Pada malam yang diliputi suasana hujan dan ditemani segelas kopi hitam, di tengah indahnya malam Yogyakarta jari-jari tangan saya mulai menari. Saya sangat bahagia malam ini karena bisa berbicara dengan hati nurani saya sendiri. Nurani yang belakangan ini terganggu oleh beberapa masalah menyangkut kampus, hidup, dan juga cinta. Tidak ada satu kekuatan apapun di atas muka bumi ini yang dapat melarang saya atau orang lain bicara dengan nuraninya sendiri. Tapi karena saat ini saya sedang menempuh jalan sebagai seorang penulis, saya lebih memilih menyampaikan nurani, pikiran serta pengetahuan saya melalui sebuah tulisan.

Kalian mungkin akan menganggap saya membahas suatu omong kosong, dan sesuatu yang tidak penting dalam lingkup mahasiswa atau dalam kehidupan sosial. Apalagi mereka yang menganggap dan mengaku diri mereka sebagai aktivis pergerakan dan alay-alay kaum kiri: akan sedikit gengsi untuk mengangkat dan berdiskusi persoalan yang sedang saya bahas. Tapi di sini saya akan coba membuka pikiran kalian tentang sisi lain dari cinta dalam kehidupan dan lingkungkan sosial yang kalian jalani. Masa bodoh tentang apa yang kalian pikirkan jika menurut kalian ini tidak penting.

Oleh karena itu saya mencoba membuka pikiran kalian khususnya mahasiswa untuk lebih kritis dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kalian tentang persoalan lain yang banyak terjadi di sekitar kalian tanpa kalian sadari, dan saya berharap semoga hal ini dapat bermanfaat. Karena kalian pasti mengetahui bahwa kondisi kampus kita saat ini sangat menurun niat baca di kalangan mahasiswa dan yang terjadi justru sebaliknya yaitu meningkatnya niat komentar yang berisi omong kosong.

Usia saya sedang berjalan 18 tahun. Usia yang masih sangat muda dalam perjalanan hidup saya. Pernah saya  katakan dalam tulisan sebelumnya, saya berasal dari timur Indonesia di Utara tanah Maluku, tepatnya Pulau Bacan. Di tempat saya, hampir tidak pernah melihat keadaan seperti ini terjadi. Saya tidak tahu mengapa. Mungkin karena budaya dan pola pikir mereka jauh berbeda dengan orang-orang yang di tempat saya berada saat ini tepatnya Jakarta.

Dari situlah hal ini mulai mengoyak-ngoyak pikiran dan nurani yang saya miliki karena ketidakadilan atas nama cinta. Mungkin kalian para pembaca banyak yang bingung kenapa hal ini sangat mengganggu pikiran dan nurani saya. Baiklah, saya beberkan alasannya.

Pertama, rasa kemanusiaan saya tersinggung karena ketidaksewenangan yang dilakukan atas nama cinta. Kedua, dalam zaman seperti ini saat di mana semua orang tengah menggunakan topeng ketulusan untuk menjadi munafik dan menipu dengan tujuan tertentu, apabila tiada lagi ketulusan cinta lantas siapa lagi yang kita harapkan dapat berjuang untuk kemanusiaan kalau bukan diri kita sendiri sampai mimpi itu terwujud menjadi suatu kenyataan? Ketiga, di zaman ini saat teknologi menjadi sebuah  ideologi, media sosial digunakan sebagai tempat berisi hal-hal omong kosong seseorang, masalah pribadi yang diumbar-umbar untuk mencari simpati orang, kegalauan yang dijadikan suatu komoditas, dan krisis hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan.

Kalau kata kawan saya,  Gus Fajar Martha, media sosial digunakan hanya sebagai langkah seseorang untuk mencapai status sosial tertentu.” Kita tentu tak asing dengan hal-hal ini: perayaan ulang tahun suatu pasangan (yang lucunya dirayakan setiap bulannya!) lalu dipamerkan secara berlebihan di media-media sosial. Media sosial digunakan hanya untuk memamerkan tempat-tempat (makan, tongkrongan) yang dikategorikan mewah, mahal dan berkelas. Jarang atau bahkan tidak sama sekali memamerkan kala mereka berada di tempat yang tergolong sederhana.

Sebelum saya melanjutkan saya mencoba menyampaikan rasa penasaran saya khususnya para pembaca dari kalangan mahasiswa, apakah kalian mengenal karya-karya dari sastrawan seperti Pramoedya Ananta Toer, Maxim Gorky, atau mungkin Sutan Takdir Alisjahbana? Apakah kalian pernah mengetahui beberapa dekade yang lalu ada surat-surat koran dari Pram untuk temannya yang kemudian dijadikan buku dengan judul Hoakiau di Indonesia pernah dilarang beredar dan pengarangnya ditangkap serta karyanya dibakar (karena dianggap menentang dan membahyakan rezim)? Ataukah kalian hanya mengetahui tentang Raditya Dika dengan Koala Kumal dan Marmut Merah Jambu-nya, Tere Liye, atau Mario Teguh (juga kutipan-kutipan cinta yang mereka sampaikan bagai sampah peradaban yang melemahkan pola pikir generasi muda atas pembodohan cinta)? Saya percaya followers mereka yang sekian banyak tersebut berasal dari pemuda-pemudi yang mencari jawaban atas kebimbangan hati dan kegalauan yang berlebihan.

***

Indonesia itu merdeka. Karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar.juga tokoh-tokoh beragama lain. Orang-orang religius, beragama.

Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, inggris atau jepang? Silahkan cari!

Anak muda. Bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar seolah itu keren sekali: sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan.”

Itu adalah status resmi akun Facebook milik Tere Liye, dan status terbodoh dan paling tolol yang pernah saya baca dari seorang  penulis yang karya-karyanya beredar luas di  toko buku seluruh Indonesia dan dipuja-puja oleh generasi yang sama tolol sepertinya. Tidak percaya kalau dia tolol? Apa dia tidak tahu bahwa Soekarno adalah pencetus paham Nasakom (nasionalis, agamis, komunis)? Hatta dengan pemikiran liberalnya, apakah penulis ini tidak pernah mengenal tentang Tan Malaka dan DN Aidit dengan komunismenya? Atau Tentang Sutan Sjahrir dengan PSI-nya yang sama-sama berjuang bersama rakyat untuk kemerdekaan Indonesia. Apakah ia tidak mengetahui tentang pembantaian ‘65 yang banyak dari algojonya adalah para ulama-ulama besar dan kaum agamis? Belasan karya, milyaran kata, jutaan paragraf kata-kata indahnya hancur oleh status pribadinya yang mempertontonkan kebodohanya tentang sejarah.

Lebih tolol lagi, sebagai seorang penulis dia tidak mempercayai kekuatan kata yang lebih dahsyat dari peluru yang sudah seperti senjata zaman ini, dan tidak menyadari bahwa banyak penggemarnya mengagumi Tere Liye karena kata-kata indah dalam karyanya. Tapi mungkin sebodoh-bodoh Darwis Tere Liye, masih lebih tolol lagi penggemarnya. Sungguh kalian adalah sebodoh-bodohnya Si tolol apabila kalian termasuk dalam golongan orang-orang yang saya katakan.

Dalam satu kesempatan saya pernah mendengar guru saya Jarot Triyogo mengatakan dalam sebuah materinya, “di masa kapitalisme lanjut dan neoliberalisme ini, manusia hanya dipandang sebagai mahluk ekonomi.” Segala sesuatu lebih dominan dinilai berdasarkan materi sama seperti realita cinta saat ini yang sudah seperti anak kandung dari imperialisme di mana cinta seperti sudah terbagi dalam dua golongan: yang menindas dan yang ditindas. Di sini saya bukan frustasi dan kecewa dengan materi atau pendapatan yang saya peroleh, lantas melampiaskan semuanya dalam tulisan ini. Saya hanya ingin membela mereka yang tertindas dalam pelbagai masalah hidup ini atas ketidaksewenangan dari apapun tidak terkecuali cinta. Dan seperti yang telah saya jelaskan tadi kemanusiaan saya telah tersinggung dengan apa yang terjadi saat ini. Lain tidak.

Pasti kalian pernah melihat orang-orang serta sahabat kalian, dan bahkan kalian yang mengalami sendiri patah hati karena wanita atau laki-laki yang kalian inginkan direbut atau ditikung oleh orang lain. Hal itu pasti terjadi dalam pelbagai kehidupan percintaan yang kalian jalani. Tapi yang menjadi masalah di sini apabila kalian dikalahkan dalam persaingan cinta yang kalian hadapi karena pesaing kalian lebih unggul dalam segi materi, entah materi hasil kerja kerasnya, atau pemberian orang tua. Saya menganggap hal itu sebagai suatu masalah karena pada dasarnya cinta adalah sesuatu yang mutlak tentang rasa, yang timbul dari jiwa, dan bukan karena faktor eksternal, bukan hanya tentang mobil atau motor yang kalian miliki, bukan merk baju yang kalian pakai, tapi lebih dari itu. Cinta itu memahami, melengkapi kekurangan yang dimiliki diri masing-masing, dan tanpa adanya pragmatisme cinta yang dijalani.

Saat ini kita hidup di zaman di mana cinta bukan lagi sesuatu yang timbul dari jiwa, melainkan timbul dari keinginan untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang semata-mata karena materi. Persoalan rasa bukan lagi menjadi hal terpenting melainkan sekadar untaian kata yang disampaikan untuk menutupi kemunafikan. Pembodohan atas nama cinta terjadi di mana-mana dan keinginan terhadap materi menguasai jiwa, dan bukan lagi tentang ketulusan yang timbul dari rasa. Pembodohan cinta terjadi dimana-mana. Membunuh karena cemburu dan berakhir di penjara, kejahatan seksual akibat ditolak cinta, mabuk-mabukan, percobaan bunuh diri dengan pelbagai cara (dari meminum racun, melompat dari gedung tinggi, atau bahkan ditabrak mobil atau kereta), dan sebagainya seperti yang telah kita saksikan di banyak media, sudah menjadi suatu hal yang umum terjadi saat ini.

Awalnya sering saya berpikir bahwa penindasan hanya berupa kolonialisme, imperialisme, feodalisme, dan kapitalisme. Tidak pernah terlintas dalam benak saya bahwa ada bentuk penindasan lain yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang saya jalani saat ini. Karena mungkin cinta adalah sesuatu yang menurut saya begitu mustahil jika terjadi penindasan di dalamnya, di mana topeng ketulusan digunakan untuk dogma-dogma yang bertujuan untuk mendapatkan apa yang diinginkan berupa materi, dan sebagainya. Sekali lagi, hal ini sangat mengganggu nurani saya.

Keinginan untuk mencapai kehidupan layak berupa materi, serta kebahagiaan hidup, mungkin adalah impian setiap individu dalam mobilitas sosialnya. Karena manusia akan selalu berada dalam pergulatan dialektis untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, seperti yang pernah saya jelaskan. Tetapi bukan berarti bahwa materi merupakan tujuan utama dalam hidup setiap individu. Ada hal-hal lain yang lebih penting dari sekedar materi, tak jarang orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dan tidak menyadari bahwa dalam perjalanan hidup yang singkat ini ada banyak kemenangan-kemenangan terjadi yang lebih buruk dari sekedar kekalahan dan tak jauh berbeda dengan pergulatan cinta.

Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia pernah berkata, jangan jadi kriminil dalam percintaan yang menaklukkan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta, dan pangkat. Lelaki belakangan ini adalah juga kriminil, sedang perempuan yang tertaklukkan hanya pelacur.Saya berani berpendapat bahwa Pram benar. Karya yang terbit pada 1980 tersebut, membuat saya memahami apa yang tidak pernah terlintas dalam pikiran saya di zaman ini walaupun hal tersebut terjadi di sekitar saya, dan telah berlangsung lama bahkan ratusan atau ribuan  tahun lalu (dan mungkin pula pada setiap masa dalam perjalanan sejarah umat manusia entah sampai kapan atau berawal dari mana dan abad berapa). Pikiran dan nurani saya hanya bisa mengira-ngira tentang hal itu.

Saya hanya ingin menuangkan apa yang terlintas dalam pikiran saya, dan membuka pikiran kalian tentang perspektif lain dari cinta. Saya percaya kita mahasiswa sebagian besar telah menjalani dan merasakan sesuatu yang disebut cinta dengan pelbagai cara yang berbeda-beda, dan pengalaman yang berbeda-beda pula.

***

Dalam sejarah manusia dengan perikemanusiaan limited-nya, wanita juga kerap kali menjadi korban dari  kejahatan laki-laki dalam banyak hal antara lain, seperti pemerkosaan, diskriminasi gender, kekerasan fisik, hegemoni patriarki, dan sebagainya yang menyesatkan, melemahkan pola pikir dan individualitas mereka. Saya tidak mau munafik, kaum laki-laki juga banyak yang memanfaatkan wanita dalam hal seks di luar pernikahan dan tidak didasari oleh rasa cinta melainkan nafsu yang menguasai. Selain itu saya meyakini semua manusia yang mempunyai rasa kemanusiaan akan menolak dan membenci segala bentuk penindasan bagaimanapun indahnya. Tetapi di sini saya hanya menyentuh sedikit tentang penindasan dan ketidakadilan terhadap kaum wanita karena sesuai dengan topik tulisan ini yaitu pelacur dan kriminil percintaan dan bukan berarti saya hanya membela laki-laki lantas merendahkan derajat wanita. Tidak! Saya membenci ketidakadilan dan penindasan atas nama apapun. Ini hanya karena substansi persoalan yang saya bahas di sini sedang mengangkat penindasan dalam bentuk lain yang sebagian besar dilakukan wanita zaman ini.

Setinggi apapun standar kalian tentang pasangan, akan kalah saat kalian jatuh cinta tanpa alasan (unconditional love). Tapi apakah hal itu ada? Apakah terbukti? Mungkin hanya sebagian orang yang benar-benar merasakan ketulusan cinta yang sesungguhnya. Tapi yang kadang membuat saya bingung adalah bagaimana persoalan rasa (cinta) dapat dibongkar sedemikian rupa oleh faktor eksternal (materi). Indahnya cinta pada zaman ini mungkin hanya ada dalam retorika dan tidak sesuai dengan realita. Cinta hanya cerita dongeng belaka karena harta dan kasta lebih bisa berbicara banyak dibanding rasa. Wanita lebih memilih pria yang memiliki pekerjaan yang layak, gaji besar dan hanya mempunyai sedikit keinginan untuk berjuang dan berkorban. Meski ada juga yang mengatakan bahwa cinta bisa hadir karena terbiasa.

Hal inilah yang membuat banyak wanita menjadi pragmatis dan tergantung pada laki-laki dalam segi materi karena keterbelakangan pola pikir yang membuatnya menjadi tidak mandiri, lalu mencapai konformitas yang mengebiri individualitas sampai begitu jauh. Padahal kalian wanita harus bisa berdiri di atas kaki sendiri yang memperjuangkan hak-hak kalian agar tidak bisa ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang oleh kaum laki-laki supaya tidak terjadi diskriminasi gender dan menolak keras hegemoni patriarki. Fungsi wanita bukan hanya tentang dapur, sumur, kasur, ditambah menganggur. Sudah sepatutnya kalian memiliki kesadaran feministis yang berdiri sejajar dengan kaum lelaki.

About the author

Dikenal sebagai Galang Tarafannur. Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nasional angkatan 2014. Putera Bacan yang menaruh minat pada sastra. Bisa bertegur sapa dengan penulis melalui Line di: galangtarafannur69