Duduk bersandar di atas kursi rotan, sang lelaki tampak gusar menanti kehadiran seseorang. Perempuan dari masa lalu. Sebuah masa yang agaknya, baginya, terlalu sendu. Selalu sendu. Mujur buatnya, hotel ini menyediakan area merokok yang nyaman. Menunggu adalah pekerjaan menggelisahkan. Membunuh waktu niscaya sedikit ringan jika disambi dengan mengisap rokok, atau bila memungkinkan berbatang-batang rokok.

Tugasnya telah selesai lima jam lalu. Menjadi pembicara di sarasehan antarpengusaha tembakau. Bersilat lidah dan beradu pendapat tentang regulasi dan kesulitan-kesulitan yang rentan menyertai. Menenangkan kegelisahan para pengusaha dan petani kecil yang hadir dari berbagai provinsi.

Bapaknya memberi ia nama Pijar Bumi Manusia. Tetapi ia lebih senang mencoret kata ‘Manusia’ di segala kesempatan. Menanggung kebesaran Pramoedya terlalu sukar. Ia mengaguminya tidak kepalang tanggung. Seiring sang kala yang menggelinding, kekaguman mewujud cemburu. Ia mencemburui Pramoedya yang bisa mengelak dari godaan duniawi. Sesuatu yang takkan pernah bisa ia lampahi. Buktinya, hari ini ia tahu betul, sarasehan ini disponsori perusahaan rokok raksasa yang kelak memeras dan melumat peserta sarasehan. Pemberdayaan hanyalah dalih di muka.

“Kamu sudah seperti mereka. Enggan tersenyum saat kota kalian menginjak pukul lima. Tersenyumlah. Senyummu itu tidak hanya melenakan siapa saja yang memandang, tetapi juga membebaskanmu,” oceh Pijar Bumi mantap saat yang dinanti telah tiba. Ia hendak menyingkirkan pilu dari waktu yang telah berlalu. Perempuan ini pernah meninggalkan seonggok luka. Luka yang hingga kini tak jua mengering dan malih rupa menjadi penyesalan.

Namanya Siska. Sis, panggilan sayang Pijar Bumi untuknya. Mereka kembali bertemu secara kebetulan, tanpa persiapan atau siasat.

“Lihatlah dirimu kini.”

“Ada yang aneh?” sahut Siska seraya mencermati dirinya sendiri.

“Kamu begitu banyak berubah, sayang.”

“Kamu tidak sayang aku, Pijar Bumi. Sori, aku sudah kebal dengan rayuan gombalmu.”

“Ah, masa?” sanggah Pijar Bumi seraya memesan kopi ketiga.

“Hei, aku perempuan. Bukan lagi anak gadis atau remaja.”

“Berapa pun umurnya, perempuan tak tahan dirayu.”

“Aku tahu. Aku terlampau mengetahui segala tentangmu. Seutuhnya dan seluruhnya,” tegas Siska seraya menyeringai manakala senyum yang ditunggu sang lelaki tak kunjung muncul.

“Jika demikian, seharusnya permintaan maafku kamu kabulkan..”

“Memang aku kabulkan. Seperti yang dulu kukatakan. Aku telah memaafkanmu jauh sebelum kamu memintanya. Bahkan aku rela jika maaf tidak kamu suguhkan. Yang tidak mampu aku penuhi kan keinginanmu agar kita kembali bersama.”

“Jalan hidup kita pernah terkait teramat erat dan lama. Tiga tahun, Sis. Ideologi, ah, bahasaku terlalu menyebalkan. Maksudku harapan. Nah, itu lebih tepat. Harapan menyatukan kita, yang lalu berbuah asmara. Selalu ingat-ingat itu.”

“Maksudmu azimat pembebasan, mungkin? Bukan ideologi.”

“Sial, kau masih ingat mantra itu. Mantra yang hingga kini sering kuucap dan tulis.”

“Tentu saja masih ingat, Jar. Itu istilah yang dengan pongah dan seenaknya kamu pelintir dari Bung Besar.” Kali ini ada senyum di bibir itu. Bibir yang pernah ia lumat dan melumat balik bibirnya. Lumatan yang acap meninggalkan jejak darah merah penuh gairah.

“Ah, akhirnya kamu tersenyum, Sis. Di jam seperti ini pula. Saat sebagian besar perempuan di kotamu malas mengulas senyum.”

“Kamu sok tahu.”

“Lho, memang begitu kenyataannya. Ayo keluar hotel. Cukup dengan berdiri di trotoar selama sepuluh menit, kamu akan mengamini pendapatku.”

“Bagaimana mungkin mereka tersenyum, Jar. Sesampainya di rumah, mereka akan menghadapi suami yang bawel, anak-anak yang sulit diatur, dan tetek bengek persoalan rumah tangga lain. Mereka juga dihantui padatnya bus atau kereta, seraya menabahkan diri dari letihnya tubuh dan pikiran. Dan kamu seenaknya menuntut mereka untuk tersenyum?!”

“Hei, jangan marahi aku, dong, kalau begitu,” protes Pijar Bumi.

“Ya habis. Kamu memaksakan nilai-nilai kota itu, kota kita, untuk diterapkan di kota ini. Seolah-olah kehidupan di sanalah yang ideal sehingga mesti ditiru orang-orang di kota lain.”

“Baiklah, aku ralat. Beberapa perempuan kulihat tersenyum di kereta yang kunaiki kemarin. Mereka tersenyum saat memandangi layar ponselnya. Setelah kuintip, ternyata mereka sedang menonton drama Korea. Mungkin bukan tipe senyum tulus yang didasari keringanan hati. Tapi tak apalah.”

“Mengapa kamu begitu nyinyir, sih. Perkara ini terlalu sepele. Barangkali mereka menyimpan cadangan senyum tulus yang kamu maksud untuk orang-orang yang menanti mereka di rumah? Siapa tahu.”

“He he he. Betul juga.” Pijar Bumi menyerah. Perempuan di hadapannya belum benar-benar berubah. Hatinya juga bungah tak terkira saat Siska menyebut kota itu sebagai ‘kota kita’. Keriaan tersebut nyatanya hanya berlangsung sekejap. Siska, perempuan yang ia yakin akan mudah menerima kembali cintanya, telah dinanti seorang pria yang beberapa saat kemudian menghampiri mereka berdua di lobi. Sebelum petang matang berganti malam, Pijar Bumi beranjak kabur dari kota yang semakin ia benci.

***

Tak pernah Siska menyana bisa menaruh hati pada lelaki seperti Pijar Bumi. Mereka terlalu minyak dan air. Pijar Bumi aktivis pergerakan mahasiswa yang seperti tak mengenal sabun mandi. Jenis lelaki yang menelan kisah-kisah heroik Leon Trotsky atau Fidel Castro sebanyak mereka membolos kuliah. Sementara ia mahasiswa yang memperhatikan penampilan setinggi ia memedulikan SKS. Persinggungan tak sengaja dengan Pijar Bumi berubah menjadi anyaman-anyaman kecil peristiwa yang tertenun menjadi asmara.

Siska yang semula tidak mau tahu soal aktivisme lantas tercebur begitu dalam. Kegandrungannya pada Pijar Bumi melenakan hati. Walau lusuh, memandang lelaki itu menghadirkan sensasi tersendiri. Sensasi yang harus digenapi dengan perbincangan, adu tatap, atau bahkan sentuhan. Kalau boleh, ya ciuman.

Pijar Bumi pun luruh tenggelam dalam kasih yang Siska curahkan. Berdua mereka menghadapi puluhan badai yang merintang. Badai yang hadir berkat keterbatasan dana, penolakan warga, ulah polisi, preman, sampai intel. Tak ada badai yang benar-benar sanggup memorakporandakan keteguhan mereka. Cinta keduanya bernyawa, seraya menghidupi idealisme yang mereka genggam: rakyat butuh perhatian dan selalu layak diperjuangkan!

Badai baru benar-benar mengempas saat ia berembus dari dekat. Keluarga. Siska tidak berasal dari keluarga kaya. Ia harus menuntaskan kuliah agar mudah menjaring nafkah. Sayangnya bukan itu yang ada di benak kekasihnya. Tatkala ikatan cinta mengendur, Pijar Bumi justru memutus asmara.

“Aku tak mau menjadi penghalang. Kamu sudah sarjana, Sis. Kamu berhak bebas melanglang ke manapun tanpa dirintangi ketidakpastian hidupku.”

Teramat klise dan layak digugat, namun air mata jatuh juga dari kedua mata Siska. Pijar Bumi semakin sibuk karena sedang mendampingi warga lima dusun yang terancam digusur perusahaan tambang. Beberapa teman mereka diintimidasi, sampai berujung ke tindakan fisik. Satu bulan setelah asmaranya diputus, Siska tahu bahwa di sana Pijar Bumi tidak hanya mengadu nyali dan nyawa. Ia juga merajut nafsu dengan perempuan dari organisasi lain.

Siska tertegun. Pijar Bumi pernah kembali meminta belas kasihnya. Walakin upayanya terlalu terlambat. Dua tahun telah lewat dan Siska, walau tertatih, telah sanggup melupakan pria yang begitu berbakat membuat hatinya berpijar. Siska mutlak paham bahwa cinta sejati harus dicari, bukan dinanti.

Andai kamu tahu, Pijar Bumi, kamulah lelaki pertama yang menawan hatiku. Kamu lelaki pertama yang kuperkenankan mencium bibir ini. Tetapi kamu masih seperti dulu, sibuk membangun istana pasirmu yang rentan dirobohkan angin dan ombak. Hatimu belum mantap dalam memilih jalan hidup.

Petang merembang, bersiap menjadi malam. Dari spion mobil, bayangan hotel telah tertelan gedung-gedung, juga pohon-pohon dan baliho usang berkarat. O, betapa petang hanyalah isyarat dan persinggahan, dan betapa rentan ia mengakrabi perpisahan.

***

“Pijar Bumi?!” sebuah nada renyah plus tepukan kecil di pundak mengejutkannya. Ia sedang mematung di depan etalase sayuran berpendar cahaya putih nan dingin. Siska. Tak lain dan tak bukan. Di luar supermarket, petang menyelimuti kota mereka dengan kegetiran yang kudus.

“Wah! Sebuah kebetulan. Siska! Ya ampun. Sudah berapa tahun, ya, sejak pertemuan di hotel itu? Tujuh? Delapan? Gila.”

Lagi-lagi kebetulan.

“Apa kabar, bapak dosen? Perutmu sudah menggelembung begitu. Anak-anak serikat pasti pangling jika melihatmu makmur begini. Hehehe..”

“Kok kamu tahu sekarang aku jadi dosen? Terlalu terlambat, ya. Tapi setelah sekian lama membangun istana pasir, aku bisa teguh menapaki cita-citaku ini. Yah, cuma kampus swasta. Tapi tak apalah, masih bisa kusambi dengan riset atau jadi kolumnis. Kamu bagaimana, Sis? Masih kerja di EO? Punya suami? Kawin dengan si ganteng-mapan yang dulu menculikmu petang itu?”

“Tidak, Pijar Bumi. Sekarang hanya dia yang kumiliki — sini, Nak! Makanya aku kembali ke kota kita ini. Sekarang aku kerja dari rumah. Menjadi penulis konten untuk berbagai perusahaan sambil berjualan online. Menjadi orangtua tunggal ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan sebelumnya.”

Seperti mampu membaca suasana, gadis mungil berusia empat tahun memeluk paha Siska, menatap curiga lelaki yang diajak bicara sang ibu.

“Ayahnya seorang pria setelah si gantang-mapan yang menculikku sore itu. Tapi aku tidak mencintainya meski ia mengajakku kawin. Aku tidak mau menjadi perempuan yang menikah semata karena anak, meskipun kedua pihak sama-sama tahu tidak ada cinta yang melandasi pernikahan. Tuh, Nak, Oom ini teman Ibu. Ayuk, beri salam.”

Pijar Bumi mengulurkan tangan, “Siapa namamu, gadis manis? Duh, cantiknya. Seperti ibumu.”

“Tali,” jawabnya malu-malu. Jemari Pijar Bumi mengusap rambut legamnya yang panjang dengan gemas.

“Kalau lengkapnya, Tari siapaa?”

“Lestali Pijal Bumi, Oom.”

Kedua pasang mata beradu pandang, lalu bersipaham bahwa percakapan tak lagi dibutuhkan. ♦

Jakarta, Juni-Juli 2017

About the author

Anak sasian sosiologi yang meminati kajian kelas, budaya, dan replikasi sosial. “Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.

Related Posts