Oleh: Bagus Sentanu*

Lani dan Leo adalah kawan di salah satu rumah tahanan kelas II. Keduanya sama-sama pernah terlibat kasus pencurian. Tapi Lani tidak mau disebut sebagi pencuri, dia hanya mau disebut sebagi perampok karena merasa sebagi napi yang memiliki prestasi lebih bagus dalam pencurian dibanding napi lainnya di rutan itu. Dia juga pernah menghabisi nyawa korbannya, sehingga mengantongi dua kasus sekaligus, perampokan dan pembunuhan yang sampai membawanya ke rumah tahanan saat ini. Jauh berbeda kalau dibandingkan dengan Leo yang masih bertaraf pencuri pemula.

Leo memutuskan berhenti sekolah karena dia terlibat pengeroyokan guru matematika bersama teman-temannya. Sebelum dia dikeluarkan oleh pihak sekolah, dia mengeluarkan dirinya sendiri. Leo baru berusia sembilan belas tahun ketika dia memulai debut pertamanya dalam pencurian. Dimulai dari mencuri sandal, telur ayam, sampai induk ayamnya sekaligus. Leo menjalani aksinya dengan teman-teman sebayanya. Leo bertugas mengambil barang incaran, sedangkan temannya yang lain yang tidak memiliki keberanian seperti Leo bertugas mengawasi keadaan sekitar sampai pencurian itu berhasil.

Para tetangga tahu siapa pelaku pencurian ternak mereka. Mereka yang merasa kehilangan ternak tidak pernah menegur Leo, tapi cukup mendatangi orang tuanya dan meminta ganti rugi. Para tetangga dan bapaknya menganggap itu hanya sebuah kenakalan kecil saja. Satu dua kali sampai akhirnya terlalu sering, bapaknya tidak bisa menolerir lagi tindakan anaknya. Kiprah pencurian Leo makin menjadi setelah meninggalkan kampung. Sedikit lebih berkelas, ia membobol mini market dan melakukan curanmor.

Pada suatu malam, dengan napas yang belum teratur setelah menyelesaikan gaya akrobatik di ranjang bersama perempuannya dengan semangat, Leo mengajak kekasihnya untuk menikah. Wajah perempuan itu menampilkan mimik ketakutan, atau lebih tepatnya rasa kaget yang luar biasa. Menurutnya Leo belum bisa memenuhi permintaannya untuk berhenti menjadi pencuri, berhenti merugikan orang lain untuk bertahan hidup, tapi dia malah tiba-tiba mengajaknya kawin. Setelah berdiskusi panjang soal keputusannya itu, si perempuan bersedia dikawini Leo dengan syarat berhenti mencuri mulai malam itu juga. Leo berjanji akan berhenti setelah biaya pernikahan terkumpul. Perempuan itu menggelengkan kepala kemudian mengenakan kembali pakaiannya lalu pergi meninggalkan Leo yang masih terbaring di ranjang. Berulangkali itu terjadi. Sampailah pada sebuah babak akhir pencurian dan pelarian yang berakhir sia-sia bagi Leo. Luka bekas tembakan di betisnya menjadi bukti dari usaha pelarian yang gagal.

***

Ketika Leo masuk penjara, Lani sudah menginjak tahun kedua di sana. Tidak ada hal yang istimewa bagaimana Lani dan Leo bertemu. Yang pasti mereka sering saling bertukar cerita. Setelah keduanya selesai bercerita, mereka akan menjumpai kemurungannya masing-masing di bilik penjara.

Waktu itu tinggal beberapa minggu lagi menuju bulan Ramadan, Leo terlihat lebih murung dari biasanya. Pikiran Leo banyak terganggung oleh janji soal pernikahan pada perempuannya sehabis Lebaran tahun ini.

Bagaimana akau bisa menikah, sementara aku masih di dalam penjara, pikiran macam itu yang mendominasi keadaan Leo sampai teramat murung. Leo mendekati Lani dengan pertanyaan basa-basi.

“Bulan puasa sebentar lagi ya, Mang?” Leo memanggil Lani dengan sebutan ‘mang’, untuk menghormati usianya yang lebih tua.

“Ya, memang kenapa. Kau mau puasa?”

“Ah, bukan itu maksudku. Mamang tentu tahu bagaimana kisahku, tentang rencanaku untuk menikahi seorang perempuan sehabis lebaran.”

“Hmmm, ya aku mengingatnya. Kau akan memintaku untuk menjadi wali dan menikahkanmu di dalam penjara?”

“Itu dugaan yang bagus. Tapi apakah ada yang lebih bagus dari itu? Maksudku kau bisa menebak lebih bagus tentang apa keinginanku?” suasana hening sejenak, Lani tetap berusaha terus menerka apa yang bocah itu inginkan. Memindai sorot mata Leo yang menyimpan pesan, dari sorot mata itu Lani mengetahui bahwa harapan Leo dititipkan padanya.

“Kau mau kabur?” suara Lani terlalu keras sampai menarik perhatian napi yang lain.

“Huss, jangan keras-keras. Begini, Mang. Mamang kan pernah bercerita bahwa Mamang ini memiliki ilmu halimunan, apakah tidak bisa kau pakai itu untuk membantu kita kabur dari tempat biadab ini bersama-sama?”

“Heh bocah, kalau dari dulu bisa kupakai ilmu itu, kau tidak akan bertemu denganku di sini.” Ilmu halimunan Lani memang tidak bisa dipakai di penjara. Dia sudah mencobanya beberapa kali, namun tetap gagal. Saat memejamkan mata dan memikirkan suatu tempat, dia tidak bisa berhasil meloncat ke sana, maka saat membuka mata Lani teteap berada di tempat yang sama.

Keduanya saling memikirkan cara untuk menyambung kebuntuan tentang bagaimana meloloskan diri dari penjara. Seseorang yang dari tadi memperhatikan perbincangan itu, mendekati mereka berdua.

“Aku tahu kalian sedang merencanakan sesuatu. Pikiran yang sama pernah aku miliki beberapa tahun yang lalu namun aku tidak memiliki kawan untuk mencapai itu.” Lani dan Leo menatap orang itu dengan kepura-puraan seolah mereka berdua tidak mengerti apa yang dibicarakannya.

“Aku tahu cara yang sedang kalian cari, aku sudah menemukannya lebih dulu. Namun setelah aku menemukan itu keadaan fisikku tidak memungkinkan untuk melakukannya. Kalian masih terlihat muda dan bugar. Kalau kalian memiliki kenekatan dan mau mendengarkan petunjukku, kalian akan bisa melaluinya.” Mereka berdua mulai tertarik pada apa yang lelaki tua itu bicarakan, usianya tidak terlalu tua namun ada bagian dari dirinya yang menunjukan untuk tidak menyebutnya tua. Beberapa kerut di bagian wajah menggambarkan bahwa dia sudah cukup bosan untuk hidup. Kaki bagian kanannya tidak bisa ditekuk akibat tempurung kakinya copot yang menjadikan cara berjalannya kaku.

“Akan lebih baik kau ceritakan bagaimana caranya pada kami berdua sekarang juga,” Leo meminta lelaki itu dengan nada yang tegas namun tetap dipelankan. Lani hanya menagguk-angguk.

Lima tahun yang lalu saat lelaki itu mulai muak dengan sistem rutan yang secara sembunyi-sembunyi memberlakukan pungli oleh para oknum staf pengamanan lapas, yang memberikan jasa bagi para napi yang keluarganya memiliki cukup uang untuk memindahkan ke kelas tahanan lain dari C ke A atau B ke A, para keluarga napi akan ditawari jasa itu dengan nominal tertentu dan diberikan nomor rekening bank, untuk mengirimkan uang ke nomer yang tertera di sana kalau mereka tertarik dan sepakat dengan aturannya. Tetapi para staf pengamanan juga sering menerimanya tunai. Bagi lelaki itu yang mengetahui dan sempat mendapat tawaran tersebut, menganggap hal itu sebuah anomali. Di tempat pesakitan para penjahat rupanya masih ada tindakan kejahatan yang sama merendahkan nurani, yang dilakukan oleh para petugas negara sendiri. Sama-sama penjahat tapi tidak diperlakukan sama sebagai penjahat. Mereka bisa menikmati hasil kebiadabannya dan bebas berkeliaran. Itu yang membuat dia makin kesal. Bahkan napi yang lain pun demikian meski tidak pernah terbuka menunjukan kekesalannya tersebut. Dia terus menyusun rencana untuk kabur. Namun setelah rencana itu dirasanya matang, tidak pernah ada tahanan lain yang mau mengimbangi kenekatannya itu.

“Kebebasan kalian nanti adalah kebebasanku juga,” ujar lelaki itu “Mendekatlah dan perhatikan baik-baik apa yang aku sampaikan,”

Lani dan Leo patuh dengan perintahnya.

“Aku sudah memperhatikan bertahun-tahun kapan dan di titik mana penjagaan sering lengah dari para petugas. Setiap kali tahanan melakukan salat Jumat. Pada waktu itulah kalian harus kabur dengan mendobrak pintu gerbang dari besi dan lari sekencang yang kalian bisa. Di seberang jalan ada kebun sawit, kalian masuklah kesana.”

“Aku akan membantu kalian denga mengalihkan perhatian para petugas. Nanti aku akan berpura-pura membikin keriburan dengan napi lain. Saat situasi mulai kacau, itu waktu yang tepat bagi kalian untuk kabur.”

***

Waktu sudah menunjukan bagi para napi untuk menjalankan ibadah salat Jumat. Seperti biasa, semua napi memasuki halaman masjid lapas dengan tertib. Tidak ada gelagat yang dirasakan para petugas bahwa hari ini mereka akan mendapat kejutan yang merepotkan dan melelahkan. Lani, Leo dan lelaki itu berjalan beriringan sambil memberikan pesan-pesan lain kepada Lani dan Leo. Bahwa ketika nanti sesampainya mereka menuju perumahan warga, baju tahanan yang mereka kenakan harus segera diganti entah itu bagaimana caranya supaya menghilangkan jejak dari para petugas yang memburunya. Si lelaki menyerahkan semua cara itu pada keduanya. Lani dan Leo saling menatap sebelum akhirnya mereka saling mengangguk paham.

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, lelaki itu berpura-pura berkelahi dengan napi lain ketika kutbah Jumat berlangsung. Para napi yang berada paling dekat dengan keributan yang dibuat-buat itu mengerumuni lelaki itu dan mencoba untuk melerai, keributan makin menjadi dan para petugas mulai menghampiri pusat keributan.

Lani dan Leo sudah bersiap-siap untuk berlari dan mendobrak gerbang di sebelah samping masjid, dengan hitungan mundur dari lima mereka melesat tak terduga. Gerbang langsung roboh dengan sekali tubrukan tubuh Lani dan Leo, mereka juga terheran bagaimana itu bisa terjadi begitu mudah. Itu tidak berlangsung lama, mereka segera melesat menuju kebun sawit.

Suasana di masjid belum juga bisa dilerai, para napi yang menyaksikan aksi dua orang yang merobohkan gerbang itu tiba-tiba terkoneksi satu sama lain. Mereka sama-sama memikirkan bahwa mereka harus kabur juga dengan cepat selagi ada kesempatan. Para napi berlari menuju pintu gerbang yang sudah terbuka, Seperti kawanan ayam yang mendapati pintu kandangnya terbuka, para napi berhamburan keluar lapas. Sesaat kemudian para petugas baru sadar mereka telah kecolongan dan mengejar sebisanya.

Napas keduanya nyaris habis di beberapa ratus meter menuju pemukiman warga. Mereka berada jauh di depan para napi lain dan para petugas yang mengejar. Mereka mulai memelankan lari, berjalan tergesa kemudian lari, berjalan tergesa kemudian lari lagi, terus saja berulang melakukan itu sampai akhirnya mereka sampai di pemukiman. Mata mereka menyasar ke segala arah mencari jemuran pakaian sebagi ganti baju tahanannya. Dengan hati-hati mereka menyusuri setiap sudut pemukiman, di sebuah halaman rumah yang tidak seberapa luas mereka menemukan jemuran baju. Namun mereka berdua kebingungan bagaimana cara mengambilnya, karena ada anak-anak yang sedang bermain kelereng di halaman itu. Leo nekad mendekati jemuran baju itu sendirian. Lani tetap berada di belakang Leo sambil mengamati. Permainan anak-anak itu teralihkan oleh kedatangan Leo. Leo menyapa mereka sebisanya dengan kaku. Anak-anak itu hanya cengengesan, mungkin karena melihat Leo tidak mengenakan sandal dan betisnya kusam oleh debu. Anak-anak itu tidak terlalu peduli dengan kehadiran Leo, sehingga melanjutkan permain mereka kembali. Leo bergegas mengambil dua pasang pakaian yang tergantung. Satu untuk dikenakannya, dan satu lagi untuk Lani. Tidak lupa juga Leo mengambil satu pasang sandal dan satu pasang sepatu yang tergeletak di teras rumah untuk alas yang akan mereka pakai.

Ratusan napi yang menyusul kabur di belakang, sebagian dari jumlah mereka berhasil ditangkapi oleh petugas. Pencarian napi yang kabur masih berlanjut hari berikutnya. Masih sekitar seratus napi lagi yang belum berhasil ditangkap.

Lani dan Leo sudah mencapai jarak begitu jauh, hampir mencapai kota. Entah ke mana lagi mereka akan pergi. Tujuan mereka sebelum kabur terlupakan begitu saja. Mereka hanya berpikir bagaimana mereka aman dari pencarian.

Beberapa minggu kemudian baru mereka mengetahui bahwa bukan hanya mereka berdua yang kabur dari lapas, tapi ada ratusan napi lainnya yang mengikuti mereka. Lani mengetahui itu dari surat kabar yang dibawa Leo. Mereka kaget mendapati kabar itu. Setelah itu Leo makin sering mencari informasi. Posisi mereka sudah lumayan aman setelah kembali mendapat kabar bahwa petugas lapas dan polisi kerepotan mencari napi yang kabur. Karena data yang dimiliki lapas sangat lemah, itu menyusahkan polisi dalam pencarian. Polisi hanya memakai instingnya dalam bertugas.

“Bagaimana cara mereka mempergunakan instingnya, mang? Sementara mereka telah begitu yakin, tetapi dalam beberapa kasus yang mereka tangani masih mengandalkan seekor anjing untuk membantu tugasnya. Yang mereka maksud itu insting mereka atau insting anjing?” tanya Leo pada Lani sambil terkekeh.

Surat kabar tidak begitu ramai lagi membicarakan itu. Satu bulan berikutnya Lani dan Leo tidak mengingat-ingat kembali soal rencana mereka di awal. Leo pun yang mempunyai niat untuk menikahi perempuan di luar penjara terlihat tenang-tenang saja, tidak pernah ada pembicaraan lagi ke arah sana. Ramadan sudah menginjak minggu kedua, mereka mendapatkan kabar bahwa lapas telah kecolongan kembali, para napi kembali kabur selepas salat tarawih.

“Bagaimana mang menurutmu tentang kejadian ini, apakah kita ini mengispirasi?” tanya Leo.

“Bukan, tapi semua orang macam kita pada bulan ini butuh bebas dan pulang menjumpai keluarganya. Siapa yang bakal tahan Ramadan dan Lebaran nanti jauh dari keluarga?”

“Kita sudah di luar penjara, kapan kita berani pulang?” Leo memotong ceramah Lani. Seketika hening. Keduanya merenungi nasibnya masing-masing. ♦

Catatan: Cerita ini terinspirasi dari kasus kaburnya ratusan tahanan di Rumah Tahanan Klas IIB Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Beberapa bagian ceritanya diambil dari pemberitaan media dan dua tokoh dalam cerita ini adalah tokoh rekaan.

*Pembaca jenis buku apa saja dan menulis sebisanya. Bermukim di Kuningan, Jawa Barat. Dapat dihubungi di @bagussinchan.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts