Pramoedya Ananta Toer barangkali sedikit dari penulis Indonesia yang mendapat perhatian besar dunia. Karya-karyanya telah diterbitkan dalam puluhan bahasa, dan penghargaan internasional kerap disematkan kepadanya.

Pram sebagai sastrawan telah menduduki tampat tertinggi dalam panggung budaya nasional. Tetralogi Buru mungkin adalah karyanya yang paling puncak dengan nilai estetik yang telah diakui oleh dunia. Namun masih sedikit orang yang membicarakan Pram sebagai sejarawan dan intelektual kritis. Padahal Tetralogi Buru adalah hasil riset sejarah yang mendalam mengenai lahirnya Indonesia. Ditambah dua novelnya yang lain, Arok Dedes dan Arus Balik, serta naskah drama Mangir, maka kesatuan karya inilah yang mewakili sejarah Nusantara dan membuktikan kejeniusan Pram sebagai pemikir politik dan sejarawan.

Pada Sabtu (12/8), peluncuran buku dengan judul Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia dilaksanakan di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki.

Peluncuran buku ini diisi oleh Max Lane, seorang Indonesianis yang mengenal dengan baik Pramoedya sebagai pribadi maupun pemikir akibat pergumulannya dengan Pram pada dekade 1980an. Max Lane, sebagai Indonesianis, menempati posisi yang unik. Ia tidak hanya mencurahkan kegiatan akademiknya, namun juga terlibat aktif dalam pergerakan progresif di Indonesia. Ia tidak hanya menafsirkan tentang Indonesia, namun juga ingin mengubahnya.

Jalan aktivisme itu salah satunya dengan menekuni karya-karya Pramoedya dan menerjemahkannya (Tetralogi Buru) dalam bahasa Inggris. Usaha yang membawa nama Pram dikenal dunia.

Dalam kacamata Max, Pram merupakan seorang jenius, kenamaan besar. Pram adalah satu diantara banyak orang yang telah berbuat untuk Indonesia.

Siang itu, Max berusaha menjelaskan ihwal peran Pramoedya sebagai sastrawan sekaligus sejarawan yang telah menelurkan karya-karya drama-sejarah. Max mengatakan bahwa karya-karya Pram merupakan kejeniusannya sebagai pemikir politik dan estetik yang dimiliki Indonesia.

Peluncuran buku Indonesia Tidak Hadir Di Bumi Manusia adalah mengenai tidak hadirnya kata “Indonesia” dalam novel-novel Pramoedya. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa novel-novel Pram terlebih Tetralogi Buru (total 2000 halaman) berbicara mengenai Kebangkitan Nasional Indonesia. Hal yang secara sedikit kontradiktif dalam karya drama-sejarah. Namun, dalam hal ini menjadi kejeniusan Pramoedya sebagai pengarang besar. Ketidakhadiran itu disengaja sebagai upaya untuk menyongsong sesuatu ciptaan yang baru, yakni sebuah nasion yang bernama Indonesia.

Pram menulis banyak cerita berisi gambaran tentang kontradiksi kehidupan dan masyarakat Indonesia setelah masa revolusi yang berakhir di tahun 1949. Kebanyakan cerita itu adalah gambaran yang cukup gamblang mengungkap momen dan situasi yang berlawanan. Kondisi ini diperkuat dengan kekecewaan yang dalam terhadap hasil revolusi.

Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia karya Dr. Max Lane diterbitkan oleh Djaman Baroe Yogyakarta.

Pada dekade 1960an, Pramoedya mempelajari dan melakukan penelitian tentang sejarah masyarakatnya. Ia menggunakan bahan-bahan dari sejarah pribadinya untuk menulis Gadis Pantai. Ia juga memulai penelitian besar-besaran tentang beragam aspek sejarah Indonesia. Hal ini didasari karena keinginannya untuk menemukan asal-usul situasi buruk yang ia saksikan di Indonesia pada 1950an dan 1960an. Kisah tentang tokoh-tokoh peristiwa sejarah yang kemudian muncul di novel-novel Tetralogi Buru pertama kali muncul di kolom Bintang Timoer. Riset-riset inilah yang memberinya pengetahuan dan pengertian mendalam yang ia perlukan sebagai bahan untuk menulis novel-novel sejarahnya.

Tentu sikap Pram untuk menuliskan pemahamannya akan sejarah ke dalam bentuk novel dan bukannya buku teks sejarah dapat diperdebatkan. Yang jelas, pemahaman Pram mengenai sejarah perlu mendapat perhatian seksama karena dalam novel sejarahnya itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Sebagai akademisi cum aktivis progresif-revolusioner, ceramah dari Max Lane menekankan tiga poin penting dalam karya Pram (Tetralogi Buru) sebagai pemikiran politik; Pertama, bahwa novel-novel Pramoedya merupakan usaha perlawan terhadap ketidakadadilan, dalam hal ini adalah otoritarianisme. Yang kedua adalah pengalaman menulis pada tokoh-tokohnya menjadikan bahasa bersama yang menjadi alat dalam melawan ketidakadilan tersebut. Dan yang ketiga adalah proses demokrasi yang sedang diupayakan oleh bangsa Indonesia.

Selain itu, Max memberikan catatan mengenai aspek-aspek penting dalam karya-karya Pramoedya. Kesadaran dan keberadaan novel-novel Pram, utamanya adalah Tetralogi Buru mengungkap momen-momen sejarah yang telah membentuk karya itu begitu fenomenal. Tetralogi Buru telah membentuk sebuah cerita epik-revolusioner dengan keindahan estetika yang unik, serta memberikan kontribusi intelektual dan politik yang belum pernah benar-benar diungkapkan. Keempat novel ini sarat dengan kesadaran dan pemikiran baru. Keberadaan manusia di dunia dan kehidupan mereka adalah fokus utama cerita-cerita nyata Pramoedya. Karakter-karakternya merupakan produk penuh-gerak dari sebuah dunia yang sedang berubah.

Max Lane berupaya untuk mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan struktur pikiran tentang sejarah dan masyarakat di novel-novel Pramoedya, yakni nasion, kasta, dan kelas. Ketiga aspek ini ditawarkan Max dan didedah dalam Indonesia Tidak Hadir Di Bumi Manusia.

Di tengah antusiasme yang tinggi dari para hadirin, sesaknya ruangan kala itu, Max Lane dalam sisa-sisa semangat aktivismenya sesekali berkelakar sambil mencoba menekankan kembali arti penting karya-karya Pramoedya dalam pemikiran sejarah dan politik Indonesia yang masih relevan hingga saat ini. Ia berharap masih banyak masyarakat Indonesia, khususnya anak muda yang memiliki perhatian lebih kepada karya-karya Pramoedya.

Max, yang menulis juga Unifinished Nation: Indonesia Before and After Soeharto (yang banyak menjadikan karya Pram sebagai sumber teoretik) menekankan arti penting organisasi dalam kehidupan bernegara. Ia banyak belajar dari karya Pram bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah perlawanan terhadap kekuasaan. Indonesia merupakan makhluk yang diciptakan rakyat Indonesia sendiri, dan agen transformasinya adalah rakyat  — melalui organisasi massa. Jadi, pesan Max, bahwa kemajuan-kemajuan manusia termasuk juga pembebasan dari kolonialisme dan penciptaan negeri serta manusia baru, merupakan hasil daya kreatif massa itu sendiri. Ia mendorong agar anak muda membangun semangat berserikat dan terjun dalam tindakan riil untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Karena menurutnya, revolusi belum selesai. ♦

About the author

Lulusan Hubungan Internasional. Pernah menjadi Abang Buku DKI Jakarta. Penikmat kopi, sastra, sepak bola, dan belakangan suka fotografi. "Verba volant scripta manent" - Caius Titus