Oleh: Annda Lee*

Linda merapikan rambut yang mencuat dari balik baret beludru hitamnya. Lalu ia bercermin pada jendela kaca kereta api yang melaju cepat. Rumah, tiang, awan, langit dan pepohonan seolah berlari ke belakang, mereka tersapu begitu cepat dalam pandangan mata.

Kardigan Kashmirnya terkancing hingga ke pangkal leher. Di leher yang sering dipuji akan kejenjangannya itu, melingkar liontin perak tipis berbandul hati berukir halus. Tas kesayangan tiruan merek desainer terkenal menggantung di bahunya yang kurus, memberati bahu malang itu sehingga ia terkesan sedikit bungkuk sebelah.

Tas itu terguncang-guncang ketika ia mengaduk, mencari lipgloss bening bermerek yang menghabiskan hampir setengah tabungannya. Kemudian ia mengoleskan lipgloss itu ke bibirnya yang bisa dibilang kurang proporsional. Bibir itu mengerut bak ditarik benang hitam, membelah kasar menampakkan secelah gigi depannya. Seolah tampak seperti senyuman yang terpaksa karena kedua sisinya tidak berimbang.

Mata kanannya mengedip tidak senang setiap ia mendapati kekurangan bibir itu. Kecewa dan rendah diri berkelebat bagai bayang kucing liar yang berlari di atas atap. Namun, ia berhasil menghadapi rasa pedih itu setelah berlatih bertahun-tahun.

Linda menepuk pelan pipinya. Ia membusungkan dada, mengangkat dagu, memandang pada bayangannya sendiri, lalu mengangkat alis tebalnya yang berbentuk indah. Kemudian ia berkata, “Aku adalah gadis yang cantik, bergaya dan pintar!”

Begitu pintu kereta api terbuka secara otomatis, ia melangkah keluar. Sepatu buts kulit hitamnya menapak dengan pasti di lorong subway. Rok chiffon pendek bermotif bunga bergoyang riang mengikuti gerakan dinamis tuannya.

Di anak tangga paling atas, seorang bocah loper koran menawarkan koran yang telah berumur setengah hari. Kesibukan mulai nyata, orang-orang berlalu lalang dengan tas-tas belanjaan mereka. Kios-kios kecil yang apik berderet mengundang hati siapa saja untuk mampir, meski mereka tidak membeli dan tidak membutuhkannya.

Tulisan “sale” dengan huruf besar di kaca display. Sekumpulan patung botak berpakaian model terbaru duduk termenung menatap pengunjung berlalu lalang. Dengan lincah, Linda menikung memasuki toko besar dengan lampu-lampu yang menyala menyilaukan menyoroti kemegahan isi toko. Keranjang-keranjang besi, juga gunungan kain yang di tiang besi tipisnya tergantung potongan harga dalam persen yang besar, membuatnya menahan napas.

Belum ada kumpulan yang berarti di keranjang-keranjang ajaib itu. Linda maju, kedua jemarinya bertaut. Ia bisa merasakan sebulir keringat mengalir dari rahang hingga ke lehernya meski pendingin udara di dalam toko itu bisa membekukan ikan.

Perlu waktu setengah jam baginya untuk hinggap dari keranjang satu ke keranjang lainnya. Ia memicing, bagai pemburu mencermati calon mangsanya. Ia lalu berhenti pada keranjang dengan motif animal print terselip di antara tumpukan yang menggunung itu. Sontak tangannya meraih mangsa ke satunya itu. Cahaya menimpa cincin berbatu yang melingkari jari tengahnya, memantulkan bias-bias berjuta warna.

Dengan rakus Linda mencomot baju-baju itu. Ia singgah di semua keranjang, mengobrak- abrik, membelek-belek jahitannya dengan seksama, memastikan ukurannya, lalu tergesa-gesa ke ruang ganti.

Pada cermin bening yang menempel di segala sisi, Linda mematut dirinya. Ia berputar, merapatkan kedua tangan di sisi tubuhnya, lalu memandang kaca dengan pandangan selidik. Teliti memastikan letak jatuh si pakaian di tubuh mungil itu sampai akhirnya ia menemukan pakaian-pakaian yang sesuai dengan kehendak hati dan kemampuan kantongnya.

Di dalam genggaman tangan kanannya, beberapa potong pakaian yang ia yakini itu teremas erat, sedangkan tangan kirinya mengempit bundelan baju yang ia jatuhkan ke dalam keranjang baju-tidak-jadi-dibeli.

Sekali lagi ia berputar, memastikan bahwa ia tidak melewatkan hal indah dari keranjang-keranjang ajaib itu. Mata elangnya mengawasi, mendelik jika ada sesuatu yang menarik. Setelah merasa puas, ia beranjak ke arah kasir.

“Tunai?” sang kasir bertanya tanpa memandang wajahnya, sibuk melipat pakaian dan mengecek label harga.

“Kartu kredit hanya untuk para pengutang,” ia menjawab lebih dari apa yang seharusnya, terkikik sendiri.

Yang sesungguhnya terjadi adalah, benda tipis berkilat yang dipujanya itu telah tamat riwayatnya beberapa bulan lalu. Ayahnya memblokir dan memotong kartu malang itu hingga berkeping-keping seperti puzzle yang tidak mungkin bisa menemukan pasangannya lagi. Kotak surat mereka dibanjiri tagihan sampai-sampai kotak kayu lapuk itu patah dan terguling.

Kasir memasukkan semua baju itu ke dalam kantong plastik biasa — bukan kantong bahan kertas elegan seperti yang diharapkannya, tanpa mau repot memandang pelanggannya serta mengucapkan terima kasih sambil lalu.

Sambil mendengus, Linda berlalu kesal. Ia merasa kasir itu menganggapnya miskin atau sejenis orang-orang yang hanya memburu barang diskonan di toko mahagemerlap ini.

Kantong plastik berkeresek menggesek rok chiffon-nya. Kantong itu nyaris terjatuh ketika ia melamun di eskalator menuju lantai atas untuk melengkapi daftar belanjanya hari itu.

Lagi-lagi ia dijamu dengan karton-karton besar kortingan harga yang tergantung di langit-langit, tebal, mengundang dan menantang. Para gadis SPG berbedak dan berlipstik tebal merayunya untuk singgah, mengulurkan sampel parfum dan selebaran brosur penawaran kosmetik terbaru. Wajah mareka begitu palsu, tebal, bertepung, mengingatkan Linda akan adonan kue.

Aroma parfum di sebelah konter skin care mahal dari luar negeri menusuk lubang hidung kecilnya, wangi keras-manis memabukkan itu menggelitiknya.

Sang gadis SPG, pertengahan dua puluhan nan manis, membagi-bagikan potongan-potongan kertas yang basah oleh parfum, mengibasinya dengan cepat. Wanita paruh baya bersetelan tweed kaku — dengan mutiara besar berlapis di leher — berhenti dan mencium kertas itu. Ia mengernyit terkejut. Gadis SPG terkesiap, ada sesuatu dalam pikirannya, tetapi lidahnya kelu.

“Kau perlu bantuan, cantik?” sang gadis SPG mengalihkan perhatiannya dari si wanita paruh baya ke Linda, dan secara tidak sengaja menatap bibir Linda.

Untuk sesaat detak jantung Linda terasa berhenti. Ia tahu apa yang dipikirkan gadis ini. Bibir ini. Bibir yang membuat orang-orang kesal karena harus berada di wajah yang cukup indah seperti wajahnya.

“Hanya melihat-lihat,” sahutnya berkilah.

“Kami sedang diskon, kau beruntung sekali,” gadis SPG yang laksana boneka porselen ini mengedipkan sebelah matanya yang dibingkai bulu mata palsu tebal.

“Kulitmu cukup terawat, ya. Coba ke sini.” SPG itu menyambar tangan Linda, mengamati kulit wajah Linda, lalu membuang muka ketika melihat bibir sialan itu lagi.

“Lihat ini,” gadis SPG memulai rayuannya. “Keluaran terbaru, perawatan mutakhir. Kerutan, pori-pori berkawah, kulit kendur, bisa dilenyapkan! Hanya dalam waktu tiga minggu!” ia memencet keluar cairan kental padat dari tube besar yang bergumpal di punggung tangannya.

Si gadis SPG menarik cermin oval dengan lampu menempel mengelilingi piguranya. Wajah pucat milik Linda terkungkung di sana. Bedaknya memudar dan menampilkan kondisi kulit kering bagai permukaan bulan, penuh pori-pori lebar menganga. Lipstiknya memudar meninggalkan bekas gelap seperti noda darah beku. Riasan yang dipulasnya dengan tekun siang tadi hilang secara misterius entah ke mana.

“Ini dia. Kulit aslimu cukup bagus,” si SPG berkacak pinggang dengan tangannya yang bebas. “Tapi apakah sabun wajahmu sudah tepat? Pelembabmu?” Ia meringis, mencabut tisu dan mengelap pipi kanannya, berdecak ragu.

“Rasanya sudah,” bisik sang pelanggan tidak yakin pada jawabannya sendiri.

“Kau harus membersihkan lehermu juga, di bawah dagumu. Oh, Tuhan! Jangan sampai orang tahu usia kita! Kau perlu perawatan tepat, penyamaran, koreksi make-up yang solid! Hii! Demi Tuhan, kita belum empat puluh tahun! Kau belum empat puluh tahun, bukan? Atau berumur di awal tiga puluhan, mungkin? Kenapa kulitmu bisa begini? Kering. Kita harus menutupi kekurangan wajah kita. Kau harus membersihkan wajahmu setiap waktu,” ia mencerocos tanpa henti, tak sadar bahwa ia cukup lancang menyakiti hati pelanggan. Dengan lagak bak artis teater, ia memulaskan krim itu ke pipi dan leher Linda, menggosoknya cepat.

Rahang Linda mengeras. Matanya mengerjap mengusir rasa panas di mata. Tidak! Ia memang terlihat kusam dan lelah, tapi bukan berarti umurnya setua itu. Dan lagi pula, ia cukup mahir dalam bersolek meskipun ia akui ia terlalu malas membersihkan wajahnya setiap waktu hingga kulit wajah malang itu menjadi kusam.

“Beginilah kalau kita sering menggunakan kosmetik, cantik. Harus rajin mencuci muka. Aku menggunakan kosmetik dari umur dua puluh tahun. Agak terlambat, memang. Kau?” ia tidak menyadari pelanggannya yang mulai menegang oleh emosi.

“Sejak aku berumur tiga belas tahun,” jawab Linda tercekat.

“Dari umur tiga belas tahun? Tapi kenapa riasanmu masih payah begini! Gadis dewasa sepertimu seharusnya lebih telaten, ya. Kau tahu, gadis-gadis remaja sekarang sudah berlagak seperti wanita dewasa! Mereka memakai riasan tebal dan berpakaian minim! Aduh. Apa, sih, yang dilakukan orang tua mareka?”

Dua pasang bulu mata lentik menutup rapat kedua mata Linda. Ia menghirup napas dalam-dalam tetapi ketegangannya semakin bertambah. Di benaknya ada putaran ulang dirinya jatuh cinta pada make-up a la gadis chic Paris yang ia coba tiru dari majalah kakaknya, yang malah berakhir ke mata yang lebam bagai ditinju. Dalam bulan-bulan penuh percobaan, akhirnya ia cukup mahir dan terampil dalam hampir segala jenis riasan. Akan tetapi hari ini, semua usaha dan perjuangannya tiba-tiba jatuh hancur tak berguna. Tak diakui secara profesional oleh gadis SPG bermuka tepung.

“Juga bibir ini! Aduh, kau harus memakai pensil bibir. Aduh, bagaimana mengatasi bibir ini!” kata-kata sang SPG mengalir lancar bagai pisau yang menghunjam ke jantung Linda.

Bibir. Permasalahan bibir ini akhirnya disinggung. Cepat atau lambat ia tahu ini akan terjadi. Tidak seorang pun bisa mengabaikan bibir ini.

Sang SPG yang sedari kecil memang mempunyai kepekaan yang rendah, akhirnya menyadari pelanggannya yang membatu. Tangannya terhenti dan ia sendiri terdiam kikuk. Bola matanya melirik ke atas, mencari jawaban yang bisa mengatasi situasi canggung ini. Linda tertegun, tubuhnya menjadi kaku dan serba salah. Ujung jemarinya bergetar.

“Oh, maafkan aku. Oh, Tuhan. Berapa umurmu, sayang? Bibir ini, errr, tidak ada yang salah dengan bibir ini,” intonasinya berubah menjadi lunak, menandakan ia tulus.

“Delapan belas. Ya, tidak ada yang salah dengan bibirku.” Linda menarik wajahnya dari depan cermin.

Tangannya menarik lembar-lembar tisu yang dijejalkan sembarangan di pipi dan lehernya yang lengket. Linda menyapu sisa krim itu dengan sia-sia, kemudian berdiri dengan limbung menarik tas belanjaannya dari lantai. Dalam ketergesaan, setengah berlari menghambur dari konter. Si SPG melambai-lambai padanya, berteriak memohon maaf.

Orang-orang berhenti dari aktifitas mareka lalu bergantian menoleh. Para gadis SPG dari konter lain mendatangi si SPG bermulut lancang yang lemas bertumpu pada meja. Ribut bertanya satu sama lain.

Bulir air mata Linda jatuh di saat ia berlari. Tas tiruan desainer beserta plastik belanjaan terayun-ayun kasar. Topi baret meluncur jatuh ke bahu, ia menariknya dan memasukkan topi itu ke dalam plastik.

Bagai anak anjing bingung, ia berlari ke sana-kemari di bawah tatapan mata pelanggan toko, mencari tempat yang cukup sepi baginya untuk menenangkan diri. Air mata hangat itu masuk ke mulutnya melalui celah bibir kanannya yang cacat. Di sudut pertokoan, ia berhenti terengah-engah. Segelintir orang yang kebetulan berpapasan mencebiknya.

Sembari memegang dadanya yang berdebar sakit, ia berjalan gontai menuju toilet. Gadis-gadis berhenti bergosip begitu ia menguak masuk.

Tentu mereka memperhatikan penampilanku yang berantakan! Mereka pasti memperhatikan bibir ini! Bibir cacat ini! Cacat! Aku tahu kata itu berada di dalam mulut-mulut mereka! Ia membatin pilu.

Ia berjalan merapat ke dinding, berharap itu akan membantunya tegar dari roboh ke bumi. Jemarinya meraba-raba, ia menemukan pintu darurat dan masuk. Hanya di sebalik pintu, dunia berputar terbalik. Ia terduduk lemas di anak tangga. Neon box bertuliskan emergency berkelip-kelip.

Ketenangan menyambutnya, membuatnya merasakan perasaan familiar. Membuatnya jauh dari pandangan dan penilaian orang terhadapnya. Jauh dari perkataan cacat yang ia baca dari mata-mata mereka. Jauh dari prasangka orang-orang terhadap gaya hidup dan gaya berpakaiannya.

Tanpa sadar, tangannya meraba pada wajah dan bibirnya. Ia meringis perih.

Ia mengusap lembut wajahnya dengan tisu basah bercerminkan kaca kecil pada kemasan bedak padatnya. Wajah muda itu murung, jejak air matanya menyatu dengan tisu yang melekit. Sisa-sisa krim membuat belang kulitnya. Semua sudah terjadi, pikirnya. Ia menarik napas panjang dan hatinya sedikit ringan.

Termenung ia mengingat-ingat untuk kesekian kalinya, bagaimana orang- orang beranggapan ia tua dan cacat. Sumbing. Ia benci kata itu, menghindarinya. Sumbing yang membuat proporsi wajah tidak karuan.

Kata tua karena ia memakai make-up, juga berdandan melebihi umur layaknya orang dewasa. Semenjak ia mulai puber, make-up adalah sehabatnya, setia melindungi dari kesalahan-kesalahan kecil yang muncul pada wajah pubernya seperti jerawat dan keluhan remaja lainnya.

Ia mencari identitas di dalam kekurangannya, pengakuannya. Menuntut untuk dianggap dan diperhitungkan di tengah masyararakat walau dengan kecacatan. Meskipun di dalam proses itu ia juga sering meniru, mencoba menjadi sosok lain, mencoba mengabaikan kekurangannya. Namun di luar sana dunia begitu gila. Mereka mempunyai standar dan tuntuntan tersendiri yang gagal ia penuhi. Dunia tidak mau bersopan santun. Dunia menilai dengan langsung: tanpa filter kata dan tikaman langsung ke jantung. Seumur hidupnya ia berlindung dalam samaran dan penyangkalan, menepis hujatan dan cibiran di balik tameng kosmetik. Tetapi, itu semua tidak akan pernah cukup.

Lenguhan lirihnya menggema, anak-anak tangga memantulkan kesunyian. Ia melirik pada cermin kecil di pangkuan yang menampilkan wajah polosnya. Noda-noda samar dan jerawat kecil bersemburat merah mulai terlihat. Seraya bertopang dagu, ia menepuk-nepuk plastik yang tersandar di kakinya. Linda bertanya dalam hati. Untuk apakah dia membeli baju-baju itu? Ia tidak pernah kekurangan pakaian, juga tidak membutuhkan yang baru. Kini ia justru merasa tersakiti akibat “sahabat” yang telah menyamarkan segala kekurangannya selama ini.

Kini hati gadis rapuh itu kosong. Hasratnya akan riasan dan kosmetik mulai mati. Benda-benda itu tidak lagi menghiburnya, tidak lagi menyelubunginya, tidak lagi menamengi kecacatannya.

Pertama kali kehampaan menghantamnya dalam pusaran perut badai kemuakan. Bulir air mata kembali jatuh, deras dan pahit.

Di luar, dunia mulai menggelap, merayap melewatinya. ♦

* Pengikut seni lukisan, mural, grafiti, film, teater dan pertunjukan tari. Tulisan-tulisannya dapat dibaca di sini.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts