Sebagai pelahap buku, saya terkesima dan menyetujui pemikiran Tereza, tokoh utama dalam The Unbearable Lightness of Being (1984). Dalam karya Milan Kundera itu, Tereza merasa memiliki keterikatan dengan Tomas saat melihat si lelaki membawa buku di restoran tempat Tereza bekerja.

Tereza tak pernah mendapati satu pengunjung pun yang datang membawa buku. Baginya, buku bukan sekadar tumpukan kertas tipis yang dijilid. Buku adalah “emblem dari suatu persaudaraan rahasia,” yang ia gunakan sebagai “senjata untuk memerangi kekasaran yang mengelilinginya.” Bukalah portal mana saja, dengan mudah Anda akan menemukan berita-berita soal kekejian, kebencian, serta kemuraman dunia.

Para pembaca sastra yang rakus akan bersepaham dengan Gabriel García Márquez dalam Seratus Tahun Kesunyian (1967): “Dunia ini tentu sudah bobrok ketika orang-orang bepergian dengan kereta kelas satu, tetapi kesusastraan diperlakukan seperti barang.”

Pembaca buku adalah orang-orang terpilih. Orang-orang yang rela meluangkan waktu untuk menepi sejenak dari dunia, baik yang nyata maupun digital, demi menekuni baris demi baris kalimat dalam buku yang mereka genggam.

Hidup sedang berlari kencang. Realitas kini juga diukur berdasarkan kecepatan byte per detik, serta kuantitas like dan followers. Membaca buku, selain buang-buang waktu, juga hobi yang mahal. Betapa tidak? Perhatikan saja harga buku-buku baru di toko buku!

Saya dan kekasih, Triyandri Setra Pertiwi akan selalu mengenang bagaimana Saksi Mata (1994) karya Seno Gumira Ajidarma menjadi saksi bisu perjumpaan pertama kami. Saya takkan lupa bagaimana sahabat saya, M. Iqbal Tarafannur meminta untuk diajari menulis setelah ia membacai karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Oh, betapa hati saya bungah tak terkira ketika adik saya yang bungsu meminta pinjam buku-buku George Orwell dan Haruki Murakami. Sejak itu saya merasa hubungan kami tak hanya diikat oleh darah, namun juga cinta yang sama: buku.

Di suatu Minggu pagi, saya dan kekasih memutuskan untuk cari angin sekaligus sarapan. Tempat tinggalnya di Halim, Jakarta Timur berdekatan dengan Pondok Gede, Bekasi. Di sana ada keramaian. Di sana—apa lagi jika Anda rutin melewati Plaza Pondok Gede—selalu ada keramaian. Siapa tahu, petualangan di pagi itu akan membawa kami ke warung makan yang lezat, yang sebelumnya tak pernah kami ketahui.

***

Sebagai area yang hampir 24 jam terus-menerus sibuk, Pondok Gede hanya dipandang sebagai jalur persinggungan antara Jakarta dan Bekasi. Di ruas ini, Anda akan menjumpai jalan melingkar bercabang tiga. Titik dari jalan melingkar itu adalah pusat ekonomi yang tumpah ruah: Plaza Pondok Gede, Transmart, serta pasar tradisional. Mereka menjual apa saja, di jam berapa pun juga. Mungkin, di sana, yang Anda perlu khawatirkan cuma isi dompet dan gengsi.

Mereka yang berniaga dan dipacu waktu tak peduli bahwa di pusat macet tersebut pernah berdiri rumah megah nan bersejarah. Rumah yang dibangun oleh Pendeta Johannes Hooyman pada 1775 itu bukan bangunan biasa. Pemilik terakhirnya adalah pengusaha Yahudi Polandia nan kaya, Juda Leo Ezekiel.

Konon, terminologi kata “judes” diambil dari pria yang konon orang Yahudi terkaya di Hindia Belanda ini. Maklum, selain berniaga emas, Juda yang juga memiliki alias Lendeert Miero ini menyambi sebagai rentenir kikir yang enteng mencela. Rumah yang dibeli Juda sejak 1800 itu akhirnya roboh pada 1992, ketika pemilik terakhir—Induk Koperasi Angkatan Udara—menjual bangunan bersejarah untuk dijadikan mal.

Ah, betapa berbedanya kita dengan bangsa-bangsa lain dalam memperlakukan sejarah. Ketika banyak bangunan dirobohkan dengan dalih kemajuan; ketika ingatan manusia (baik sebagai individu maupun kolektif) begitu mudah melupakan, ke mana lagi kita mesti mencari sejarah? Tak pelak, tak lain dan tak bukan: kepada buku.

Hari itu motor saya lajukan ke arah keramaian niaga yang lain, yakni pasar pagi di kompleks perumahan Hankam. Kawasan ini berada di wilayah kelurahan Jatimakmur, yang menjadi bagian dari kecamatan Pondok Gede. Ingatan tentang asal-usul Pondok Gede berseliwer di kepala ketika saya menjumpai keajaiban, tak jauh dari pasar pagi yang sumpek dan semrawut.

***

Mulanya saya dan kekasih begitu tak sabar untuk menjajaki aneka jajanan di pasar pagi. Tak dinyana, kondisi pasar menyurutkan selera makan kami. Orang-orang berjejal di atas motor masing-masing, membuat siapapun sulit menikmati suasana.

Kami sempat berdialog: Apa susahnya, sih, melarang pengunjung berkeliling menggunakan motor? Jika ditertibkan, tentu pedagang dan pembeli akan sama-sama merasakan kenyamanan dalam berbelanja. Pengelola pun akan meraih lebih banyak untung dari ongkos parkir.

Belum lagi jika kita menghitung kombinasi antara knalpot motor nan bising, kepulan debu, serta terik matahari Bekasi yang khas. Ini hari Minggu, hari yang tepat untuk menepi sejenak dari ingar-bingar hidup. Tak berniat merusak hari, kami memilih untuk memarkir motor dahulu. Tatkala kami mengitari kompleks perumahan untuk mencari tempat parkir, pandangan mata kami tertawan pada sebuah lapak yang berjarak kira-kira 100 meter dari pasar pagi.

Diapit oleh dua mobil, tampak buku-buku berderet di atas tiga lembar terpal. Awalnya kami pikir lapak ini menjual buku-buku bekas. Namun, pasca menghentikan laju motor, kami dikagetkan saat melihat tanda sederhana bertuliskan: “BACA GRATIS”. Lapak ini ternyata merupakan perpustakaan jalanan yang menyediakan buku-buku untuk dibaca secara cuma-cuma.

Di balik mobil, tampak seorang pemuda berambut gondrong sedang duduk bersandar di pohon. Postur tubuhnya teramat kurus. Ketika melihat kami, yang ia tawarkan pertama kali adalah senyum. Tawaran kedua adalah sebuah sapaan: “Silakan, Mas, Mbak, buku gratis. Boleh dibawa pulang juga.”

Pemuda itu memakai kaos Persija yang tampak kebesaran di tubuhnya yang tipis. Seakan tak ingin berhenti mengejutkan kami, ia lebih senang menggunakan kosakata bahasa Jawa. Saya pun mengajaknya berkenalan. Pemuda ceking itu bernama Sapto, lahir dan besar di kampung Rawabacang, Bekasi. Saat itu lapaknya juga dikunjungi satu keluarga yang asyik membacai buku-buku bertema agama. Ada pula dua bocah yang melihat-lihat koleksi buku yang Sapto jajakan. Tiba-tiba saja saya merasa cuaca Bekasi beralih sejuk.

Lantas saya perhatikan Sapto asyik bermain dengan seorang bocah balita. Ada pula seorang ibu meleseh di dekatnya. Tak ingin mengganggu beliau, saya dan kekasih membaca buku-buku pilihan kami. Pandangan mata saya tertuju pada Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk (2004), buku langka yang mendokumentasikan perlawanan sastra cyber era 2000an vis-à-vis “sastra koran” yang telah lama mapan.

Di sela-sela pembacaan khusyuk kami, Sapto (tak lupa dengan senyum menawannya itu!) menawari kami rujak serut. “Silakan, Mas, Mbak, camilan sambil baca,” ungkapnya tulus. Buku di tangan tak mampu menawan saya lama-lama. Saya begitu tak sabar ingin mengajak Sapto bercakap-cakap.

***

Para pembaca perpustakaan jalanan Temanku Baik.

“Selain bangun kesiangan, musuh kami yang lain adalah hujan, Mas,” ujarnya. Sapto ternyata menggelar perpustakaan secara “ilegal”. Ia tak meminta izin kepada pengurus kompleks atau pengelola pasar pagi. Itu sebab mengapa perpustakaannya mengambil jarak dari lokasi pasar pagi. Oleh karena sejumlah keterbatasan, perpustakaan jalanannya tak dinaungi tenda.

Dengan cerdik, ia sengaja memilih tempat di bawah pepohonan rindang. Dari perpustakaannya, mata Anda akan memandang lapangan sepak bola yang secara ajaib belum digusur pengembang—seperti yang menimpa rumah besar Juda Leo Ezekiel.

“Tertarik main bola? Datang lebih pagi saja, Mas. Kalau Mas bawa sepatu bola pasti diajak main, kok,” tuturnya. Saya seperti menemukan oase yang lain. Futsal menjadi olahraga populer di kota karena penggemar sepak bola telah kesulitan mencari lahan hijau untuk menyepak si kulit bundar.

Di tengah-tengah percakapan, berdatangan para pemuda seumuran Sapto. Mereka ternyata sesama pengelola perpustakaan ini, komunitas literasi yang diberi nama Temanku Baik. Lagi-lagi saya tersenyum simpul. Ini hari Minggu yang kelewat baik.

“Masih ada teman-teman kami yang lain. Tapi mereka masih bermimpi, belum berani mewujudkan mimpinya untuk datang ke sini,” tutur Sapto filosofis. Pemuda ini asyik sekali merangkai kata.

Komunitas Temanku Baik mulai menggelar perpustakaan di lokasi tersebut sejak Januari 2019. Belum lama. Sapto, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Indraprasta ini mengaku terpengaruh dari tayangan di YouTube tentang perpustakaan jalanan.

Pasca menonton tayangan tersebut, ia menularkan gairah literasi kepada teman-teman sepermainan dan mengajak mereka untuk melakukan hal serupa. Tempatnya tidak perlu jauh-jauh. Sapto berpikir bahwa perbuatan baik bisa dimulai di lingkungan terdekat. Anak-anak Temanku Baik juga berkomitmen untuk membaca minimal satu buku per bulan.

“Awalnya kami sering diusir satpam, Mas,” selorohnya, yang kemudian saya sergah, “Lalu mengapa sekarang diperbolehkan?”

“Mereka bosan sendiri karena kami enggak kapok-kapok,” jawab Sapto. Jika perkara izin telah mereka atasi, maka konsistensi adalah tantangan yang lebih berat. Bangun pagi di hari Minggu hanya demi meminjamkan buku? “Orang waras” tentu enggan melakukannya. Saya makin salut ketika Sapto mengizinkan siapa saja membawa pulang buku dengan syarat yang mudah. Peminjam hanya wajib menuliskan nama dan alamat mereka di buku catatan.

“Rezeki enggak akan tertukar, Mas,” jawab Sapto ketika saya tanya apakah ia tak khawatir buku-bukunya hilang atau rusak. Ketika Temanku Baik mulai aktif, Sapto dan kolega mulai rajin menambah koleksi masing-masing. Mayoritas buku di sana adalah buku-buku bekas. Hampir semua buku disampul plastik dengan apik; yang tentu saja dapat meringankan beban Sapto dalam menjaga kondisi buku.

Sapto lantas berceloteh soal inspirasinya. Soal penulis, ia mengagumi Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, dan Albert Camus. Saat saya tanyakan tiga judul buku yang paling berpengaruh dalam hidupnya, Sapto enggan menyebutkan secara spesifik. Namun, “Urutan kesatu tetap Alquran, Mas,” jawabnya. Lagi-lagi, Sapto mengejutkan saya.

***

Perpustakaan partikelir menjadi fenomena menarik akhir-akhir ini. Bentuknya macam-macam. Ada perpustakaan jalanan seperti yang digeluti Sapto dan Temanku Baik; atau yang berkeliling seperti yang dilakukan Ridwan Sururi dengan kudanya, juga Sutino dan bemonya. Sapto memberi tahu saya bahwa ada dua orang sahabatnya sedang mengelilingi Indonesia untuk menularkan “virus” literasi dengan bersepeda. “Saat ini mereka sudah sampai Lampung,” tutur Sapto.

Serta-merta saya ingin mengempas bayangan muram akan masa depan bangsa ini. Masih banyak orang seperti Sapto yang tulus berbagi pengetahuan. Masih banyak manusia yang rela membuang ego pribadi demi membantu sesama.

Bagaimana tidak? Sejumlah penelitian dengan telak menempatkan Indonesia di posisi buruk dalam perkara baca-membaca. Masalah pembajakan buku dan harga buku yang mahal juga saya pikir menjadi hambatan bagi perkembangan dunia literasi di Indonesia. Bersama Temanku Baik, Sapto berupaya menjadi penginterupsi zaman.

Bukan mustahil jika para peminjam buku-buku Temanku Baik terinspirasi dari apa yang mereka baca. Seorang anak, yang membaca Majalah Bobo di sana, mungkin akan bercita-cita menjadi komikus setelah ia terpukau oleh komik-komik di majalah tersebut. Bocah yang lain bisa saja berambisi menyaingi Steve Jobs setelah menyimak kiprah pendiri Apple tersebut dari buku yang Sapto pajang.

Di tengah gempuran hoaks, ke mana lagi kita harus berpaling, selain kepada ilmu pengetahuan? Apa lagi wadah penampungnya selain buku? Orang boleh saja mengatakan bahwa kecanggihan internet dan teknologi informasi telah melampaui fungsi buku yang terbatas. Anehnya, yang menjadi paradoks, teori bumi datar justru mendapat ribuan penganut di era masyarakat informasi seperti saat ini.

Nicholas Carr dalam The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita? (2011) berargumentasi bahwa internet secara psikologis telah mengikis daya konsentrasi manusia. Betapa tidak? Siapa yang tahan membaca e-book atau artikel di ponselnya? Saat bacaan baru menginjak beberapa paragraf, satu demi satu notifikasi akan merebut perhatian kita, meminta untuk dibuka.

Lantas kita pun kembali terlena. Jari-jari kita akan meluncur ke grup WhatsApp, bergunjing sebentar dengan teman-teman atau menanggapi keluhan klien. Setelah itu kita pun mengecek Instagram, Facebook, serta media sosial lain. Hidup di era kiwari “memaksa” untuk menyikapi setiap kejadian secara real time.

Maka, jangankan untuk menuntaskan satu buku. Internet bahkan telah mengubah cara kita dalam menyikapi sesama manusia. Internet, akuilah, tidak hanya telah menjauhkan yang dekat, tetapi juga membuat mereka yang jauh menjadi semakin jauh.

Seorang lelaki tidak hanya memunggungi kekasihnya, ia memunggunginya sambil bermain ponsel—pula sebaliknya. Betul-betul tidak manusiawi. Ruang intim kita pun telah dirampas kecanggihan teknologi.

***

Bekasi adalah kota penyangga, atau kota satelit bagi Jakarta, sang megapolis. Para pekerja-perantau telah sejak dulu kesulitan mencari tempat tinggal di ibukota. Kota-kota satelit seperti Bekasi, Depok, Tangerang, hingga Bogor menjadi alternatif bagi mereka dalam mencari tempat tinggal. Harga properti di daerah-daerah tersebut tidak semencekik di Jakarta.

Arahkan pandangan Anda ke KRL atau busway di waktu-waktu berangkat dan pulang kerja. Di balik jendela, terpampang wajah letih dan muram para penumpang, para penghuni kota-kota satelit tersebut. Namun, laju urbanisasi tetap tak terbendung. Bukan hal aneh bila rencana memindahkan ibukota telah dicetus sejak pemerintahan Soekarno. Seperti yang diwartakan Tempo (30/4), pendiri bangsa itu bahkan berencana memindahkan ibukota di dua kesempatan.

Biarlah Jakarta menjadi pusat bisnis. Ia tak bisa menjadi pusat pemerintahan negara sekaligus. Bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Presiden Joko Widodo mengumumkan kepada rakyat soal rencana pemindahan ibukota tersebut.

Teranyar, Kompas (30/7) melansir pernyataan Menteri PPN/Bappenas, Bambang Brodjonegoro yang menegaskan bahwa presiden benar-benar serius ingin memindahkan ibukota. “Presiden Jokowi menginginkan ini bukan hanya wacana, tapi konkret,” ujar Bambang, di Surabaya, Jawa Timur, pada 29 Juli 2019. Menurutnya, Presiden pun telah menetapkan bahwa lokasi ibukota baru akan berada di Pulau Kalimantan.

Jakarta dan kota-kota penyangganya memang semakin tak layak untuk dihuni. Beberapa waktu terakhir Jakarta menjadi sorotan karena kerap meraih predikat sebagai kota dengan tingkat polusi udara tertinggi sedunia. Langit Jakarta, di sejumlah foto, tampak pekat mengerikan. Kota satelit yang lain, Depok, menjadi bulan-bulanan warganet berkat kemacetan parah dan tatakota yang buruk.

Kumparan (30/7/2018) melaporkan bahwa dalam sebuah riset, Jakarta berada di urutan ke-19 dalam daftar kota-kota dengan tingkat stres tertinggi di dunia. Dari studi yang dilakukan Zipjet tersebut, Jakarta masuk dalam daftar meraih nilai buruk dalam kategori kepadatan kota, transportasi publik, kemacetan, ruang hijau, kesehatan fisik, hingga kesetaraan atau toleransi sesama.

Perhatikan kategori keempat: ruang hijau. Sepertinya, selain alasan teknis, inilah sebab mengapa para pengelola perpustakaan jalanan memilih menggelar buku di ruang-ruang publik, utamanya di taman-taman kota. Upaya Pemprov DKI Jakarta dalam membangun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) patut diapresiasi. Taman-taman multifungsi tersebut laksana mataair di tengah kepungan polusi kota.

Fenomena perpustakaan jalanan tidak hanya terjadi di Jakarta. Komunitas-komunitas baca tumbuh subur di Bandung, Yogyakarta, Purwokerto, Surabaya, Mataram, sampai Ciamis. Nama dan lokasi mereka bisa berlainan, namun semangat berbagi menjadi esensi dan energi bagi mereka untuk terus menjadi penebar ilmu pengetahuan.

***

Perbincangan kami dengan Sapto berlangsung semakin hangat dan cair. Ia menceritakan bagaimana ibunya mendukung kegemarannya ini. Terkadang, sang ibu turut memasak camilan untuk disantap kawan-kawan Temanku Baik dan para pengunjung.

Lokasi ini mereka pilih karena ingin memberi alternatif bagi anak-anak yang diajak berbelanja orangtuanya. Sapto memperhatikan anak-anak kerap rewel saat diajak berbelanja di pasar pagi tersebut. Ia menyediakan sebuah ruang bagi anak-anak tersebut, bahkan bersedia untuk dititipi.

Sejauh ini telah lebih 20 nama meminjam buku dari perpustakaan Temanku Baik. Sebagian besar anak-anak. Mereka lah yang 10 atau 20 tahun lagi mengisi Bekasi dengan peran masing-masing. Peran yang terbentuk berkat bacaan-bacaan mereka di masa silam, di sebuah ruang di mana Sapto memiliki andil besar.

Upaya Sapto dan Temanku Baik memang baru seumur jagung. Umpama bayi, mereka masih merangkak. Walau begitu, saya meyakini bahwa mereka adalah “bayi” yang sehat.

Perpustakaan Temanku Baik. Sapto berada paling kanan.

Sebelum pamit, kekasih saya begitu berhasrat meminjam Saat-saat (1981) karya Arswendo Atmowiloto, yang baru berpulang pada 19 Juli silam. Sapto menyambut niatnya dengan hangat. Ia menyodorkan buku tulis dan pena, meminta kekasih saya agar menulis nama dan alamat sebagai identitas peminjam.

Setelah sekian kali mencoba, pena Sapto ternyata tak mengeluarkan tinta. Mungkin habis. Mungkin juga telah mengering. Tak ayal, Sapto turut mengakali pena tersebut. Setelah usahanya juga kandas, tanpa banyak pertimbangan ia mengatakan bahwa hambatan ini bukan masalah. Ia mempersilakan kekasih saya meminjamnya. Sebagai simbol iktikad baik, saya mencatat nomor ponsel Sapto dan berjanji akan mengembalikan buku tersebut.

Lantas saya menyadari matahari telah semakin terik, hari beranjak siang. Kami berpamitan, tak hanya kepada Sapto, tetapi juga kepada teman-temannya, komunitas Temanku Baik. Mereka benar-benar orang yang baik. Bahkan hingga mesin motor saya berbunyi, Sapto dan koleganya masih saja melambaikan tangan dan menyunggingkan senyum kepada kami. ♦

About the author

"Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.