Oleh: Prasetyo Agung*

Ibu, dari dulu seingatku, selalu menyuapi anaknya yang menangis  lapar dengan bubur batu atau sop pasir rasa rumput. Semenjak itulah kenangan kami akan ibu menggumpal, dan kami rajin memahat wajah ibu di batu-batu sambil memakan serpihannya seperti  kami makan kacang goreng.

Memahami jalan pikiran ibu, bagi kami adalah seperti mempelajari filsafat barat yang tidak muat kami jejalkan ke dalam kepala meskipun telah dibaca berulang-ulang, sambil sesekali membuka kamus bahasa Indonesia ataupun tesaurus yang memuat sinonim dan daftar istilah dalam berbagai bidang kehidupan. Sehingga, kami menyimpulkan, bahwa berbicara tentang ibu tidak harus menghubungkannya dengan teori-teori filsafat, ilmu logika, atau kajian analisis bahasa yang berbelit-belit. Ibu adalah kajian tersendiri, daya hidup, dan pemikir revolusioner dari abad manapun.

Pernah suatu kali, ibu, sebelum kematiannya, menceritakan kepada kami bahwa sikap malas adalah kelemahan terbesar bagi manusia. Untuk kaum pemalas, tempatnya nanti ketika mati adalah bersama setan-setan yang rajin menggoda manusia. Yaitu di kerak neraka paling terdalam.

“Sudah hidup di dunia berkalang badan, matipun engkau masuk neraka jadi bahan bakar api-Nya,” ucap ibu kemudian, lalu menyuruh kami, aku maksudku. Karena adikku masih kecil  dan kugendong, ia belum mengerti percakapan kami. Kami segera berlari mengejar mobil di lampu merah, menengadahkan tangan, meringis dan meminta belas kasihan.

Dan ibu mengawasi kami  di balik gerobak sampah. Dan ibu menyusui lelaki yang tidak kami kenal. Dan ibu mengambil  hasil kami bekerja dengan rajin sebagai peminta-minta. Dan ibu tetap memasakkan kami batu ketika kami lapar.

***

Kematian ibu terjadi ketika hujan dan banjir besar menggenangi jalanan tempat biasa kami mencari uang. Adikku sedang sakit panas waktu itu. Tentang adikku ini, aku tak yakin sebenarnya apakah dia adikku atau bukan. Sebab aku sendiri merasa bahwa aku sebenarnya bukan anak ibuku. Karena suatu kali ibu pernah muntab ketika hasil uangku bekerja dengan rajin aku belikan lem dengan aroma yang membuatku selalu lapar. Dengan wajah yang tak dapat aku lukiskan, sementara ludahnya muncrat ke mukaku, dia berteriak,

“Dasar anak babi, sialan kau! Pulang dan bersihkan tempat tidurku, dan engkau tidak boleh tidur di sana.”

Aku tidak mengerti yang ibu katakan. Yang aku ingat dari kata-kata ibu adalah aku anak babi. Semenjak itulah aku merasa aku diambil ibuku dari kandang babi. Dan aku tetap menghirup aroma lem itu sambil membersihkan tempat tidur ibu di atas kali yang kekuningan. Tempat tidur sekaligus kamar mandi yang menawan.

Huru-hara itu terjadi entah di tahun berapa, aku tidak ingat. Bedeng-bedeng, barak, serta rumah kumuh di atas kali kuning semua terbakar habis, hangus, menyisakan bau asing yang terus menempel di hidungku hingga sasat ini. Dan adikku yang masih tertidur lelap, ikut bermain-main bersama nyala api, menghitam, menjadi abu. Bersama kompor bekas, kayu yang lapuk terendam air, TV 14 inchi milik tetangga, serta beberapa kaleng lem milikku yang sudah habis mengering karena terlalu sering dibuka.

Menurutku, adikku mati dengan bahagia waktu itu — meskipun aku sempat menangis — karena dia mati bersamaan dengan salah satu acara televisi kesayangannya, Crayon Sinchan. Menurutku dia tidak akan menjadi kerak neraka, dia akan masuk surga, tidak lagi memakan soto pasir, batu bacem, atau masakan ibu yang sangat memuakkan.

Dia akan berenang di kali yang terbuat dari madu dan susu, tidak seperti kali tepat di bawah rumah yang sudah menjadi bongkaran rongsokan, tempat dilarungnya sampah hasil sisa-sisa dari makhluk bernama manusia. Sakit panasnya pun pasti sudah menurun, karena, bila suhu panas bertemu dengan panas, akan menjadi  suhu dingin, begitupun sebaliknya. Ini aku dengar dari temanku yang waktu itu sekolah dan belajar ilmu pengetahuan alam. Aku tidak mengetahuinya dengan pasti, tetapi aku mempercayai itu.

Di balik reruntuhan yang terbakar, aku membongkar seng-seng atap rumah, pintu yang tinggal setengah, kursi lapuk dengan bau busa yang terbakar, barang-barang perkakas rumah tangga buatan Cina yang telah berubah menjadi karat, hanya untuk mencari jasad adikku. Namun yang kutemukan hanya tinggal tengkorak kepalanya yang menciut.

Aku tetegun diam. Aku ingin berteriak, namun suaraku macet di kerongkongan. Dengan tangan yang gemetar aku berlari membawa tengkorak kepala adikku, untuk akhirnya aku mandikan di masjid dekat lapangan tempat biasa aku bermain sepak bola. Aku tidak menguburnya, hanya kubungkus dengan kain hitam bekas daster ibu.

Aku bawa ia  ke mana-mana. Aku kesepian tanpa teman.

***

Hujan deras turun, dan banjir melanda ibukota. Aku tidak bekerja. Aku berteduh di bawah jembatan penyeberangan sambil menggendong adikku. Dari jarak ini aku melihat ibu sedang bertengkar dengan lelaki yang aku tahu sering meminta susu pada ibu. Aku hanya mendengar suara mereka sayup-sayup. Hujan, suara bising kendaraan, serta telingaku yang agak tuli menjadi sebab aku tak mampu mendengar dengan jelas suara mereka.

“Heh, anjing kalau ngent… Bayar… Jangan cuma modal kont…”

“Siapa yang mau ngent.. sama babi macam kau, hah…Siapa yang…Siapa..”

“Dasar kau…., Lelaki jelmaan….”

Aku tidak tahu lagi kelanjutannya. Aku bosan mendengar pertengkaran semacam itu tiap hari, aku mendengar semuanya sambil  menghirup lem yang selalu membuatku lapar. Aku kenyang, mataku gelap, langit runtuh, dan aku tertidur dalam pelukan adikku.

***

Malam datang seperti hari-hari kemarin, dan aku terbangun karena suara sirine polisi yang meraung-raung. Mataku sedikit berkunang-kunang, aku mengerjap mata, dan binatang dengan pantat yang selalu menyala di malam hari itu tetap tak mau pergi. Aku berjalan terhuyung-huyung menuju bedeng di mana gerobak ibu selalu berada. Di sana sudah ramai orang berkerumun. Polisi membuat garis  dari plastik berwarna kuning. Dan aku mendapati ibu lehernya sudah terkerat pisau dapur miliknya yang biasa ia pakai untuk mengupas batu.

Aku tidak menangis, aku tertawa malahan. Ibu mati sebagai seorang pejuang. Mungkin ia mengerat sendiri batang lehernya atau mungkin juga dikerat oleh orang yang selalu meminta susu pada ibu. Aku tidak peduli, mungkin air susunya sudah tidak keluar lagi dan dia menjadi sedih karenanya.

Hari-hari setelah semua kejadian itulah aku mulai mencari alternatif lain dengan bekerja sebagai seorang tukang batu. Dalam hal ini, aku benar-benar profesional sebagai tukang batu.

Aku mencari batu di gunung-gunung, di kali-kali besar, di tempat-tempat yang tak tersentuh oleh kesadaran manusia modern,  bahkan di bawah-bawah gedung bertingkat, yang berdiri tegak lurus dengan langit**.

Lalu aku memahat wajah ibu, dengan tatah dan cuplik, sebagaimana pesan beliau agar jangan malas bekerja. Aku menatah batu sambil sesekali bercakap-cakap dengan tengkorak adikku yang selalu kubawa, memakan serpihannya dan mengisap rokok kawung dari hasil curian di pasar Kebayoran.

Aku tidak lagi menghirup lem. Lem selalu membuatku lapar dan aku tidak punya nasi. Yang aku heran dengan pekerjaanku adalah, dalam kepalaku ketika aku memahat batu selalu tergambar wajah ibu, dan aku mulai memahat batunya perlahan-lahan hingga  sesuai keinginanku. Namun ketika batu tersebut selesai aku buat, yang aku lihat adalah sebuah patung batu berbentuk seperti babi.

Babi, binatang yang selalu mengingatkanku pada sosok ibu. ♦

*Prasetyo Agung Ginanjar | Pelamun Amatir

**salah satu judul cerpen karya Iwan Simatupang.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts