Salam.

Dewan redaksi zine sosbudpol narazine dengan ini ingin menyampaikan permintaan maaf untuk satu tulisan yang terbit di SPÄTKAPITALISMUS edisi ke-4 (April 2016).

Jenis tulisan: Cerpen

Judul: Mardiah di Tepi Jalan

Penulis: Anas Abi Hamzah

Ada banyak kata dan plot yang dicuri penulis dari puisi Sapardi Joko Damono yang berjudul “Dongeng Marsinah” (1996-1998). Plagiasi yang dilakukan ada beberapa macam. Pertama, kalimat yang dicuri secara utuh:

  1. “Di hari baik bulan baik”

  2. “Dalam perhelatan itu kepalanya ditetak, selangkangnya diacak-acak, dan tubuhnya dibirulebamkan”

Kedua, frasa yang dicuri secara tidak utuh:

  1. Sapardi: “Marsinah buruh pabrik arloji, mengurus presisi”

  2. Penulis: “Bagai arloji yang selalu presisi”

Dari segi plot, Anas Abi Hamzah juga meniru apa yang terjadi dengan Marsinah di puisi Sapardi. Mardiah (tokoh utama di cerpen penulis) juga bekerja di pabrik arloji, dan nasibnya berakhir tragis. Kedua tokoh mati di tangan banyak lelaki.

Plagiasi adalah koreng yang sulit untuk dibasmi. Plagiasi mencederai dunia tulis menulis dan merupakan perbuatan tidak bertanggungjawab dari seseorang, ketika ia dengan seenaknya mencuri gagasan dan buah pikir orang lain. Narazine pernah membahas budaya plagiasi, yang terbit di narazine #1. Di edisi tersebut salah satu penulis kami, Fajar Martha mengkritik tulisan seseorang yang menyalin-rekat dua tulisan ke dalam tulisannya.

Atas penemuan fakta ini, kami merasa luar biasa kecolongan dan meminta maaf sebesar-besarnya kepada para pembaca kami. Tidak bermaksud berkilah, tapi plagiasi ini bisa ditayangkan karena:

  1. Tidak ada di antara kami yang menggemari puisi-puisi Sapardi, meskipun status besarnya sebagai tokoh sastra besar Indonesia.
  2. Latar belakang pendidikan kami membuat kami lebih mawas dengan tulisan-tulisan nonfiksi bertema sosial-budaya-politik.

Menimbang hal-hal di atas, maka Redaksi narazine dengan lapang dada memutuskan:

  1. Meminta maaf sebesar-besarnya kepada yang terhormat Bapak Sapardi Joko Damono, pihak yang paling dirugikan, atas kelalaian dan kelancangan ini.
  2. Meminta maaf sebesar-besarnya kepada khalayak literasi Indonesia.
  3. Menghapus file digital SPÄTKAPITALISMUS #4.

Zine yang kami cetak tidak kami jual, kami sebar gratis, sehingga kami tidak mendapat keuntungan komersial seperak pun dari zine yang kami distribusikan. Tapi tetap saja, plagiasi ini adalah coreng bagi kami sebagai kolektif literasi, sehingga membuat kami harus lebih mawas di waktu yang akan datang. Secara etika pun peristiwa ini tidak bisa dianggap sepele, sehingga kami merasa perlu menyiarkan permintaan maaf ini ke publik.

Demikian rilis pers ini kami sampaikan. Semoga dapat menjadi pembelajaran bagi kami.

Jakarta, 30 September 2017

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts