Wajah Arya terlihat suntuk dan lelah. Dia menghela nafas, memerhatikan lembaran-lembaran kertas puisinya yang berserak bersama cangkir-cangkir kopi, botol-botol bir dan puntung-puntung rokok yang menggunung di satu asbak. Dia baru saja pulang dari acara pembacaan puisi yang bertajuk “Sajak Brutal”, dan merasa menyesal telah datang ke acara tersebut. Tadinya dia berpikir bahwa pergi ke acara itu bisa meletupkan hasrat menulisnya kembali. Namun yang dia dapat justru sebaliknya. Dia pulang dengan membawa sekantung rasa dongkol dan sebotol rasa muak. “Sajak Brutal” ternyata hanya didatangi bocah-bocah bau kencur yang merasa paling mengerti tentang puisi dan berpendapat bahwa puisi paling hebat itu adalah puisi cengeng yang membicarakan tentang orang yang dicintainya diam-diam. Itu apa-apaan!

Setelah beberapa detik Arya terkulai menatap mesin ketiknya, dengan perlahan, dia mulai mengetik.

Tik, tik, tik, tik, tik.

Kopi hitam telah membeku, rokok yang baru kubeli mencerocos ingin diisap

Getir, aku menyulut lemah, mengingat harga rokok yang medadak naik di warung dekat rumah

Sembari mengisap, aku membatin, “Ah anjing, ibu itu pasti sedang ingin naik haji”

Mesin ketikku mengantuk, menguap lesu sembari menjepit kertas putih.

Kipas berdengung, menatapku termenung bisu di balik kepulan asap.

Dia mulai jemu, menyaksikanku yang tampak  letih.

Arya menghentikan ketikannya. Sembari mengisap rokok kreteknya, dia menatap barisan puisinya itu. Ada rasa tidak puas terpancar jelas di wajahnya. Namun, dia tidak tahu lagi bagian mana yang harus diganti. Sudah tiga hari ini dia hanya berkutat pada satu puisi tersebut. Puisi yang dia pikir wajib diselesaikan setelah dia bermimpi didatangi Pak Herman, almarhum guru SD-nya yang telah berpulang empat tahun yang lalu.

Dalam mimpinya, Pak Herman datang dengan mengendarai seekor lembu berwarna kuning emas. Wajah Pak Herman tak berubah, tegas dan garang seperti yang diingat Arya. Hanya kumis andalannya yang sudah berubah, memanjang seperti kumis Salvador Dali. Pak Herman menatap Arya sambil tersenyum. Beliau tidak mengatakan sepatah kata pun. Tapi ada sensasi aneh yang melanda perasaan Arya. Sensasi kerinduan terhadap seseorang yang telah lama tidak kita jumpai. Dan begitu Arya terbangun, wajah Arya sudah bersimbah peluh dan air mata.

Saat itu pula tertanam sebuah keinginan menulis puisi yang begitu besar. Puisi yang bakal dia persembahkan untuk Pak Herman, guru pertama dan terakhirnya yang menganggap dirinya sebagai manusia, bukan boneka tak berdaya yang pelan-pelan dipangkas mimpinya seperti guru-guru lain pada umumnya.

Sorak sorai suporter sepak bola lamat terdengar dari balik layar televisi yang tak pernah kutonton.

Aku menoleh, mendengus melihat skor Barcelona vs Juventus yang masih kaca mata.

Mesin ketikku menguap lagi, Aku menghardiknya sambil berujar, “Ah, hanya liga champion”

Namun tak urung jua aku menonton, hingga Messi mencetak gol ke gawang Buffon.

 

Lesatan bola bundar itu menggebok brankas memoriku

Membuatku sibuk memunguti lembar-lembar dokumen terlupakan yang mulai menguning digoreng waktu.

Lesatan bola itu menyeretku ke sebuah ruang nostalgia, tempat kumpulan fragmen-fragmen direstorasi, lalu diputar kembali.

Waktu bergerak mundur,

Lesatan bola itu kini berubah menjadi lesatan sepotong kapur putih yang menghujam deras ke arah wajahku.

 

Arya menggaruk-garuk rambutnya. Ada kegelisahan-kegelisahan lain yang tak jelas apa menggelayut di pikirannya. Dia berusaha menguraikannya, lalu menata kegelisahan itu, satu per satu akan tetapi dia belum bisa menemukan cara yang tepat untuk melakukannya. Lebih tepatnya dia tidak tahu mulai dari mana. Seketika Arya teringat tentang Elma, mantan kekasihnya yang kini telah pergi meninggalkannya karena terpikat lelaki tajir yang tampan.  Tapi dia sama sekali tak merasa sakit hatinya karenanya. Sejak berhubungan dengan Elma, Arya tahu kalau cepat apa lambat Elma akan meninggalkannya. Dia tahu benar tipe perempuan macam apa Elma itu. Memacari Elma adalah salah satu bagian eksperimen Arya dalam menciptakan puisi-puisi selanjutnya. Apakah dia bisa menulis puisi yang bagus dan tak ada hubungannya sama sekali dengan kegalauan cinta setelah ditinggalkan Elma? Dan dia berhasil. Setelah putus, Arya malah menulis dua puisi tentang penderitaan orang-orang Palestina di Jalur Gaza dan seekor sapi yang akan disembelih pada saat Idul Adha.

Arya tersenyum kecut, lalu kembali mengetik. Dia suka kesal dengan memori-memori kurang ajar yang kadang suka seenaknya menelusup masuk ke dalam istana pikirannya tanpa permisi terlebih dahulu. Itu apa-apaan!

Syutt!!

Plakk!!

Telak, kapur putih itu menghantam dinding kusam kelas.

Alhamdulilah, aku berhasil mengelak

Siapa pula bajingan yang berani-beraninya menyambitku?

Ah, anjing, ternyata itu kau, Pak.

Keringat dingin mengucur, menanti makian meluncur

Bapak menatapku garang, nyalang.

Seisi kelas bungkam, bisu, gelisah menunggu adegan selanjutnya

Namun Bapak hanya terdiam. Terlihat seperti menunggu. Dengan takut, aku berjalan gontai ke depan kelas mengembalikan kapur tulis.

 

Waktu kembali bergerak maju, aku tersadar, kemudian terngiang.

Menyesal karena tak datang ke pemakamanmu, Pak.

Gengsi dan apatisme semu melumatku dari melankolia yang kian merenggang

Dingin datang menyisir

Perutku mulai mual, asam lambungku naik, gara-gara sebatang rokok sial.

Tapi tanpa rokok, maka puisi ini takkan berakhir

 

Buat yang terakhir, izinkan saya bertanya, Pak.

 

Adakah yang lebih menyedihkan daripada puisi tak berujung yang terombang-ambing di samudera ketidakpastian?

 

 

Arya menenggak bir yang tinggal berisi setengah botol, lalu mulai mengetik kembali. Alih-alih berpuisi, apa yang dia ketik sekarang justru lebih terbaca seperti sebuah surat. Namun Arya tahu kalau puisi yang benar bukanlah barisan kalimat indah berbunga-bunga penuh diksi cantik, berima dan terikat pada teori kaku. Menurutnya, puisi yang benar adalah puisi yang bisa menjelaskan perasaan si penyair dengan murni dan bisa dimengerti oleh semua pembaca tanpa harus berpikir keras.

Di sana apa kabar, Pak? Bapak baik-baik saja, kan? Kami di sini baik-baik saja kok, Pak. Yah, mesti masalah selalu saja datang bertamu. Seno dan Laras menikah loh, Pak. Lucu ya? Hahaha. Mereka sekarang juga sudah punya anak yang lucu loh. Mirip Crayon Shinchan. Semoga tidak sebandel Shinchan dan Bapaknya nantinya. Hehehe. Kawan-kawan sekelas yang lain juga kebanyakan sudah berkeluarga kok, Pak. Semoga langgeng ya mereka semua, Pak. Kalau Bapak bertanya saya sudah nikah apa belum. Bapak pasti kaget deh dengan jawabannya. Iya, saya belum nikah, Pak. Dan kayaknya sih belum mau nikah. Habis apa sih enaknya nikah, Pak? Bukannya malah bakal nambah masalah saja ya, Pak? Tapi mungkin tidak ya jika kita sudah mapan. Hmm. Resiko jadi penulis ya memang begini Pak dari dulu katanya. Jauh dari kata kemapanan. Edgar Allan Poe saja hidupnya miskin. Ditinggal istrinya pula sampai jadi linglung. Padahal Beliau penulis horor terbaik yang pernah ada di Bumi loh, Pak. Ya, enggak semua penulis seperti itu sih. JK Rowling yang nulis Harry Potter bisa jadi salah satu orang terkaya sekarang, dan Bernie Busuk, penulis muda yang sedang naik daun kebanggan Indonesia sekarang juga. Dia tampaknya bisa hidup mapan sebagai penulis di usia muda. Iri juga, Pak saya dengan dia. Meski sampai hari ini saya tidak mengerti di mana bagusnya tulisan dia. Tapi orang-orang, terutama ABG-ABG dan ibu-ibu suka sekali dengan tulisan-tulisan dia. Ya, mungkin saya yang terlalu bodoh untuk bisa mengerti tulisan-tulisannya yang keren itu.

 

Saya sebenarnya ingin jadi pengajar seperti bapak. Jadi dosen. Tapi mental saya belum siap, Pak. Kayaknya sih. Bapak masih ingat saat bapak melempar sepotong kapur putih ke arah saya karena saya terlalu asyik mengobrol dengan Rudi? Padahal baru beberapa menit sebelumnya Bapak memuji bahwa saya salah satu murid favorit Bapak. Entah kenapa kenangan tentang kejadian itu masih terus mengendap dalam memori saya. Kira-kira kenapa ya, Pak?

 

Balik lagi ke masalah pengajar itu, saya terlalu malas buat nerusin S2, Pak. Sekarang kan kalau mau jadi dosen kudu kelar S2 dulu, Pak. Sedangkan saya malas jadi guru les atau guru sekolah. Gajnya kecil, Pak. Terus terang saja. Mungkin karena itu juga ya Pak banyak sekali guru-guru yang bertindak asusila pada muridnya.. Mulai dari kasus kekerasan sampai pencabulan. Saya tidak habis pikir. Mereka frustasi juga kali. Gaji kecil, tapi muridnya bandel-bandel.

 

Ngomong, ngomong Bapak menyangka tidak bahwa salah satu murid terpintar bapak di kelas dulu hidupnya bakal jadi blangsak kayak saya sekarang? Ya, namanya juga hidup. Kadang di atas, kadang di bawah. Itu sih kata orang-orang ya, Pak. Saya sendiri tidak pernah mengerti mana yang atas dan mana yang bawah, Pak.  Waktu mengubah semuanya, Pak. Tapi tidak semuanya murid-murid terpintar Bapak nasibnya kayak saya sih. Yah, meski memang ada beberapa juga yang lebih kacau dari saya. Kayak Meta mislanya. Dia sekarang jadi pelacur. Tarifnya lima ratus ribu per jam untuk mahasiswa dan pelajar. Satu juta per jam untuk karyawan, dan sepuluh juta per jam untuk anggota DPR. Wuih, hebat enggak tuh, Pak? Tak heran dulu dia paling jago matematika ya, Pak? Hahaha. Si Lutfi juga. Dengar-dengar kemarin dia dipenjara karena ketahuan menjual narkoba dan senjata rakitan. Tidak heran dulu dia jago merakit-rakit ya, Pak. Padahal sudah untung pamannya memasukkan dia sebagai PNS, tapi malah begajulan begitu. Kalau orang-orang yang tes CPNS itu tahu, pasti mereka kesal bukan main. Yah, untungnya hanya mereka berdua yang tersesat terlalu jauh. Andini toh sekarang sudah jadi dosen hukum. Doni juga sukses di kerjaannya di bidang kimia. Andri juga, walau lama juga tidak mendengar kabar si anak rantau satu itu, katanya dia mengambil S3 di Berlin. Beberapa kawan seperti Ezra, Raul, Damar, Rizal, Jenaka, dan Rama juga masih sering main ke rumah saya, Pak. Saya masih curiga sih alasan mereka masih sering mampir apa. Entah karena masih terjebak nostalgia seperti kata Raisa, tidak punya teman lain atau memang saya masih dianggap penting oleh mereka. Sepertinya tiga-tiganya sih benar semua. Hehehe.

 

Eh, ngomong-ngomong, benar di sana ada yang namanya Surga dan Neraka, Pak? Sampai sekarang saya masih penasaran loh, Pak. Kalau benar, kapan-kapan kirim fotonya ya, Pak. Sekalian saja kirim surat pakai kartu pos bergambar malaikat dan bidadari, Pak. Selfie sama Tuhan juga boleh, Pak. Biar jadi viral di sini. Kalau di sini, ada kejadian unik sedikit, bakal langsung heboh, Pak. Wuih, norak deh pokoknya. Tapi, emangnya Tuhan mau diajak selfie? Dia kan sibuk sekali ya, Pak. Apa sok sibuk?

 

Waduh, ini kok puisi saya malah jadi kayak surat begini sih, Pak? Bapak sih ah! Tapi saya memang sudah malas menulis puisi sih, Pak. Bukannya saya mau berlagak seperti Rimbaud yang pensiun menulis di usia sembilan tahun, tapi belakangan ini entah kenapa saya merasa puisi sering disalahartikan, Pak. Ada yang digunakan hanya buat merebut gadis pujaan, lah. Ada yang dipakai buat dipajang di media sosial biar dikata puitis, lah. Orang-orang kayak gitu tolol apa gimana sih, Pak? Saya tidak paham, deh. Dulu, untuk menulis puisi, Arthur Rimbaud sampai menghancurkan dirinya sendiri loh. Ngerusuh sana-sini, ngutil buku, nenggak absinthe bareng mentornya Paul Verlaine, maki orang sesuka hati, meski menurut pendapat saya yang dilakukannya hanyalah tindakan spontan biasa. Sedangkan pemberontakan yang dia lakukan mungkin hanya terekspos lewat puisi-puisinya. Orang-orang saja yang suka melebih-lebihkan sesuatu. Hmm, terus Poe jadi alkoholik. Coleridge juga sampai mengonsumsi Opium dan tertidur di meja tulisnya untuk menciptakan sebuah mahakarya, dan kumpulan puisinya Allen Ginsberg sampai harus disidangkan di meja hijau. Beberapa penyair yang terlalu “baper” malah mencabut nyawanya sendiri. Pokoknya pelik dan tragis. Ya, bukannya penyair-penyair zaman sekarang harus seperti itu sih, namun setidaknya kalau mereka benar mencintai puisi, mereka harus menganggap puisi itu seperti anaknya sendiri. Bukan sekedar menjadi bentuk pelampiasan saja, dan malah dijadikan sebagai alat untuk modus PDKT dan ngewein cewek. Namun mungkin itulah fungsi sesungguhnya dari puisi di era sekarang. Alat gombal. Saya sih belum pernah coba, Pak. Habis norak sih. Saya juga enggak suka modus-modusan. Kalau saya mau ngewe, ya saya langsung saja ngomong ke ceweknya. Kenapa mesti repot-repot harus bikin puisi? Alhamdulilah, banyak yang enggak mau. Entah karena saya kurang tampan, kurang tajir atau kurang sopan? Buat apa bersopan-sopan ria dengan sesuatu seperti itu? Yang benar saja! Tapi ada juga loh, Pak yang malah mengajak saya duluan. Dan anehnya saya tolak. Entah apa yang saya pikirkan saat itu. Saya hanya merasa itu tak benar. Sok alim banget ya Pak saya? Hahaha. Lucunya, banyak dari mereka yang berhijab. Wah, saya kaget bukan main. Saya kira perempuan-perempuan berhijab alim-alim. Rajin sembahyang dan halus budi pekerti. Tapi kenyataannya? Mereka tetap manusia biasa yang dikendalikan hasrat di momen-momen tertentu. Ah, yang pasti sekarang saya menyesal menolak ajakan mereka. Andai waktu bisa diputar kembali seperti lagu favorit di pemutar lagu. Sayang sekali.

 

 

Pak, berhubung saya belum tidur seharian. Dan mentari pagi di ufuk timur sedikit lagi terbit. jadi, saya izin pamit dulu ya, Pak. Kapan-kapan saya kirim surat sama puisi lagi deh buat Bapak. Oh, iya, Pak. Kalau Bapak ketemu kakek saya di sana, tolong sampaikan salam saya ya, Pak. Saya rindu. Oke, Pak? Nah, sebelum saya membakar ratusan puisi-puisi saya dan mesin ketik saya. Saya ingin menulis satu puisi lagi. Ini tidak ada hubungannya dengan Bapak. Saya juga tidak mencoba memproklamirkan diri saya sebagai penyair lewat puisi terakhir saya ini. Ini hanya simfoni penutup untuk jiwa saya yang sebentar lagi akan pindah ke sisi seberang. Saya juga tidak peduli kalau puisi ini bernada sentimentil. Mau bilang puisi ini puisi cinta cengeng juga tak apa. Terserah lah! Saya sudah tidak peduli lagi!

 

Anjing, itulah diriku

Mengonggong, menggeram dalam gorong-gorong yang suram

Angkuh, itulah diriku

Merengkuh, merutuk tubuh-tubuh yang rapuh

Apatis, itulah diriku

Menjerit, meringis dalam lubang sempit yang amis

 

 

Aku lahir dari untaian kata-kata, rangkaian nada-nada, goresan kuas satir dari seniman bernama gulita

Aku tumbuh dari biji bunga poppi, asap nikotin berapi, dawai-dawai mimpi dari pecandu bernama harmoni

Aku hidup dari temaram, kabut-kabut malam, getir-getir lelap jahanam dari pembunuh bernama kelam

Aku merangkak dari kebencian, kemunafikan yang terselaputkan, kegelisahan yang membuncah, dan pecah berkeping-keping dari binatang bernama dosa

 

 

Aku bercumbu dengan kesepian, memadu kasih, merengguk penderitaan

Aku bernyanyi bertemankan iblis, bersenda gurau, menertawakan eksistensi neraka

Aku menari di atas panggung duka, hingga terantuk kerikil-kerikil dusta keputusasaan

Aku tersungkur, terjerembab di dimensi hitam yang gelap, sementara derap langkah kuda-kuda vertigo tak henti-hentinya bergerumuh, berdenyut, menggetarkan  ruang-ruang homunculusku

Aku merebah,  menggelepar bak serangga kecil di jeratan sarang laba-laba.

 

Adakah yang lebih lucu dari menjadi budak untuk mimpi orang lain?

Adakah yang lebih tragis dari lahir sebagai manusia?

Adakah yang lebih manis dari bangun tidur di pagi hari sebagai orang yang merdeka?

Adakah yang lebih pahit dari tidur di malam hari sebagai android tak berjiwa?

 

Temui aku secepatnya, wahai saudaraku.

Selagi masih sempat, selagi waktu masih sehat, selagi seribu tanya masih membebanimu.

Aku akan menemukan jawabannya untukmu, meski kau sudah mengetahui jawabannya jauh-jauh hari.

 

 

Arya menyulut sebatang rokok, kemudian meraih sebotol alkohol yang belum sempat diminumnya. Dia membuka tutup botolnya, meminumnya seteguk, lalu menyiram meja belajarnya dengan alkohol tersebut sebelum akhirnya dia melempar puntung rokoknya ke atas meja belajar. Kobaran api kecil yang perlahan-lahan membesar mulai menari-nari di atas meja belajarnya. Arya tersenyum puas melihatnya. Dengan tenang, dia mengambil piringan hitam, lalu meletakkannya di atas gramofon tua pemberian kawannya yang dibeli di Jalan Surabaya. Tak lama, “Symphony No. 3” dari Brahms mengalun.

Arya mengambil buku The Rebel karya Albert Camus. Dia mendekap buku itu di dadanya yang kurus, kemudian melangkah gontai ke ambang jendela dan berdiri di tepinya, melihat kerumunan orang-orang di bawah yang berseru karena melihat asap dan kobaran api meliuk-liuk dari kamar Arya yang terletak di tingkat tiga sebuah rumah susun bobrok di bilangan Jakarta Selatan. Arya tidak peduli dengan teriakan orang-orang. Dia terus tersenyum sambil meresapi alunan nada-nada Brahms. Sementara itu di atas langit, bulan purnama bersinar dengan sangat terang, seolah puas dengan apa yang dilakukan Arya.

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir. Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts