Dunia sepak bola tengah merasakan euforia dari keberhasilan Leicester City menjadi kampiun Liga Primer Inggris, kasta tertinggi sepak bola di Britania Raya. Begitu wasit Mark Clattenburg meniup peluit panjang, tanda berakhirnya pertandingan Chelsea melawan Tottenham Hotspur, Senin 2 Mei 2015, pemain, manajer, dan fans Leicester City begitu gembira. Hasil imbang 2-2 di markas Chelsea, Stamford Bridge, tersebut memastikan The Foxes menjuarai Liga Primer Inggris musim 2015/16. Hal ini menjadi tonggak sejarah bagi Leicester, yang merupakan klub semenjana, memboyong trofi ke markas mereka, King Power Stadium. Diwartakan, perjalanan Leicester musim ini merupakan kisah termanis dalam jagat sepak bola eropa modern.

Saya meyakini seluruh penggemar sepak bola – baik yang karbitan hingga ultras – bergembira dengan pencapaian Leicester City. Cerita tim medioker yang meraih gelar juara memang menggembirakan pun mengharukan. Musim lalu, tim ini sempat berjuang di zona degradasi dan terengap hanya untuk bertahan di papan klasemen Liga Primer Inggris. Mereka dengan materi seadanya, mampu tampil luar biasa.

Leicester, dengan team spirit, dedikasi, self-belief, dan visi bermain aduhai mampu menggebrak kemapanan Liga Primer Inggris. Sejumlah tim besar di Inggris berhasil dikalahkan oleh Leicester City. Chelsea, Liverpool, hingga Manchester City merasakan kengerian saat bersua dengan tim asuhan Claudio Ranieri. Leicester, dengan semangat juang dan determinasi serta efektivitas permainan yang ciamik, menjawab semua keraguan dan spekulasi untuk merengkuh gelar juara.

Kisah mengharukan Leicester City mengingatkan saya pada perjuangan Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Meskipun terdapat perbedaan konteks dalam memandang kedua dunia yang berbeda ini, namun saya melihat ada persamaan perjuangan Palestina dalam meraih kemerdekaan yang hakiki dan itu tergambarkan oleh perjalanan Leicester City musim ini. Leicester, sebagai tim kecil dengan sumber daya terbatas mampu menghantam hegemoni tim mapan di Inggris. Leicester City, yang diawal musim tidak diperhitungkan, yang musim lalu terseok-seok diperingkat bawah klasemen Liga Primer Inggris, menunjukkan perlawanannya dan membuktikan ke semua orang bahwa hasil akhir tidak pernah berkhianat pada usaha keras.

Palestina, meskipun telah dakui oleh 193 negara dan mendapat pengakuan dari PBB, namun masih berkutat dengan konflik, yang bersumber pada tanah dan kekuasaan. Konflik ini dapat ditelusuri jauh sebelum kedatangan bangsa Inggris datang ke Timur tengah, hingga konflik ini mencuat setelah masa Perang Dunia ke-2. Konflik antara Israel dan Bangsa Arab – yang didalamnya termasuk Palestina – dimulai ketika Israel berpikir untuk memiliki negara sendiri. Wilayah yang menjadi rujukan adalah tanah leluhur mereka yang pada saat itu merupakan tanah jajahan Inggris. Sentimen historis membuat mereka merasa berhak memilikinya. Tapi tanah Palestina juga merupakan tempat suci bagi agama-agama Samawi yang lain: Kristen dan Islam. Setelah tahun 1948 Israel berhasil memproklamirkan diri sebagai negara berdaulat, kemudian muncul konflik-konflik yang terjadi hingga saat ini. Terlepas dari konflik yang bernuansa agama maupun politik, kita semua sepakat bahwa konflik ini menciderai kemanusiaan dan membawa keprihatinan masyarakat dunia.

Seharusnya, pengakuan PBB terhadap status non-anggota Palestina dapat menjadi momentum untuk berdirinya negara Palestina yang berdaulat dengan sebenarnya. Dengan diakuinya Palestina, ia dapat menjalin kerjasama dengan negara lain dalam skema bilateral maupun multilateral. Dengan diakuinya Palestina, maka ia berhak atas wilayah teritori beserta sumber daya alam yang terdapat didalamnya. Namun kenyataan berbicara lain. Palestina belum bisa hidup nyaman di tanahnya sendiri. Palestina masih harus berjuang melawan tirani.

Seluruh gravitasi perhatian dunia terpusat pada masalah Palestina. Di Indonesia tiap kali agresi Israel yang brutal dan biadab terhadap warga Palestina berlangsung, selalu menyulut sikap penentangan di berbagai ruang publik. Palestina lalu mengejawantah menjadi sebuah representasi dari sebuah ketertindasan dan kekuatan perlawanan.

Hampir tak ada negara di dunia ini yang namanya begitu menghujam deras dan terpatri dalam benak dan memori melebihi Palestina. Masyarakat dewasa menjadi begitu membanggakan bendera Palestina sebagai simbol perlawanan. Poster-poster bendera Palestina sangat populer. Warna hitam-putih-hijau dengan segitiga berwarna merah di sisi kiri, yang merupakan bendera Palestina menjadi stiker-stiker motor, sablon baju, pernak-pernik dan aksesori segala varian. Foto anak-anak kecil melempar batu, menembak ketapel, wanita memakai burqa hitam dan pemuda Arab memegang panji-panji tauhid memenuhi dinding kamar pemuda-pemuda hingga menjadi viral di sosial media.

Perjuangan bangsa Palestina dapat dimaknai sebagai bentuk perlawanan atas hegemoni Israel beserta sekutunya. Kondisi konflik yang timpang, meminjam istilah yang dipopulerkan Andrew J. R. Mack sebagai asymmetric warfare.[1] Hubungan yang terjadi antara Israel dan Palestina, merupakan suatu bentuk ketidakharmonisan dalam hubungan internasional. Konflik yang terjadi di antara mereka selama ini, sudah menjadi kenyataan pahit yang harus disaksikan, dan dialami oleh seluruh masyarakat yang menghuni wilayah Palestina. Berbagai perjanjian dan negosiasi telah dihasilkan, namun tetap saja Palestina menanggung beban dari ketidakberdayaan terhadap agresivitas Israel.

Palestina adalah negara kecil (periphery state) dengan semangat juang yang tinggi. Seperti yang kita ketahui bersama, masyarakat Palestina tidak kenal lelah memperjuangkan haknya, meskipun tank dan dentuman bom harus dihadapi. Palestina adalah ketukan irama perjuangan, detak kesungguhan masyarakat tertindas, deskripsi kultural bangsa yang menjaga kehormatan dan kemuliaannya dengan penuh persistensi dan resistensi dari sebuah tirani.Meskipun Palestina terkungkung oleh cengkraman Israel, ada semangat untuk terus melanjutkan perjuangan hingga titik nadir, dan ini mendapat dukungan dari masyarakat internasional, termasuk Indonesia.

Saya melihat pada sisi perjuangan inilah Leicester City dapat disandingkan dengan Palestina. Dengan melihat sepak terjang Leicester City dan kegigihan Palestina dalam mempertahankan haknya. Baik Leicester City maupun Palestina sama-sama menjadi simbol perlawanan. Palestina dengan power lemah menyuguhkan cerita mengharukan dengan kegigihannya, dan tentunya kita semua berharap, bahwa suatu saat nanti Palestina akan membawa kegembiran seperti yang telah ditorehkan oleh Leicester City.

Seandainya Palestina adalah Leicester City, tidak ada lagi kengerian yang terus membayangi warga Palestina. Seandaianya Palestina adalah Leicester City, tentunya saat ini kita akan merasakan kegembiraan dan euforia yang sama seperti yang tengah dirasakan oleh fans Leicester City maupun yang lainnya. Keduanya merupakan entitas yang berbeda, namun memiliki sepak terjang yang sama. Keduanya mengajarkan kita, bahwa perjuangan membutuhkan tekad, usaha keras, meski harus dengan darah dan air mata.

Tangan kami terkepal jatuh ke awan

Jiwa kami telah berada di medan perang

Darah kami siap tercurah demi nama perlawanan

Lawan… lawan… lawan…

Kepada segala bentuk penindasan

Kalian akan kalah bersama keputusasaan

Dan kami akan menang dengan keyakinan

[1] secara umum asymmetric warfare dapat diartikan sebagai perang/konflik non-militer. Konsep ini menekankan sebagai keadaan dimana ada ketidakberimbangan kekuatan antara aktor-aktor yang berkonflik.

About the author

Lulusan Hubungan Internasional. Pernah menjadi Abang Buku DKI Jakarta. Penikmat kopi, sastra, sepak bola, dan belakangan suka fotografi.
“Verba volant scripta manent” – Caius Titus

Related Posts