Jauh sebelum Vasco Da Gama menjejakkan kaki di India, sebelum Colombus menemukan benua Amerika dan Cornelis De Houtman tiba di Banten, adat-istiadatmu telah berdiri kokoh. Raja-rajamu begitu dihormati. Aturan kerajaanmu begitu mengakar pada setiap manusia yang ada di tanahmu. Mungkin, Tuhan menciptakanmu saat ia sedang sombong: negerimu begitu congah nan kirana yang mengakibatkan perang berkepanjangan di negeri ini untuk merebut apa yang kau punya. Namun, semua itu hanya tinggal babad yang termaktub dibuku-buku usang di etalase perpustakaan yang tak lagi terurus. Taranoate. Begitulah orang menyebut namamu. Dulu.

***

Dengan luas wilayah 547,736 km², bisa dibilang Ternate merupakan sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 212, 997 di tahun 2015 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Ternate. Jika dilihat dari luas wilayah dan jumlah penduduk, serta membandingkan Ternate dengan pembangunan di daerah lain di Indonesia Barat, saya bersepakat jika Ternate masih ketinggalan dalam ihwal kemajuan teknologi dan informasi.

Persoalan ini tentu ditunjang dari faktor ketimpangan sosial dan pembangunan antara Indonesia bagian Barat dan Indonesia bagian Timur. Namun jangan pikir ketika Ternate mengalami ketertinggalan seperti daerah Timur pada umumnya, kalian dengan mudah berasumsi bahwa Ternate merupakan daerah dengan penduduk yang udik dan tak paham ihwal gaya hidup orang kota. Persoalan tadi tidak menjadi batu sandungan bagi masyarakat Ternate untuk mengikuti budaya massa di era kapitalisme lanjut ini.

Budaya massa telah mengejawantahkan suatu sistem yang mengonstruksi perilaku dan pola pikir masyarakat kita. Ia menggusur sistem budaya yang lahir dari akar rumput. Hal ini melahirkan masyarakat yang konsumtif dan individualistis. Nilai sosial yang telah bertahan dari waktu ke waktu, akhirnya amblas. Sistem ini dibentuk oleh pemilik modal dan yang mempunyai kuasa atas alat produksi. Terbukti ketika komunisme, ideologi yang pernah menghantui hampir seluruh Eropa itu, telah khatam dari perang ideologi berkepanjangan setelah runtuhnya tembok Berlin dan terbisnya Uni Soviet pada akhir ’80-an. Dan negara yang tersisa dari penganut ideologi ini tinggal menunggu akhir hayat sang pemuda gila, Kim Jong Un. Kuba dan Amerika telah terjadi berekonsiliasi, Venezuela dibikin letoy setelah wafatnya Chaves dan Tiongkok yang mengkhianati pemikiran Mao dengan ekonomi liberalnya.

Dari contoh luas di atas, kita dapat melihat bagaimana budaya massa telah menumbangkan satu-persatu dari lawan-lawanya untuk menciptakan imperium yang kuat dan tak muda terpatahkan oleh apapun. Hal ini telah diramalkan oleh Francis Fukuyama dalam Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal  (2001) yang mengatakan tumbangnya Uni Soviet dalam pergulatan sejarah adalah tanda kemenangan pasar bebas yang dikuasai oleh negara-negara besar seperti Amerika. Ini adalah sederetan bukti betapa buasnya budaya massa.

Teori budaya massa merujuk pada konsekuensi-konsekuensi mengganggu dari proses industrialisasi dan urbanisasi. Transformasi radikal yang diakitkan dengan bangkitnya jenis-jenis produksi industri mekanis dan berskala besar, dan pertumbuhan kota-kota besar yang padat sebagai bentuk-bentuk di mana orang semakin banyak yang bekerja dan tinggal di sana dikatakan telah mengurangi stabilitas dan mengikis struktur sosial maupun struktur nilai yang sebelumnya dipertahankan oleh banyak orang.

Sebagai usaha mendefinisikan secara tepat apa yang dimaksud dengan konsep budaya massa, teori tersebut mengatakan bahwa industrialisasi dan urbanisasi berfungsi menciptakan apa yang disebut sebagai “atomisasi”. Ini berarti bahwa sebuah masyarakat massa terdiri atas orang-orang yang hanya bisa berhubungan satu sama lain seperti atom dalam sebuah senyawa fisika atau kimia. Orang-orang ini jelas tidak dipahami secara murni dan begitu saja sebagai atom-atom yang terisolasi, tapi hubungan-hubungan itu diakatakan murni bersifat kontrak, berjarak, dan sporadis, dan bukannya bersifat komunal dan benar-benar terintegrasi.[i]

Penduduk Ternate, terjerumus pada budaya konsumerisme yang mengakibatkan terkikisnya struktur sosial maupun struktur nilai yang sebelumnya telah dipertahankan oleh banyak orang secara turun temurun. Namun sejujurnya, di satu sisi, saya turut berbahagia ketika kemajuan zaman telah merobohkan sistem feodal yang begitu melekat pada penduduk Ternate yang membuat banyak manusia harus tunduk-jongkok-tak bisa berdiri sejajar karena dibelenggu oleh sistem kasta yang kelewat meminggirkan harga kemanusiaan itu.

Tapi di sisi lain, problem ini sangat disayangkan dengan melihat realitas objektif saat ini, di mana ketika sistem feodal perlahan-lahan runtuh oleh pembabakan zaman, yang terjadi justru hilangnya identitas kedaerahan yang mendefiniskan perilaku masyarakat kekinian yang dibentuk oleh pengaruh kapital. Semakin sedikit kelompok atau organisasi nonmahasiswa yang mempunyai gagasan dan tujuan untuk memupuk kembali apa yang telah lama hilang dalam struktur sosial masyarakat.

Hal tersebut bukan hanya terlihat pada perliaku masyarakat pada umumnya namun juga pada generasi selanjutnya. Parahnya, sebagian besar mahasiswa (dalam hal ini, penduduk asli Ternate) juga terseret oleh konstruksi ini. Argumentasi ini dapat dibuktikan dengan bertumpu pada minimnya pemuda-pemuda yang sadar akan realitas sosial yang sedang tidak baik-baik saja dan ogah untuk berkecimpung di organisasi gerakan. Menjadi pembalap dan polisi mungkin menjadi impian paling ‘agung’ yang bisa dipikirkan oleh pemuda-pemudi di sana. Yang lain memilih untuk kuliah di kota-kota besar (di Pulau Jawa) yang sialnya justru membuat budaya konsumerisme mereka makin tak dapat dibendung.

***

Ternate menjadi kota yang dahaga akan gaya hidup kekinian. Sering kali saat saya pulang ke daerah pada liburan semester genap, saya sangat menikmati ketika melihat perkembangan gaya atau brand apa yang tengah mengabuk masyarakat di sana. Ketika melihat perkembangan gaya mereka, tak jarang saya merasa baru keluar dari desa dan bukanlah seorang perantau yang baru saja pulang dari kota besar di Pulau Jawa. Yang menjadi jenaka dari persoalan ini adalah ketika suatu brand sedang eksis di pasaran, semua orang akan menggunakan produk dari merk tersebut. Lucu. Dengan gamblangnya popular culture menelanjangi budaya dan menghancurkan adat-istiadat serta menyeret mereka pada perilaku yang konsumtif. Pun dengan tempat nongkrong anak muda, di mana ketika suatu kafe atau kedai yang baru dibuka — dengan konsep yang biasa-biasa saja — semua orang akan berbondong-bondong datang ke tempat tersebut.

Ada kisah seorang kawan saya, Zul, yang memberikan materi makrab untuk mahasiswa baru asal Ternate yang kuliah di Jogja. Ketika ia memeperkenalkan diri dan mengatakan bertempat tinggal di Pulau Moti, semua mahasiswa baru tersebut, tertawa dengan penuh percaya diri. Alasannya begini: Pulau Moti adalah suatu pulau yang termasuk dalam wilayah administratif Pemerintah Kota Ternate. Masalahnya, pulau tersebut tertinggal di segala aspek pembangunan. Mungkin mereka membayangkan sebuah desa terbelakang yang tak punya listrik, gelap dan pekat.

Tak mengerti ihwal gaya hidup dan cara berpikir orang kota dan seolah menjadi lelucon ketika seorang dari Pulau Moti membawa materi untuk para mahasiswa Ternate, ungkap Zul saat menceritakan kisah menyedihkan tersebut. Setelah forum telah selesai dengan gelak-tawa, ia mengeluarkan sarkasme paling mencekam yang akan menerjang siapa saja yang menertawakan dirinya: “kalian bisa tertawa sesuka kalian. Tak masalah. Seharusnya kalian sedih karena yang berdiri di depan kalian adalah orang desa yang tak punya apa-apa. Kalian anak kepala dinas, anak pejabat, orang-orang kota, duduk di sini mendengarkan orang kampung berbicara.”

Seketika semua tawa redup, sunyi dan sepi, bagaikan dibawa oleh angin pantai kala itu yang berhembus kencang. Yang tersisa hanya suara orang desa yang lantang seolah telah memenangkan pertarungan yang melelahkan.

Sejujurnya, saya sering kali sinis dalam memandang kota ini beserta segala ihwal tetek-bengeknya. Alasannya karena bagi saya kota ini berubah menjadi kota yang angkuh nan fasis. Orang-orang pendatang dari Halmahera seperti saya dianggap kampungan, seperti halnya yang menimpa Zul. Celakanya, saya pun pernah merasakan hal yang sama sepertinya, walaupun tak separah itu. Persoalannya sederhana, yang mengundang gelak-tawa: ihwal logat yang berbeda. Padahal, jika melihat embel-embel identitas yang melekat dalam diri saya, harusnya saya mempunyai rasa primordial — atau kurang lebih, sedikit — dengan kota tempat di mana saya lahir dan mengenyam pendidikan sederajat tersebut. Pun orang tua dari pihak Ibu, selama beberapa generasi, lahir dan dibesarkan dan masih menetap hingga kini.

Ketika awal-awal saya kuliah di Jakarta, saya susah untuk menemukan kawan sesama daerah. Saya selalu nongkrong di Selasar Blok III bersama kawan sefakultas Fisip sambil sesekali mencari-cari muka Timur yang lewat. Tiba pada suatu hari yang biasa, saya diperkenalkan oleh Fajar pada seorang yang dikenalnya yang berasal dari daerah yang sama dengan saya. Saya begitu senang. Akhirnya, rindu terbayar tuntas: saya tak harus selalu menggunakan elo-gue. Saya kemudian tau pemuda itu bernama Rizal, selepas kami berkenalan. Ia asli orang Ternate. Namun, perkenalan itu tak berjalan sesuai dengan apa yang saya harapkan. Keriangan saya dibalas dengan muka datar lantas berlalu begitu saja di Selasar, Blok II Unas. Bertambah pula kebencian saya kepada Ternate dibuatnya. Dasar sombong. Bajingan!

Suatu sore yang lain, di Kantin Belakang, saya kembali bertemu dengannya. Pertemuan ini bukan lagi didasari oleh keinginan saya bertemu kawan sesama daerah, melainkan ingin belajar dengan Fajar. Saya telah mengubur dalam-dalam keinginan saya untuk mencoba lebih dekat dengannya. Pertemuan ini membuka pintu-pintu pertemuan selanjutnya. Hingga suatu saat saya mengatakan pada Fajar ingin belajar menulis di redaksi Spatkapitalismus.

Keputusan untuk belajar menulis, telah merubah banyak hal dalam diri saya termasuk meninggalkan pergaulan saya sebelumnya. Selain, pesatnya perkembangan saya dalam membaca, Fajar lebih serius dalam membimbing saya. Dan ya, si pemuda Ternate telah berubah sikapnya. Ia menjadi begitu perhatian menanyakan buku apa yang sedang saya baca dan sesekali membicarakan hal yang remeh-temeh tentang Ternate.

Belakangan saya tahu ketika ia menyatakan alasan sikap awal Rizal terhadap saya, karena dikiranya, saya sama seperti perantau asal Ternate pada umumnya: apatis dan hidup berfoya-foya di tengah kontradiksi sosial. Jelas bahwa pop culture selalu membarengi kita di abad yang mengerikan ini. Beginilah Ternate pun yang lain: terjerumus pada labirin budaya massa. Tersesat dan tak ada jalan pulang. ♦

catatan kaki

[i] Strinati, Dominic. (2009). Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

About the author

Dikenal sebagai Galang Tarafannur. Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nasional angkatan 2014. Putera Bacan yang menaruh minat pada sastra. Bisa bertegur sapa dengan penulis melalui Line di: galangtarafannur69

Related Posts