klik tombol ‘play’ di atas untuk mendengarkan rekaman diskusi.

Beberapa kutipan dari kedua pembicara:

Andi Achdian

  1. Saya merasa terganggu dengan kondisi ketika kata “rakyat”, kata “kedaulatan rakyat” itu menjadi semacam bingkisan (atau) oleh-oleh untuk pemilih pemula.
  2. Produksi karya sastra terjadi dalam satu ruang yang sangat individual (dan) terlepas dari satu konteks sosial. Ada beberapa eksperimen, misalnya pada dekade ’60-an ketika ada perdebatan bagaimanakah bentuk estetik kiri saat itu. Poinnya adalah sejauh mana pengarang bisa bersinggungan dengan kehidupan nyata, kehidupan masyarakatnya? Jadi dia bukan sebuah produk dari sekadar ilusi tentang suatu “bentuk” hubungan. Interaksi dan produksi menjadi sebuah bentuk yang individual dan soliter dalam sebuah karya-karya seni.
  3. Saya mau membandingkan dua pengarang perempuan, Ayu Utami dengan Linda Christanty, ketika mereka bicara tentang seksualitas dan tubuh, yang satu menjadi seksologi – lebih banyak ‘vagina’-lah, ‘buah dada’-lah, yang satu lebih melihat kepada kekerasan atau pengalaman seorang anak perempuan.
  4. Problem bagaimana mengubah masyarakat, dengan masyarakat di dalamnya, itu sebuah problem yang saya kira menjadi tantangan untuk melihat bagaimana tradisi kiri itu berkembang. Karena kekuatan dari gerakan kiri pada saat awal abad 20 sampai dekade 1960-an adalah pijakan bagaimana kemampuan melayani rakyat itu menjadi sebuah dasar dari gerakan. Saya kasih catatan, pada dekade ’60-an, semua partai ngomongin sosialisme, bukan cuma partai komunis yang ngomongin Partai Masyumi yang orientasinya Amerika dia bilang ‘sosialisme Indonesia!’
  5. Saya kira krisis membaca itu.. Itu yang harus diperangi. Yang paling mungkin kita lakukan sebagai mahasiswa. Makin banyak membaca dan membuka ruang di mana logika atau dialog itu terjadi.

Heru Joni Putra

  1. Artikulasi ideologi kiri hari ini tentu saja tidak bisa lagi seperti ketika (zaman) Lekra, yang mana diksi-diksi komunis banyak sekali dalam cerpen tersebut. Karena pasca ’65 itu kata itu menjadi masalah sampai sekarang. Menyebut “kata” itu aja bahkan memakai kaos berlambang itu aja kita langsung bermasalah.
  2. Bila di zaman Lekra diksinya itu “hidup PKI”, “komunis akan menyejahterakan kita”, sekarang tidak bisa itu lagi.
  3. Ideologi lain berhasil menyusup, misalnya, mengapa dalam tren sastra Indonesia yang ada sastra-sastra melankolis? Itu adalah virus-virus yang melemahkan ideologi kiri. Mengapa orang lebih menyukai puisi-puisi yang cengeng, tapi di sisi lain ketika puisi itu puisi ‘pamflet’ maka dilekatkan dengan terlalu politis? Nah, bagaimana kiri hari ini mampu melampaui dikotomi puisi cengeng dengan puisi yang terlalu (bersifat) slogan itu?
  4. Mengapa kita ditidurkan? Ketika suasana kacau balau seperti ini kita seperti dininabobokan oleh karya-karya melankolis, yang membuat kita hanya terpukau pada “embun”, “senja” tapi tidak tersentuh oleh masalah sosial. Pemahaman terhadap kesusastraan (yang) dimulai waktu SD memang membuat kita menciptakan sebuah paradigma di dalam pikiran kita bahwa ketika berbicara tentang puisi, berarti kesedihan, berarti cinta. Itu ‘kan salah satu bentuk bagaimana mekanisme kekuasaan tertentu masuk ke buku pelajaran sekolah. Mengapa dari sekian banyak karya sastra yang ditulis pengarang Indonesia, mengapa puisi tentang kesedihan selalu jadi tugas atau (terdapat) di buku bahasa Indonesia?

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.