“Although according to certain philosophers it is quite difficult to distinguish the jester from the melancholic, life itself being a comic drama or a dramatic comedy”

– Comte de Lautreamont, Maldoror

 

“Kamu ini malaikat pencabut nyawa paling pengecut yang pernah aku kenal”

“Memangnya ada berapa banyak malaikat macam kita yang kamu kenal?”

“756.322.879 malaikat pencabut nyawa. Dan semuanya nggak pengecut seperti kamu. .”

“Aku ini sebenarnya sudah pindah ke divisi lain, tapi Dia malah mengutusku kembali ke divisi keparat ini. Dan kita, sebagai malaikat, nggak bisa apa-apa selain menuruti permintaan egois-Nya. Terus terang saja, urusan cabut mencabut nyawa ini bukan keahlianku. Makanya dulu aku pindah. Eh, malah dipanggil lagi.  Lagian buat apa sih Dia repot-repot memberi nyawa kalau toh ujung-ujungnya diambil lagi? ”

“Jangan banyak cakap. Cepat ambil nyawa detektif tua itu. Tugasku sekarang hanyalah menemanimu. Tetap kamu yang harus mencabut nyawanya”

 “Baiklah. Tapi aku butuh waktu. . “

***

Wahai, para pembaca yang berbudi luhur. Yang kalian simak barusan adalah percakapan dua orang malaikat pencabut nyawa beberapa jam sebelum mereka melaksanakan tugasnya. Mereka berdua punya banyak sebutan, tapi tak ada satupun yang akurat. Manusia dari dulu memang sudah seperti itu. Menamakan, menyimbolkan, mengkotak-kotakkan segala hal seenaknya tanpa peduli letak benar dan salahnya. Ah, kenapa malah melantur bicara soal manusia? Membicarakan mereka semua tak akan ada habisnya. Maaf, maaf. Kita lanjutkan ceritanya.

Untuk mempermudah cerita, kita sebut saja mereka berdua Adonis dan Adolfo. Kenapa? Tak ada alasan khusus. Enak saja terdengar. Lagi pula, saya naratornya. Kalian tak usah cerewet. Yang mana Adolfo dan yang mana Adonis? Baca saja terus supaya tahu. Lagian, ini hanya sebuah prolog dari novelku yang belum dibaca siapapun. Bukan sebuah cerpen sastra atau esai bernas. Kalian tak usah mengharapkan sesuatu yang intelektual dan filosofis dalam prolog ini. Membacanya tak akan membuat kalian lebih pintar. Tak juga menambah wawasan. Malah mungkin akan membuat kalian jengkel setengah mati. Tak ada nilai-nilai sosial, budaya dan sejenisnya yang bisa kalian ambil. Pokoknya ngawur. Lebih ngawur dari dongeng-dongeng yang diceritakan ayah dan ibu kalian sebelum tidur.

Tapi dengan hormat, saya yakin prolog ini akan membuat HP Lovecraft menyesal mati terlalu cepat. Prolog yang saya yakini bisa membuat dia menulis novel horor terbaik sepanjang masa. Prolog yang bakal dibaca Ryunosuke Akutagawa dan Osamu Dazai berkali-kali sebelum mereka mencabut nyawanya sendiri. Prolog yang akan dibaca Comte de Lautreamont di bawah remang lilin sebelum dia mati keesokan harinya di usia yang masih 24 tahun. Prolog yang akan dibawa Rimbaud berlayar menuju Harar dan Salatiga. Prolog yang akan digubah menjadi musik oleh Mozart, ah tapi saya lebih suka Mahler, sih. Prolog yang bakal menginsipirasi Edward Munch dalam melukis. Prolog yang bakal difilmkan oleh Woody Allen, Roman Polanski atau Kim Ki Duk. Atau prolog yang, yah, bakal tak menjadi apa-apa, musnah ditembus timah, lebur menjadi bubur, berdebu di bawah serpihan abu. Hehehe, saya ini bicara apa sih? Terdengar sinting ya saya ini? Tidak, kan? Maaf kalau ini terdengar seperti racauan pemabuk. Walau saya memang agak mabuk sih, hehe. Bukan mabuk akibat alkohol, narkotik atau wanita. Tiga hal itu tidak pernah membuat saya mabuk. Saya hanya mabuk dengan kehidupan yang sedang saya jalani. Semuanya terasa tidak pada tempatnya. Entahlah. Bertahun-tahun saya mencoba menata dan membenahinya pelan-pelan, tapi tetap tidak terasa benar. Cacat. Semuanya terlihat cacat, menyedihkan dan menyeramkan, bak Gollum dari Gladden Fields.

Ah, saya mengoceh terlalu panjang. Semakin lama saya mengoceh, semakin berlalu juga saat-saat Adonis dan Adolfo memulai aksinya. Beruntung saya lihat mereka berdua masih asyik bercengkerama di warung kopi pinggir jalan itu.

Adolfo tak habis-habisnya menyeruput kopi hitam. Buat tugas kali ini dia menjelma menjadi seorang eksekutif muda yang mengenakan setelan jas berwarna biru. Padahal biasanya dia berubah menjadi wanita cantik karena menurutnya lebih mudah mengecoh dan memanipulasi manusia dengan sosok seperti itu. tapi karena kali ini dia hanya menjadi pengamat, dia memilih penyamaran seperti tadi. Sedangkan Adonis, tampaknya tak peduli dengan penyamarannya. Dia berubah menjadi manusia pertama yang dilihatnya kala turun dari langir. Seorang tunawisma berjenggot tebal, berambut kusut masai, berkaus belel dan bercelana pendek kotak-kotak dengan lubang besar di selangkangannya (kalau kalian amati lebih dekat, kalian bisa melihat buah pelirnya). Dari tubuhnya menguar campuran bau selokan, bangkai tikus, kabel terbakar, ganja, durian, makanan basi dan muntah. Sudah berkali-kali dia diusir dari warkop tersebut dengan iming-iming seplastik besar Kuku Bima dingin, tapi Adonis tak juga bergeming. Dia merokok dan terus merokok. Puluhan puntung rokok berserak di bawah kakinya. Enaknya menjadi malaikat ya itu. kalian tidak perlu khawatir asam lambung naik atau terserang kanker paru-paru. Tak perlu merasa bersalah. Tak perlu merasa sungkan. Sesuatu yang dibuat dari cahaya mana bisa merasakan sesuatu. Entitas seperti mereka memang diciptakan tanpa emosi. Stoik dan penurut. Mahkluk kesayangan-Nya. Didesain untuk patuh sebagai pesuruh. Tak dapat menolak, apalagi memberontak.

Karena berisik, Adolfo mencabut nyawa si ibu penjaga warkop. Padahal ibu itu masih dijadwalkan mati beberapa tahun lagi. Kenapa kau cabut nyawa dia, tanya Adonis. Dia berisik, toh cepat apa lambat dia juga bakal kucabut nyawanya, dia ada di dalam daftarku, jawab Adolfo tenang. Adolfo memindai tubuh kaku si ibu tanpa rasa kasihan sedikitpun. Tatapannya menghunus sedingin es.

Adolfo menendang pelan kaki si ibu, memastikan perempuan tua itu sudah tidak bernapas untuk selamanya. Lagi pula, ini kan salahmu juga, kata Adolfo. Kok aku? Protes Adonis. Gara-gara kamu menyamar jadi gembel bau ini dia jadi banyak bacot, jawab Adolfo. Oh, iya juga ya, balas Adonis.

Sudahlah. Kita sudah terlambat. Ayo bergegas, kata Adolfo sembari mengusap mulutnya dengan sapu tangan. Oke, jawab Adonis. Ganti penampilanmu, perintah Adolfo. Siap, jawab Adonis.

***

 “Kamu mau menukar nyawa detektif tua ini?”

“Iya.”

“Kalau kamu melakukannya berarti kamu harus mencabut nyawa orang lain yang seharusnya belum mendekati ajal. Dan orang itu bisa saja jauh lebih baik daripada detektif tengik ini”

“Tapi tadi kamu seenaknya saja mencabut nyawa ibu penjaga warkop”

“Pangkatku ini lebih tinggi dari kamu. Jadi aku bisa melakukannya”

“Jadi kalau pangkatnya lebih tinggi bisa bertindak seenaknya?”

“Iya.”

“Sombongnya.”

“Aku nggak peduli. Pokoknya kamu harus mencabut nyawa orang hari ini. Mau detektif tengik ini atau siapa, aku nggak peduli.”

“Apa yang terjadi padaku kalau aku menolak?”

“Kau akan dihukum sudah barang tentu”

“Dihukum seperti apa?”

“Itu urusan Dia. Eh, dari tadi kamu ini manja dan cerewet sekali. Aku jadi penasaran, di divisi mana tadinya kamu bertugas?”

“Hehehe, Cupid”

“Brengsek. Pantas saja kamu begitu menyebalkan. Kamu ini juga kayaknya malaikat baru ya?

“Iya, mungkin baru seminggu waktu surga. Belum sempat aku bertugas di Divisi Mencabut Nyawa, aku minta dipindah ke Divisi Cupid. Di sana aku bahagia. Aku selalu menjalankan perintah. Jadi, aku nggak pernah tahu konsekuensinya kalau menolak perintah. Nggak pernah ada yang memberitahuku juga. Kukira Dia Maha Pengasih. Ternyata bisa menghukum juga ya?”

“Sudah, lebih baik kamu cepat ambil nyawa di detektif tua itu. Lihat dia! Hidupnya penuh derita. Diselingkuhi istrinya. Ditinggal anaknya mati, aku yang mencabut nyawanya kalau kamu mau tahu. Dia juga berkali-kali gagal memecahkan kasus. Bahkan dia nggak bisa menemukan anjing hilang. Mencabut nyawanya akan membuatnya tenang. Dia nggak perlu menderita lagi”

“Dia bakal ke surga atau ke neraka kalau mati?”

“Surga”

“Kamu bohong”

“Malaikat mana bisa bohong”

“Benar juga. Kok bisa dia masuk surga?”

“Dia sudah mencicip neraka di sini. Amal-amalnya juga cukup. Tapi di surga dia nggak punya waktu buat bersenang-senang”

 “Apa yang bakal dia lakukan memangnya?”

“Anjing milik salah satu penghuni surga hilang. Dia yang akan mencarinya sampai ketemu. Itu balasan buat manusia yang malas macam dia. Setelah ketemu baru dia bisa bersenang-senang seperti penghuni lainnya”

“Kejam sekali. Kenapa penghuni itu tidak minta yang baru saja? Di surga kan semuanya ada. Lagi pula, kalau dia nggak bisa menemukan anjing di sini, bagaimana caranya dia menemukan anjing hilang di surga yang luasnya tak terbatas? Candaan Tuhan memang sadis ya”

“Nggak usah banyak bacot, anjing! Tentukan pilihanmu. Waktu kita sudah hampir habis!”

“Nggak perlu. Kamu sudah tahu apa yang akan kupilih”

***

Eh, hai, kalian sudah menyimak percakapan di atas? Maaf, biarkan saya menyulut rokok dulu. Barusan kalian tidak lihat saya merancap kan ya? Ya, tidak dong, ini kan tulisan bukan film, hahaha. Hmm, nah, sudah. Jika kalian sudah membacanya, saya mau memberi pengakuan yang mungkin bakal membuat kalian gondok bukan main. Ayo, apa kalian bisa menebaknya? Iya, jadi sebenarnya apa yang kalian baca di atas hanyalah rekaan saja. Tidak benar-benar terjadi. Maksudnya, dialog itu memang benar terjadi, saya salah satu saksi matanya, tapi tetek bengek tentang malaikat pencabut nyawa itu murni fiktif. Mana ada yang namanya malaikat, iya kan? Semuanya hanyalah karangan manusia. Pelajaran pertama untuk kalian para pembaca. Jangan pernah memercayai apa yang pernah dikatakan narator dalam sebuah cerita. Mereka pembohong kelas wahid. Mereka yang berbicara tentang penderitaan kaum pekerja di dalam buku bisa saja borjuasi yang menghabiskan makan malamnya di restoran dan menyesap kopinya di gerai-gerai kopi mahal. Maka dari itu, jika kalian ingin menegaskan apa yang ditulis oleh si narator dalam sebuah cerita, sebisa mungkin kenali dulu pribadinya. Itupun jika kalian kurang kerjaan. Untung mencintai sebuah karya kadang kita tak perlu mencintai artisnya. Namun menurut saya hanya orang-orang tolol yang berpikiran begitu. Itu kan sama saja menerima diri untuk dibohongi. Yah, selama si artis bukanlah seorang yang munafik. Saya masih bisa memaafkan mereka. Tapi adakah manusia yang tidak munafik?

Tidak ada manusia suci, itu pasti. Semuanya kotor dan berlumur dosa. Namun manusia-manusia cukup pintar untuk membangun citranya, mendirikan perisai untuk menutupi semua kebusukannya. Ada yang menjadi pengajar ilmu agama. Ada yang menjadi dosen. Ada yang menjadi penegak hukum. Yah, macam-macam. Saya sendiri telah berkali-kali membangun citra, tapi tak pernah berhasil. Selamanya orang hanya menganggap saya anjing pecundang. Padahal saya sudah lama berhenti menjadi pembunuh bayaran sejak kejadian itu. Tapi tetap saja orang menganggapku hina. Yah, saya tidak tahu sih anggapan itu muncul dari mana. Tidak pernah ada yang tahu kalau saya ini mantan pembunuh bayaran. Namun semuanya terasa begitu saja saat melihat cara mereka menatap saya. Apa ini hanya paranoid biasa? Atau hanya sekedar rasa ketidaksukaanku pada mereka?

Jika ditanya kenapa saya tiba-tiba berhenti menjadi pembunuh bayaran, mohon maaf saya juga tidak tahu apa jawabannya. Saat itu saya hanya merasa bosan. Saking bosannya, saya bahkan rela mati hari itu juga. Ingin mencabut nyawa sendiri, tapi saya berpikir kalau usia saya sudah di atas dua puluh tujuh. Sedangkan saya sudah berusia tiga puluh tiga tahun. Tidak ada keren-kerennya bunuh diri di usia yang bukan dua puluh tujuh.

Ah, ya, kalau kalian bertanya siapa sebenarnya si detektif tua itu, biar saya ceritakan sedikit. Jadi, si detektif tua itu sudah berbulan-bulan memburu organisasi kami, karena Dia, atasan-kami-yang-namanya-tak-boleh-disebutkan merasa terancam, saya dan Adolfo diutus membungkam si detektif. Sayangnya, atau untungnya, tergantung dari perspektif mana, pembunuhan itu tak pernah terjadi. Wajar juga kalau Dia merasa terancam. Detektif tua itu sudah memenjarakan rekan-rekan kami satu per satu. Sialnya buat si detektif dan kolega-kolega kepolisiannya, mereka semua mati karena menelan sianida yang disembunyikan di dalam gigi geraham. Iya, persis seperti di cerita-cerita spionase. Mereka memang sesetia itu. Atau hanya takut? Tindakan “heroik” mereka membuat si detektif tua kehilangan saksi dan informan untuk meringkus Dia, dan kembali memburu sisa-sisa dari organisasi kami. Dia membuat manuver. Sebelum detektif tua itu memburunya, Saya dan Adolfo diperintahkan untuk menyergap terlebih dahulu. Dia, atasan-kami-yang-namanya-tak-boleh-disebutkan ini sepertinya terlalu sering membaca strategi perang Sun Tzu. Entahlah, saya hanya menebak-nebak saja.

Sebelum saya menutup cerita, saya ingin mencurahkan sedikit apa yang ada di pikiran saya belakangan ini. Sebentar, biar saya putar musik dulu. Nah, “My Way”-nya Frank Sinatra sudah mengalun tuh. Kedengaran tidak? Ya, tidak sih, kecuali saat membaca ini kalian juga ikut memutar lagunya. Ngomong-ngomong soal “My Way”, kemarin di acara pencarian bakat saya melihat seorang gadis berumur lima tahun membawakan lagu ini dengan sangat bagus loh. Saya yakin Sinatra bakal tertawa gembira kalau melihat gadis kecil itu bernyanyi. Gadis itu begitu lucu. Padahal saya tak suka dengan anak kecil. Jeritan mereka membuat saya ingin membunuh lagi. Hhhh, benar-benar menyebalkan anak kecil itu. Tidak dengan gadis ini. Dia sangat menggemaskan. Semuanya tidak dibuat-buat. Tulus. Jujur. Kepolosan tulus mungkin satu hal yang paling kita butuhkan di tengah histeria dan kegilaan masal yang melanda kehidupan singkat kita .

Eh, saya melantur lagi. Ah, jadi lupa mau cerita apa! Saya malah jadi ingat bau ayam goreng yang kemarin saya hidu. Lucunya, katanya di waktu yang sama, semua orang di kota ini ikut menghidunya? Waduh. Kok bisa ya? Tapi kalau dipikirkan lagi fenomena macam ini kan sama saja seperti fenomena hujan kodok atau mati suri. Seaneh apapun kedengarannya, pasti bisa dijelaskan secara ilmiah. Dan itu bukan tugas saya, tentu saja.

Oh, saya sudah ingat. Begini, jadi kemarin malam saya bermimpi berdiri di bawah taburan kertas konfeti berwarna hitam. Semuanya berwarna putih. Sejauh mata saya memandang, yang saya lihat hanya warna putih. Dingin mencengkeram tubuh, angin liar juga mengacak-acak rambut saya. Kertas-kertas konfeti tersebut terus turun, turun, turun, dan turun sampai akhirnya saya terbangun dengan mata berair. Ya, saya menangis tanpa tahu apa penyebabnya. Tiba-tiba saja saya merasa begitu sedih. Itu juga yang menjadi alasan saya menulis prolog panjang ini. Ajaibnya, semakin banyak kata yang tertulis di sini, semakin luntur juga kesedihan saya. Perlahan-lahan perasaan saya menjadi ringan. Menulis membuat perasaan lebih rileks itu ternyata bukan sekedar rumor atau kutipan sok tahu belaka ya. Jauh lebih efektif daripada berdoa seperti yang orang-orang tua anjurkan. Berdoa dan berharap hanya membuat saya sakit hati. Sakit hati membuat saya ingin membunuh lagi. Terakhir kali saya membunuh karena sakit hati itu setelah ditolak oleh wanita yang saya sukai. Katanya saya tidak tajir. Kurang ajar benar wanita itu. Padahal saya sudah memberikan semua yang dia inginkan. Sialan betul. Tidak, saya tidak membunuh si wanita. Saya bukan tipe misoginis pembalas dendam seperti itu. Yang saya bunuh calon suaminya. Hehehe. Penderitaan jauh lebih menyakitkan dan mematikan dibanding kematian itu sendiri.  Saya suka melihat mantan pacar saya menderita. Mungkin besok-besok saya bakal bunuh ayah dan ibunya.

Saya sebenarnya ingin membuat novel remaja ringan cinta-cintaan. Menulis yang begitu kan katanya cepat terkenalnya ya? Tapi ternyata susah menulis cerita yang begitu. Mau menulis tentang kopi, dan para penikmat senja juga saya tidak bisa. Susah. Saya tidak tahu apa-apa soal kopi, senja, remaja dan cinta-cintaan. Padahal sedang digandrungi ya. Ya, sudah saya menulis novel ini berdasarkan pengalaman saya sebagai pembunuh bayaran. Dan sebenarnya saya juga benci melihat penulis-penulis terkenal tai kucing yang menulis cinta-cintaan dan senja-senjaan. Lagak mereka itu loh! Hih! Melihat itu saya jadi ingin membunuh lagi. Bayangkan saja. betapa kasihannya penulis-penulis yang riset setengah mati untuk menulis sebuah karya besar tentang pulau kelahirannya misalnya, tapi apa yang mereka tulis kalah pamor sama cerita tentang seorang penikmat kopi dan senja yang suka menggurui tentang cinta. Membayangkan itu membuat saya ingin membunuh lagi. Mengingat itu membuat saya ingin membunuh lagi. Menuliskan tentang itu membuat saya ingin membunuh lagi.

Kalian dengar itu tidak? Ada suara sirene polisi dan suara bisik-bisik di luar. Wah, benar. Mereka semua sudah di sini. Keras kepala juga mereka. Saya harus cepat-cepat pergi nih. Padahal saya masih mau menulis ini prolog ini lebih banyak. Tapi mungkin ini sudah cukup. Yang terpenting sekarang saya harus menyelamatkan diri dulu.

Saya tidak bisa memastikan apa saya bakal lolos atau tidak, tapi tenang, kisah tentang saya sudah abadi di dalam novel ini. Saya sudah memercayakannya pada editor buku ini. Sampai jumpa di lain kesempatan. Selamat membaca.

***

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir. Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts