RALIN

2017

 

Kau mungkin tidak ingat, Dim. Setelah percakapan kita di pinggir lapangan upacara itu sembari diiringi lagu “Dan Senyumlah”-nya Sinikini yang terdengar dari radio transistor tukang ayam goreng, haha, kita tidak pernah bercakap-cakap lagi. Itu percakapan pertama dan terakhir kita. Setidaknya sampai hari ini. Setelah hari itu, kau hampir tidak pernah menghampiriku lagi. Sepertinya kau terlalu sibuk dengan rencana-rencanamu untuk perkemahan di Cibubur nanti. Aku akui saat itu aku memang berbeda. Tidak seperti sekarang. Meski aku sudah bisa bercakap-cakap denganmu, tapi harus kuakui kalau aku belum bisa terbuka sepenuhnya pada orang lain. Termasuk denganmu. Satu-satunya orang yang bisa kuajak berbicara pasca ayahku meninggal walau hanya sebentar. Apalagi sejak kejadian di hutan itu, aku harus pindah sekolah karena pekerjaan ibuku. Aku sedih sekali saat itu. Harus meninggalkanmu dan teman-teman yang lain. Padahal aku mulai merasa nyaman dengan kalian semua.

Aku menjalani hari-hari di sekolah dengan tidak bersemangat. Semuanya terasa menjemukan. Kecuali saat kelas musik. Aku senang Bu Hayati dan kalian semua menyukai permainan biolaku. Untuk beberapa saat aku merasa hidup kembali. Setiap aku menggesekkan biola, aku merasa ayahku hidup kembali. Aku merasa dia hadir di depanku. Duduk dan tersenyum bersama kalian semua. Biola ini bisa dibilang satu-satunya alat komunikasi yang menyatukanku dan ayah kembali, Dim. Kalau aku ingin bertemu atau bercakap-cakap dengannya, aku tinggal memainkan biolaku ini. Dengan begitu, ayahku akan muncul entah dari mana sampai permainan biolaku berakhir. Sayangnya, itu tidak bisa bertahan selamanya. Aku hanya anak perempuan biasa yang bisa merasakan kelelahan. Dan saat aku mulai lelah menggesek biola, maka ayahku perlahan-lahan akan memudar dari hadapanku. Kalau sudah begitu, aku akan tidur sambil memeluk biola itu dan berharap bertemu dengan ayahku kembali di alam mimpi.

Hari perkemahan itu pun datang juga. Awalnya, aku tidak ingin ikut. Aku tidak terlalu suka dengan hal-hal yang berbau petualangan sepertimu. Tapi perkemahan itu mengingatkanku dengan salah satu buku peninggalan ayahku. Walden karya Thoreau. Ya, aku sudah membaca buku itu ketika berusia 12 tahun. Untuk aku yang suka mengalienasi diri pada saat itu, Walden pastinya menjadi buku favoritku. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan Thoreau dalam buku itu. Meski, yah, aku belum pernah bercocok tanam atau membangun sebuah kabin di dalam hutan. Dan begitu aku tahu kalau kita bakal berkemah di dekat hutan, aku jadi teringat dengan buku itu dan ingin merasakan apa yang di rasakan Thoreau, dengan caraku sendiri, tentunya. Mendengar kalau aku ingin ikut serta dalam perkemahan membuatku ibuku senang. Aku tahu selama ini beliau sedih melihatku yang selalu mengurung diri di dalam kamar. Namun yang dia tidak tahu, aku ikut berkemah bukan karena aku sudah kembali ceria seperti dulu lagi atau karena aku sudah berteman baik dengan kalian semua. Aku ikut berkemah karena aku ingin kembali mengurung diriku di tempat lain. Kali ini di alam terbuka

Ah, malam pun datang dengan seenaknya. Beberapa teman kita sudah menguap dan melepas lelah di dalam tendanya masing-masing. Pasti mereka capek bermain dan berfoto-foto di dalam hutan seharian. Namun tidak denganmu beserta konco-koncomu itu. Kalian masih asyik duduk mengitari api unggun. Saat itu aku hanya duduk di depan tendaku, berusaha membaca halaman buku Walden dengan memicingkan mata karena hampir tidak ada penerangan di kawasan tempat kita berkemah. Satu-satunya penerangan berasal dari api unggun kalian. Sedangkan aku membaca buku dibantu cahaya senter yang kubawa. Dan itu sama sekali tidak bagus. Mataku sakit. Tapi kalau aku tidak membaca, maka aku tidak punya kegiatan lain untuk dilakukan, dan aku tidak ingin tidur terlalu cepat sementara besok siang kita sudah pulang.

Terkadang aku mengangkat wajahku dari buku untuk sekedar mengistirahatkan mataku yang harus bekerja ekstra. Lalu aku akan melirik kalian diam-diam yang masih asyik duduk mengitari api unggun sambil bercerita dan bernyanyi. Kalian tampak begitu gembira, hingga kegembiraan kalian menular padaku. Ingin rasanya aku bergabung duduk mengitari api unggun bersama kalian, tapi kau tahu kalau aku tidak bisa melakukannya. Beberapa kali kita kembali saling melirik, tapi kau hanya tersenyum kecil dari kejauhan. Ah, iya. Sempat beberapa kali aku mendengar Akbar dan Bagus meneriaki namaku, mengajakku untuk ikut bergabung, tapi aku hanya membalas ajakan mereka dengan senyuman tipis. Walapun begitu, aku senang karena kalian ternyata memerhatikanku.

Lama-lama kelamaan aku mulai ngantuk. Kelopak mataku terasa berat. Penglihatanku mulai melamur. Dengan berat hati, aku memutuskan untuk tidur. Sebelum aku membuka resleting tenda, aku sempat melirik kalian sekali lagi. Kulihat kau melambaikan tanganmu ke arahku sambil tersenyum. Aku bisa melihat matamu berair. pasti kau juga sudah mengantuk ya saat itu? Aku membalas lambaian tanganmu, lalu masuk ke dalam tenda. Lamat-lamat tawa canda kalian masih terdengar hingga akhirnya Bu Hayati memarahi kalian dan menyuruh kalian semua masuk ke tenda masing-masing. Aku tersenyum geli di dalam tenda. Untuk beberapa saat, aku hanya berbaring sambil menatap langit-langit tenda, mendengarkan napas teratur dari Savitri, Nila dan Citra yang tertidur pulas di kanan dan kiriku. Penampakan temaram bulan purnama terlihat samar dari atap tenda yang tipis. Suara-suara serangga seperti jangkrik, gemerisik tingkah tupai di balik rimbun semak dan sepoi angin malam menimbulkan musik alam yang meninabobokan. Waktu seakan berhenti di sekitarku. Tak berapa lama, aku pun tertidur sambil memeluk buku Walden.

Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur sampai rintik hujan yang menetes di atap tenda membangunkanku. Kerongkonganku terasa kering. Aku haus, nyaris dehidrasi. Aneh. Padahal udaranya cukup dingin, tapi entah kenapa tubuhku bisa bersimbah keringat. Setelah menenggak setengah botol air mineral, aku keluar dari tenda. Aku tidak tahu jam berapa saat itu. Dan aku tidak begitu peduli. Yang aku inginkan saat itu hanya udara segar.

Perlahan-lahan aku berjalan menuju tempat api unggun bekas kalian berkumpul beberapa jam yang lalu. Rintik-rintik hujan sudah mematikan api. Selama beberapa menit aku hanya duduk di sana, sampai sebuah suara membuat bulu kudukku merinding seketika. Tidak, itu bukan suara hantu, setan, genderuwo, kuntilanak atau sejenisnya. Itu memang suara tangisan. Dan aku sangat yakin sekali bahwa itu suara tangisan seorang perempuan. Tapi aku tidak yakin apakah itu suara tangisan kuntilanak atau bukan. Aku punya teori sendiri tentang ini. Menurutku, ketika kita melihat atau mendengar sesuatu yang sifatnya metafisik atau supranatural, ada sensor tersendiri yang bakal memberi sinyal ke otak kita bahwa yang kita lihat atau dengar itu memang bersifat seperti itu. Namun saat itu aku tidak merasakannya. Yang kurasakan sangat normal dan natural, Itu suara tangisan perempuan. Dan suara tangisan itu sangat menyedihkan.

Suara tangisan itu seperti menghipnotisku. Tanpa aku bisa kendalikan, kaki-kaki kecilku melangkah menjauh dari area perkemahan, masuk menuju hutan yang gelap. Aku terus berjalan bak dikomando seorang yang tak terlihat. Aku bagai salah satu anak yang mengikuti melodi seruling Si Peniup Seruling Dari Hamelin. Aku tidak punya kendali atau kuasa untuk menolak. Aku terus berjalan dan terus berjalan masuk ke dalam hutan. Aku hampir tidak bisa melihat apa-apa, Dim. Bulan bulat yang tadinya menyorot dengan terang mulai hilang digulung awan gelap yang menurunkan rintik-rintik hujan. Anehnya, aku dapat terus melangkah tanpa harus tersandung atau tertabrak. Alih-alih berjalan di tengah hutan, aku lebih merasa seperti berjalan di di tengah lorong gelap yang dingin dengan lukisan-lukisan suram bergambar pohon-pohon mati menghiasi dinding-dinding lorong tersebut. Ini seperti berada dalam sebuah mimpi buruk, kau tahu. Rintik-rintik hujan pun mulai bertambah deras. Aku menaikkan tudung kepala jaketku guna melindungi rambut dan kepalaku. Udaranya mulai bertambah dingin. Sesekali aku menoleh ke belakang. Berharap kalau kau atau salah satu anak memanggilku atau menyusulku. Sayangnya, itu tidak terjadi.

Aku terus berjalan sampai akhirnya tiba di depan danau yang cukup luas. Seperti yang aku bilang barusan. Keadaan saat itu sangat gelap. Normalnya, aku tidak dapat melihat apa yang ada di hadapanku. Tapi, aku tahu kalau aku berada di depan danau. Kau tahu? Seperti kejadian di dalam mimpi. Kita hanya tahu begitu saja. Danau tidak seperti laut yang tanpa melihat saja kita sudah tahu kalau itu laut karena suara deburan ombak. Danau bersifat hening. Diam dan dingin seperti kematian. Aneh memang.

Sesampainya di depan danau, suara tangisan itu menghilang. Yang terdengar hanyalah bising suara orksetra musik jangkrik dan angin malam yang menyibak dedaunan di atas pohon-pohon. Seperti terjaga dari tidur, aku tersentak seketika. Heran dan terkejut. Kesadaranku kembali sepenuhnya. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Kenapa aku tiba-tiba bisa berada di tempat seperti itu? Ingin rasanya berteriak memanggil kalian semua, tapi suaraku tertahan. Aku mulai ketakutan. Keringat dingin mulai menetes di dahi, punggung dan kedua belah ketiakku. Terus terang aku juga tidak tahu kenapa aku tiba-tiba bisa ketakutan. Aku ketakutan bukan karena tempat ini mengerikan. Aku ketakutan karena merasa kesepian. Aku baru tersadar, seperti terbangun dari mimpi yang sangat buruk. Ternyata kesendirian itu begitu menyeramkan. Selama ini aku tidak bisa hidup sendiri. Aku memang mengasingkan diri dari kalian, tapi setidaknya aku selalu berada di tengah-tengah orang yang menganggapku teman, seperti kau dan teman-teman. Aku tidak pernah bisa benar-benar sendiri secara harfiah seperti ini.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Tapi tidak bisa, aku mulai terisak. Aku menengadahkan kepalaku, mencoba menahan air mata agar tidak jatuh. Tanpa sengaja mataku menatap sebuah objek yang bergoyang menggantung di atas sebuah pohon.

Sesosok tubuh perempuan muda berpakaian pramuka tergantung dengan lilitan tambang melingkar di lehernya.

Detik berikutnya, aku sudah menjerit sekuat tenaga. Detik berikutnya, aku sudah terjatuh. Detik berikutnya, aku sudah tak sadarkan diri.

***

“Asal kau tahu, Dim. Setelah kejadian itu, perlahan-lahan Ralin yang periang kembali muncul. Aku tidak pernah menangis seperti itu sebelumnya. Aku bahkan tidak menangis saat mendengar kalau ayahku meninggal dan dikuburkan. Mayat perempuan itu seperti lesatan peluru yang melubangi wadah kesedihanku yang selama ini tertampung dan tak pernah terlampiaskan. Aku terlalu pandai menyembunyikan perasaanku. Atau mungkin aku yang terlalu takut untuk mencurahkan semuanya.”

Air mata mulai menetes dari kedua mata Ralin. Dimas membuang tatapannya dari Ralin sembari mencari-cari kata-kata pamungkas yang tepat untuk menghibur dan menguatkan Ralin.

“Perempuan itu telah menyelamatkanmu dari kepedihan yang dalam. Kau harus berterima kasih padanya. Mungkin tangisan yang kau dengar malam itu adalah sebuah sinyal. Semacam SOS. Perempuan itu “membujukmu” untuk menemukannya. Kau berhasil menemukannya. Dia berhasil menemukanmu. Kalian sama-sama saling menemukan. Kalian sama-sama menyelamatkan”

“Iya” sahut Ralin pendek.

“Tapi apa yang aku lakukan di sini? Terbangun di rumah sakit setelah tiga hari tertidur. Tanpa keluarga dan teman yang menjenguk. Tanpa pekerjaan dan mimpi yang menungguku di luar sana. Terkoyak dari realita yang telah mencabik-cabik semua cita-citaku.” ujar Dimas nelangsa. Dia melirik luka bekas sayatan di pergelangan tangan kirinya sambil tersenyum masygul. “Saat melihatmu masuk ke ruangan ini dengan pakaian perawat itu, ah, aku tak tahu harus merasa senang atau malu. .”

Ralin memegang pundak Dimas dengan hati-hati, seolah-olah pundak Dimas adalah keramik yang mudah pecah. Ada kekecewaan tergurat di wajah jelitanya. Ralin tidak mengira Dimas yang dia kenal penuh semangat bisa berubah menjadi serapuh ini. Bisa-bisa dia mencoba mencabut nyawanya sendiri. Benarkah dia Dimas yang dulu kukenal? Ralin membatin dan bertanya-tanya dalam hati.

Ralin lalu pamit untuk pulang dan berjanji akan kembali besok pagi-pagi sekali. Namun keesokan harinya Ralin tidak juga datang. Begitu juga hari berikutnya dan hari berikutnya lagi sampai tak terasa sudah seminggu Ralin tak kunjung datang. Dimas menanyakan keberadaan Ralin pada perawat-perawat yang menggantikan Ralin, tapi mereka tidak tahu ke mana Ralin pergi. Begitu juga dengan pihak rumah sakit. Ada yang bilang Ralin sudah berhenti bekerja, tapi tidak ada yang tahu alasan kenapa dia tiba-tiba berhenti. Berbekal alamat yang diberikan salah satu rekan kerja Ralin, Dimas pun bergegas menyambangi kediaman Ralin. Dimas sudah mencoba menelepon, tapi nomor ponselnya sudah tidak aktif, maka dari itu Dimas nekat mendatangi tempat tinggalnya.

Sesampainya di apartemen tempat tinggal Ralin, ada keraguan menyentak Dimas. Dia merasa bahwa yang dia lakukan ini kurang tepat. Mendatangi tempat tinggalnya tanpa bilang sebelumnya rasanya kurang etis. Mau bagaimana lagi, ponselnya tidak aktif, dan aku juga sudah terlanjur di sini, pikir Dimas akhirnya. Dimas lalu mengetuk pintu kamar Ralin. Tak ada jawaban. Dia juga memanggil-manggil nama Ralin berkali-kali. Tetap tak jawaban. Padahal dari luar, Dimas bisa mendengar sayup suara-suara orang sedang bercanda riang di dalam kamar. Mungkin Ralin sedang pergi atau tidur, lalu lupa mematikan televisi. Tapi Dimas yakin sekali itu bukan suara televisi. Itu suara Ralin! Lantas kenapa dia tidak keluar juga? Apa salahku?

Saat Dimas sudah hampir putus asa memanggil-manggil Ralin, sebuah amplop keluar dari bawah celah pintu. Perlahan, Dimas mengambil surat, membuka amplop, lalu meraih kertas di dalamnya. Tidak ada dentingan piano romantis nan sendu seperti di film-film. Hanya kekosongan dan sejuta tanya yang menjadi musik pengiring kala Dimas mulai membaca kalimat pertama.

***

DIMAS

2002

Ralin mengehela napas pendek. Sepertinya dia ingin menceritakan sesuatu yang penting. Aku menunggu Ralin bercerita sambil sesekali memperhatikan tukang ayam goreng bernama Bejo, yang beberapa tahun kemudian dibekuk polisi karena disinyalir membuat ayam goreng dari daging tikus got dan juga memakai boraks. Kalau Deden Si Pandir (dia pernah mendapatkan nilai nol di semua ulangan. Hebat bukan?) mendengar berita itu, aku yakin pasti dia sudah memuntahkan semua isi perutnya. Deden bisa memakan ayam jadi-jadian itu tiga kali sehari di sekolah. “Dan Senyumlah”-nya Sinikini mengalun dari radio transistor si tukang ayam goreng jejadian.

“Bisa dibilang, ini pertama kalinya aku bisa bercakap-cakap lagi dengan seseorang. Aku merasa kesedihan dalam diriku luntur sedikit demi sedikit. Kau tahu, sejak kematian ayahku, aku sama sekali tidak pernah berbicara dengan seseorang, bahkan dengan Ibu.” kata Ralin sendu.

Saat itu aku hanya anak berusia 12 tahun. Aku tidak tahu caranya membuat orang agar lebih tegar dan semacamnya. Aku juga tidak bisa berkata-kata bijak seperti motivator-motivator murahan di televisi. Jadi, aku hanya diam saja mendengar itu.

“Semua anak di kelas sepertinya suka padamu ya” ujar Ralin lagi.

“Maksudnya?”

“Iya, kalau kuperhatikan, kau bisa bergaul dengan siapa saja tanpa harus berusaha mendekatkan diri atau bertingkah dibuat-buat seperti kebanyakan anak lain. Kau semacam punya aura hangat tersendiri yang dapat membuat orang-orang di sekitarmu mendekat padamu”

Aku tersipu. “Oh ya?

Ralin mengangguk pelan. Dia menendang sebuah botol air mineral hingga botol itu melesak masuk ke dalam lubang selokan air di depan kami.

“Kenapa?” tanyaku.

Ralin menatapku sekilas, lalu kembali menunduk. Kakinya kini sibuk menginjak daun-daun yang jatuh berguguran dihajar angin.

“Aku tidak yakin jika aku bisa kembali pada diriku dulu. Diriku yang periang, sebelum akhirnya Tuhan mengambil ayahku” katanya pelan.

“Ah, aku mengerti. Hidup itu pilihan, Ralin. Kau bebas menjadi apapun yang kau mau.”

Kata-kata yang jika didengar sekarang memang akan terdengar klise. Tapi aku tahu, saat itu kata-kata itu sangat kuat maknanya, dan mungkin saja mempengaruhi Ralin di masa depan.  Apalagi itu terucap secara spontan dari mulut anak umur 12 tahun. Mungkin aku pernah mendengar kata-kata itu di salah satu buku Lupus karangan Hilman Hariwijaya yang kubaca, lalu mengutipnya secara tak sadar.

“Aku tahu itu. Tapi kita tak bisa semudah itu menentukan pilihan kita bukan? Selalu ada yang harus kita pertimbangkan masak-masak.” balas Ralin bijak.

Agak malu sebenarnya mendengar kalimat itu dari Ralin. Gadis kecil ini benar. Kita memang bebas menentukan pilihan dalam hidup kita. Namun untuk memilih kadang kita bakal dihadapkan dengan sesuatu yang muskil, yang membuat kata-kata “Ikuti saja kata hatimu” itu menjadi tidak begitu relevan. Akan ada sesuatu atau seseorang yang berusaha sekuat tenaga menghentikan kebebasanmu. Bagaimanapun caranya.

“Hei, Dim. Sebaiknya kau kembali ke kelas. Tapi tolong bilang pada Bu Hayati kalau aku izin ke UKS ya. Aku benar-benar tidak bisa konsentrasi belajar untuk saat ini. Sehabis isitirahat nanti, aku akan kembali. Tolong ya” pinta Ralin dengan wajah memohon.

Dengan berat hari, aku berjalan mundur, mengamati Ralin yang kembali membalikkan tubuhnya. Kemudian sambil tersenyum kecil, aku berlari kembali menuju kelas dengan perasaan penuh sukacita.

Ralin butuh waktu untuk sendiri, namun aku tahu dia akan baik-baik saja dan menyusulku kembali ke dalam kelas.

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)