Oleh: Tyo Prakoso*

“Aku tak tahu syariat Islam.

Yang kutahu sari konde Ibu Indonesia sangatlah indah. Lebih cantik dari cadar dirimu.

“Aku tak tahu syariat Islam.

Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia  sangatlah elok. Lebih merdu dari alunan azanmu.”

Dua bait pwissie di atas membuat geger jagat linimasa dunia mayapada. Pwissie itu berjudul “Ibu Indonesia” karya Sukmawati Soekarnoputri. Sukmawati membacakannya dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week, Kamis (29/3) lalu.

Sukmawati kembali dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri pada Rabu (4/3/2018) soal puisi yang dianggap menghina umat Islam. Sebelumnya Sukmawati sudah tiga pihak pelapor, dan pelapor keempatnya (untuk kasus hal yang sama) adalah Azam Khan, dengan dengan nomor laporan LP/450/IV/2018/Bareskrim. Sukmawati dianggap melanggar Pasal 156 dan Pasal 156a KUHP.

Sejarah selalu aktual. Setengah abad yang lalu kejadian serupa juga terjadi. Majalah Sastra, No. 8, Edisi Agustus 1968 menerbitkan sebuah cerita pendek berjudul “Langit Makin Mendung” karya Kipandjikusmin (nama samaran). Berkisah tentang Nabi Muhammad yang sebel kenapa umat Islam Indonesia sedikit yang masuk surga. Lalu, ditemani malaikat Jibril ia turun ke bumi. Ia menyaksikan bahwa umat Islam Indonesia banyak melakukan maksiat, diantaranya seks bebas, mabuk-mabukan, saling perang sesama muslim, dan lainnya. Semua itu dikarenakan oleh “komunis yang berbahaya” dan “pengaruh ajaran Nasakom”.

Cerpen “Langit Makin Mendung” pertama kali ditulis tahun 1963. Cerita itu bagian dari kritik penulis terhadap situasi sosial-politik di era Demokrasi Terpimpin. Pertautan PKI-Soekarno menjadi titik-sasar kritik cerpen tersebut. Juga poros politik luar negeri Indonesia yang saat itu lebih condong ke sosialisme.

Sementara itu, majalah tempat cerpen itu dipublikasi tahun 1968, Majalah Sastra, pertamakali terbit tahun 1961, dan diberedel tahun 1964 karena situasi sosial-politik tidak memungkinkan untuk majalah yang dikelola oleh HB Jassin dan kawan-kawan bertahan. Setelah geger 1965, tepatnya tahun 1967, terbit kembali sampai tahun 1969 lantas mampus untuk selama-lamanya.

Bagi saya, penerbitan cerpen itu lebih karena semangat de-Soekarnoisasi yang berlangsung setelah geger 1965. Penulis cerpen menggunakan satire untuk mencemooh garis ideologis yang dibentang Soekarno saat Demokrasi Terpimpin. Semangat cerpen “Langit Makin Mendung” segendang-sepenarian dengan rezim militer yang saat itu sedang bersemangat menggasak Soekarno dengan konco-konco ideologisnya.

Mungkin HB Jassin (selaku redaktur) tidak mengira bahwa pilihan tutur tentang Nabi Muhammad yang turun dari surga bersama Jibrillah yang disorot oleh publik, alih-alih kritik terhadap Soekarno dan konco-konco ideologisnya. Umat Islam Indonesia saat itu merasa cerpen tersebut menista agama Islam. Salah satu poin yang dipermasalahkan adalah personifikasi Allah secara antropomorfik, serta penggambaran Muhammad dan tokoh-tokoh Islam lainnya yang dianggap “kurang menghormati” umat Islam. Alhasil, HB Jassin dan Majalah Sastra pun diseret ke pengadilan.

Cerita ini dilarang terbit di Sumatera Utara pada 12 Oktober, dan pada bulan April 1969 atau Februari 1970, kantor Jaksa Agung di Medan menuntut Jassin dengan pasal penistaan agama. Karena terikat kode etik sebagai jurnalis (redaktur), Jassin menolak mengungkap nama asli penulis cerpen tersebut di hadapan majelis hakim. Ia juga berpendapat bahwa cerpen tersebut bertolak dari imajinasi. Di hadapan majelis hakim, Jassin juga berpendapat bahwa cerita ini adalah hasil imajinasi penulis dan tidak bisa dianggap melecehkan Islam.

Pengadilan menjatuhkan hukuman percobaan selama satu tahun kepada HB Jassin. Meski “Pendapat seseorang tak dapat mengadili imajinasi,” kata Jassin.

Lalu bagaimana dengan pwissie “Ibu Indonesia”? Saya pikir, bagaimanapun “Ibu Indonesia” (diniatkan) sebagai  sebuah karya sastra. Sebagai karya sastra, sialnya, “Ibu Indonesia” merupakan pwissie yang jelek. Kita meributkan pwissie yang jelek. Padahal banyak pwissie bagus. Tapi apa boleh bikin.

Adalah salah tempat bila mempermasalahkan pwissie (karya sastra) ke ranah hukum. Persis gobloknya, memperkarakan karya jurnalistik tanpa Dewan Pers. Hemat saya, ini menunjukkan betapa jebluknya sense of literary negeri ini. Alih-alih memperkarakan ke hukum, lebih elok bila pwissie jelek itu dipereteli oleh kritikus sastra.

Sebab, sebagaimana Jassin dalam kasus cerpen “Langit Makin Mendung”, bagi saya kasus pwissie “Ibu Indonesia” kiranya akan lebih menarik bila sejumlah kritikus sastra mengulas pwissie tersebut dalam kanal sastra. Karena “imajinasi tidak bisa diadili”, sekalipun itu imajinasi (baca: pwissie) yang jelek.

Persoalan pwissie “Ibu Indonesia” adalah persoalan kegagalan mengeskplorasi bahasa. Itulah kenapa saya katakan jelek. Bahasa pada pwissie tersebut terlampau keropos untuk menopang ‘maksud’ yang ingin disampaikan. Jika boleh menerka, Sukmawati melalui pwissienya ingin mengatakan ia lebih mencintai Indonesia daripada Islam. Sebagai pendapat subjektif, saya rasa itu tidak melanggar hukum. Sebagai karya sastra, pwissie jelek itu terlalu lettterlijk.

Karya sastra tidak pernah bisa lepas dari spektrum politik. Karena berada di tegangan tinggi spektrum politik itulah, hemat saya, perihal pwissie yang jelek ini mencuat. Alih-alih sekedar memahami secara tekstual, saya malah menduga bahwa ada agenda politik dalam pacuan tahun politik yang sedang kita hadapi ini. Kasus Pilkada Jakarta adalah contoh yang baik untuk mengetahui ke mana arah laju hal ini.

Jika memang kita terpaksa menghadapi keriuhan perihal pwissie yang jelek ini, maka setidaknya kita perlu melihat hal menarik dari geger yang menyebalkan ini.

Saya melihat ada lima hal yang menarik. Pertama, kasus ini menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat kita memang sedang gandrung sastra, wabilkhusus pwissie. Saya membayangkan kata ‘Senja’, ‘Hujan’, ‘Lembayung’, dan kata-kata picisan yang lainnya dalam pwissie kita akan kehilangan daya pikat. Untuk kemudian mendorong para penyair membikin pwissie dengan kata ‘Azan’, ‘Marbot’, ‘Bedug’, atau ‘Lekar’. Saya pikir itu asyik. Membuat sastra Indonesia lebih Islami, dan itu sangat membantu FLP dan Kak Darwis Tere Liye untuk mengampanyekan Sastra Islami.

Kedua, saya ingat pwissie “Celana Ibu” (2004) karya Joko Pinurbo. Jika memang pwissie bisa diadili di pengadilan (hukum), apa jadinya bila pwissie Jokpin tersebut dianggap menista agama (Katolik). Mari kita ibadah pwissie “Celana Ibu”:

Maria sangat sedih

Menyaksikan anaknya

Mati di kayu salib tanpa celana

Dan hanya berbalutkan sobekan jubah

Yang berlumuran darah

Ketika tiga hari kemudian

Yesus bangkit dari mati,

pagi-pagi sekali Maria datang

ke kuburan anaknya itu, membawa

celana yang dijahitnya sendiri

dan meminta Yesus mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria.

“Pas!” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,

Yesus naik ke surga.

Alih-alih menghujat dan menganggap penistaan agama, sejumlah teman (Katolik) saya malah menjadikan pwissie Jokpin sebagai pengantar ucapan Selamat Hari Paskah beberapa waktu yang lalu. Bahkan teman saya yang bukan beragama Katolik pun ikut-ikutan mengucapkan Selamat Hari Paskah menggunakan pwissie tersebut. Artinya, alih-alih memperkeruh, pwissie seharus bisa menjaga dan merajut keberagaman. Syaratnya: pwissie itu kudu asyik. Pwissie jelek buang ke keranjang sampah saja. Jadi melalui “Celana Ibu” dan “Ibu Indonesia”, kita mafhum kan antara pwissie asyik dan jelek?

Ketiga, berkaitan dengan poin pertama dan kedua, meningkatnya persentase seseorang menjadi penyair berbarengan dengan kegandrungan masyarakat terhadap sastra, merupakan kabar baik terhadap anggapan rendahnya tingkat literasi negeri ini.

“Mitos orang Indonesia tidak suka membaca itu palsu,” kata Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri gerakan Pustaka Bergerak Indonesia. Saya sepakat. Bahkan Nirwan bercerita bahwa buku yang dikirim oleh Pustaka Bergerak Indonesia ke daerah selalu habis dibaca dalam waktu singkat. Pustaka Bergerak Indonesia kerapkali dimarahi bila dalam waktu tertentu tidak datang membawa judul buku baru.

Keempat, karena kasus pwissie jelek Sukmawati itu, saya juga tahu bahwa masyarakat Indonesia memiliki waktu luang yang cukup. Tentu hal tersebut berkaitan dengan poin pertama, kedua, dan ketiga di atas. Artinya, Indonesia bubar tahun 2030 adalah hil-yang-mustahal. Mosok negara yang masyarakatnya gemar membuat dan membaca pwissie, diprediksi bubar? Mungkin saja, sih, tapi negara mana yang tidak terancam bubar bila semangat regionalisme menjadi sebuah solusi persoalan kawasan yang acap disodorkan? Bukankah kegagalan Yunani dan Malta di Uni Eropa harusnya menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk menolak logika MEA? Bubarnya sebuah negara (nation/state) adalah satu keniscayaan dalam sejarah umat manusia, sebagaimana kerajaan-kerajaan runtuh pada fase sebelumnya. Tinggal kita membayangkan realitas macam apa yang bakal terjadi kemudian.

Kelima, sangat mungkin keempat poin di atas menjadi tidak mungkin (gemar menulis dan membaca karya sastra dan waktu luang yang cukup, serta negara Indonesia bubar), bila kasus geger pwissie jelek ini menjadi bahan pembicaraaan karena kepentingan politik (praktis) pada hajatan tahun politik. Artinya, sebagaimana contoh Pilkada Jakarta, kasus ini menjadi satu amunisi untuk menyerang lawan politik yang sedang bersaing dalam pacuan Pilkada/Pilpres.

Sungguh nauzhubillahminzalik.

Rakyat kembali menjadi keset kepentingan elite dan oligarki. Pikiran dan tubuh orang banyak dijejali dan diracuni perkara yang sebetulnya hanya kendaraan mereka untuk memperoleh kepentingan. Sementara rakyat saling bermusuhan, antartetangga tidak rukun, sahabat lama saling blokir akun media sosial, hingga perundungan yang dilakukan oleh satu kelompok masyarakat terhadap kelompok lainnya. Rakyat hanya menonton dengan peluh dan sengsara atas pembagian kue dan anggur kekuasaan (politik-ekonomi) yang mereka perebutkan.

Sekali lagi, nauzhubillahminzalik. Kita memang harus belajar sejarah dan belajar dari sejarah. ♦

Tyo Prakoso | Pembaca dan perajin tulisan. Buku pertamanya berjudul “Bussum dan Cerita-cerita yang Mencandra” (2016). Twitter/IG: @cheprakoso

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.