“Selamat malam para pendengar sekalian. Kembali lagi bersama saya Inez Megaputri di acara 11.11 with Inez. Bagaimana kabar kalian seharian ini? Ada yang baru pulang dari kantor? Atau ada yang masih lembur di kantor dan menyempatkan diri untuk mendengarkan siaran Inez sekarang? Hahaha. Oke, spesial buat yang masih lembur, Inez bakal putar satu lagu dari Iwan Fals berjudul “Antara Aku, Kau dan Bekas Pacarmu”. Selamat mendengarkan!”

Suara riang nan renyah Inez si penyiar tengah malam melenakanku. Entah berapa malam sudah kuhabiskan waktuku hanya untuk mendengar suaranya. Tidak seperti suara-suara penyiar perempuan lainnya yang biasanya ingin mencitrakan persona diri bahwa dengan suaranya yang berciri khas (serak-serak basah, cempreng atau agak berat) seperti mereka adalah perempuan dan penyiar yang dewasa, riang, intelek serta berwawasan luas. Suara Inez tidak seperti itu. Suaranya terdengar sangat normal dan tidak terdengar dibuat-buat. Sejujurnya, bahkan tidak ada ciri khas tertentu pada suaranya. Suaranya sama seperti suara gadis berumur 20-an pada umumnya. Dan dia hampir tidak pernah menyembunyikan emosinya seperti yang para penyiar lain lakukan. Jika dia senang, maka suaranya akan terdengar senang. Jika dia sedih, maka suaranya akan terdengar sedih. Namun dalam suaranya yang biasa saja itu, ada sesuatu yang dapat membuat para pendengar selalu merindukannya. Entah apa itu, Aku tidak bisa menjabarkannya dengan spesifik.

Menurutku, mendengarkan radio jauh lebih menarik ketimbang menonton televisi. Lebih intim. Karena saat si penyiar berbicara, seolah-olah dia sedang berbicara langsung pada kita. Dan sosok mereka yang tak terlihat membuat kita menerka-nerka dan berimajinasi seperti apakah si empunya suara ini. Malahan sejak mendengarkan suaranya secara tak sengaja di radio tiga bulan yang lalu, aku memutuskan untuk menjual televisi layar datarku.

Yah, aku tahu. Zaman sudah canggih. Kita bisa mengunjungi orang yang tidak kita kenal lewat Facebook, Twitter atau Instagram. Namun, Inez adalah gadis penyiar yang cerdas. Entah dia menyamarkan nama aslinya atau memang dia benar-benar tidak memiliki akun media sosial. Karena kita memang tidak akan pernah menemukannya di dunia maya. Aku rasa ini semacam siasat di dalam dunia bisnis penyiaran, tapi dengan cara yang tidak konvensional. Di saat hampir semua penyiar mempromosikan diri mereka lewat akun sosial agar para pendengar bisa melihat sosok mereka serta apa yang mereka lakukan, Inez justru menutup rapat-rapat loker privasinya. Tapi itu justru membuat para pendengar semakin penasaran dengannya. Mereka semua sibuk menebak-nebak tentang sosok dan kehidupan Inez. Hampir setiap saat dia siaran pasti akan selalu ada pendengar yang menanyakan dan berekspektasi tentang sosok Inez dan kehidupannya. Bahkan #TebakSiapaInez pernah menjadi trending topic. Pernah juga akhirnya segerombol anak muda nekat menyambangi stasiun radio tempat Inez siaran untuk melihat bagaimana rupa Inez. Tentu saja itu adalah hal yang sia-sia. Di samping banyaknya sekuriti yang menghadang, mereka tidak pernah tahu bagaimana rupa Inez  dan kembali hanya bisa menerka-nerka.

Teori-teori pun mulai bermunculan. Ada yang mengatakan bahwa Inez adalah kecerdasan buatan seperti dalam film Her. Ada juga yang bilang kalau Inez adalah hantu. Bahkan ada juga yang bilang kalau Inez ini semacam sebuah program yang membuat para pendengarnya terkena halusinasi yang disebabkan oleh gelombang radio. Apa pun teorinya, yang pasti sosok Inez ini berhasil membuat stasiun radio tempatnya siaran menjadi terkenal bahkan sampai ke luar negeri. Menurutku sendiri, teori-teori di atas bisa dipatahkan. Karena saat siaran, Inez selalu membalas pesan-pesan yang masuk secara spontan dan natural. Yah, kecuali memang ada sudah teknologi yang bisa membuat kecerdasan buatan seperti di film Her. Aku sendiri masih beranggapan bahwa Inez adalah gadis penyiar biasa yang ingin menjaga privasinya. Seperti aktor dan aktris Hollywood, contohnya. Banyak dari mereka yang tidak mempunyai akun media sosial. Bedanya, sosok mereka sangat dikenal. Sedangkan Inez tidak pernah menampakkan dirinya. Ada kemungkinan juga Inez ini adalah sosok yang sangat dikenal. Seperti aktris, misalnya. Jikalau benar begitu? Kenapa harus repot-repot menyembunyikan diri? Hmm, kemungkinan-kemungkinan ini malah membuatku pusing sendiri.

Aku sendiri tidak pernah tertarik menerka-nerka. Aku juga tidak tertarik untuk mengetahui sosoknya dan mengenalnya lebih dekat. Itu hal sama kala aku menyukai seseorang yang tak kukenal. Aku tidak mau menghancurkan imajinasiku yang sudah kubangun tentang orang yang kusuka dengan sosok dan kepribadian aslinya yang bisa saja jauh dari bayanganku. Terdengar egois memang. Tapi ya itulah aku. Mungkin juga karena aku seorang aseksual. Makanya, aku tidak begitu tertarik dengan bagaimana rupa si Inez. Jauh berbeda dengan beberapa kawanku yang juga suka dengan Inez. Mereka mati-matian mencari tahu bagaimana sosok Inez hanya untuk menjadikannya objek masturbasi. Ini sedikit mengingatkanku dengan fenomena hand-shake sebuah sister group yang namanya grupnya tidak penting untuk kesebutkan. Dengar-dengar, banyak dari mereka yang masturbasi setelah pulang bersalaman dengan salah satu anggota sister group tersebut. Sinting juga.

Lagu Iwan Fals kini berganti menjadi “24.00 Lewat” dari The Brandals. Inez memang punya kebiasaan memutar tiga lagu tanpa jeda iklan terlebih dahulu. Hentakan drum dan raungan gitar mulai terdengar bersamaan dengan ketukan pintu kamarku. Aku menoleh, pintu pun terbuka. Di sana Linaleni, adik perempuanku semata wayang menyembulkan wajahnya. Belum aku persilakan untuk masuk, Linaleni sudah mengempas tubuh mungilnya di atas ranjangku sebelum akhirnya bangkit dan menengok beberapa buku koleksiku. Aku melengos, lalu kembali melanjutkan mengetik artikel untuk sebuah portal daring.

“Kak,” bisik Linaleni. Kini dia merayap di belakang pundakku, ikut menatap layar laptop di depanku.

“Apa?” tanyaku sambil tetap mengetik.

“Kakak pernah jatuh cinta?”

“Jatuh cinta? Ya, enggak lah. Mana ada yang kayak gitu.”

“Masak sih?”

Aku tidak membalas pertanyaanya. Lagu “24.00 Lewat” dari The Brandals kini sudah berganti menjadi lagu “Maafkan” dari Slank. Aku terus mengetik selama beberapa saat. Kulihat Linaleni sudah menyandarkan tubuhnya di atas ranjangku sembari membaca salah satu seri Goosebumps berjudul Ramuan Ajaib. Bagaimana dia bisa bergerak secepat itu?

“Kamu enggak jadi nonton pementasan Perempuan-Perempuan Chairil?” tanyaku sembari menyulut rokok.

“Enggak,” sahut Linaleni pendek

“Kenapa enggak jadi? Pemainnya kan aktor favorit kamu. Siapa tuh namanya?”

Linaleni menyebutkan nama aktor yang aku maksud.

“Iya dia. Kenapa kamu enggak jadi? Bukannya kamu sudah menabung untuk itu?”

“Iya, tapi aku belum sempat baca puisi-puisinya Chairil Anwar.”

“Terus hubungannya apa?”

“Kakak jangan ngeledek dong. Cuma orang goblok yang datang ke sana sedangkan dia belum baca puisi-puisinya Chairil Anwar.”

Aku tersenyum. “Oh, ternyata kamu sudah mulai pintar.”

“Aku memang selalu pintar. Kak, ngomong-ngomong, kenapa kakak tidak bekerja di kantor kayak orang-orang saja sih biar dapat penghasilan yang tetap?”

“Kakak enggak suka kerja di kantor. Kakak enggak suka diperintah. Hidup hanya sekali. Buat apa menghabiskan waktu hidup hanya untuk disuruh-suruh orang? Apalagi untuk sesuatu yang enggak kamu suka.”

“Hmm..“

“Yah, kakak sih enggak terlalu keberatan disuruh-suruh selama kakak menyukai dan nyaman dengan pekerjaan itu. Tapi untuk sekarang, pekerjaan seperti ini yang membuat kakak senang dan nyaman.”

Linaleni mengangguk-angguk. Aku tidak tahu apa dia benar mengerti perkataanku atau tidak.

“Kakak bohong,” ujar Linaleni sebelum keluar dari kamarku.

“Bohong soal apa?”

“Kakak pernah jatuh cinta. Aku tahu itu.”

Linaleni menutup pintuku keras-keras. Aku berdecak, lalu kembali mengetik. Beberapa menit kemudian, aku mulai merasa lelah. Kubaringkan tubuhku di atas ranjang sembari memikirkan perkataan Linaleni tadi. Dasar anak sok tahu.

Sekilas aku melihat foto wisudaku bersama kedua orang tuaku dan Linaleni yang entah kenapa kutempelkan di pintu lemari baju. Selama beberapa saat aku memerhatikan foto itu sampai aku merasa muak dan memaksa diri untuk terlelap.

***

Inez menghilang.

Itu kabar pertama yang kudengar pagi ini dari Linaleni. Katanya jagat dunia maya ramai dengan pemberitaan Inez yang tiba-tiba memutuskan berhenti menjadi penyiar. Selama dua hari semua portal daring, Instagram, majalah remaja, koran pagi sampai berita di TV menayangkan berita tentang Inez. Berita hilangnya Inez yang begitu masif mengingatkanku pada kematian Puteri Diana. Kira-kira hampir sebegitu hebat dampaknya pada masyarakat.

Aku sendiri tidak tahu harus merespons seperti apa. Orang-orang datang dan pergi setiap harinya. Jadi kenapa aku harus ikut-ikutan heboh seperti orang-orang? Walau begitu, aku masih tetap setia mendengarkan radio tempat di mana Inez pernah siaran. Seperti siang ini, salah satu tembang Fariz RM berjudul “Nada Kasih” mengalun lembut dari pelantam radio di kamarku.

Sore ini awam hitam menggelayut muram di atas langit, seolah menjadi saksi kalau Mikail menurunkan hujan di tempat dan waktu yang benar. Aku yang tadinya berencana untuk pergi ke toko buku jadi batal dibuatnya. Sambil tetap memakai celana jins biru, Converse dan jaket tentara berwarna hijau muda, aku mondar-mandir di dalam kamar, tidak tahu mau melakukan apa. Sambil menyesap kopi hitam, aku memikirkan tentang Inez. Kira-kira apa yang dia lakukan sekarang? Apa yang dia rasakan? Tahukah dia akan pemberitaan tentang dirinya yang bahkan lebih heboh dibanding kasus korupsi E-KTP?

Aku membuka jendela kamar, membiarkan bau tanah basah tercium, lalu menyulut sebatang rokok. “Nada Kasih” kini berganti menjadi “Renungan”, lagu Fariz RM lainnya di mana dia berduet dengan Syaharani. Sepertinya stasiun radio bekas tempat Inez siaran ini sedang khusus memutarkan lagu-lagu Fariz RM. Karena memang yang kudengar beliau akan melakukan konser bersama para musisi dan penyanyi-penyanyi muda Indonesia seperti Danilla Riyadi dan Vira Talisa. Mungkin stasiun radio ini menjadi salah satu sponsor konser itu.

Aku mengambil buku Dance Dance Dance karya Murakami terbitan Vintage, membolak-balik halamannya, membaca beberapa dialog antara si narator dan Yuki, lalu menutupnya kembali. Aku menghela napas. Bosan. Bingung mau melakukan apa, sementara hujan masih turun cukup deras. Ada merasakan ada kecemasan merambat memasuki diriku lewat lubang telinga, lalu mengacak-ngacak pikiranku. Namun aku juga merasa adanya kegamangan yang dahsyat melanda perasaanku, sementara kemurungan yang suram menghajarku di sudut lain alam bawah sadarku.

Karena tidak tahu apa yang mesti kulakukan, iseng aku berjalan menuju kamar Linaleni. Aku melewati kamar ibuku yang tertutup dan terkunci rapat. Lamat-lamat aku bisa mendengar suara-suara dari televisi. Sejak kematian Linaleni tiga bulan yang lalu karena kecelakaan pesawat, ibuku memang lebih suka mengunci dirinya di kamar, dan keluar kamar hanya untuk makan dan mandi.

Kubuka pintu kamar Linaleni perlahan-lahan, kemudian berdiri di depan kamarnya dengan tatapan nelangsa. Semerbak aroma parfum menyergap indera penciumanku. Parfum perempuan yang terkadang ikut berputar-berputar di kamarku karena seringnya Linaleni bertamasya ke kamarku. Bahkan setelah dia meninggal pun, dia masih tetap sering berkunjung ke kamarku dan membawa wangi parfumnya seperti kemarin malam dan tadi pagi. Jika sudah begitu, biasanya kami membunuh dengan berbincang ringan mengenai segala hal. Tapi ada kalanya juga dia datang hanya untuk meminjam buku, lalu membacanya tanpa berkata apa-apa sebelum akhirnya menghilang kembali.

Aku menyisir koleksi buku-buku horor dan fantasinya dengan ujung jari. Meniup debu yang mulai menghiasi sampul-sampul buku berplastiknya. Kulihat juga foto-fotonya yang menghiasi kaca meja riasnya. Kebanyakan berupa foto-foto dengan teman-teman kuliah dan klub bisbolnya. Tapi ada juga dua tiga fotonya saat bersama Ibu, Ayah dan aku. Setelah beberapa saat termenung di dalam kamarnya, aku mengambil tongkat bisbol milik Linaleni yang terbuat dari logam itu, lalu membawanya keluar kamar. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku membawa tongkat itu. Aku hanya merasa kalau aku harus mengambilnya dan menggunakannya di suatu tempat.

Hujan sudah mulai berhenti, aku pun melenggang pergi.

***

Aku hantamkan tongkat bisbol itu ke arah pelipisnya hingga dia terjerembab ke aspal. Belum sempat temannya bereaksi lebih jauh, aku sudah menghajar tempurung kepalanya beberapa kali hingga menimbulkan musik manis yang terdengar bak permainan drum Buddy Rich di telingaku. Ketika mereka berdua sudah terkapar, kulayangkan tongkat itu secara bergantian ke arah perut dan dadanya. Sekarang aku mengerti kenapa ibu-ibu itu suka sekali menggebuk kasur berdebu. Ternyata itu pekerjaan yang asyik. Mirip-mirip  dengan yang kulakukan sekarang.

Aku menghentikan pukulanku saat kedua sampah masyarakat ini sudah tidak bersuara lagi. Dengan napas terengah-engah dan berlumur darah, aku melangkah gontai meninggalkan tubuh amis mereka. Polisi tidak akan mau repot-repot mengurusi pembunuhan dua cecunguk preman jalanan yang kerjanya hanya memalak orang di jalanan dan angkutan umum seperti mereka. Malah mungkin polisi akan berterima kasih padaku.

Sesampainya di rumah. Aku mandi, memasak mi instan kuah dan kopi hitam, melahapnya hingga tandas, menyesap kopinya, lalu menyulut rokok. “Ironi” dari Lydia & Imaniar mengalun lembut dari radio. Sambil mengembuskan asap rokok, aku menatap sendu tongkat bisbol Linaleni di sudut kamar yang masih dilumuri sedikit bercak darah.

Bak Muhammad yang mendapat wahyu pertama dari Jibril di Gua Hira, mendadak diriku tercerahkan akan suatu pemikiran.

Inez. Ya, aku harus mencarimu. Aku harus mencari tahu semua tentangmu.

Sebelum senja datang esok, aku harus menemukan dirimu. ♦

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts