Oleh: Nur Aswandi*

Tengah hari di Stasiun Jakarta Kota. Orang-orang di sekelilingku sibuk menawarkan jasa angkutan barang. Alih-alih menanggapinya, aku malah cuek saja berjalan lurus seperti orang buta. Sekeluarnya dari stasiun, aku masih merasakan bekas-bekas kebisingan di dalam stasiun akibat ulah nyeleneh para kuli panggul itu, tapi aku mencoba melupakannya.

Aku kembali menyeret koperku sambil kembali memantapkan posisi tas hitam yang tengah kubopong. Tubuh kurus ini serasa mulai bersemangat kembali setelah beberapa menit memandang luasnya jalan raya kota Jakarta yang penuh keramaian, seakan menjanjikan bahwa kota ini tidak akan mati dalam sepi. Aku tersenyum kecil, berkhayal jika aku akan tenang menjalani tugas beberapa hari ke depan. Pekerjaanku sebagai penulis lepas lintas benua memang agak melelahkan. Akan tetapi, biaya akomodasi dan kepercayaan dari perusahaan asing yang memperkerjakanku membuatku lupa akan hal itu. Akan kubalas kepercayaan mereka dengan tulisan yang menarik.

Kebudayaan sebenarnya bukan tajuk favoritku untuk kumuat ke dalam sebuah tulisan, namun aku terobsesi menggali cerita tentang Jakarta. Jadi, aku rasa pekerjaan ini memang cukup tepat untuk memuaskan dahagaku sebagai penulis.

Tuan Clift Stevenson, seorang pria kebangsaan Swedia yang sudah lima belas tahun tinggal di Indonesia, menjadi penanggung jawabku selama bertugas di Indonesia. Siang itu, saat aku tengah berada di dalam taksi, ia meneleponku dengan nada yang santai.

“Red, Apa kabar? Sejauh ini tidak ada masalah, kan?”

“Baik, Tuan Clift. Aku baik-baik saja. Semuanya aman terkendali.”

“Bagus kalau begitu. Jangan sampai mengecewakan mereka, Red.”

“Aku mengerti, Tuan Clift. Boleh aku tanya sesuatu?”

“Tentu saja.”

“Hmm, aku hanya ingin tahu, bagaimana kalau ada sesuatu tak terduga yang membuatku terpaksa tinggal lebih lama di sini? Apa itu tidak apa-apa? Kau bisa mengaturnya, kan?”

“Apa maksudmu? Tugasmu di sini adalah menulis laporan untuk perusahaan asing itu, Red. Jangan macam-macam.”

“Iya, aku mengerti. Aku hanya khawatir kalau-kalau ada sesuatu. . . “

“Sudahlah, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau ini dari dulu selalu begitu. Paranoid. Nikmati saja perjalananmu ini. Kau bebas bersenang-senang di sini, asal jangan lupa dengan tujuan dan tugasmu, mengerti? Hubungi aku kalau ada apa-apa.”

“Mengerti, Tuan Clift. Terima kasih.”

Telepon terputus.

***

Sesampainya di hotel tempatku menginap. Sembari didampingi oleh salah satu bell boy, aku berjalan gontai menuju kamar. Untuk mengisi kekosongan, iseng aku menanyakan nama si bell boy. Sambil tersenyum ia menyahut. Namaku Bahri, jawab Bahri. Aku berpikir ia pastilah orang Jawa, dan aku mengguyunya “Javanese” akan tetapi ia tidak memberi tanggapan, entah apa ia tidak mengerti atau tidak mempunyai kata-kata lagi untuk merespons ucapanku. Tanpa sadar di antara hening lorong hotel, kami telah tiba di lantai 10. Bahri keluar lebih dulu dari lift seraya menuntunku menuju kamar tempatku akan menginap. Ia membuka pintu dengan kunci elektroniknya dan mempersilahkanku untuk masuk lebih dulu. Pemandangan kamar memunculkan beragam fasilitas yang standar. Aku langsung memantau isi kamar mandi yang bersih, kemudian di lanjut dengan tampat tidur yang nyaman. Bahri meletakkan koperku di sisi lemari pakaian. Aku memerhatikannya, kemudian menyapanya kembali saat ia hendak keluar meninggalkan kamar.

“Tunggu, Bahri!”

“Ya, Tuan?”

“Ini untukmu,” aku memberikan Bahri uang tip.

“Terima kasih banyak, Tuan.”

“Hmm, Bahri, apakah kau bisa menemaniku berkeliling kota?”

”Tentu saja. Satu jam lagi pekerjaanku selesai. . “

“Baiklah, aku akan menunggumu di lobi bawah.”

Beberapa jam kemudian, aku dan Bahri sudah berjalan-jalan di sekitaran pedestrian hotel. Sesekali Bahri menceritakan pengalaman-pengalaman memilukannya saat menjadi bell boy merangkap pemandu turis. Salah satunya saat seorang tamu pria Jepang merujaknya dengan pukulan karena ia lupa membawakannya sebotol bir. Sampai sekarang Ia tidak mengerti mengapa orang-orang berprofesi sepertinya kerap diperlakuan semena-mena.

Bahri mengajakku ke dalam TIM. Kami melewati plang penunjuk arah bertuliskan Perpustakaan H.B Jassin. Aku tahu di jam segini tempat itu tidak akan dibuka, maka aku menghiraukannya. Tidak lama berselang, kami disuguhkan layar lebar putih dari kejauhan dengan adegan gambar sebuah film hitam-putih. Latar belakang tempat dan karakter di dalamnya tampak begitu kuno. Di film itu menampilkan adegan dua sejoli berjalan beriringan di taman, yang kemudian cepat berganti dengan adegan pria dan wanita yang sedang berbicara romantis lengkap dengan sentuhan jemari tangan satu sama lain sambil tersenyum. Hanya ada beberapa penonton duduk di hadapan layar dengan bebas sambil menyantap berbagai hidangan makanan yang di pesan dari penjual makanan yang mengelilingi lapangan itu. Bahri menceritakan bahwa ternyata setiap Sabtu malam kerap diputar film klasik Indonesia yang telah direstorasi di taman ini. Entahlah nama film apa yang sedang di tayangkan saat itu, tapi aku jelas merasakan nuansa romantis anak muda di dalamnya. Aku mulai duduk mengikuti jalannya cerita, sedangkan Bahri berlalih ke pedagang nasi goreng, lalu kemudian ia duduk kembali di sampingku dengan rokok kretek terselip di bibirnya yang hitam.

“Kota ini tidak pernah mati melawan sepi,” ujar Bahri pelan. Nyaris tidak terdengar. Dari mulutnya, kepulan asap mengebul, membubung tinggi.

“Terima kasih, Bahri,” kataku sambil menepuk pundak Bahri pelan.

“Terima kasih untuk apa, Tuan?” tanya Bahri bingung.

“Ya karena kau sudah menemaniku.”

“Itu memang sudah menjadi pekerjaanku, Tuan.”

Bahri pribadi yang sederhana dan penuh rasa ingin tahu. Selalu ia bertanya mengapa aku begitu pandai menggunakan bahasa Indonesia. Aku tersenyum kecil, lalu aku mencoba menceritakan tentang diriku secara singkat. Tentang pekerjaanku sebagai jurnalis dan tentang pertemananku dengan Ibnu, mahasiswa asal Indonesia yang kutemui di pemutaran film di New York. Ibnu-lah yang mengajariku bahasa Indonesia hingga bisa lancar seperti sekarang.

Bahri terperangah. Entah apa yang ada di pikirannya saat mendengarkanku bercerita. Matanya terlihat hampa. Aku sendiri tidak menggubrisnya dan membiarkan ia menyelami lamunannya.

Selain sederhana dan penuh rasa ingin tahu, Bahri juga pribadi yang cerdas. Ia pernah mengenyam bangku kuliah mengambil jurusan sosiologi sebelum akhirnya didepak dari kampus karena ketahuan mengentot di kamar mandi kampus dengan seorang juniornya. Aku sempat kaget juga saat mendengarnya. Tidak kusangka di balik sosoknya yang kurus, hitam dan sederhana, Bahri adalah seorang pejantan tangguh yang bejat. Hampir semua juniornya pernah ia setubuhi, bahkan perempuan berhijab sekali pun. Dia juga beberapa kali menghamili junior-juniornya itu sampai beberapa dari mereka ada yang bunuh diri atau aborsi. Bahri tidak mau bertanggung jawab. Menurutnya, sperma yang masuk ke dalam vagina mereka bukanlah kehendaknya. Tapi kehendak si penis.

Setelah dua piring nasi goreng, dua cangkir kopi, berbatang-batang rokok dan berpotong-potong kisah tandas, kami berdua kembali ke hotel.

Di kepalaku kini sudah menggelayut tajuk cerita yang akan kutulis. Bukan untuk perusahaan yang mempekerjakanku, namun untuk Bahri.

***

“Bagaimana Jakarta hari ini?” tanya Ibnu dari seberang telepon.

“Yah, aku mendapat sesuatu yang menarik pagi ini,” jawabku sembari menutup laptop.

“Apa itu?” tanya Ibnu.

“Kau akan segera tahu.”

“Ah, kau ini. Ya, sudah kalau ada apa-apa kabari aku ya!”

“Oke, selamat malam.”

Aku memutus telepon. Kemudian aku membaringkan tubuhku di ranjang, bersiap menelepon nomor ayam kampus langganan Bahri. Namun, aku mengubah haluan dan memilih untuk menghubungi Tuan Cliff terlebih dahulu.

“Halo, Red.”

“Halo, Tuan Cliff. Aku langsung saja ya. Aku ingin minta tenggat waktu.”

“Maksudmu soal tulisan?”

“Ya, aku minta tambahan waktu seminggu saja. Ada proyek lain yang harus aku kerjakan.”

“Hmm, bagaimana ya. . .”

“Ayolah, Tuan Cliff. Hanya seminggu saja. Aku bisa mengerjakan laporan itu dalam waktu sehari saja.”

“Ck, baiklah. Terpaksa aku harus negosiasi ulang dengan mereka, dan itu akan merepotkan. Tapi kau adalah penulis terbaik yang pernah kukenal. Memangnya ada proyek apa, sih?”

“Aku ingin menulis novel! Terima kasih, Tuan Cliff.”

“Novel? Novel apa maksu. . “

Aku mematikan sambungan.

Dua jam berikutnya, dengan tubuh telanjang usai bercinta dengan si ayam kampus, aku mengetik seperti orang kesetanan. ♦

* Alumni Sastra Inggris Universitas Nasional angkatan 2010. Instagram: @impicture.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts