Oleh: Keshia Sawitri*

Membanting uang di atas meja, Paraban menatap sang ajudan sambil menyedot ingusnya. Ia berserdawa, lalu mencoba menyusun intonasi agar lebih berwibawa dan terdengar tenang, “Pasang pengumuman: ‘Dicari! Orang yang menyebarkan ancaman kebohongan ini. Ada imbalan bagi yang dapat menemukan. Hadiah uang tunai menanti. Bisa langsung diambil di kantor Bupati.’”

Leher Hitam, ajudannya, menatap uang yang dilempar Paraban dengan takjub, lalu bertanya, “Kalau saya yang menemukan, apakah hadiah itu masih berlaku?”

“Haish! Kerja sana! Ini serius!” Paraban melemparkan pulpen ke arah Leher Hitam. Tepat saat itu, Gondhes, anak pertama Paraban yang berwajah kekotaan, masuk ke ruang ayahnya.

“Masuk kamu! Kita perlu bicara!”

Gondhes, yang hampir terkena lemparan ayahnya, memberanikan diri bertanya. “Mengapa tugas itu diberikan kepada ajudan? Bukankah lebih efektif melalui humas? Bisa menjangkau melalui media sosial dan media lainnya.”

“Itu sudah dilakukan, tapi kamu ‘kan tahu sendiri, di sini belum banyak orang tua yang tahu akses internet. Media juga tidak banyak meliput kota kecil macam ini. Jadi harus tetap ada pengumuman langsung. Kalau yang pasang pengumuman di masyarakat itu ajudan, takutlah mereka. Dan lihatlah, ajudan kita ‘kan tampan-tampan dan gagah. Bisa menarik perhatian media. Masyarakat juga bakal langsung bekerja. Mereka lebih mudah tunduk. Makanya belajar kalau mau berkuasa!”

Mengambil hati ayahnya, Gondhes berkata, “Aku ada kabar baik. Setidaknya sampai sekarang elektabilitas kita masih bagus, di atas pasangan Sarimbit. Ada survei kecil-kecilan yang dilakukan Koran Ripuh dan kita menang. Padahal koran tersebut sebetulnya memihak pasangan sebelah.”

“Kita tetap harus hati-hati. Kejadian akhir-akhir ini bisa mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadapmu dan Ayah. Masih banyak waktu, hasil bisa berubah. Ingat itu! Dinasti kita bisa buyar!”

Gondhes, calon bupati muda penerus ayahnya itu hanya tertunduk sambil tersenyum. Lalu, ia berkata dengan semangat, “Tadi Ayah mau bicara apa?”

***

Kejadian di kabupaten Paraban berkuasa dimulai sekitar lima minggu sebelumnya. Awalnya ringan. Penculikan seekor anjing. Lantas menjadi dua, empat, delapan ekor, dan seterusnya. Total hingga di hari Paraban melempar pulpen ke Leher Hitam, sudah ada empat puluh sembilan anjing yang hilang.

Tadinya ia tidak mau ambil pusing, tetapi anjing di kabupatennya merupakan bagian penting dari pariwisata. Mereka biasanya menjaga objek-objek wisata agar tidak kecurian. Kabupaten tersebut memiliki situs-situs bersejarah yang bisa dengan mudah didaki oleh mafia cagar budaya. Mereka juga memiliki museum yang kini sudah direstorasi. Belum lagi makam-makam tempat orang berziarah. Semuanya dijaga anjing warga. Saking banyaknya anjing baik di sana, kabupaten  Paraban sering disebut sebagai “Kabupaten Anjing”.

Paraban mendengus sambil lalu, “Ah, bukan hal yang besar.” Akan tetapi, akhirnya pemerintah turun tangan juga, semenjak Unthul-Unthul, anjing jenis Dogue de Bordeaux milik Camat Angonsari, juga hilang. Mengerahkan seluruh elemennya untuk mencari anjing-anjing itu ke kota lain, hingga saat ini Paraban dan rekan belum menemukan hasil.

Sementara itu, pasangan Sariyanto dan Embit (biasa disingkat Sarimbit) yang maju melawan pasangan Gondhes dan Kendala (biasa disingkat Gondala) di pilkada sebentar lagi, mulai melancarkan manuver. Mereka memanggil koran kesayangan mereka yang tertera di atas, media lain, serta berbicara lewat akun-akun buzzer di media sosial, mengenai ketidakbecusan penanganan  Paraban.

Embit, dalam salah satu jumpa pers sebelum masa kampanye dimulai mengatakan, “Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana mungkin keprihatinan kita semua disepelekan oleh pemerintah? Seharusnya pemerintah segera mengambil tindakan dari awal kejadian. Bagaimana jika anjing-anjing tidak bersalah itu mati? Jutaan pencinta hewan tentu akan mengutuk kita. Bagaimana jika tidak ada penjaga di kabupaten ini? Di mana rasa aman masyarakat? Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, dan rekan-rekan wartawan yang saya hormati, tentunya hal semacam ini tidak akan kami biarkan terjadi jika nanti kami yang berada di posisi pemerintahan. Percayalah.”

Paraban tentunya mulai curiga dengan keterlibatan pasangan Sarimbit dalam kasus tersebut. Sayang, tidak ada bukti. Ia kemudian membentuk tim khusus pencegahan penculikan anjing serta tim gabungan pencarian anjing.

Namun, Gondhes mulai bertanya kepada ayahnya, “Apakah tidak sekalian kita buat tim investigasi ke kubu sebelah?” Ayahnya menjawab, “Belum perlu. Sejauh ini, biar polisi yang mengusut sesuai aduan saja. Ini tidak besar, hanya sedikit memalukan. Lagi pula, perkara sepele macam ini sudah habis banyak anggaran. Anjing lagi. Anjing lagi. Anjing!”

***

Kejadian lain dimulai sepuluh hari setelah kejadian pertama dimulai. Kabarnya, beberapa lukisan di Museum Kebanggaan dirusak. Lukisan-lukisan tersebut tercabut ke bawah bingkai hingga setengahnya dalam keadaan seperti teriris tipis, bagai skandal terobeknya lukisan Banksy yang berjudul Girl with Balloon.

Media pendukung Sarimbit memberitakan bahwa hal tersebut akibat dari ketiadaan anjing-anjing penjaga. Hal tersebut tidak lepas dari ketidakmampuan  Paraban dan pemerintah mengembalikan keamanan. Media pendukung Paraban pun tak kalah menggiring opini bahwa pihak lawan kini sedang berusaha memorakporandakan keadaan agar kepercayaan masyarakat berkurang.

Gondhes, dengan raut yang kusut, menjumpai ayahnya yang sedang bermain golf. “Ayah yakin tidak mau membentuk tim investigasi? Mereka mulai ganas, lho. Atau perlu serangan balasan?”

Paraban mendengus kesal. “Kapan kamu becus jadi manusia, Ndhes?! Itu hal yang tidak penting, bukan hal besar. Kalau kita balas, maka masyarakat yang tadinya mendukung kita akan melihat kita sama saja dengan mereka. Pasang muka bijak dan sesuai prosedur.”

“Tapi, Yah…”

“Dengar! Selama mereka belum menyabotase sembako atau BBM, kita biarkan saja. Apa yang mereka lakukan bukan hal besar. Paling hanya sedikit memalukan bagi kita.”

“Bagaimana kita yakin mereka tidak akan menyabotase sembako dan BBM?”

“Apa gunanya aku di sini bermain golf dengan Cak Awis jika kami tidak membicarakan hal-hal semacam itu? Amatiran kamu.”

***

Walau demikian, tampaknya Paraban tergerak juga setelah peristiwa ketiga menghantam warga, yaitu pembakaran dan perusakan motor-motor yang diparkir di trotoar. Apakah hal tersebut karena  Paraban peduli warga? Belum tentu. Kali ini, ada jejak lain yang ditinggalkan di tempat kejadian. Jejak itu berupa kertas A4 bertuliskan kata-kata: “Dasar tidak becus! Jika mengurus hal kecil seperti pemotor yang ngawur parkir di trotoar saja tidak bisa, apalagi dengan hal yang besar. Memalukan!”, ditulis dengan font Comic Sans ukuran 48.

Kali ini, gelombang ketidakpercayaan yang semakin serius semakin besar. Masyarakat merasa amat dirugikan dengan perusakan dan pembakaran motor, terutama mereka yang belum melunasi cicilan motornya.

Seorang warga memberikan pendapat di media, “Kami tahu parkir di trotoar itu salah. Harusnya untuk pejalan kaki. Tetapi, lihat dong, infrastrukturnya kurang. Lahan parkir nggak ada. Mau parkir di mana? Pemerintah bagaimana, sih? Tidak melindungi warganya. Sekarang kami yang rugi ‘kan? Nggak bisa dipercaya!” Wartawan media tersebut bertanya lebih lanjut, “Jadi menurut Anda, ini salah siapa?” Warga tersebut semakin berapi-api menjawab, “Pemerintah, lah!” Lanjut wartawan lagi, “Memangnya yang bakar motor Anda, pemerintah?” Warga tersebut semakin emosi, “Nggak tahu, Mas. Yang jelas ini karena kerja pemerintah tidak becus!”

Paraban melihat kali ini hal tersebut amat mengancam kedudukan keluarganya. Bagi dia yang masa jabatannya sebentar lagi habis, hal tersebut tidak masalah. Akan tetapi, Gondhes, anak pertamanya yang ia perintahkan untuk maju dalam pilkada tahun ini, dalam posisi rawan.

Pada akhirnya, Paraban mengadakan konferensi pers. “Kami akan segera membentuk tim investigasi, untuk mengusut tuntas siapa dalang dari kekacauan ini. Tentunya tak lepas dari segala macam hal yang terjadi, tidak usah dikaitkan dengan perpolitikan, ya? Ini semua pastilah hanya ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Anak saya yang terkasih, Gondhes, didampingi dengan orang-orang yang sudah berpengalaman dalam bidang mereka, akan memimpin tim tersebut. Tentunya, jika nanti tim tersebut berhasil, kami berharap akan meningkatkan kepercayaan warga sekalian terhadap kinerja kami, dan mempercayakan Gondhes menjadi bupati selanjutnya.”

Gondhes, yang sedang rapat lima kilometer dari situ, tak diberitahu apapun oleh  Paraban mengenai penunjukannya sebagai ketua tim investigasi.

***

Sepuluh hari semenjak Gondhes menjadi ketua tim investigasi, alih-alih menunjukkan hasil, sebuah amplop coklat tergeletak di meja Paraban. Di dalamnya terdapat surat, tertera di dalamnya:

 

Yth.  Bapak Paraban

 

Perkenalkan, saya adalah pelaku kekacauan akhir-akhir ini. Sebelum Anda marah, saya sampaikan terlebih dahulu maksud surat ini. Tiada yang lebih berharga dari pengakuan  Anda terhadap saya. Oleh karena itu, melalui surat ini, saya ingin menyampaikan bahwa saya hendak membuat pengakuan kepada media, dengan fasilitas dari Anda. Saya bersedia menanggung semua kesalahan saya, asalkan Anda juga mengakui ketidakbecusan dalam memerintah selama sepuluh tahun. Tentunya hal tersebut akan menguntungkan kita berdua: saya menjadi lega dan dikenal publik, sementara Anda tidak perlu lagi bekerja keras menemukan saya, serta masyarakat akan jatuh simpati pada Anda.

 

Kiranya Anda mengabulkan permintaan saya ini, yang mohon diselenggarakan pada tanggal 17 November, pukul 19:00 di bawah kanopi kantor Bupati. Panggil semua media lokal dan nasional yang memungkinkan.

 

Namun, jika Anda tidak berkenan, tentunya saya memiliki opsi lain. Saya memiliki kumpulan arsip kesalahan dan skandal yang Anda  lakukan selama ini, yang akan saya sebarkan dalam bentuk buku biografi  indah di saat yang sama dengan waktu permintaan saya di atas. Daripada repot-repot mengakui kesalahan sendiri, saya bantu  mengungkapkannya.

 

Silakan  pertimbangkan hal tersebut.  Tidak perlu repot mencari saya untuk mengabari mana yang Anda putuskan, sebab saya akan tahu dengan sendirinya. Tidak perlu juga repot membentuk tim investigasi lain. Selain membuang anggaran, tidak ada gunanya mengambinghitamkan tim lawan, walau saya percaya mereka sama brengseknya. Lagi pula, putra Anda tersebut hingga saat ini juga tidak becus menjalankan tugasnya menghadapi kasus sebelumnya, bukan?

 

Sampai jumpa.

 

Salam,

Pelaku

 

Lima belas menit setelah Paraban membaca surat tersebut, Leher Hitam terkena lemparan pulpen, lalu Gondhes menyampaikan berita kemenangan survei.

***

Tanggal 17 November, pukul 18:51, Leher Hitam mengetuk rumah dinas  Paraban.

“Sedang pusing saya! Mau apa kamu ke sini? Saya ‘kan minta kamu cari Gondhes untuk bersiap menemui media kalau ada apa-apa terjadi. Sudah ketemu, belum?!”

“Justru itulah saya ke sini. Saya ingin bicara dengan Bapak.”

“Saya tidak punya waktu! Tugasmu itu ya mengawal saya dan melakukan apa yang saya minta kalau dibutuhkan. Sampai sekarang pelaku belum ditemukan, tim investigasi juga belum menemukan apa-apa. Bagaimana jika dia menyebarkan berita yang tidak-tidak mengenai saya, huh? Hancur sudah kehormatan saya nanti.”

“Justru saya ke sini karena ingin mengatakan, bahwa pelakunya sudah ketemu. Saya yang menemukannya. Ini buktinya: naskah yang akan digunakan untuk menyerang .”

Leher Hitam kemudian menyodorkan segepok kertas yang dijepit dengan klip besar.  Paraban mengambilnya dengan kasar, lalu membuka halaman pertamanya. Di dalamnya ia baca:

 

Sedari aku kecil, produk penyimpangan kekuasaan yang ditanamkan dengan kuat bukanlah seberapa kasar dan keji secara lahiriah kita memperlakukan seseorang, melainkan seberapa besar kita bisa mempermalukan seseorang. Itu pula yang diterapkan padaku, dan aku mengamininya. Tidak terhitung berapa jumlah cambukan dan pukulan yang pernah kuterima darinya, tetapi tidak akan pernah melebihi hukuman lain yang ia lakukan. Ia tidak punya sebutan bagi hukuman lain tersebut, tetapi setiap aku menangis karena perlakuannya, dicemoohnya aku dengan kata-kata ini: “Ini bukan hal besar, tetapi memalukan ‘kan buatmu?! Benar tidak?!”

 

Beberapa hal yang aku masih ingat di antaranya ialah bagaimana ia memakiku di arena bermain Taman Cerdas, di depan banyak sekali orang saat libur kenaikan kelas. Lainnya lagi, ia pernah membawaku ke teras depan rumah di bekas rumah kami di pinggir Jalan Raya Kabupaten. Ia menurunkan celanaku, meletakkanku di pangkuannya dan memukul pantat telanjangku. Bayangkan, di teras rumah pinggir jalan raya. Mereka. Semua. Melihat. Pantat. Telanjangku. Di tempat kendaraan bahkan bus antar kota antar propinsi berlalu-lalang, mereka yang sempat berhenti atau berjalan mengamati, menatapku. Padahal kala itu, aku sudah kelas 6 SD.

 

Namun, yang paling kuingat adalah saat aku masih kelas 2 SD, ia mengikatku di pohon depan rumah, dengan tali anjing. Ia membiarkanku ditonton tetangga dan anjing-anjing mereka, yang dengan haus menatapku dengan iba, karena menganggap aku sekawanan dengan mereka.

Sampai di situ, mata  Paraban memerah. Namun, tidak ada sorot welas dalam kemerahannya. Semua hanya kemarahan. Dibaliknya kertas depan, kosong. Ia balik lagi ke halaman terakhir, kosong. Ia buka halaman kedua paling belakang. Dibacanya nama yang akhirnya ia ketahui: Gondhes bin Paraban.

Dengan nyalinya yang besar, Leher Hitam masih berani menanyakan, “Jadi bagaimana, Pak? Kalau saya yang menemukan, saya juga dapat hadiah uang, ‘kan?”

***

sedang menempuh pendidikan magister psikologi profesi. Senang membaca dan lebih sering tergoda menulis fiksi dibanding tesis. Tinggal di Semarang dan Yogyakarta. Tulisan lainnya dapat dikunjungi di mastautin.wordpress.com.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts