah biaya. Haji Dullah lalu pulang dan meminang Mak Iyah, anak gadis seorang saudagar kain. Sari puteri mereka nomor tiga.

Anak lelaki bertubuh ceking tahu, Senin dan Kamis sore adalah jadwal mengaji Sari. Menjelang maghrib, Sari pasti akan melintasi jalan kampung tempat ia bermain bola plastik bersama para tetangga.

Sepulang mengaji, Sari memiliki kebiasaan menunggu tukang jajanan di serambi rumah. Kadang-kadang bakso, tetapi yang lebih sering adalah penjual kue rangi. Pernah di satu kesempatan si anak lelaki bertubuh ceking melihat lelehan saus rangi menempel di pipi kiri Sari yang bulat, lalu membuat dunianya seolah runtuh saking terpesonanya.

Maka Senin dan Kamis menjadi jadwalnya bermain dengan bola plastik di depan rumah Haji Dullah. Tak lupa membawa sarung, karena waktu pamit dari rumah ia mengatakan hendak salat berjamaah di mushola. Aksi utamanya adalah bagaimana bola bisa secara natural ‘mampir’ ke rumah Haji Dullah tanpa mengenai ia punya mobil. Bisa gawat kalau mobil itu terkena bola.

Setelah sekian percobaan, sepakkan anak lelaki bertubuh ceking membuat bola jatuh ke pekarangan rumah mereka, berputar-putar lalu berhenti di serambi.

Amuk Haji Dullah meledak. Membentak-bentak mengacungkan gagang sapu. Tapi nyali anak lelaki bertubuh ceking telah begitu purna. Haji Dullah ia hadapi. Kepalanya setengah menunduk meminta maaf dengan nada setulus mungkin.

Di antara dentuman sumpah serapah, ia melirik Sari yang tertawa riang melihatnya dimarahi Haji Dullah. Di titik itulah, ia tahu dirinya telah memenangi pertempuran. Sari, yang satu sekolah dengannya tapi beda kelas, menjadi sering menegurnya di sekolah: entah di lorong, entah di kantin, juga di sela-sela upacara bendera Senin pagi.

Pemberontakkannya – terhadap sang bapak dan Haji Dullah – berbuah manis, hubungan cinta pertama di waktu SD dengan Sari.

Sari yang cantik tiada dua.

Itu semua berkat sepakbola. Pada dasarnya ia anak yang terlalu pendiam dan selalu sulit mengutarakan maksud. Udara bisa tiba-tiba pampat saat dia berada di ruangan dengan banyak orang, atau saat perhatian orang-orang memusat padanya. Jika sudah begini, mulutnya pasti terkunci.

Padahal ia punya segudang potensi untuk jadi pusat perhatian. Selain mahir bermain bola, ia juga pandai matematika: suatu kombinasi yang sulit kita temui pada diri anak laki-laki kebanyakan. Keahliannya dalam kedua bidang tersebut membuatnya dikerubungi teman-teman sebaya, tak peduli berkelamin apa.

Dalam matematika ia menjadi andalan. Terutama di masa-masa ujian. Dalam sepakbola pun demikian. Hasil latihan saban Minggu bersama Bang Rosyid melatih insting dan fisiknya dalam mengolah si kulit bundar.

Memasuki SMP, anak lelaki bertubuh ceking semakin condong ke sepakbola ketimbang matematika. Cintanya dengan Sari telah tamat, dan yang ada di kepalanya hanya sepakbola.

Ia tidak mengikuti ekskul sepakbola, bisa mati dia diamuk bapak dan ibunya, tetapi jasanya selalu dipakai teman-teman saat ada pertandingan sparing atau kompetisi. Kelihaian dan kecepatannya menjadi garansi sehingga selalu diikutsertakan kawan-kawan.

Sesuatu yang ia terima dengan suka cita, tentu saja.

Dari laga ke laga, bakatnya semakin terkenal ke seantero kecamatan. Mulanya hanya tim sekolah atau tim kelas, kini klub-klub amatir turut pula meminta jasanya. Di titik ini Anda tentu sudah bisa menebak bahwa matematika semakin ia lupakan. Sesudahnya diikuti kimia, fisika, geografi…

Maka masa SMP ia lewati dengan terlunta-lunta. Saat SMA, ketika ia tidak bisa masuk ke kelas IPA, amukan itu kembali datang, yang bersumber dari sang bapak.

Bapak yang punya kuasa dan punya kehendak atas hidupnya.

Hidup anak lelaki yang masih bertubuh ceking tapi telah ditumbuhi jakun dan bulu kumis halus.

Tidak kepalang tanggung, sang bapak memarahinya saat ia masih berjibaku di lapangan milik tentara dalam suatu kompetisi amatir. Panitia tak kuasa menghentikan sang bapak, yang meradang bukan kepalang dan menggenggam tongkat kasti.

“Pardi, sini kamu! Sudah berani kamu, ya! Jadi selama ini kamu ngumpet-ngumpet di belakang buat main bola?! Heh, Pardi. Hey, berhenti. Hentikan. Heh, Pardi, sinii..!!!” teriak sang bapak dengan muka memerah dan sorot mata nyalang.

Habis sudah waktuku, batin Pardi, anak lelaki yang masih bertubuh ceking namun sudah berjakun-berkumis tipis itu.

Mampus sudah.

Mampuuss.

Hantaman demi hantaman tongkat kasti menghampiri sekujur badannya. Ia hanya diam, karena ia memang pendiam. Mendebat orang muntab hanya akan menambah derita.

Orang-orang hanya bisa berdiri terpaku memandang kejadian. Sementara Pardi, tokoh kita yang malang, terkapar di atas tanah dengan kedua tangan melindungi kepala.

“Mau jadi apa kamu Pardi, heehhhh! Heemh, ini, rasakan ini. Mau jadi pengangguran kamu, ya?! Bapak banting tulang nangis darah cari uang, sementara ini balasan kamu? Pantas kamu gagal masuk IPA, Pardiii..” sang bapak terus menyerocos, tongkat kasti masih menghantam Pardi bertubi-tubi. Ke pantat, leher, belikat, bahu, dan terutama betis Pardi.

Rasa malu dan sakit di tubuh tidak seberapa Pardi hiraukan. Anehnya, ia justru terkenang pada sosok Bang Rosyid yang telah menghilang dari hidupnya sekira tiga tahun silam.

“Tolong Pardi, Bang. Tolong Pardi. Bilangin ke bapak, Bang. Abang kan pinter ngomong. Abang juga rajin bantu-bantu warga. Tolong Pardi, Bang. Pardi mau main bola sama tim abang,” rengeknya di masa silam, di depan pintu rumah Bang Rosyid.

Kita tidak bisa berharap terlalu banyak. Dialog itu hanya terjadi di benak Pardi.

Ajang penyiksaan bapak terhadap anak baru berhenti kala sang bapak mulai kehabisan napas, berdiri membungkuk dengan seluruh tubuh bergeletar.

“Pulang Pardi. Pulang.”

Plung.

Suara tongkat kasti yang jatuh menghantam tanah adalah suara terakhir yang Pardi dengar hari itu. Pardi baru terbangun dua hari setelahnya di bangsal rumah sakit.

***

“Goollll…. Pardiiiiiiiiii, gila lu Pardiiiii.. Nekat amaaat!!”

“Hore, horeeee..”

“Yeahhh, woohooow..”

“Pardiiiiiiiii, menang kita Pardii!”

Anak lelaki bertubuh ceking menggosok mata tidak percaya. Kiper Pandawa FC ternyata lebih memilih untuk menghalau laju Pardi. Ujung tumitnya menjungkit tapak kiri Pardi, yang Pardi balas dengan bahu dan sikutnya.

Tak ayal keduanya bertabrakan teramat keras. Pardi yang terhuyung-huyung rupanya masih mampu mengetahui keberadaan bola. Dengan posisi telentang ditimpa kiper, ujung tumit kanannya menggeser bola pelan memasuki gawang Pandawa FC.

Gol.

Pandawa FC 0 – 1 Putera Baggio.

Tepukan demi tepukan keras mampir ke pundaknya. Ada juga beberapa kawan senior yang mengusap-usap rambut berdebu Pardi. Kemenangan ini setidaknya telah membuat Pandawa FC berhenti sesumbar untuk sementara waktu.

“Bang Rosyid!” Pardi melajukan diri ke tepi lapangan, menghampiri pelatihnya, “Menang, Bang.”

Bang Rosyid menyambut Pardi dengan tangan terentang. Sebelum Pardi menubruk dada sang pelatih, ia melihat ada genangan air di kedua belah matanya.

“Hebat kamu, Pardi. Berani sekali. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih, Pardi. Hebat!”

***

“Kiri, Bang,” ujar Pardi kepada sopir mikrolet biru. “Nih, makasih,” tandasnya sambil menyerahkan tiga lembar uang kepada sopir, yang hanya membalas Pardi dengan anggukan kecil.

Pardi berjalan gontai. Ia tiba-tiba berhasrat untuk mengunjungi lapangan yang telah banyak menghiasi masa kecil. Lengan kemeja ia gulung separuh, dua kancing teratas ia lepas.

Malam sudah matang. Sematang hidup Pardi. Ia kini disibukkan dengan berlembar catatan keuangan belasan perusahaan multinasional. Kemampuannya bermain angka ternyata masih bisa ia asah setelah peristiwa penyiksaan itu. Pardi menghabiskan hari dengan berprofesi sebagai analis keuangan lembaga konsultan terkemuka.

Hari-hari yang ia rasa ia lalui terlalu hambar, karena sejak itu ia gadaikan sepakbola demi menyenangkan ambisi orangtua. Selepas SMA ia diterima kuliah jurusan statistik di universitas di Bandung.

Hari-hari yang tiada arti, pikirnya selalu, dan selalu dalam hati.

Sekian puluh langkah, ia memandang panorama itu. Lapangan telah berubah menjadi perkampungan liar dengan gubuk-gubuk reyot berjejalan. Kemarin hari terjadi kebakaran di sini, membuat perkampungan kumuh itu seperti jerangkong belaka.

Mata Pardi menyusuri tiap sudut lapangan. Malam yang telah matang tidak menghambat pandangan karena ia terlalu mengenali tiap jengkal tempat itu.

Di situlah akhirnya mata Pardi berhenti: di sisa tiang gawang yang ajaibnya masih tegak berdiri. Malam yang telah matang kini dihiasi mendung dan halilintar, air pun jebol dari langit.

Pardi, dengan gerakan setenang sufi, merebahkan tubuh di sisi tiang gawang. Ia telah ikhlas dan siap menyambut hujan. Ia menyungging senyum, mata memejam. Udara malam yang telah matang ia hirup saksama, lalu berujar,

“Terima kasih, Bang Rosyid,

Terima kasih, Bang Rosyid,

Terima kasih, Bang Rosyid,

Terima kasih, Bang Rosyid…”

About the author

Anak sasian sosiologi yang meminati kajian kelas, budaya, dan replikasi sosial. “Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.