Sabtu, 27 Februari 2016

Ini gila. Sepanjang Reformasi, mungkin ini pertama kalinya acara yang mengkaji pemikiran dan gerakan kiri secara besar-besaran. Pula dihelat di tempat yang ramai dikunjungi publik, yakni Taman Ismail Marzuki. Benar-benar gila, sekaligus berani. Karena nyatanya meski Orba telah runtuh, tidak demikian dengan mentalitasnya.

Tahun lalu kita saksikan bagaimana beberapa rencana nonton bareng film “Senyap” terpaksa gagal terlaksana karena ego beberapa pihak yang dengan tololnya menganggap acara tersebut sebagai ancaman kedaulatan bangsa (kedaulatan, my ass!). Benar saja, sehari sebelum pembukaan, beredar di internet satu foto yang memperlihatkan gerombolan fundamentalis kanan yang menyatakan acara ini sebagai ancaman dan wajib dibatalkan.

Hari-H, ancaman tadi tak sekadar menjadi ancaman. TIM riuh oleh gerombolan yang menolak acara ini dan pihak panitia diberitahu bahwa acara ini tak mendapat izin kepolisian. Well, saya tak habis pikir bagaimana acara diskusi bisa menggoyang status quo. Sejatinya, jika para pendemo membaca rangkaian acara, yang tercantum adalah diskusi-diskusi serius. Jangan bandingkan dengan deklarasi dukungan terhadap ISIS yang terselenggara di kampus Islam beberapa bulan lalu. Padahal yang kedua jelas-jelas mengancam integritas bangsa.

Sayang, saat riuh-riuhnya saya belum bisa melaju ke TIM. Ketika mendapati informasi bahwa acara ini dipindahkan ke LBH (Lembaga Bantuan Hukum), tanpa berpikir panjang saya pun bergegas ke sana.

Di sana, suasana ramai terkendali. Meski dihantam dan digagalkan oleh pemikiran kolot, panitia tetap semangat menyiapkan LBH sebagai venue acara. Pukul 20.00 lewat sedikit, akhirnya acara dimulai. Di dalam nampak banyak wajah sepuh. Dalam hati saya yakin bahwa mereka adalah penyintas tragedi ‘65. Hadirin yang tadinya kasak-kusuk menjadi hening ketika tetiba terdengar suara perempuan bernama Naomi membacakan “Puisi-Puisi dari Penjara” karya Sabar Anantaguna. Pembacaan puisi dilanjutkan dengan pembacaan penggalan paragraf (oleh Ira) dari novel karya penulis Lekra Martin Aleida. Ada kengerian dalam hening, ada ketakutan dalam kalut. Betapa politik dan kekuasaan mampu merenggut kemanusiaan dari diri seseorang.

Gilanya, moderator acara dan ketua komitenya pun perempuan! Saya baru melihat wajah lelaki saat seniman Yayak memimpin hadirin saat menyanyikan “Indonesia Raya”. Pembawaannya pun tak biasa: Lagu kebangsaan dinyanyikan tanpa bersikap sempurna (karena mengingatkan kita akan represi militeristis Orba), dan memakai versi tiga stanzah. Setelah sekian tahun, baru kali itu saya kembali merasakan haru kala menyanyikan “Indonesia Raya”. Setelah ketua komite memberikan kata sambutan, hadirin dihibur oleh penampilan musik. Yang mencuri perhatian, tentunya penampilan dari Paduan Suara Dialita — yang mayoritas terdiri dari penyintas tragedi ‘65. Lewat alunan paduan suara, saya membayangkan wajah-wajah di depan saya adalah wajah-wajah yang penuh dengan raut sedih saat Soeharto berkuasa. Hanya tiga lagu yang mereka bawakan, namun hadirin meminta lebih. Saya pribadi – yang pernah menyaksikan mereka beberapa bulan lalu di Menteng – meneriakkan “Viva Ganefo”. Ada pula yang meminta “Genjer-Genjer”. Meski mereka menolak, entah siapa yang memulai hadirin menyanyikan “Internasionale”, mars kaum buruh internasional yang dialihbahasakan oleh Ki Hajar Dewantara.

Acara ditutup oleh pidato dari tiga generasi, yang disebut moderator mewakili dari generasi kekinian (yang tidak merasakan rezim Orba), generasi ‘90-an, dan generasi yang menjadi korban ‘65 — yang diwakili oleh seorang eyang perempuan. Satu kalimat yang saya ingat keluar dari mulutnya, “kiri adalah jalan yang benar.”

Terlepas dari segala perdebatan mengenai jalan sosialisme atau komunisme sebagai pandu negara (atau alternatif terhadap neoliberalisme), acara semacam ini menjadi penting karena niatnya membongkar kejahatan ‘65. Karena, seperti yang diucap penampil pidato, generasi kita memiliki beban sejarah. Ada berkah di balik prahara: meski gagal dihelat di TIM, acara yang sejatinya hanya dihelat selama seminggu ini diperpanjang menjadi sebulan. Segera hadiri! (Fajar Martha)

Sabtu, 5 Maret 2016

Acara diskusi Belok Kiri Fest yang sejatinya bertempat di Taman Ismail Marzuki harus berpindah ke Lembaga Bantuan Hukum, berubahnya lokasi acara dikarenakan adanya aksi penolakan yang dilakukan oleh beberapa kalangan.

Diskusi tentang gerakan kiri di Indonesia ini adalah bentuk promosi dari buku Sejarah Gerakan Kiri di Indonesia untuk Pemula.

Aksi penolakan yang khas dengan era Orba itu tak ayal membuat acara tersebut makin menyeret perhatian.

Dua minggu lalu saya dan kawan-kawan redaksi Spatkapitalismus menghadiri acara tersebut, dan tema saat itu adalah “Menyoal Orde Baru”. Sesampainya di sana ternyata sesi pertama dari duskusi sudah selesai, sambil menunggu sesi kedua mulai kami ngasoh dulu sambil ngopi sembari mengamati suasana, mencermati para aktivis yang katanya ditakuti penguasa itu. Katanya. Ada yang menggunakan parka bak tentara Bolshevik, ada juga sibuk berdebat soal liberalisme.

Setelah kopi tandas kami lalu menuju ruangan diskusi yang ternyata sudah membludak, saya hanya kebagian tempat persis di depan pintu, sedangkan Fajar bergabung dengan yang lain duduk lesehan. Dan juga diskusi sesi kedua sudah dimulai beberapa saat yang lalu, jadi kami terpaksa menyesuaikan dengan pembahasan saat itu.

Karena untuk mendeskripsikan secara detil bagaimana diskusi berlangsung akan membutuhkan waktu yang banyak, maka saya hanya akan menyampaikan poin-poin pentingnya saja.

Secara fundamental perubahan setelah reformasi tidak terlalu signifikan, begitu yang disampaikan salah satu pembicara, contoh yan mendukung anggapan tersebut bisa diambil dari penolakan terhadap diskusi ini, bagaimana warisan Orde Babe masih melekat bahkan pada mereka yang berlabel kaum intelek.

Warisan orba bisa begitu kokohnya bertahan hingga saat ini dikatakan karena jajaran ABG (ABRI, Birokrasi, Golkar) bertransformasi ke berbagai sektoral. (Rizal Syam)

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.