Sekarang pukul dua dini hari, dan kamu belum bisa tertidur sama sekali. Sudah tiga hari ini kamu tidak bisa tidur. Padahal tubuhmu sudah amat lelah, tapi sepertinya tidak dengan otakmu. Ada ratusan masalah kecil yang masih hinggap seperti lalat di tiap rongga pikiranmu. Rasa khawatir yang berlebihan memaksamu untuk tetap terjaga, dan sedihnya, sampai saat ini kamu belum tahu secara akurat dan spesifik apa kiranya yang kau cemaskan hingga merenggut jam tidurmu. Berat tubuhmu makin menurun, pola makanmu juga kian memburuk, ditambah dua kantung mata hitam yang membuatmu terlihat seperti pemadat.

Tidak ada yang bisa kau kerjakan sama sekali di rumah. Kamu sudah mencoba membaca beberapa buku seperti Ask The Dust karya John Fante, Bright Lights, Big City karya Jay McInerney, City of Night karya John Rechy, Nausea karya Jean Paul Sartre, serta beberapa puisi Allen Ginsberg dan Arthur Rimbaud, tapi semua itu bahkan tidak bisa membuatmu menguap satu kali pun atau terpejam barang sekejap. Kamu dilanda badai insomnia yang cukup kejam. Mungkin dengan berjalan-jalan di luar, menikmati keindahan dan kesunyian kota di malam hari bisa membuat matamu berair karena kantuk. Kamu sambar jaketmu, dan segera melesat, melayang bersama angin malam.

Ternyata berjalan-jalan di luar adalah ide yang sangat konyol. Dinginnya udara malam bagai sekotak ular derik berbisa yang dilepas tepat di bawah kakimu. Ular-ular itu merambat dan membelit tubuhmu dari mata kaki sampai tengkuk lehermu. Tubuhmu menggelinjang, berdiri menggelepar seperti puluhan ikan-ikan laut yang dilempar oleh para nelayan ke daratan. Dengan tangan gemetar, kamu ambil sebatang rokok dari saku jaket dan menyalakannya. Kamu isap batang rokok kretek itu dalam-dalam, dan kamu embuskan perlahan-lahan dari bibirmu yang bergetar. Kamu percepat langkahmu menuju sebuah bar tempat kamu bekerja. Jam kerjamu di sana sebenarnya sudah habis, tapi kamu kembali ke sana. Kamu berpikir siapa tahu gigitan ular-ular berbisa tak kasat mata itu bisa lenyap seiring dengan derap langkah dan napasmu yang semakin memburu.

Temaram lampu-lampu jalanan menyinarimu, membingkai sebuah siluet yang berpijar redup di atas aspal. Sementara kerlap-kerlip lampu-lampu dari bangunan-bangunan pencakar langit di sekitarmu tak henti-hentinya mengawasimu dari atas sana, seperti mata Tuhan.

Pintu bar kamu buka. Di tempat biasa kamu berdiri di belakang meja bartender, kamu melihat Argo, rekan sesama bartender. Dia menyapamu. Dia menanyakan kabarmu. Kamu duduk di depan meja bartender. Kamu membalas sapaan Argo, lalu mengucapkan bahwa kamu baik-baik saja. Kamu memesan sebotol bir kepada Argo. Kamu menyalakan rokok. Kamu mengisapnya. Kamu mengembuskannya.

Tumben kamu ke sini setelah pulang kerja. Kangen ya? Hehehe. Kalau kamu mau, kamu bisa menggantikan giliranku kerja sekarang. Kebetulan aku punya janji dengan pacarku, Argo berkelakar. Kamu tersenyum. Kamu tidak terlalu dekat dengan Argo. Kamu tidak memiliki teman. Kamu tidak menyukai orang-orang di sekitarmu. Kamu bahkan tidak menyukai kedua orang tuamu. Namun kamu tahu kalau Argo adalah pemuda yang baik dan hangat dalam persahabatan. Hanya saja kamu tidak terlalu senang bergaul. Kamu membenci pekerjaanmu sebagai bartender. Kamu membenci wajahmu. Kamu membenci karakteristikmu. Kamu tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarmu. Kamu tidak peduli dengan dunia. Yang kamu pedulikan hanya keinginanmu sebagai penulis. Setiap malam kamu menulis satu buah cerita atau satu buah puisi. Kamu tahu itu bukan tulisan yang bagus. Tapi kamu tidak patah arang. Kamu terus menulis dan menulis.

Argo terus mengajakmu berbicara. Dia benar-benar pemuda yang baik. Wajahnya yang tampan dan eksotis mengingatkanmu dengan Emre Can, gelandang Liverpool FC yang permainannya tak sengaja kamu lihat kemarin malam. Sembari melayani pelanggan, dia juga menanyakan tentang tulisanmu. Kamu tahu kalau dia tulus bertanya seperti itu. Tapi kamu bukanlah orang yang terbuka. Kamu bilang bahwa semua baik-baik saja. Padahal tidak. Tulisan-tulisan yang kamu ketik dengan mesin tik peninggalan pamanmu selalu berakhir di keranjang sampah. Argo pamit padamu. Pelanggan berdatangan semakin banyak. Kamu mengangguk. Kamu mengiyakan. Kamu kembali mengisap rokokmu dalam-dalam.

Tanpa kamu sadari seorang gadis yang teramat cantik duduk di sebelahmu. Gadis ini tidak seperti gadis-gadis seksi nan banal di bar seperti biasanya. Kamu tahu itu. Kamu bisa merasakannya dari senyuman tipis yang dilemparkan si gadis padamu. Gadis ini berambut pendek. Warna rambutnya mengingatkanmu akan selai kacang yang kau oleskan saat sarapan tadi pagi. Kamu tahu itu warna rambut alami. Mungkin gadis ini blasteran, pikirmu. Gadis ini mengenakan kaos kebesaran yang kamu pikir adalah kaos pacarnya, celana jins belel dan sepatu Converse. Tangan kanannya memegang sebotol bir. Dia menenggak bir itu, lalu berdahak keras. Kamu memerhatikannya sambil mengernyitkan dahi.

Aroma keringat dan tubuh langsing gadis ini membuat penismu mengeras. Kamu merasa sangat tolol dan berusaha mengacuhkannya dengan kembali menyalakan rokok. Bodohnya, kamu lupa di mana kamu menaruh pemantik. Kamu kini terlihat semakin konyol. Gadis ini cengar-cengir memerhatikanmu. Kamu tersenyum kikuk. Gadis ini lantas meminjamkan pemantiknya. Kamu menerima pemantik itu, berterima kasih, lalu pamit ke toilet setelah mengamati tubuh dan wajah gadis itu selama beberapa detik. Kamu bergegas masuk ke salah satu toilet, lalu membuka resleting celana jinsmu, mengeluarkan penismu, dan mengocoknya. Kamu memejamkan mata membayangkan gadis tadi. Bagaimana wajahnya. Tubuhnya. Aroma tubuhnya. Mulutmu sedikit terbuka, mengerang sampai akhirnya kamu mengeluarkan sperma jahanam itu. Setelah itu kamu merasa lebih rileks. Tubuh dan langkah kakimu terasa lebih ringan sekarang. Kamu bagai melayang-layang. Kamu kembali menghampiri gadis itu, lalu mengembalikan pemantiknya.

Mendadak kebelet ya, tanya gadis ini padamu. Kamu menggaruk bagian belakang kepalamu yang mendadak gatal. Kamu tersenyum kecil. Ingin sekali kamu menelanjangi gadis di depanmu ini. Menjilati tiap jengkal tubuhnya. Bercinta seperti binatang. Liar dan berisik. Namun kamu tahu kamu tidak akan mampu. Kamu bukanlah siapa-siapa. Kamu hanya sampah. Pecundang. Debu di jalanan. Itulah kamu.

Tidak lama kemudian Argo datang. Dia tersenyum semringah pada gadis cantik ini. Dia mengecup bibir gadis ini dan memeluknya erat. Argo kemudian menoleh padamu. Dia bilang gadis ini adalah pacarnya yang baru pulang dari London setelah meneruskan studi S2-nya. Kamu tersenyum hambar. Kamu merasa bodoh. Kamu merasa seperti orang paling tolol sedunia. Kemudian kamu melangkahkan kaki keluar dari bar, tidak menggubris Argo dan pacarnya yang berteriak memanggilmu di sela lantunan musik jaz yang membahana. Kamu merapatkan kedua kerah jaket ke lehermu, lalu kembali menyisir trotoar jalan yang sepi.

Kamu duduk di sebuah kursi setelah tadi mengamati beberapa toko-toko yang sudah tutup. Semuanya sepi dan kosong. Sama seperti hatimu. Kamu termenung. Melamun. Kamu mengingat-ingat lagi apa saja yang kamu lakukan semenjak pagi hingga sekarang. Semuanya hampir sama dengan hari-hari kemarin. Kamu bangun tidur. Kamu menyalakan TV. Kamu mandi. Kamu menyikat gigi. Kamu bermasturbasi dengan membayangkan reporter berita yang barusan kamu lihat di layar TV. Kamu buang air besar. Setelah itu, kamu berpakaian. Kamu membuat mi instan (dengan bumbunya yang sudah mengeras), setangkup roti isi (yang hampir kadaluarsa) selai kacang dan secangir kopi hitam untuk sarapan.

Perutmu sudah kenyang. Kamu bangkit menuju meja kerjamu. Kamu menghadap mesin tik, menyulut rokok dan mulai berdarah. Bukan berdarah dalam pengertian sebenarnya. Itu adalah istilah Hemingway yang kau gunakan saat mengetik. Lalu kamu mengetik dan mengetik beberapa puisi sampai terdengar sebuah ketukan di pintu kamar kosmu. Kamu terlihat kesal. Kamu menyesap kopi, lalu berjalan gontai untuk membuka pintu. Tak ada siapa-siapa di depan pintu. Hanya ada sebuah surat undangan. Sepertinya semacam undangan pernikahan. Kamu melihat siapa kiranya mempelainya. Apa benar itu temanmu atau bukan. Kamu memang selalu merasa tidak mempunyai teman. Tapi bahkan orang paling kesepian di dunia pun tetap punya teman SD, SMP, SMA, kuliah, nongkrong dan sebagainya.

Itu surat dari mantanmu sewaktu SMA. Sudah sepuluh tahun kamu tidak pernah mendengar kabar darinya. Kamu kembali mengingat masa-masa saat berpacaran dengannya. Penismu adalah penis pertama yang dikulum oleh mantanmu itu. Penis pertama yang memasuki tubuh ranumnya. Sesaat penismu kembali mengeras. Kamu membayangkan payudara mantanmu yang besar. Putingnya yang segar dan berwarna merah kecokelatan. Rambut pubisnya yang dipotong rapi. Rambutnya yang lembut dan harum. Vaginanya yang hangat. Kamu membayangkan tubuh mantanmu yang padat dan seksi kini sudah menjadi milik orang lain. Kamu lalu menghela napas. Kamu mengambil sebuah pemantik dan membakar undangan itu. Kamu membakar semua kenanganmu dengannya.

Kamu kembali mengetik dan mengetik seperti orang kerasukan. Penuh darah dan kemurkaan. Tanpa sadar kamu sudah berdarah di sana selama tiga jam. Sekali lagi, bukan darah dalam arti yang sebenarnya. Kamu pergi ke kamar mandi. Kamu menatap rupamu di cermin. Kemudian kamu merasa muak. Sangat muak. Kamu jijik dengan dirimu sendiri. Kamu ingin meludahi wajahmu. Namun kamu tak mampu. Akhirnya kamu meninju cermin itu hingga pecah. Kamu berdarah, kini dalam pengertian yang sebenarnya. Kamu keluar dari kamar mandi dengan tangan terbebat perban. Kamu menyalakan TV, bersandar di sofa, lalu kamu tertidur. Kamu tertidur sampai sore. Kamu bangun, menguap sebentar, memanaskan air, menuangkan airnya ke dalam gelas berisi kopi bubuk dan gula, lalu menyulut rokok. Setengah jam lagi jam kerjamu dimulai. Setelah menandaskan kopi dan mi instan (lagi), kamu berangkat menuju bar.

Kini kamu masih duduk di kursi. Merasa hampa dan kedinginan. Kamu ingin berteman. Kamu ingin berpacaran. Kamu ingin bersetubuh. Namun, kamu membenci manusia. Kamu membenci mereka semua. Kamu ingin teriak sekencang-kencangnya malam ini, tapi kamu urungkan niat itu. Kamu merasa itu tak ada artinya. Kamu akhirnya berjalan menuju sebuah stasiun yang letaknya tak jauh dari bar dengan bulan purnama di atas sana sebagai penerang jalan. Stasiun memang menjadi tempat favoritmu untuk merenung. Saking seringnya kamu ke stasiun itu, kamu mengenal semua penjaganya, termasuk Mas Sentot yang barusan menyapamu. Selama beberapa puluh menit kamu dan Mas Sentot mengobrol sembari menyesap kopi dan mengisap rokok kretek dengan berlatarkan musik keroncong “Sepasang Mata Bola” yang terdengar dari radio transistor Mas Sentot

Mas Sentot bersifat kebapakan. Umurnya sudah menginjak 40 tahun. Mas Sentot juga sudah memiliki dua anak perempuan yang lucu-lucu. Istrinya pun cantik. Mas Sentot mengingatkanmu dengan pamanmu. Satu-satunya orang yang kamu bisa percaya. Satu-satunya orang yang kamu sayang di dunia ini. Satu perbedaan terbesar antara mereka adalah Mas Sentot senang bermain ke tempat pelacuran, bercinta dengan puluhan lonte. Itu yang membuatmu tidak bisa menyukai Mas Sentot. Sedangkan pamanmu selalu mengurung dirinya dengan membaca dan menulis sampai dia memutuskan untuk gantung diri di kamarnya yang dibanjiri buku dan kertas-kertas bertuliskan puisinya. Pamanmu tidak beristri. Dia terlalu mencintai buku ketimbang wanita. Setahun setelah kematiannya, kumpulan puisi pamanmu diterbitkan. Kumpulan puisi itu mendapat respons yang sangat positif di dunia sastra Indonesia. Joko Pinurbo bahkan mengatakan bahwa kumpulan puisi pamanmu adalah salah satu kumpulan puisi terpenting yang pernah hadir selama sepuluh tahun belakangan. Hanung Bramantiyo dan Riri Reza pun dirumorkan ingin mengadaptasi kumpulan puisi tersebut ke dalam film. Bahkan Isyana Sarasvati, Maudy Ayunda dan Danilla Riyadi sudah dipilih untuk menyanyikan lagu soundtrack-nya. Namun, semua itu baru rumor, dan kamulah yang memegang hak paten kumpulan puisi pamanmu sekarang. Jauh-jauh hari pamanmu sudah mewariskan itu padamu sebagai bekalmu hidup. Beliau tahu pola pikirmu. Beliau tahu mimpi-mimpimu. Beliau tahu semuanya tentang dirimu.

Kini buku kumpulan puisi itu selalu kamu bawa ke mana pun. Kamu membacanya berkali-kali. Meresapinya berkali-kali. Dengan begitu, kamu merasa lebih dekat dengan pamanmu. Itu yang kamu pikir selama ini.

Kamu pamit pada Mas Sentot, minta izin untuk kembali masuk ke dalam stasiun. Mas Sentot mengangguk. Kamu memberikan sebungkus rokok pada Mas Sentot, lalu diam-diam menyumpahinya agar terkena penyakit kelamin.

Kamu duduk di salah satu kursi di dalam peron stasiun. Sudah jam empat pagi. Dari kejauhan, gemuruh suara kereta pertama di hari ini terdengar. Kamu mengacuhkan suara gemuruh tersebut, dan terus menulis sesuatu di buku catatanmu. Sesekali kamu membaca puisi-puisi dari pamanmu. Salah satu puisi pamanmu yang berjudul Segelas Susu Hangat Untukmu mengingatkanmu pada suatu peristiwa yang membekas sekali di ingatanmu.

Saat itu kamu masih berusia enam tahun. Kedua orang tuamu sedang pergi. Hanya pamanmu yang berada di rumah untuk menjaga dan menemanimu. Pamanmu membacakanmu sebuah puisi. Kamu tidak ingat puisi apa itu. Sepertinya puisi dari Rudyard Kipling atau Emily Dickinson. Baru dua puisi dibacakan, kamu merengek, meminta dibuatkan segelas susu. Sambil tersenyum, pamanmu bangkit dari sofa untuk memasak air. Tiba-tiba kamu mendengar pintu rumah digedor dengan sangat keras. Kamu ketakutan. Kamu tahu itu bukan kedua orang tuamu. Pamanmu muncul dari dapur, memandangmu yang sedang ketakutan. Dia tersenyum padamu dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Kamu meringkuk di sofa. Samar-samar terdengar suara pria yang berbicara dengan lirih. Kamu tahu itu bukan suara pamanmu. Pria itu terdengar mulai terisak pelan, dan pamanmu berusaha untuk menenangkannya. Entah kenapa suara bisik-bisik mereka berdua melenyapkan rasa takutmu. Kamu penasaran. Kamu berjalan menuju ruang tamu, tempat mereka berdua mengobrol. Dengan takut-takut, kamu mengintip mereka dari balik tembok dan mendengar pembicaraan mereka berdua. Pembicaraan yang terekam jelas di lumbung memorimu hingga sekarang.

Doni, aku dijodohkan, Don, kata teman pamanmu sendu. Kamu melihat rupa teman pamanmu itu. Dia pria yang tegap dan tampan. Mengingatkanmu dengan aktor Tora Sudiro.

Kalau sudah begitu, memangnya aku bisa apa, balas pamanmu lembut. Kamu melihat pamanmu merengkuh pria itu, mengusap-usap rambutnya, kemudian mengecup keningnya. Hal yang kadang paman lakukan padamu ketika kamu ketakutan atau sedang bersedih.

Bagaimana kalau kita kawin lari ke Belanda? Kita bisa tinggal di sana, ajak teman pamanmu. Air mata mulai menetes di pipinya. Pamanmu menyeka air mata itu.

Kamu tahu kalau aku tidak bisa melakukan itu, Aldo. Aku punya keponakan yang harus kurawat. Kedua orang tuanya sudah meninggal seminggu lalu karena kecelakaan pesawat. Dia masih kecil. Aku bahkan belum memberitahu dia kalau orang tuanya telah meninggal. Dia hanya punya aku sekarang, Do, jelas pamanmu.

Aldo mengembuskan napas. Kita bisa membawa dia ke Belanda, Don. Kita angkat dia jadi anak kita, kata Aldo bersikeras.

Pamanmu menggeleng lemas. Pamanmu tetap menolak. Dia lebih memilihmu ketimbang Aldo, kekasihnya sendiri. Pamanmu lebih mencintaimu ketimbang Aldo.

Aldo melepaskan rengkuhan pamanmu. Dia menghapus linangan air matanya, lalu bergegas ke luar rumah dengan langkah limbung. Pamanmu menatap itu semua dengan pandangan terluka. Pilu. Kamu tahu pamanmu saat itu sangat sedih.

Esok harinya, Aldo ditemukan tewas bunuh diri karena overdosis obat tidur. Pamanmu sangat terpukul mendengarnya. Sejak itu, dia selalu mengurung diri dalam kamarnya sampai dia memutuskan untuk menyusul Aldo. Tapi dia tidak menelantarkamu. Dia mewariskan sesuatu padamu. Sesuatu yang sangat berharga. Kumpulan puisinya.

Kamu kembali ke masa ini. Seorang wanita tua duduk di sebelahmu. Dia tersenyum padamu. Kamu membalas senyumanya, lalu kembali fokus menulis. Si wanita tua itu memerhatikanmu selama beberapa saat sampai dia menyodorkanmu sesuatu.

Apa ini, Nek, tanyamu heran.

Ini segelas susu hangat untukmu, Cu.

Kamu terdiam. Kamu terpana menatap segelas susu hangat di tangan keriput wanita itu. Kereta kedua hari ini lewat dengan sangat berisik. Di tengah amukan gemuruh kereta yang mengiris rel baja, tanpa sadar air matamu meleleh. Kamu menerima segelas susu itu hangat dengan rintikan air mata. Lalu kamu menangis. Kamu menangis tersedu-sedu seperti saat kecil kamu menangisi pamanmu yang tergantung tak bernyawa di kamarnya.

Ayam jago berkokok riuh. Mentari pagi pun mulai bersinar di ufuk timur. Wanita tua tak dikenal itu merengkuhmu, mengusap-usap rambutmu, kemudian mengecup keningmu. Namun, kamu terus menangis. Menangis seperti tak ada lagi hari esok. ♦

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts